Membangun Tempat Ibadah: Antara Pengabdian Ibrahim dan Ambisi Abrahah
Mengapa satu bangunan yang terbuat dari batu-batu sederhana mampu bertahan sebagai pusat spiritual miliaran manusia selama ribuan tahun, sementara bangunan lain yang dibangun dengan kemegahan luar biasa justru tenggelam dalam lembaran sejarah?
Pertanyaan itu membawa kita kepada dua proyek pembangunan yang dipisahkan oleh berabad-abad waktu, namun memiliki satu kesamaan: sama-sama sebagai tempat ibadah.
Yang pertama adalah Ka'bah yang dibangun Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail. Yang kedua adalah Al-Qullays, katedral megah yang dibangun Abrahah al-Ashram di Yaman pada abad ke-6 Masehi.
Sekilas keduanya tampak serupa. Keduanya merupakan bangunan religius. Keduanya menjadi pusat perhatian masyarakat pada masanya. Namun ketika ditelusuri lebih dalam, keduanya berdiri di atas fondasi yang sangat berbeda.
Perbedaan itulah yang kemudian menentukan nasib masing-masing.
Ka'bah: Membangun karena Perintah
Al-Qur'an mengabadikan momen ketika Nabi Ibrahim dan putranya, Nabi Ismail, meninggikan fondasi Baitullah:
"Dan (ingatlah) ketika Ibrahim meninggikan fondasi Baitullah bersama Ismail..." (QS. Al-Baqarah: 127)
Menariknya, Al-Qur'an tidak menonjolkan kemegahan bangunan tersebut.
Tidak ada penjelasan tentang marmer, emas, ukiran, atau kemewahan arsitektur.
Yang justru ditampilkan adalah doa.
"Ya Tuhan kami, terimalah dari kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui."
Bagi Ibrahim, pembangunan Ka'bah bukanlah proyek prestise.
Ia tidak sedang membangun monumen untuk dikenang manusia.
Ia tidak sedang menciptakan simbol kekuasaan.
Ia hanya melaksanakan perintah Allah.
Bahkan setelah pekerjaan itu selesai, yang keluar dari lisannya bukan kebanggaan, melainkan permohonan agar amal tersebut diterima.
Di sinilah letak perbedaan mendasar yang sering luput dari perhatian.
Ka'bah dibangun bukan untuk menunjukkan kebesaran pembangunnya, tetapi untuk menunjukkan kebesaran Tuhan yang disembah di dalamnya.
Abrahah dan Ambisi Menggeser Pusat Dunia Arab
Beberapa abad kemudian, muncul seorang penguasa Yaman bernama Abrahah al-Ashram.
Ia memimpin wilayah Himyar yang berada di bawah pengaruh Kerajaan Aksum dari Habasyah.
Sebagai penguasa yang memahami pentingnya jalur perdagangan, Abrahah menyadari satu kenyataan penting: Makkah memiliki pengaruh yang jauh melampaui ukuran geografisnya.
Setiap tahun, bangsa Arab datang menuju Ka'bah.
Bersamaan dengan aktivitas keagamaan itu, roda ekonomi juga berputar.
Pasar-pasar hidup.
Kafilah berdatangan.
Perdagangan berkembang.
Dengan kata lain, Ka'bah bukan hanya pusat spiritual, tetapi juga pusat ekonomi dan pengaruh sosial bangsa Arab.
Abrahah ingin mengubah keadaan itu.
Ia membangun sebuah katedral raksasa di Sana'a yang dikenal dengan nama Al-Qullays.
Bangunan tersebut dibuat semegah mungkin.
Berbagai sumber sejarah Arab menyebutkan penggunaan material berkualitas tinggi, hiasan mewah, dan unsur arsitektur yang dirancang untuk mengagumkan siapa pun yang melihatnya.
Tujuannya jelas.
Abrahah ingin memindahkan pusat ziarah Arab dari Makkah ke Yaman.
Jika itu berhasil, arus manusia, perdagangan, dan pengaruh politik akan berpindah bersamanya.
Ketika Tempat Ibadah Menjadi Instrumen Politik
Di sinilah arah kedua pembangunan mulai berlawanan.
Ibrahim membangun Ka'bah sebagai bentuk pengabdian kepada Allah.
Abrahah membangun Al-Qullays sebagai instrumen kekuasaan.
Secara fisik, Al-Qullays mungkin jauh lebih megah dibandingkan Ka'bah pada masa itu.
Namun manusia tidak selalu bergerak karena kemegahan.
Ada sesuatu yang tidak dipahami Abrahah.
Loyalitas spiritual tidak dapat dipindahkan hanya dengan kemewahan bangunan.
Bangsa Arab memiliki ikatan historis, emosional, dan religius yang sangat kuat dengan Ka'bah.
Mereka melihat Ka'bah sebagai warisan Ibrahim.
Karena itu, upaya Abrahah dianggap bukan sekadar proyek pembangunan, tetapi juga intervensi terhadap identitas mereka.
Penolakan pun muncul.
Menurut riwayat yang banyak dikenal dalam literatur sejarah Islam, seorang Arab melakukan tindakan penghinaan terhadap Al-Qullays sebagai bentuk protes terhadap ambisi tersebut.
Peristiwa itu membuat Abrahah murka.
Dari Katedral ke Medan Perang
Kemarahan Abrahah tidak berhenti pada pembangunan katedral.
Ia memutuskan melakukan sesuatu yang jauh lebih besar.
Jika bangsa Arab tidak mau meninggalkan Ka'bah, maka Ka'bah harus dihancurkan.
Maka disusunlah ekspedisi militer terbesar yang pernah disaksikan Jazirah Arab saat itu.
Pasukan bergerak dari Yaman menuju Makkah.
Mereka membawa gajah-gajah perang yang belum pernah dilihat kebanyakan penduduk Arab sebelumnya.
Tujuannya hanya satu: meruntuhkan Ka'bah.
Peristiwa ini kemudian dikenal sebagai Tahun Gajah.
Al-Qur'an mengabadikannya dalam Surah Al-Fil:
"Tidakkah engkau memperhatikan bagaimana Tuhanmu telah bertindak terhadap pasukan bergajah?"
Yang menarik, Al-Qur'an tidak memuji keberanian pasukan Makkah.
Tidak pula menonjolkan kekuatan militer mereka.
Sebab memang penduduk Makkah tidak memiliki kemampuan menghadapi pasukan sebesar itu.
Al-Qur'an justru menyoroti intervensi Allah yang menggagalkan seluruh rencana tersebut.
Pasukan yang datang dengan ambisi menghancurkan Ka'bah tidak pernah mencapai tujuannya.
Fondasi atau Fasad?
Jika ditelusuri lebih jauh, kisah Ibrahim dan Abrahah sesungguhnya bukan sekadar kisah dua bangunan.
Ia adalah kisah tentang dua jenis fondasi.
Ibrahim memulai dari fondasi nilai.
Abrahah memulai dari fasad kemegahan.
Ibrahim membangun dengan batu-batu sederhana, tetapi dengan niat yang lurus.
Abrahah membangun dengan material mewah, tetapi dengan ambisi menguasai manusia.
Ibrahim mengakhiri pekerjaannya dengan doa.
Abrahah mengakhirinya dengan ultimatum militer.
Yang satu membangun untuk mendekatkan manusia kepada Allah.
Yang lain membangun untuk mengalihkan manusia kepada pusat kekuasaan yang ia ciptakan.
Mengapa Satu Bertahan dan Satu Dilupakan?
Hari ini, miliaran manusia masih menghadap Ka'bah dalam shalat mereka.
Jutaan manusia datang berhaji setiap tahun.
Nama Ibrahim dikenang sebagai bapak para nabi dan simbol ketundukan kepada Allah.
Sebaliknya, Al-Qullays hampir tidak meninggalkan pengaruh spiritual dalam sejarah manusia.
Bangunannya hilang.
Fungsinya lenyap.
Namanya hanya muncul ketika orang membahas kegagalan ekspedisi Abrahah.
Sejarah seolah sedang memberikan satu pelajaran yang berulang.
Tidak semua bangunan besar menjadi agung.
Tidak semua bangunan sederhana menjadi kecil.
Nilai sebuah tempat ibadah tidak ditentukan oleh tinggi bangunannya, mahalnya materialnya, atau luasnya halamannya.
Nilai itu ditentukan oleh tujuan pembangunannya.
Pelajaran dari Dua Pembangunan
Kisah Ibrahim dan Abrahah menunjukkan bahwa bangunan pada akhirnya adalah cermin dari hati pembangunnya.
Ka'bah lahir dari pengabdian, sehingga menjadi pusat pemersatu manusia.
Al-Qullays lahir dari ambisi dominasi, sehingga menjadi simbol perlawanan dan konflik.
Karena itu, pertanyaan terpenting dalam setiap pembangunan bukanlah seberapa megah bangunan tersebut, melainkan untuk apa bangunan itu didirikan.
Ibrahim mengajarkan bahwa tempat ibadah dibangun untuk mengarahkan manusia kepada Tuhan.
Abrahah menunjukkan bagaimana tempat ibadah dapat berubah menjadi alat politik ketika tujuan spiritual digantikan oleh kepentingan kekuasaan.
Sejarah kemudian mencatat hasil akhirnya.
Yang dibangun dengan ketundukan tetap hidup dalam ingatan manusia.
Yang dibangun dengan kesombongan hanya tersisa sebagai pelajaran bagi generasi sesudahnya.
Sumber:
Muhammad Mutawalli Asy-Syarawi, Beginilah Cara Para Nabi dan Orang Shaleh Berdoa, Khatulistiwa Press
0 komentar: