Dalam Al-Baqarah, Mengapa Kisah Bani Israil Langsung Dikaitkan dengan Yahudi?
Surah Al-Baqarah menghadirkan sebuah fenomena yang menarik untuk diteliti. Ketika berbicara kepada komunitas Yahudi di Madinah pada masa Rasulullah ï·º, Al-Qur'an tidak membatasi pembahasannya hanya pada peristiwa yang sedang berlangsung. Sebaliknya, ia berkali-kali membawa pembaca kembali kepada kisah Bani Israil pada zaman Nabi Musa, kemudian kembali lagi kepada realitas Yahudi Madinah, bahkan berpindah kepada generasi-generasi sesudahnya tanpa memberikan batas waktu yang tegas.
Perpindahan ini bukan sekadar gaya bahasa. Ia menunjukkan bahwa fokus utama Al-Qur'an bukanlah kronologi sejarah, melainkan pola karakter yang terus berulang.
Inilah salah satu sisi kemukjizatan Al-Qur'an. Kitab ini tidak hanya mengabadikan sebuah peristiwa, tetapi mengungkap sebuah pola perilaku manusia yang dapat muncul kembali pada generasi berikutnya apabila sebab-sebabnya tetap ada.
Karena itu, ketika Al-Qur'an menyebut perilaku Bani Israil pada zaman Musa, lalu mengaitkannya dengan Yahudi Madinah, Allah seakan menunjukkan bahwa yang sedang dinilai bukan sekadar individu tertentu, melainkan kesinambungan karakter yang diwariskan, dipelihara, dan diulang oleh sebagian dari mereka.
Hal ini tampak jelas dalam firman Allah:
«"Apakah kamu masih mengharapkan mereka akan beriman kepadamu, padahal segolongan dari mereka dahulu mendengar firman Allah, kemudian mereka mengubahnya setelah mereka memahaminya, sedang mereka mengetahui?" (QS. Al-Baqarah: 75)»
Ayat ini menjadi pintu masuk untuk memahami seluruh rangkaian pembahasan berikutnya. Allah mengingatkan kaum Muslimin agar tidak menilai penolakan Yahudi Madinah sebagai peristiwa yang berdiri sendiri. Apa yang mereka lakukan memiliki akar sejarah yang panjang.
Selanjutnya, Surah Al-Baqarah menyusun sebuah "berkas investigasi" yang mengungkap pola-pola tersebut secara bertahap.
Pertama, Al-Qur'an mengungkap adanya penyembunyian dan perubahan terhadap kebenaran yang telah mereka ketahui (QS. Al-Baqarah: 75, 101, 146, 159, dan 174). Mereka mengetahui tanda-tanda kerasulan Nabi Muhammad ï·º dalam kitab mereka, namun sebagian memilih menutupinya demi mempertahankan kedudukan, pengaruh, dan kepentingan duniawi.
Kedua, Al-Qur'an memperlihatkan adanya sikap bermuka dua. Ketika bertemu kaum mukmin, sebagian berkata, "Kami beriman." Namun ketika kembali kepada kelompoknya, mereka saling menyesalkan mengapa rahasia yang menguatkan hujah kaum Muslimin justru diungkapkan (QS. Al-Baqarah: 76).
Ketiga, Al-Qur'an membongkar rasa aman yang dibangun di atas klaim identitas, bukan di atas ketaatan. Mereka berkata bahwa neraka hanya akan menyentuh mereka beberapa hari saja (QS. Al-Baqarah: 80), bahkan mengklaim bahwa surga hanya diperuntukkan bagi golongan mereka (QS. Al-Baqarah: 111). Al-Qur'an membantah seluruh klaim tersebut dengan menuntut bukti, bukan sekadar angan-angan.
Keempat, Al-Qur'an mengungkap motif di balik penolakan mereka terhadap kerasulan Muhammad ï·º. Mereka sebelumnya menunggu kedatangan nabi terakhir dan bahkan menjadikannya sebagai harapan kemenangan atas kaum musyrik. Namun ketika nabi yang dijanjikan benar-benar datang, mereka justru mengingkarinya (QS. Al-Baqarah: 89). Surah Al-Baqarah menjelaskan bahwa salah satu pendorong utama penolakan tersebut adalah hasad (kedengkian) setelah kebenaran menjadi jelas bagi mereka (QS. Al-Baqarah: 109).
Kelima, Al-Qur'an menunjukkan kecenderungan menjadikan identitas kelompok sebagai ukuran kebenaran. Mereka mengajak manusia mengikuti agama mereka sebagai satu-satunya jalan hidayah (QS. Al-Baqarah: 135), bahkan mengklaim seluruh nabi terdahulu sebagai pengikut identitas keagamaan mereka (QS. Al-Baqarah: 140). Al-Qur'an kemudian mengembalikan standar kebenaran kepada tauhid dan Millah Ibrahim, bukan kepada identitas etnis maupun kelompok.
Menariknya, hampir setiap kali Al-Qur'an menyebut penyimpangan generasi terdahulu, ayat berikutnya langsung mengaitkannya dengan Yahudi Madinah. Seolah-olah sejarah sedang diputar kembali dalam bentuk yang berbeda, tetapi dengan pola yang sama.
Inilah yang menyebabkan Al-Qur'an sering menyandarkan perbuatan nenek moyang kepada generasi yang hidup pada masa Rasulullah ï·º. Bukan karena setiap individu melakukan perbuatan yang sama, melainkan karena sebagian dari mereka mempertahankan pola pikir, sikap, dan keberpihakan yang sama terhadap kebenaran. Tafsir Kementerian Agama RI juga menjelaskan bahwa penyandaran tersebut menunjukkan kesinambungan karakter ketika generasi berikutnya meridhai dan meneruskan penyimpangan pendahulunya.
Dengan demikian, Surah Al-Baqarah tidak sedang mengajarkan kebencian terhadap suatu etnis atau bangsa. Sebaliknya, Al-Qur'an sedang mengajarkan cara membaca sejarah melalui pola-pola moral. Yang dikritik adalah karakter seperti menyembunyikan kebenaran, memutarbalikkan wahyu, dengki terhadap kebenaran, fanatisme golongan, dan menjadikan kepentingan dunia sebagai alasan menolak petunjuk Allah.
Karakter-karakter seperti ini tidak terbatas pada satu bangsa. Ia dapat muncul pada siapa saja yang mengulangi sebab-sebab yang sama. Karena itulah kisah Bani Israil menjadi pelajaran abadi bagi umat Islam agar tidak mengulangi penyakit yang sama.
Inilah salah satu kemukjizatan Al-Qur'an. Ia tidak sekadar mengabadikan sejarah, tetapi menyingkap hukum-hukum moral yang terus bekerja sepanjang zaman. Selama sebab-sebabnya masih ada, pola-pola itu akan terus berulang, meskipun pelakunya berganti generasi.
0 komentar: