Mengapa Al-Baqarah Selalu Menghubungkan Kesadaran Aqidah, Syariat dan Ujian Masa Kini dengan Masa Lalu?
Menyelidiki Metode Pendidikan Sejarah dalam Al-Qur'an
Salah satu pola yang paling menarik dalam Surah Al-Baqarah adalah cara Al-Qur'an membangun kesadaran manusia. Ketika memberikan perintah, Allah hampir tidak pernah memutus manusia dari sejarahnya. Sebaliknya, setiap generasi selalu diajak melihat jejak generasi sebelumnya.
Mengapa?
Mengapa ketika Allah memerintahkan manusia beribadah, Dia langsung mengingatkan bahwa Dia juga menciptakan orang-orang sebelum mereka?
Mengapa ketika Allah mewajibkan puasa, Dia tidak mengatakan, "Puasalah karena Aku memerintahkannya," tetapi justru mengatakan bahwa puasa telah diwajibkan kepada umat-umat terdahulu?
Mengapa ketika kaum Muslimin mengalami penderitaan berat di Madinah, Allah tidak sekadar menjanjikan kemenangan, melainkan mengajak mereka melihat penderitaan para nabi dan orang-orang beriman sebelum mereka?
Tiga ayat dalam Surah Al-Baqarah memberikan petunjuk yang sangat jelas.
Tahap Pertama: Ibadah Dibangun di Atas Kesadaran Sejarah
Allah berfirman:
«"Wahai manusia, sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dan orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa."
(QS. Al-Baqarah: 21)»
Perintah ini tampak sederhana.
Namun terdapat satu kalimat yang sangat penting:
«"...dan orang-orang sebelum kamu."»
Secara logis, Allah cukup mengatakan bahwa Dia menciptakan manusia yang sedang diajak berbicara. Akan tetapi Al-Qur'an justru memperluas perspektif mereka kepada seluruh generasi manusia.
Pesan yang dibangun bukan sekadar:
"Allah adalah Tuhanmu."
Melainkan:
"Allah adalah Tuhan seluruh sejarah manusia."
Dengan demikian, ibadah bukanlah ritual yang lahir pada masa Nabi Muhammad ï·º. Ia merupakan mata rantai yang telah berlangsung sejak Nabi Adam, diteruskan oleh Nuh, Ibrahim, Musa, Isa, hingga Nabi Muhammad ï·º.
Hal ini sejalan dengan firman Allah:
«"Sungguh Kami telah mengutus seorang rasul kepada setiap umat (dengan membawa seruan): Sembahlah Allah dan jauhilah thaghut."
(QS. An-Nahl: 36)»
Artinya, sebelum manusia diperintahkan beribadah, Allah terlebih dahulu membangun kesadaran historis bahwa mereka sedang melanjutkan perjalanan panjang tauhid.
Tahap Kedua: Syariat Dipahami sebagai Tradisi Para Nabi
Pola yang sama muncul ketika Allah mewajibkan puasa.
Allah berfirman:
«"Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa."
(QS. Al-Baqarah: 183)»
Sekali lagi, Al-Qur'an menghubungkan masa kini dengan masa lalu.
Puasa tidak diperkenalkan sebagai beban baru, tetapi sebagai ibadah yang telah menjadi bagian dari perjalanan seluruh umat para nabi.
Dengan cara ini, Allah mengubah cara pandang seorang mukmin.
Ia tidak lagi berkata:
"Mengapa hanya kami yang diperintahkan berpuasa?"
Sebaliknya ia menyadari:
"Inilah jalan yang telah ditempuh para nabi dan umat-umat sebelum kami."
Kesadaran ini melahirkan rasa memiliki terhadap sejarah kenabian sekaligus menghilangkan perasaan bahwa syariat Islam berdiri sendiri tanpa akar sejarah.
Karena itu tujuan puasa tetap sama sejak dahulu hingga sekarang:
«"...agar kamu bertakwa."»
Artinya, meskipun zaman berubah, tujuan pendidikan ruhani tetap tidak berubah.
Tahap Ketiga: Ujian Masa Kini Dijelaskan Melalui Ujian Masa Lalu
Hubungan antara masa kini dan masa lalu mencapai puncaknya ketika kaum Muslimin mengalami krisis.
Allah berfirman:
«"Apakah kamu mengira akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu cobaan seperti yang dialami orang-orang sebelum kamu..."
(QS. Al-Baqarah: 214)»
Ayat ini turun ketika kaum Muslimin menghadapi masa-masa yang sangat berat. Sebagian riwayat mengaitkannya dengan Perang Uhud, sebagian dengan Perang Khandaq, dan sebagian lagi dengan penderitaan kaum Muhajirin pada masa awal Madinah.
Apa pun latar peristiwa yang menjadi sebab turunnya, pesan ayat ini bersifat universal.
Allah tidak langsung menghilangkan penderitaan mereka.
Allah juga tidak langsung menjanjikan kemenangan.
Yang Allah lakukan justru membawa mereka melihat sejarah.
Seolah-olah Allah berkata:
"Apa yang sedang kalian alami bukanlah sesuatu yang baru."
Para rasul sebelum kalian pernah mengalami hal yang sama.
Orang-orang beriman sebelum kalian juga pernah diguncang oleh kemiskinan, rasa takut, kehilangan, bahkan keputusasaan hingga mereka berkata:
«"Kapankah datang pertolongan Allah?"»
Lalu Allah menjawab:
«"Ketahuilah, sesungguhnya pertolongan Allah itu dekat."»
Dengan demikian, sejarah berfungsi sebagai terapi psikologis. Kesadaran bahwa generasi terdahulu pernah melalui ujian serupa membuat seorang mukmin tidak merasa sendirian dalam perjuangannya.
Mengapa Al-Baqarah Terus Menghubungkan Masa Kini dengan Masa Lalu?
Jika ketiga ayat tersebut disusun secara berurutan, tampak sebuah pola pendidikan yang sangat konsisten.
Pertama, Allah menghubungkan ibadah dengan sejarah penciptaan manusia (QS. Al-Baqarah: 21).
Kedua, Allah menghubungkan syariat dengan sejarah umat para nabi (QS. Al-Baqarah: 183).
Ketiga, Allah menghubungkan ujian dengan sejarah perjuangan orang-orang beriman (QS. Al-Baqarah: 214).
Dengan kata lain, Al-Qur'an tidak mendidik manusia menjadi generasi yang terputus dari masa lalunya.
Sebaliknya, Al-Qur'an membangun apa yang dapat disebut sebagai kesadaran historis (historical consciousness): kesadaran bahwa kehidupan hari ini merupakan kelanjutan dari perjalanan panjang umat manusia di bawah bimbingan Allah.
Sejarah sebagai Laboratorium Sunnatullah
Dari pola tersebut tampak bahwa Al-Qur'an tidak menjadikan sejarah sebagai kumpulan kisah untuk dikenang.
Sejarah adalah laboratorium sunnatullah.
Di dalamnya manusia belajar bahwa:
- tauhid selalu menjadi fondasi seluruh risalah para nabi;
- syariat selalu bertujuan membentuk ketakwaan;
- perjuangan selalu disertai ujian;
- kesabaran selalu mendahului pertolongan Allah;
- dan setiap generasi akan menghadapi pola-pola kehidupan yang serupa, meskipun dalam bentuk yang berbeda.
Karena itu, Surah Al-Baqarah tidak hanya mengajarkan hukum, tetapi juga mengajarkan cara membaca sejarah.
Penutup
Melalui pengaitan yang terus-menerus antara masa kini dan masa lalu, Surah Al-Baqarah membentuk cara berpikir seorang mukmin.
Ia tidak memandang dirinya sebagai individu yang hidup sendirian pada zamannya, tetapi sebagai mata rantai dari perjalanan panjang para nabi dan orang-orang saleh.
Ibadahnya memiliki akar sejarah.
Syariatnya memiliki kesinambungan sejarah.
Ujiannya pun memiliki preseden sejarah.
Dengan kesadaran seperti inilah lahir keteguhan hati. Seorang mukmin memahami bahwa apa yang sedang ia jalani hari ini bukanlah jalan yang baru, melainkan jalan yang telah ditempuh oleh para rasul dan orang-orang beriman sebelum dirinya. Maka sejarah dalam Al-Qur'an bukan sekadar catatan masa lalu, melainkan sumber orientasi, kekuatan, dan harapan bagi setiap generasi.
0 komentar: