Kepada Allahlah Segala Perkara Dikembalikan
Menelusuri Akhir dari Seluruh Perselisihan Manusia
Peradaban manusia dibangun di atas satu keyakinan yang sering kali tidak disadari: bahwa selalu ada kesempatan untuk menunda pertanggungjawaban. Seorang penguasa berharap kekuasaan mampu melindunginya. Seorang pelaku kezaliman percaya jejaknya dapat dihapus. Seorang pendusta mengira sejarah dapat ditulis ulang sesuai kepentingannya.
Namun Al-Qur'an menghadirkan sebuah laporan yang membalik seluruh asumsi tersebut.
Di tengah pembahasan Surah Al-Baqarah tentang pembangkangan Bani Israil, penolakan terhadap wahyu, dan berbagai bentuk penyimpangan manusia, Allah menutupnya dengan sebuah deklarasi yang sangat tegas:
«"...Perkara telah diputuskan. Dan kepada Allahlah segala perkara dikembalikan."
(QS. Al-Baqarah: 210)»
Kalimat ini bukan sekadar penutup sebuah ayat. Ia adalah penutup seluruh ilusi bahwa manusia dapat mengendalikan akhir dari kisah hidupnya.
Investigasi Terhadap Hari Ketika Seluruh Penundaan Berakhir
Ayat ini diawali dengan sebuah pertanyaan yang menggugah:
«"Apakah yang mereka tunggu selain kedatangan Allah dalam naungan awan bersama para malaikat?"»
Pertanyaan tersebut sesungguhnya merupakan kritik terhadap sikap manusia yang terus menunda perubahan.
Mereka telah melihat tanda-tanda.
Mereka telah mendengar peringatan.
Mereka telah menyaksikan bukti.
Namun mereka tetap berkata dalam hati, "Masih ada waktu."
Al-Qur'an membongkar cara berpikir itu.
Yang mereka tunggu sebenarnya bukan tambahan bukti, melainkan datangnya hari ketika bukti tidak lagi berguna.
Tafsir Kementerian Agama menjelaskan bahwa "naungan awan" yang semula disangka membawa rahmat justru menjadi pertanda datangnya keputusan Allah. Simbol yang biasanya identik dengan harapan berubah menjadi tanda berakhirnya seluruh kesempatan.
Inilah titik ketika investigasi kehidupan selesai.
Ketika Berkas Perkara Ditutup
Al-Qur'an menggunakan kalimat yang sangat singkat tetapi menghentakkan:
ÙˆَÙ‚ُضِÙŠَ الْØ£َÙ…ْرُ
"Perkara telah diputuskan."
Tidak dijelaskan adanya sidang panjang.
Tidak disebutkan adanya perdebatan.
Tidak ada ruang untuk menghadirkan saksi baru.
Seluruh proses itu telah selesai.
Selama hidup di dunia, manusia sedang mengumpulkan bukti atas dirinya sendiri.
Ucapan menjadi dokumen.
Perbuatan menjadi arsip.
Niat menjadi catatan.
Semuanya telah direkam sebelum keputusan diumumkan.
Hari Kiamat bukan hari Allah mulai mengetahui.
Hari itu adalah hari ketika seluruh data yang selama ini tersimpan dibuka di hadapan pemiliknya.
Mengapa Seluruh Urusan Harus Kembali Kepada Allah?
Puncak ayat ini berada pada kalimat terakhir:
«ÙˆَØ¥ِÙ„َÙ‰ اللَّÙ‡ِ تُرْجَعُ الْØ£ُÙ…ُورُ
"Kepada Allahlah segala perkara dikembalikan."»
Inilah deklarasi tentang kedaulatan mutlak Allah.
Selama hidup di dunia, manusia menyerahkan urusannya kepada berbagai otoritas.
Ada yang menggantungkan hidup pada kekuasaan.
Ada yang bergantung pada kekayaan.
Ada yang percaya pada jaringan politik.
Ada pula yang merasa hukum dapat dibeli.
Semua otoritas itu hanya berlaku sementara.
Pada akhirnya, seluruh perkara ditarik kembali kepada Pemilik kerajaan langit dan bumi.
Tidak ada banding.
Tidak ada intervensi.
Tidak ada kekuatan yang mampu mengubah keputusan-Nya.
Seluruh sengketa yang tidak pernah selesai di dunia akan memperoleh penyelesaian yang sempurna di hadapan Allah.
Audit Terakhir Seluruh Sejarah
Jika kehidupan dunia diibaratkan sebuah investigasi, maka dunia adalah tahap pengumpulan bukti.
Setiap manusia sedang menyusun berkas perkaranya sendiri.
Tidak ada lembar yang hilang.
Tidak ada rekaman yang rusak.
Tidak ada fakta yang dapat disembunyikan.
Apa yang luput dari penglihatan manusia tetap berada dalam pengetahuan Allah.
Apa yang berhasil ditutupi di dunia tetap tercatat di sisi-Nya.
Karena itu, ayat ini bukan hanya berbicara tentang Hari Kiamat.
Ia juga mengubah cara seorang mukmin memandang kehidupan.
Kesadaran bahwa seluruh urusan akan kembali kepada Allah melahirkan sikap muraqabah—merasa selalu berada dalam pengawasan-Nya—dan muhasabah—berani mengaudit diri sendiri sebelum diaudit oleh Allah.
Penutup: Sebelum Seluruh Urusan Dikembalikan
QS. Al-Baqarah ayat 210 bukan sekadar menggambarkan peristiwa akhir zaman.
Ia adalah undangan untuk meninjau ulang seluruh arah kehidupan.
Selama pintu taubat masih terbuka, manusia masih diberi kesempatan mengembalikan urusannya kepada Allah dengan penuh kesadaran.
Namun ketika keputusan telah ditetapkan, tidak ada lagi ruang untuk memperbaiki catatan kehidupan.
Pada akhirnya, sejarah manusia tidak ditentukan oleh seberapa lama ia berkuasa, seberapa besar kekayaannya, atau seberapa kuat pengaruhnya.
Sejarah manusia berakhir ketika seluruh perkara dikembalikan kepada Allah—Hakim Yang Mahabenar, yang keputusan-Nya tidak dapat dibatalkan dan keadilan-Nya tidak pernah menyisakan satu pun hak yang terabaikan.
0 komentar: