Pola Penolakan terhadap Wahyu dalam Surah Al-Baqarah
Mengapa sebagian Ahli Kitab di Madinah menolak Nabi Muhammad ﷺ, padahal mereka telah lama menunggu kedatangan seorang nabi?
Surah Al-Baqarah mengungkap fakta yang menarik. Penolakan mereka ternyata bukan sekadar penolakan terhadap seorang manusia bernama Muhammad. Al-Qur'an menunjukkan bahwa akar persoalannya jauh lebih dalam.
Mereka memusuhi malaikat pembawa wahyu.
Mereka mencemarkan nama seorang nabi.
Bahkan mereka menggunakan permainan bahasa untuk merendahkan Rasulullah ﷺ.
Ketiga peristiwa ini tampak berdiri sendiri. Namun jika disusun sesuai urutan ayat-ayat Al-Baqarah, terlihat sebuah pola yang sangat konsisten.
Bukan sekadar konflik politik atau sosial, melainkan penolakan yang dilakukan secara bertahap terhadap otoritas wahyu.
---
Temuan Pertama: Memusuhi Jibril Berarti Menolak Sumber Wahyu
Allah berfirman:
«"Katakanlah, barang siapa menjadi musuh Jibril, maka sesungguhnya dialah yang menurunkannya (Al-Qur'an) ke dalam hatimu dengan izin Allah..."
(QS. Al-Baqarah: 97)»
Ayat ini turun sebagai jawaban atas alasan sebagian orang Yahudi yang mengatakan bahwa mereka tidak menerima Nabi Muhammad ﷺ karena wahyu dibawa oleh Jibril.
Dalam sebagian riwayat tafsir disebutkan bahwa mereka menganggap Mikail sebagai malaikat pembawa rahmat, sedangkan Jibril dianggap membawa peperangan dan hukuman.
Al-Qur'an membongkar logika tersebut.
Jibril bukan pembuat wahyu.
Ia hanyalah utusan Allah.
Karena itu, memusuhi Jibril sama artinya dengan memusuhi Allah yang mengutusnya, sekaligus menolak seluruh rangkaian wahyu yang dibawanya.
Lebih jauh lagi, Al-Qur'an menegaskan bahwa wahyu yang dibawa Jibril bukan agama baru. Ia justru membenarkan kitab-kitab yang telah diturunkan sebelumnya.
Dengan demikian, permusuhan terhadap Jibril sesungguhnya merupakan kontradiksi terhadap keyakinan mereka sendiri sebagai Ahli Kitab.
---
Temuan Kedua: Menyerang Nabi Sulaiman untuk Membenarkan Penyimpangan
Setelah membahas penolakan terhadap Jibril, Al-Qur'an mengungkap persoalan lain.
Allah berfirman:
«"Mereka mengikuti apa yang dibacakan setan-setan pada masa kerajaan Sulaiman. Padahal Sulaiman tidak kafir, tetapi setan-setan itulah yang kafir..."
(QS. Al-Baqarah: 102)»
Mengapa Al-Qur'an perlu membela Nabi Sulaiman?
Karena sebagian kalangan Yahudi menuduh bahwa kekuasaan Nabi Sulaiman diperoleh melalui sihir.
Tuduhan ini memiliki dampak yang sangat besar.
Jika Sulaiman dianggap menggunakan sihir, maka praktik sihir dapat diberi legitimasi seolah-olah berasal dari seorang nabi.
Al-Qur'an menolak tuduhan tersebut secara tegas.
Sulaiman tidak pernah mengajarkan sihir.
Yang mengajarkan sihir adalah setan-setan yang menyesatkan manusia.
Dengan membebaskan Nabi Sulaiman dari tuduhan itu, Al-Qur'an sekaligus memulihkan kemuliaan kenabian dan menutup segala upaya menjadikan para nabi sebagai pembenar penyimpangan.
Ayat ini juga memperingatkan bahwa ilmu yang luar biasa tidak selalu berasal dari kebenaran.
Harut dan Marut disebut sebagai ujian. Sebelum mengajarkan sesuatu, mereka telah memperingatkan:
«"Sesungguhnya kami hanyalah cobaan, maka janganlah kamu menjadi kafir."»
Namun sebagian manusia tetap memilih menggunakan ilmu tersebut untuk merusak hubungan antarmanusia, termasuk memisahkan suami dan istri.
Al-Qur'an pun menegaskan bahwa semua itu tidak akan memberi mudarat kecuali dengan izin Allah.
---
Temuan Ketiga: Perang Bahasa untuk Menjatuhkan Wibawa Rasulullah
Pola penolakan berikutnya tampak lebih halus.
Allah berfirman:
«"Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengatakan: 'Rā'inā', tetapi katakanlah: 'Unẓurnā'..."
(QS. Al-Baqarah: 104)»
Sepintas, ayat ini hanya mengatur pilihan kata.
Namun di baliknya terdapat strategi penghinaan.
Para sahabat biasa mengucapkan rā'inā dengan makna "perhatikanlah kami."
Sebagian orang Yahudi kemudian memelesetkan pengucapannya sehingga terdengar seperti kata dalam bahasa mereka yang bermakna ejekan terhadap Nabi.
Mereka memanfaatkan kemiripan bunyi untuk merendahkan Rasulullah ﷺ tanpa terlihat terang-terangan.
Al-Qur'an tidak membalas dengan ejekan.
Sebaliknya, Allah mengubah pilihan kata agar celah tersebut tertutup.
Ini menunjukkan bahwa menjaga kemuliaan dakwah kadang dilakukan bukan dengan memperbesar konflik, tetapi dengan menghilangkan peluang bagi pihak lain untuk memelintir ucapan.
---
Benang Merah: Penolakan yang Sistematis terhadap Otoritas Wahyu
Jika ketiga ayat ini dibaca secara berurutan, tampak sebuah pola yang jelas.
Pertama, mereka menolak malaikat pembawa wahyu.
Kedua, mereka mencemarkan nama nabi yang menjadi simbol kekuasaan dan hikmah.
Ketiga, mereka berusaha merendahkan Rasulullah ﷺ melalui permainan bahasa.
Sasarannya berbeda, tetapi tujuannya sama: melemahkan kepercayaan terhadap wahyu dan kenabian.
Surah Al-Baqarah membongkar pola tersebut satu per satu.
Penolakan terhadap Nabi Muhammad ﷺ tidak berdiri sendiri. Ia merupakan kelanjutan dari sikap menolak otoritas ilahi yang telah tampak dalam berbagai bentuk sebelumnya.
---
Pelajaran yang Dapat Diambil
Melalui ayat-ayat ini, Surah Al-Baqarah mengajarkan bahwa pertarungan antara kebenaran dan kebatilan tidak selalu terjadi di medan perang.
Kadang ia terjadi dalam cara manusia memandang wahyu.
Kadang melalui upaya memutarbalikkan sejarah para nabi.
Kadang melalui penyalahgunaan ilmu.
Kadang melalui permainan bahasa yang tampak sederhana, tetapi bertujuan merusak kehormatan.
Karena itu, seorang mukmin dituntut tidak hanya menjaga keimanan kepada Allah, tetapi juga menjaga penghormatan kepada seluruh rangkaian wahyu, para malaikat, para nabi, serta adab dalam berbicara.
Dengan demikian, Surah Al-Baqarah memperlihatkan bahwa mempertahankan agama bukan hanya menghadapi serangan fisik, tetapi juga menghadapi penyimpangan pemikiran, manipulasi sejarah, dan distorsi bahasa yang dapat mengaburkan kebenaran.
0 komentar: