Islam di Nusantara pada Era Sriwijaya: Jejak Awal dari Jalur Perdagangan Dunia
Ketika berbicara tentang masuknya Islam ke Nusantara, banyak orang langsung membayangkan berdirinya kerajaan-kerajaan Islam seperti Samudera Pasai atau Malaka. Namun jauh sebelum itu, benih-benih Islam telah hadir di kawasan ini melalui jalur yang berbeda: perdagangan maritim.
Untuk menemukan jejak awal tersebut, perhatian harus diarahkan kepada Sriwijaya, kerajaan maritim yang pada abad ke-7 hingga ke-13 menguasai sebagian besar jalur perdagangan di Asia Tenggara.
Di sinilah kisah awal perjumpaan Nusantara dengan Islam bermula.
Sriwijaya: Penguasa Jalur Perdagangan Asia
Pada abad ke-8, Sriwijaya telah menjelma menjadi kekuatan politik dan ekonomi terbesar di kawasan barat Nusantara. Berpusat di Palembang dan menguasai Selat Malaka, kerajaan ini mengendalikan salah satu jalur perdagangan paling strategis di dunia.
Seluruh arus perdagangan antara India, Timur Tengah, dan Tiongkok hampir pasti bersinggungan dengan wilayah kekuasaan Sriwijaya.
Posisi tersebut menjadikan Sriwijaya bukan sekadar kerajaan, melainkan sebuah negara maritim internasional yang kosmopolitan.
Kapal-kapal dari berbagai penjuru dunia berlabuh di pelabuhannya. Pedagang dari India, Tiongkok, Arab, Persia, bahkan wilayah Mediterania datang silih berganti membawa barang dagangan, pengetahuan, bahasa, dan budaya mereka masing-masing.
Dalam catatan para pelaut Arab, wilayah ini dikenal dengan nama Zabag, sebuah negeri kaya yang menjadi simpul perdagangan dunia Timur.
Bagi para pedagang Muslim, Zabag bukan sekadar tempat singgah. Ia adalah gerbang menuju pasar Tiongkok dan Asia Timur.
Akibatnya, banyak pedagang Arab dan Persia yang menetap dalam waktu lama di pusat-pusat perdagangan Sriwijaya, terutama di Palembang. Mereka menunggu pergantian angin muson sambil menjalankan aktivitas ekonomi dan membangun komunitas sosial yang stabil.
Tanpa disadari, interaksi perdagangan ini menjadi pintu masuk pertama bagi pengenalan Islam di Nusantara.
Kesaksian Para Pengembara Arab
Kemakmuran Sriwijaya terekam dalam berbagai sumber Arab abad pertengahan.
Pada tahun 903 M, pengembara Muslim, Ibnu Rosteh, menggambarkan Raja Sriwijaya sebagai salah satu penguasa terkaya dan terkuat di dunia. Menurutnya, kekayaan kerajaan berasal dari pelabuhan-pelabuhan yang ramai dan pajak perdagangan yang dibayarkan oleh para pedagang asing yang memanfaatkan fasilitas Sriwijaya.
Beberapa dekade kemudian, Abu Zayd al-Sirafi memberikan gambaran serupa. Ia mencatat bahwa ketika Raja Sriwijaya wafat, harta kekayaannya dibagikan kepada keluarga kerajaan, pejabat militer, serta para pelayan istana sesuai kedudukan masing-masing.
Catatan-catatan ini menunjukkan bahwa Sriwijaya bukanlah kerajaan pinggiran, melainkan pusat ekonomi global yang menjadi perhatian dunia Islam.
Tidak mengherankan jika hubungan antara Sriwijaya dan dunia Muslim berkembang jauh melampaui urusan perdagangan semata.
Surat dari Maharaja untuk Khalifah
Salah satu episode paling menarik dalam sejarah hubungan Sriwijaya dan dunia Islam adalah kisah surat yang dikirim oleh Maharaja Sriwijaya kepada Khalifah Umayyah, Umar bin Abdul Aziz.
Dalam berbagai sumber Arab klasik disebutkan bahwa penguasa Sriwijaya memperkenalkan dirinya sebagai "Raja di Raja" yang menguasai negeri besar dengan kekayaan melimpah.
Ia menjelaskan berbagai komoditas yang dihasilkan negerinya dan menyatakan keinginan untuk menjalin hubungan diplomatik dengan kekhalifahan Islam.
Beberapa versi riwayat bahkan menyebutkan bahwa sang maharaja meminta agar dikirimkan seorang yang dapat menjelaskan ajaran Islam dan hukum-hukumnya.
Meski para sejarawan masih memperdebatkan detail dan keaslian sebagian isi surat tersebut, keberadaannya menunjukkan satu hal yang penting: para penguasa Sriwijaya mengetahui keberadaan peradaban Islam dan memandangnya sebagai kekuatan internasional yang layak diajak berhubungan.
Hubungan ini memperlihatkan bahwa Islam telah memasuki cakrawala intelektual dan diplomatik elite Nusantara sejak awal abad ke-8.
Islam Datang Melalui Komunitas, Bukan Penaklukan
Sriwijaya tetap merupakan kerajaan Buddha Mahayana. Bahkan pada masa jayanya, kerajaan ini dikenal sebagai salah satu pusat pembelajaran Buddha terbesar di Asia.
Namun di tengah identitas Buddhis tersebut, Sriwijaya menunjukkan tingkat toleransi yang tinggi terhadap komunitas asing.
Pedagang Muslim diberi ruang untuk berdagang, menetap, dan membangun komunitas mereka sendiri.
Mereka tidak datang sebagai pasukan penakluk. Mereka hadir sebagai saudagar, pelaut, ulama, dan penghubung perdagangan internasional.
Melalui aktivitas sehari-hari, mereka memperkenalkan nilai-nilai Islam kepada masyarakat lokal.
Kejujuran dalam perdagangan, etika bisnis, kemampuan baca tulis, jaringan ekonomi lintas negara, serta semangat persaudaraan menjadi bagian dari daya tarik komunitas Muslim di pelabuhan-pelabuhan Sriwijaya.
Karena itu, kehadiran Islam pada masa ini lebih tepat dipahami sebagai proses pembentukan fondasi sosial dan budaya daripada proses Islamisasi politik.
Islam hadir terlebih dahulu sebagai komunitas sebelum menjadi identitas kerajaan.
Jejak Muslim di Tengah Masyarakat Sriwijaya
Menjelang pergantian milenium pertama, sejumlah sumber mulai mencatat keberadaan penduduk lokal yang telah memeluk Islam.
Kitab Al-Ajaib al-Hind yang ditulis sekitar abad ke-10 mencatat adanya kelompok Muslim di wilayah Sriwijaya. Salah satu pengamatan menarik adalah kebiasaan mereka duduk bersila ketika menghadap raja.
Sekilas detail ini tampak sederhana.
Namun bagi para sejarawan, catatan tersebut menunjukkan proses adaptasi budaya yang sedang berlangsung.
Islam yang hadir di Nusantara tidak berdiri terpisah dari masyarakat lokal. Sebaliknya, ia berinteraksi dengan adat dan budaya setempat.
Para Muslim tetap menjalankan keyakinannya, tetapi sekaligus mengadopsi tata krama dan kebiasaan masyarakat Nusantara.
Inilah salah satu karakter yang kelak menjadi ciri khas Islam di kawasan ini: mampu berakar tanpa harus mencabut seluruh tradisi yang telah hidup sebelumnya.
Sriwijaya dan Fondasi Islam Nusantara
Dalam kajian sejarah modern, penting untuk membedakan antara kehadiran Muslim dan Islamisasi.
Pada masa Sriwijaya, Islam memang belum menjadi agama negara. Namun jaringan perdagangan yang dibangun Sriwijaya telah menciptakan jalur pertemuan yang memungkinkan komunitas Muslim tumbuh dan berkembang.
Sejarawan seperti Azyumardi Azra menilai bahwa pelabuhan-pelabuhan Sriwijaya berfungsi sebagai titik transit penting dalam jaringan perdagangan dan intelektual dunia Islam.
Dari pelabuhan-pelabuhan inilah hubungan antara Timur Tengah, India, dan Nusantara terus berlangsung selama berabad-abad.
Ketika Sriwijaya melemah pada abad-abad berikutnya, jaringan yang telah terbentuk itu tidak ikut hilang. Sebaliknya, ia menjadi fondasi bagi munculnya pusat-pusat Islam baru seperti Samudera Pasai, Perlak, dan kemudian Malaka.
Dengan kata lain, Islamisasi Nusantara tidak lahir dalam ruang kosong.
Ia tumbuh di atas infrastruktur perdagangan, diplomasi, dan keterbukaan budaya yang sebelumnya telah dibangun oleh Sriwijaya.
Fondasi yang Sering Terlupakan
Sejarah Sriwijaya sering dipahami semata-mata sebagai sejarah kerajaan Buddha yang menguasai lautan. Namun jika ditelusuri lebih dalam, era Sriwijaya juga merupakan masa ketika benih-benih Islam mulai berakar di Nusantara.
Melalui perdagangan, diplomasi, migrasi, dan interaksi sosial yang damai, Islam perlahan memasuki ruang kehidupan masyarakat pesisir.
Tidak ada penaklukan militer.
Tidak ada perubahan politik yang mendadak.
Yang terjadi adalah proses panjang perjumpaan antarperadaban.
Di pelabuhan-pelabuhan Sriwijaya, para pedagang Muslim memperkenalkan dunia baru kepada Nusantara. Dan dari pelabuhan-pelabuhan yang sama, kelak lahir jaringan Islam yang akan mengubah wajah kepulauan ini selama berabad-abad berikutnya.
Maka, jika Samudera Pasai dapat disebut sebagai salah satu tonggak awal kerajaan Islam di Nusantara, Sriwijaya layak dikenang sebagai tanah tempat benih-benih itu pertama kali disemai.
Sumber;
Jajat Burhanudin, Islam dalam arus sejarah Indonesia, Kencana, 2017
0 komentar: