Saat Allah Menyatakan "Maha Kuasa"
Menyelidiki Mengapa Surah Al-Baqarah Berulang Kali Menutup Ayat dengan "Innallāha 'Alā Kulli Syai'in Qadīr"
Ketika membaca Surah Al-Baqarah secara berurutan, muncul sebuah fenomena yang menarik.
Pada beberapa titik penting, Allah menutup ayat dengan kalimat yang sama:
«"Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu."»
Ungkapan ini muncul pada ayat 20, 106, 109, 148, 259, hingga 284.
Sepintas, kalimat tersebut tampak seperti penutup yang berulang.
Namun jika dibaca sebagai satu bangunan utuh, muncul pertanyaan yang layak diselidiki:
Mengapa Allah menyatakan kemahakuasaan-Nya justru setelah tema-tema tertentu?
Mengapa bukan setelah setiap ayat?
Apakah ada pola yang sedang dibangun?
Semakin ditelusuri, semakin tampak bahwa setiap kali manusia berhadapan dengan sesuatu yang berada di luar batas kemampuannya, Allah menutup pembahasan dengan deklarasi:
"Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu."
Kalimat itu bukan sekadar penutup.
Ia adalah penegasan bahwa ketika kemampuan manusia berakhir, kekuasaan Allah baru saja mulai tampak.
---
Babak Pertama: Ketika Manusia Merasa Aman
Penyelidikan dimulai pada ayat 20.
Allah menggambarkan orang-orang munafik seperti orang yang berjalan di tengah badai petir. Kilat memberi cahaya sesaat sehingga mereka berani melangkah. Ketika gelap kembali datang, mereka berhenti dalam kebingungan.
Lalu Allah berfirman:
«"Sekiranya Allah menghendaki, niscaya Dia melenyapkan pendengaran dan penglihatan mereka."»
Kemudian ayat ditutup dengan:
«"Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu."»
Mengapa?
Karena pendengaran dan penglihatan yang dianggap manusia sebagai miliknya ternyata hanyalah titipan.
Allah tidak segera mencabutnya.
Bukan karena tidak mampu.
Melainkan karena memberi kesempatan untuk kembali kepada kebenaran.
Di sini, kemahakuasaan Allah tampil dalam bentuk penangguhan hukuman, bukan pelaksanaan hukuman.
---
Babak Kedua: Ketika Hukum Berubah
Pola berikutnya muncul pada ayat 106 tentang nasakh.
Perubahan hukum sering menimbulkan pertanyaan.
Mengapa Allah mengganti suatu ketetapan?
Bukankah hukum seharusnya tetap?
Di sinilah Allah menutup ayat dengan:
«"Apakah engkau tidak mengetahui bahwa Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu?"»
Ini adalah deklarasi tentang otoritas.
Hanya Pencipta yang berhak menyempurnakan aturan ciptaan-Nya.
Sebagaimana seorang arsitek berhak memperbaiki rancangan bangunannya, Allah lebih berhak mengganti suatu ketentuan ketika hikmah menuntut perubahan.
Nasakh bukan tanda perubahan pengetahuan Allah.
Nasakh adalah bukti bahwa Allah mengatur manusia sesuai perkembangan kondisi mereka.
Kemahakuasaan Allah di sini tampil sebagai otoritas legislatif tertinggi.
---
Babak Ketiga: Ketika Musuh Tampak Lebih Kuat
Pada ayat 109, kaum Muslim menghadapi kedengkian Ahlul Kitab.
Mereka ingin kaum Muslim kembali kepada kekafiran.
Secara manusiawi, ancaman ini menimbulkan kecemasan.
Namun Allah tidak langsung memerintahkan perlawanan.
Allah justru memerintahkan:
«"Maafkanlah dan berlapang dadalah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya."»
Kemudian ditutup dengan:
«"Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu."»
Mengapa?
Karena kemenangan tidak selalu lahir dari reaksi yang cepat.
Kadang kekuasaan Allah bekerja melalui penundaan.
Ketika manusia diminta bersabar, bukan berarti Allah tidak mampu bertindak.
Justru Allah sedang mengatur waktu yang paling tepat.
Kemahakuasaan Allah di sini tampil sebagai pengendali sejarah.
---
Babak Keempat: Ketika Arah Berubah
Perubahan kiblat pada ayat 148 mengguncang banyak orang.
Sebagian menjadikannya bahan ejekan.
Sebagian lagi mempertanyakannya.
Namun Allah mengalihkan perhatian umat Islam dari perdebatan menuju perlombaan dalam kebaikan.
Lalu Allah menutup ayat dengan:
«"Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu."»
Seolah Allah berkata,
"Arah salat boleh berubah, tetapi tujuan hidupmu jangan berubah."
Allah yang memerintahkan menghadap Baitul Maqdis juga Allah yang memerintahkan menghadap Ka'bah.
Perubahan arah tidak mengubah tujuan ibadah.
Kemahakuasaan Allah di sini tampil sebagai pengarah perjalanan umat.
---
Babak Kelima: Ketika Akal Berhenti Memahami
Puncak penyelidikan terjadi pada kisah seseorang yang melewati negeri yang telah hancur pada ayat 259.
Ia bertanya,
"Bagaimana Allah menghidupkan kembali negeri ini setelah hancur?"
Allah tidak menjawab dengan teori.
Allah menjawab dengan pengalaman.
Orang itu dimatikan selama seratus tahun.
Kemudian dihidupkan kembali.
Ia melihat makanannya tetap utuh.
Ia menyaksikan tulang-belulang keledainya disusun kembali hingga hidup.
Barulah ia berkata:
«"Aku mengetahui bahwa Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu."»
Di sini, kemahakuasaan Allah bukan lagi konsep.
Ia menjadi pengalaman.
Allah menunjukkan bahwa menghidupkan kembali manusia bukanlah sesuatu yang sulit bagi Zat yang menciptakan kehidupan sejak awal.
---
Babak Keenam: Ketika Tidak Ada Lagi Tempat Bersembunyi
Penutup Surah Al-Baqarah membawa penyelidikan kepada lapisan terdalam manusia.
Allah berfirman:
«"Jika kamu menampakkan apa yang ada dalam hatimu atau menyembunyikannya, Allah akan memperhitungkannya."»
Kemudian ditutup dengan:
«"Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu."»
Mengapa penutup ini muncul setelah pembahasan hati?
Karena wilayah yang paling sulit diawasi manusia adalah batinnya sendiri.
Tidak ada hakim yang mampu mengadili lintasan hati.
Tidak ada saksi yang mengetahui niat terdalam seseorang.
Namun kekuasaan Allah tidak berhenti pada tindakan lahiriah.
Ia menjangkau wilayah yang bahkan tidak dapat disentuh oleh sistem hukum manusia.
Kemahakuasaan Allah di sini mencapai bentuk yang paling sempurna.
Bukan hanya menguasai alam semesta.
Tetapi juga menguasai rahasia hati.
---
Temuan Investigasi: Enam Wajah Kemahakuasaan Allah
Jika seluruh ayat tersebut dibaca sebagai satu rangkaian, tampak bahwa deklarasi "Innallāha 'alā kulli syai'in qadīr" selalu hadir ketika manusia mencapai batas kemampuannya.
Polanya membentuk enam manifestasi kemahakuasaan Allah:
- Kuasa menangguhkan hukuman (ayat 20).
- Kuasa menetapkan dan menyempurnakan syariat (ayat 106).
- Kuasa mengendalikan sejarah dan kemenangan (ayat 109).
- Kuasa mengarahkan perjalanan umat (ayat 148).
- Kuasa menghidupkan kembali yang telah mati (ayat 259).
- Kuasa menghisab hingga rahasia hati manusia (ayat 284).
Dengan demikian, kalimat "Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu" bukanlah repetisi yang berdiri sendiri.
Ia adalah penegasan bahwa di balik setiap perubahan, setiap ujian, setiap penundaan, setiap kematian, dan bahkan setiap lintasan hati, terdapat satu kekuasaan yang tidak pernah kehilangan kendali.
Inilah pesan besar Surah Al-Baqarah.
Semakin manusia menyadari keterbatasannya, semakin nyata bahwa seluruh kehidupan berada di bawah kekuasaan Allah yang mutlak, sempurna, dan selalu berjalan bersama ilmu serta hikmah-Nya.
0 komentar: