Allah Tidak Lengah
Menyelidiki Pesan Besar Surah Al-Baqarah di Balik Frasa "Wa mā Allāhu bi-ghāfilin 'ammā ta'malūn"
Ada satu kalimat yang terus muncul di berbagai bagian Surah Al-Baqarah.
«"Wa mā Allāhu bi-ghāfilin 'ammā ta'malūn."
"Allah tidak lengah terhadap apa yang kamu kerjakan."»
Kalimat ini tidak muncul sekali. Ia diulang berkali-kali pada tema yang berbeda.
Pertanyaannya, mengapa Allah mengulanginya?
Jika ditelusuri secara berurutan, ternyata pengulangan ini bukan sekadar penutup ayat, melainkan sebuah kesimpulan dari berbagai bentuk penyimpangan manusia. Seolah-olah Allah sedang membangun satu pesan besar:
Jangan pernah mengira ada satu pun perbuatan yang luput dari pengawasan-Nya.
Bukti Pertama: Ketika Agama Dipilih Sesuai Kepentingan
Surah Al-Baqarah ayat 85 mengungkap ironi yang terjadi pada Bani Israil.
Mereka membunuh sesama, mengusir saudara mereka dari kampung halaman, lalu ketika saudara itu menjadi tawanan, mereka menebusnya.
Mereka menaati sebagian isi Taurat, tetapi mengabaikan bagian yang lain.
Allah kemudian mengajukan pertanyaan yang mengguncang:
«"Apakah kamu beriman kepada sebagian Kitab dan mengingkari sebagian yang lain?"»
Di akhir ayat itu Allah menutup dengan kalimat:
«"Allah tidak lengah terhadap apa yang kamu kerjakan."»
Artinya, manusia mungkin berhasil membangun alasan, membuat pembenaran, bahkan membungkus penyimpangan dengan dalih agama.
Namun Allah melihat keseluruhan gambar, bukan potongan-potongannya.
Tidak ada kontradiksi yang luput dari pengetahuan-Nya.
---
Bukti Kedua: Ketika Sejarah Dimanipulasi
Pada ayat 140, penyimpangannya berubah bentuk.
Bukan lagi kekerasan.
Melainkan manipulasi sejarah.
Sebagian Ahli Kitab mengklaim bahwa Ibrahim, Ismail, Ishaq, Ya'qub, dan para nabi lainnya adalah Yahudi atau Nasrani.
Allah membantah dengan pertanyaan yang sangat tajam:
«"Apakah kamu yang lebih mengetahui atau Allah?"»
Masalahnya bukan sekadar kesalahan informasi.
Masalahnya adalah menyembunyikan kesaksian yang berasal dari Allah demi mempertahankan identitas kelompok.
Sekali lagi ayat itu ditutup dengan kalimat yang sama:
«"Allah tidak lengah terhadap apa yang kamu kerjakan."»
Kebohongan mungkin berhasil memengaruhi opini manusia.
Tetapi tidak pernah mengubah fakta di sisi Allah.
---
Bukti Ketiga: Ketika Kebenaran Ditolak Walaupun Sudah Diketahui
Ayat 144 berbicara tentang perpindahan kiblat.
Orang-orang Ahli Kitab sebenarnya mengetahui bahwa perubahan itu memang benar berasal dari Allah.
Masalah mereka bukan kurang bukti.
Masalah mereka adalah menolak mengikuti bukti.
Mereka mengetahui.
Tetapi tidak mau tunduk.
Karena itu Allah kembali menegaskan:
«"Allah tidak lengah terhadap apa yang mereka kerjakan."»
Yang diawasi Allah bukan hanya ucapan.
Tetapi juga penolakan yang tersembunyi di dalam hati.
---
Bukti Keempat: Ketika Fitnah Terus Diproduksi
Pada ayat 149, perintah menghadap Masjidil Haram kembali diulang.
Mengapa?
Karena perpindahan kiblat menjadi bahan propaganda.
Kaum Yahudi, kaum musyrik, dan kaum munafik melontarkan berbagai tuduhan untuk menggoyahkan keyakinan kaum Muslimin.
Mereka memproduksi narasi.
Mereka membangun opini.
Mereka menciptakan keraguan.
Tetapi Allah menutup semuanya dengan satu kalimat yang sama:
«"Allah tidak lengah terhadap apa yang kamu kerjakan."»
Manusia mungkin hanya melihat narasi yang berhasil dibangun.
Allah melihat motif di balik narasi itu.
---
Pola yang Terungkap
Setelah seluruh ayat tersebut disusun berdampingan, tampak sebuah pola yang sangat menarik.
Frasa "Allah tidak lengah" selalu muncul setelah manusia melakukan penyimpangan yang sulit dideteksi oleh manusia lain.
Bukan sekadar dosa yang tampak.
Melainkan penyimpangan yang dibungkus dengan logika, politik, agama, bahkan sejarah.
Seakan-akan Allah sedang berkata:
"Kalian boleh menipu manusia."
"Kalian boleh menyembunyikan fakta."
"Kalian boleh membangun citra."
"Tetapi kalian tidak pernah berada di luar pengawasan-Ku."
---
Allah Tidak Pernah Kehilangan Satu Detail Pun
Kata ghāfil berarti lalai, lengah, atau tidak memperhatikan.
Sifat ini adalah kelemahan manusia.
Manusia lupa.
Hakim bisa salah.
Sejarawan dapat kehilangan data.
Saksi dapat berbohong.
Media bisa dipengaruhi.
Tetapi Allah menegaskan bahwa sifat itu tidak pernah ada pada-Nya.
Tidak ada fakta yang hilang.
Tidak ada niat yang tersembunyi.
Tidak ada konspirasi yang terlalu rapi.
Tidak ada manipulasi yang terlalu canggih.
Semuanya berada dalam pengetahuan Allah.
---
Pesan Besar Surah Al-Baqarah
Jika frasa "Allah Maha Melihat" (Al-Baṣīr) mengajarkan bahwa Allah melihat seluruh amal manusia, maka frasa "Allah tidak lengah" memberikan penegasan yang lebih jauh.
Allah bukan sekadar melihat.
Allah tidak pernah kehilangan perhatian terhadap apa pun.
Tidak pernah terlambat.
Tidak pernah lupa.
Tidak pernah tertipu.
Tidak pernah melewatkan satu detail pun.
Inilah fondasi keadilan Ilahi.
Bagi orang yang zalim, kalimat ini adalah ancaman.
Bagi orang yang dizalimi, kalimat ini adalah penghiburan.
Sebab meskipun dunia gagal menegakkan keadilan, Allah tidak pernah lengah mengawasi setiap peristiwa, dan pada saat yang telah Dia tetapkan, seluruh amal akan dibalas dengan keadilan yang sempurna.
0 komentar: