Asal Manusia itu Beragam Islam dalam Perspektif Al-Qur'an
Salah satu pola paling menarik dalam Surah Al-Baqarah adalah bahwa setiap kali Allah membangun aqidah, menetapkan syariat, atau menguatkan kaum beriman menghadapi ujian, Allah selalu menghubungkannya dengan generasi-generasi terdahulu.
Mengapa?
Karena Al-Qur'an sedang mengajarkan satu prinsip besar: kebenaran tidak dimulai pada masa Nabi Muhammad ï·º, melainkan telah menjadi jalan seluruh umat manusia sejak awal penciptaan.
Inilah sebabnya Al-Qur'an tidak pernah menggambarkan Islam sebagai agama baru, tetapi sebagai kelanjutan risalah seluruh nabi.
Argumentasi Pertama: Seluruh Manusia Berasal dari Tauhid
Allah berfirman:
«"Wahai manusia, sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dan orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa."
(QS. Al-Baqarah: 21)»
Mengapa Allah menyebut "orang-orang sebelum kamu"?
Karena Allah ingin mengingatkan bahwa Tuhan yang memerintahkan manusia sekarang adalah Tuhan yang sama yang menciptakan seluruh generasi sebelumnya.
Dengan demikian, tauhid bukanlah keyakinan yang baru muncul pada masa Nabi Muhammad ï·º.
Tauhid adalah agama pertama manusia.
Hal ini ditegaskan lagi:
«"Sungguh Kami telah mengutus kepada setiap umat seorang rasul (dengan membawa seruan): Sembahlah Allah dan jauhilah thaghut."
(QS. An-Nahl: 36)»
Artinya, menurut Al-Qur'an, sejak awal sejarah manusia, setiap umat menerima seruan yang sama: menyembah Allah semata.
Argumentasi Kedua: Syariat Juga Memiliki Mata Rantai Sejarah
Allah berfirman:
«"Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu..."
(QS. Al-Baqarah: 183)»
Ayat ini menunjukkan bahwa syariat Islam tidak muncul tanpa sejarah.
Puasa telah dikenal oleh umat-umat terdahulu.
Demikian pula shalat, zakat, kurban, dan berbagai bentuk ibadah lainnya memiliki akar dalam risalah para nabi sebelumnya, meskipun rincian hukumnya dapat berbeda.
Artinya, menurut Al-Qur'an, kehidupan manusia sejak awal bukanlah kehidupan tanpa aturan, melainkan kehidupan yang dibimbing wahyu.
Argumentasi Ketiga: Ujian Orang Beriman Juga Berulang Sepanjang Sejarah
Allah berfirman:
«"Apakah kamu mengira akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu cobaan seperti yang dialami orang-orang sebelum kamu..."
(QS. Al-Baqarah: 214)»
Ayat ini menunjukkan bahwa bukan hanya aqidah dan syariat yang memiliki kesinambungan sejarah.
Perjuangan orang-orang beriman pun memiliki pola yang sama.
Para nabi terdahulu diuji.
Umat-umat terdahulu diuji.
Kaum Muslim pada masa Nabi Muhammad ï·º juga diuji.
Sejarah menjadi bukti bahwa sunnatullah berlaku pada setiap generasi.
Apa Kesimpulan Besarnya?
Jika ketiga ayat ini disusun bersama, tampak sebuah pola yang sangat jelas.
Allah menghubungkan:
- aqidah hari ini dengan aqidah para nabi terdahulu;
- syariat hari ini dengan syariat umat-umat terdahulu;
- ujian hari ini dengan ujian orang-orang beriman terdahulu.
Ini menunjukkan bahwa Al-Qur'an memandang sejarah manusia sebagai satu mata rantai yang bersambung.
Dari Mana Datangnya Syirik?
Jika seluruh manusia berasal dari Nabi Adam yang menerima petunjuk Allah, dan setiap umat menerima rasul yang menyerukan tauhid, maka penyembahan berhala, politeisme, animisme, dinamisme, dan berbagai bentuk penyimpangan bukanlah titik awal sejarah manusia menurut Al-Qur'an.
Semua itu adalah penyimpangan yang muncul kemudian, setelah manusia meninggalkan petunjuk para rasul.
Karena itu Al-Qur'an berkali-kali menceritakan bagaimana suatu kaum mula-mula menerima risalah tauhid, lalu sebagian dari mereka mengubah, melupakan, atau menyimpang darinya.
Dengan demikian, dalam pandangan Al-Qur'an, sejarah agama bukanlah perjalanan dari tidak bertuhan menuju bertuhan, tetapi perjalanan dari tauhid menuju berbagai bentuk penyimpangan, kemudian Allah mengutus para rasul untuk mengembalikan manusia kepada fitrah.
Penutup
Surah Al-Baqarah mengajarkan bahwa aqidah, syariat, dan perjuangan kaum beriman selalu memiliki akar sejarah.
Kesadaran masa kini selalu dihubungkan dengan masa lalu agar manusia memahami bahwa mereka bukan generasi pertama yang mengenal Allah.
Mereka hanyalah mata rantai terakhir dari perjalanan panjang risalah para nabi.
Karena itu, menurut pandangan Al-Qur'an, asal-usul manusia adalah tauhid dan bimbingan wahyu. Adapun kesyirikan dan berbagai bentuk penyembahan selain Allah merupakan penyimpangan yang muncul dalam perjalanan sejarah, bukan fondasi awal kehidupan manusia.
0 komentar: