Ilmu dan Akal
Agama Islam amat menghormati akal. Karena tidak akan tercapai ilmu kalau tidak ada akal. Sebab itu Islam adalah agama ilmu dan akal.
Sebelum Islam mengajak pemeluknya mencapai segala keperluan yang berhubungan dengan dunia, lebih dahulu diajak supaya mempergunakan segenap upaya bagi membersihkan akal; dalam paham, jitu pikiran, dan jauh pandangan.
Diketahui laba rugi suatu pekerjaan sebelum masuk kepadanya, ditelungkup ditelentangkan. Berjalan menghadap surut, berkata sepatah dipikirkan. Berlayar menghadang pulau, berjalan menghadang batas. Kaki teracung inai obatnya, mulut terlanjur emas dendanya.
Sehingga segala pekerjaan yang dikerjakan membuahkan kebenaran, keadilan, berfaedah, dan timbul rasa wajib. Disuruh mereka menyelidiki suatu dari segi mudaratnya sebelum manfaatnya, didahulukan menolak kerusakan sebelum mengharap maslahat. Disuruh menyelidiki dan menilik alam dengan penuh pengalaman.
Dari sana kelak masuklah dia dari pintu yang kedua, yaitu mulai membersihkan iktikad, memperkuat ibadah, memperluas budi pekerti, lalu mengatur pergaulan hidup sesama manusia dan penghidupan, memajukan perniagaan dan perusahaan .
Maka tatkala Kitab Suci Al-Qur'an mengajak manusia larangannya, dia masuk lebih dahulu dari pintu akal. Kalau kepada Islam dan mengikut suruhannya serta menghentikan mereka itu berpikir, mempergunakan akalnya yang suci terdapat bantahan dan keingkaran, disuruh terlebih dahulu bersih.
Perkataan-perkataan yang penting ditutup dengan penghargaan akal, sebagai firman-Nya:
"Demikianlah Kami uraikan beberapa tanda-tanda bagi kaum yang mempergunakan akalnya".
"Ambillah ibarat olehmu orang yang jauh pandangannya".
"Bahwa perkara yang demikian itu menjadi ibarat bagi orang orang yang berpandangan jauh".
"Yang akan ingat hanyalah orang-orang yang mempunyai perhatian dalam".
Yang berpandangan, yang berhati jantung, yang cukup timbangan ialah orang yang berakal.
Apakah mereka tidak berakal? Lebih dari sepuluh kali terdapat di dalam Al-Qur'an. Isinya ialah membangkitkan hati buat menimbang, memikirkan, merenungkan.
Dan oleh Hadis dikuatkan pula:
Ù…َاتَÙ…َّ دِينُ Ø¥ِÙ†ْسَانٍ Ù‚َØ·ُّ ØَتَّÙ‰ ÙŠُتِÙ…َّ عَÙ‚ْÙ„ُÙ‡ُ
"Tiadalah sempurna agama manusia selama-lamanya, sebelum sempurna akalnya",
دِينُ الْÙ…َرْØ¡ِ عَÙ‚ْÙ„ُÙ‡ُ ÙˆَÙ…َÙ†ْ Ù„َا عَÙ‚ْÙ„َ Ù„َÙ‡ُ Ù„َادِÙŠْÙ†َ Ù„َÙ‡ُ
"Agama manusia ialah akalnya, dan siapa yang tiada berakal, tiadalah agama baginya".
Islam melarang keras orang meminum khamar, tuak, borgot, jenever, sopi, brendi, tegasnya segala minuman yang memabukkan, karena bila telah mabuk, akal pun hilang, padahal akal itulah kelebihan manusia dari binatang! Tuhan tak mau manusia jadi binatang.
Sebab banyak benar beban yang dipikulkan Tuhan kepadanya, yang semuanya itu bergantung kepada sempurna akalnya. Kalau dia telah berubah jadi binatang, tentu beban itu tidak dapat dipikulnya lagi.
Setelah itu dipuji, disanjung, dan diagungkan pula. martabat ilmu, lebih dari yang lain. Sebab ilmu itulah anak kunci rahasia alam, rahasia makhluk, dan makhluk itulah anak kunci mencari Khaliq, "Adalah akan sama orang yang berpengetahuan dengan orang yang tiada berpengetahuan?"
Ketika Nabi Saw. mula-mula diangkat menjadi Rasul, seketika itu beliau mula-mula dituruni wahyu, perkara ilmu itulah yang mula-mula dibuka. Disuruh dia membaca suatu bacaan dengan nama Tuhan yang menjadikan manusia dari pada air yang pekat, dan Tuhan mengajarkan ilmu dengan Qalam, atau pena, sehingga diketahui oleh manusia perkara-perkara yang selama ini tiada diketahuinya.
Ilmu itu dituliskan dengan qalam, pena. Sebab itu adalah qalam barang yang amat mulia dalam masyarakat manusia. Qalam sendiri itu telah diberi kehormatan oleh Tuhan, dengan ayat yang mula-mula turun itu, "Yang memberi pengetahuan dengan qalam".
Dan dengan ayat lain, "Demi qalam dan perkara yang mereka lukiskan".
Di dalam Al-Qur'an selain dari kata Allah, adalah kalimat "ilm" itu, yang teramat banyak terdapat. Cobalah lihat buktinya di dalam kitab "Fathur Rahman" yang dipergunakan orang untuk mencari ayat-ayat Al-Qur'an.
Sebab itu Islam adalahagama yang selalu memuliakan ilmu. Nabi Muhammad Saw. datang ke dunia membawa Al-Qur'an dan menyerukan ilmu, apa pun jua macamnya. Ilmu lahir atau ilmu batin. Ilmu alam atau ilmu manusia. Tegasnya bukanlah semata ilmu agama saja, tetapi termasuk ilmu dunia.
Bahkan boleh dikatakan segala ilmu itu ialah agama, Sebab membebaskan manusia dari kejahilan, adalah tujuan Islam.
Sudah nyata Islam yang diajarkan Nabi Saw. menganjurkan pokok pelajaran perhubungan dengan Allah dan masyarakat. Nabi tidak mengajarkan kimia. Ilmu kedokteran pada waktu itu ilmu yang setinggi-tingginya barulah sehingga madu lebah. Orang belum pandai meneropong bintang-bintang belum tahu ukuran bumi, sebab Al-Qur'an tidak mengajarkan itu dan Nabi Muhammad Saw. tidak pula mengajar ilmu yang demikian.
Meski demikian, Al-Qur'an senantiasa membuka pintu akal buat menyelidikinya. Oleh sebab itu, tidaklah heran kalau beberapa abad setelah beliau wafat, dunia Islam telah menjadi negeri yang sekaya-kayanya dengan segala macam ilmu.
Filsafat mereka ambil dari bangsa Yunani dan Rum. Hikmah dari Persia. Kedokteran dari Hindustan, seni dari Tiongkok. Dari segenap pengambilan itu dapatlah mereka menciptakan satu filsafat, hikmah, kedokteran, dan seni sendiri yang telah berbentuk Islam, sehingga berlakulah di dalam teori dan di dalam praktek apa yang dikehendaki tentang ilmu oleh Al-Qur'an itu.
Maka tetaplah Islam agama ilmu karena sendinya ialah Tauhid. Einstein, sarjana agung abad kedua puluh itu, dalam penyelidikan ilmiahnya sampai kepada kesimpulan bahwasannya ilmu pengetahuan sejati menyampaikan manusia kepada iman yang sejati.
0 komentar: