Mereka yang Bangkit dari Kocar-Kacir Uhud
Perang Uhud memasuki babak paling kritis ketika barisan Muslim kehilangan formasi. Serangan mendadak pasukan berkuda Khalid bin Walid dari arah belakang membuat keadaan berubah drastis. Pasukan Muslim yang sebelumnya berada di ambang kemenangan kini terjepit dari dua arah.
Kekacauan pun tak terhindarkan.
Di tengah hiruk-pikuk pertempuran, tersebar kabar bahwa Rasulullah saw telah terbunuh. Berita itu menghantam mental pasukan lebih keras daripada pedang dan tombak musuh. Sebagian sahabat mulai meninggalkan medan tempur. Sebagian lainnya meletakkan senjata karena merasa tidak ada lagi alasan untuk melanjutkan perlawanan.
Bahkan dalam beberapa riwayat disebutkan bahwa ada yang mulai berpikir untuk meminta perlindungan kepada Abdullah bin Ubay bin Salul, pemimpin kaum munafik di Madinah, agar dapat memperoleh jaminan keamanan dari Abu Sufyan dan pasukan Quraisy.
Secara militer, pasukan Muslim berada di ambang kehancuran. Namun justru pada saat itulah muncul sekelompok sahabat yang memilih jalan berbeda.
Mereka tidak ikut larut dalam kepanikan.
Mereka bangkit.
Anas bin An-Nadhr: "Untuk Apa Hidup Setelah Beliau?"
Di antara nama yang paling menonjol adalah Anas bin An-Nadhr.
Saat melintasi sekelompok Muslim yang telah berhenti bertempur dan meletakkan senjata, ia bertanya:
«"Apa yang kalian tunggu?"»
Mereka menjawab:
«"Rasulullah telah terbunuh."»
Jawaban itu tidak membuat Anas surut. Sebaliknya, ia memberikan kalimat yang kemudian menjadi salah satu seruan paling terkenal dalam sejarah Uhud:
«"Apa yang akan kalian lakukan dengan kehidupan ini setelah beliau tiada? Bangkitlah dan matilah sebagaimana Rasulullah telah berjuang."»
Bagi Anas, perjuangan Islam tidak berhenti pada hidup atau wafatnya seorang manusia, sekalipun manusia itu adalah Rasulullah saw. Yang harus diperjuangkan adalah agama yang beliau bawa.
Kemudian ia berdoa:
«"Ya Allah, sesungguhnya aku memohon ampun kepada-Mu atas apa yang dilakukan oleh mereka, kaum Muslimin. Dan aku berlepas diri kepada-Mu dari apa yang dilakukan oleh mereka, kaum musyrikin."»
Setelah itu ia berlari menuju pusat pertempuran.
Di tengah jalan ia berpapasan dengan Sa'ad bin Mu'adz.
Sa'ad bertanya:
«"Hendak ke mana engkau, wahai Abu Umar?"»
Anas menjawab:
«"Wahai Sa'ad, aku mencium aroma surga dari arah Uhud."»
Kalimat itu bukan sekadar ungkapan keberanian. Ia menggambarkan keyakinan yang telah mengalahkan rasa takut.
Anas kemudian menerjang barisan musuh hingga gugur sebagai syuhada. Ketika jasadnya ditemukan setelah perang usai, terdapat puluhan luka akibat sabetan pedang, tusukan tombak, dan anak panah di sekujur tubuhnya.
Tsabit bin Ad-Dahdah: Mengingatkan Bahwa Allah Tidak Pernah Mati
Jika Anas membangkitkan semangat melalui tindakan, Tsabit bin Ad-Dahdah membangkitkannya melalui seruan.
Di tengah pasukan yang mulai kehilangan harapan, ia berseru kepada kaum Anshar:
«"Wahai kaum Anshar, jika Muhammad benar-benar telah terbunuh, maka sesungguhnya Allah hidup dan tidak akan pernah mati. Berperanglah demi agama kalian. Allah akan memenangkan dan menolong kalian."»
Seruan itu menyentuh akar persoalan yang sedang melumpuhkan pasukan Muslim.
Masalah utama mereka bukan kekalahan militer, melainkan guncangan keyakinan akibat kabar wafatnya Rasulullah saw.
Tsabit mengingatkan bahwa pusat pengabdian seorang mukmin bukanlah manusia, melainkan Allah.
Seruan itu berhasil membangkitkan sejumlah sahabat Anshar. Mereka kembali mengangkat senjata dan maju menghadapi gelombang serangan musuh. Mereka bertempur hingga gugur satu demi satu.
Seorang Anshar yang Terluka dan Pelajaran tentang Keteguhan
Di bagian lain medan perang, seorang Muhajirin melewati seorang sahabat Anshar yang tergeletak bersimbah darah.
Ia bertanya:
«"Wahai fulan, apakah benar Muhammad telah terbunuh?"»
Sahabat Anshar yang terluka itu menjawab:
«"Jika Muhammad telah terbunuh, maka beliau telah menyampaikan risalah Tuhannya dan kini berada di surga. Maka berperanglah kalian demi agama kalian."»
Jawaban itu memperlihatkan perubahan cara pandang yang luar biasa.
Mereka tidak lagi melihat pertempuran sebagai perjuangan mempertahankan seseorang, tetapi sebagai perjuangan mempertahankan kebenaran yang dibawa Rasulullah.
Titik Balik Mental Pasukan Muslim
Ketika ditelusuri lebih jauh, kemenangan terbesar para sahabat ini bukanlah keberhasilan mengalahkan musuh.
Kemenangan terbesar mereka adalah mengalahkan rasa takut, keputusasaan, dan keinginan untuk menyerah.
Anas bin An-Nadhr, Tsabit bin Ad-Dahdah, dan para sahabat yang bangkit di tengah kekacauan berhasil menciptakan efek berantai di dalam pasukan Muslim.
Keberanian mereka menyebar.
Semangat mereka menular.
Keyakinan mereka membangunkan orang-orang yang sebelumnya telah kehilangan arah.
Sedikit demi sedikit pasukan Muslim kembali memungut senjata yang telah mereka letakkan. Mereka kembali berkumpul di sekitar Rasulullah saw yang ternyata masih hidup. Mereka kemudian membentuk pertahanan baru dan menghadang gelombang serangan Quraisy hingga pertempuran berakhir.
Ketika Segelintir Orang Menyelamatkan Sebuah Pasukan
Perang Uhud menunjukkan bahwa kehancuran sebuah pasukan tidak selalu dimulai dari kekalahan fisik. Ia sering kali dimulai dari runtuhnya mental dan keyakinan.
Sebaliknya, kebangkitan juga tidak selalu dimulai dari jumlah yang besar.
Sering kali ia bermula dari segelintir orang yang menolak menyerah ketika semua orang merasa kalah.
Di Uhud, Anas bin An-Nadhr dan para sahabat yang sejalan dengannya menjadi titik balik itu.
Ketika sebagian orang melihat akhir dari perjuangan, mereka justru melihat awal pengorbanan.
Ketika sebagian orang mencari jalan keselamatan, mereka memilih jalan keberanian.
Dan ketika sebagian orang kehilangan harapan, mereka mengingatkan satu kebenaran yang tidak pernah berubah:
Muhammad adalah seorang rasul, tetapi Allah yang mereka sembah tetap hidup dan tidak pernah mati.
Sumber;
Al-Mubarakfuri, Sirah Nabawiyah, Ummul Qura, 2017
0 komentar: