Allah Maha Cepat Perhitungannya
Menyelidiki Pesan Surah Al-Baqarah di Balik Frasa "Wallāhu Sarī‘ul Ḥisāb"
Ada satu anggapan yang hampir selalu muncul dalam kehidupan manusia.
Jika hukuman belum datang, berarti kesalahan belum diperhitungkan.
Jika orang zalim masih hidup nyaman, berarti keadilan terlambat bekerja.
Jika orang saleh masih menderita, berarti amalnya belum mendapat balasan.
Namun, benarkah demikian?
Surah Al-Baqarah mengajak kita menyelidiki sebuah fakta yang justru bertolak belakang dengan logika manusia.
Di tengah berbagai pembahasan tentang doa, ibadah, dunia, dan akhirat, Allah menyatakan:
«"Wallāhu sarī‘ul ḥisāb."
"Allah Maha Cepat perhitungan-Nya." (QS. Al-Baqarah: 202)»
Mengapa penegasan ini muncul?
Apa yang sebenarnya sedang Allah luruskan?
---
Temuan Pertama: Tidak Ada Amal yang Menunggu untuk Dihitung
Ayat 202 berbicara tentang orang-orang yang berdoa memohon kebaikan dunia sekaligus akhirat.
Mereka tidak hanya berdoa.
Mereka juga berusaha.
Mereka menggabungkan iman, ikhtiar, dan amal saleh.
Allah kemudian menegaskan:
«"Mereka memperoleh bagian dari apa yang telah mereka usahakan."»
Lalu ayat ditutup dengan kalimat:
«"Allah Maha Cepat perhitungan-Nya."»
Pesannya jelas.
Allah tidak pernah menunda pencatatan amal.
Setiap usaha langsung masuk ke dalam "perhitungan" Allah.
Tidak ada amal yang tercecer.
Tidak ada kebaikan yang hilang.
Tidak ada pengorbanan yang terlupakan.
Kecepatan hisab bukan berarti Allah terburu-buru.
Justru karena ilmu-Nya sempurna, seluruh amal dapat diperhitungkan tanpa kesalahan sedikit pun.
---
Temuan Kedua: Manusia Terlalu Lama Menunggu
Mengapa banyak orang tetap menolak kebenaran?
Jawabannya muncul pada ayat 210.
Mereka terus menunda.
Mereka menunggu bukti yang lebih besar.
Mereka menunggu mukjizat yang lebih nyata.
Mereka menunggu datangnya keputusan Allah secara langsung.
Padahal Al-Qur'an bertanya dengan nada yang menggugah:
«"Tidak ada yang mereka tunggu selain datangnya Allah dalam naungan awan bersama para malaikat, sementara perkara telah diputuskan."»
Di sinilah ironi itu terungkap.
Manusia mengira masih banyak waktu.
Padahal dalam pandangan Allah, perkara itu sudah selesai.
Yang tersisa hanyalah pelaksanaannya.
---
Temuan Ketiga: Dunia Sering Salah Membaca Keberhasilan
Ayat 212 mengungkap fenomena yang selalu berulang dalam sejarah.
Orang-orang kafir memandang kehidupan dunia begitu indah.
Mereka menghina orang-orang beriman.
Mereka menjadikan kekayaan sebagai ukuran keberhasilan.
Mereka menganggap kemiskinan sebagai tanda kegagalan.
Namun Allah membalik cara pandang itu.
«"Orang-orang yang bertakwa berada di atas mereka pada Hari Kiamat."»
Kemudian Allah menutup dengan kalimat yang mengejutkan:
«"Allah memberi rezeki kepada siapa yang Dia kehendaki tanpa perhitungan."»
Sekilas muncul pertanyaan.
Mengapa pada ayat sebelumnya Allah disebut Maha Cepat Perhitungan-Nya, sedangkan di sini Allah memberi rezeki tanpa perhitungan?
Apakah keduanya bertentangan?
Justru di sinilah letak keindahan susunan Al-Qur'an.
---
Menyingkap Polanya
Ketika seluruh ayat disusun berdampingan, muncul sebuah pola yang sangat menarik.
Hisab memiliki dua sisi.
Bagi amal manusia...
Allah menghitung dengan sangat cepat.
Tidak ada yang terlambat.
Tidak ada yang terlupakan.
Tetapi bagi karunia Allah...
Allah memberi melampaui hitungan manusia.
Rezeki-Nya tidak dibatasi oleh logika matematika.
Rahmat-Nya tidak dibatasi oleh kemampuan manusia menghitung.
Artinya,
Allah sangat teliti ketika menghisab keadilan.
Tetapi Allah sangat luas ketika memberi karunia.
---
Mengapa Allah Menegaskan "Maha Cepat Perhitungan"?
Dalam kehidupan dunia, manusia sering salah memahami waktu.
Kita mengira bahwa cepat berarti tergesa-gesa.
Sedangkan lambat berarti lebih teliti.
Pada Allah, keduanya tidak berlaku.
Allah tidak membutuhkan waktu untuk mengingat.
Tidak membutuhkan saksi untuk memastikan.
Tidak membutuhkan berkas perkara.
Tidak membutuhkan proses penyelidikan.
Seluruh kehidupan manusia berada dalam ilmu-Nya secara sempurna.
Karena itu, pada Hari Kiamat seluruh makhluk dapat dihisab tanpa ada satu amal pun yang terlewat.
Bukan karena prosesnya dipercepat.
Melainkan karena pengetahuan Allah memang tidak pernah mengalami keterlambatan.
---
Pesan Besar Surah Al-Baqarah
Surah Al-Baqarah sedang membangun cara pandang baru tentang keadilan.
Keadilan Allah bukanlah keadilan yang lambat.
Keadilan Allah juga bukan keadilan yang emosional.
Ia adalah keadilan yang telah bekerja sejak amal itu dilakukan.
Ketika seseorang berbuat baik, amalnya telah tercatat.
Ketika seseorang berbuat zalim, dosanya telah tercatat.
Ketika seseorang bersabar, pahalanya telah tercatat.
Tidak ada masa tunggu dalam ilmu Allah.
Yang menunggu hanyalah waktu pelaksanaan balasan.
Karena itu, frasa "Wallāhu Sarī‘ul Ḥisāb" bukan sekadar informasi tentang Hari Kiamat.
Ia adalah cara Allah menenangkan hati orang beriman.
Jangan mengira pengorbananmu terlupakan.
Jangan mengira kezaliman akan lolos dari perhitungan.
Jangan mengira dunia adalah ukuran akhir dari keadilan.
Sebab di balik perjalanan sejarah yang tampak panjang, seluruh amal manusia sesungguhnya telah berada dalam perhitungan Allah yang sempurna.
Allah Maha Cepat Perhitungan-Nya.
Dan justru karena itulah, tidak seorang pun akan dizalimi, tidak satu amal pun akan hilang, dan tidak satu kebaikan pun akan sia-sia.
0 komentar: