Catatan Tiongkok Abad 7 M: Benarkah Muawiyah bin Abu Sufyan Mengirimkan Utusan kepada Ratu Sima di Nusantara?
Sejarah kedatangan Islam ke Nusantara sering kali dipersempit pada abad ke-13 melalui teori Gujarat. Namun, sejumlah catatan kuno dari Tiongkok justru mengisyaratkan sebuah kisah yang jauh lebih awal. Kisah itu membawa kita ke abad ke-7 Masehi, ketika jalur perdagangan dunia sedang mengalami perubahan besar akibat munculnya peradaban Islam di Timur Tengah.
Pertanyaannya: benarkah pada masa itu sudah ada komunitas Muslim di Nusantara? Dan benarkah Khalifah Muawiyah bin Abu Sufyan mengirimkan utusan ke kerajaan Ratu Sima di Jawa?
Untuk menjawabnya, kita perlu menelusuri jejak-jejak yang tersebar dalam kronik Tiongkok, laporan perdagangan internasional, dan perdebatan para sejarawan.
Jejak dalam Catatan Dinasti Tang
Salah satu sumber yang sering dikutip adalah Xin Tang Shu (Sejarah Baru Dinasti Tang). Dalam kronik tersebut disebutkan adanya sebuah negeri yang dipimpin seorang ratu bernama Sima (Xi Mo).
Kerajaan itu digambarkan sebagai negeri yang kuat dan memiliki kemampuan mempertahankan wilayahnya dari ancaman luar. Dalam catatan yang sama juga muncul istilah Ta-Shih (Dashi), sebutan yang digunakan bangsa Tiongkok untuk merujuk kepada orang Arab dan kemudian dunia Islam secara lebih luas.
Keberadaan Ta-Shih di sekitar wilayah Nusantara menjadi petunjuk penting. Bagi sejumlah sarjana, informasi tersebut menunjukkan bahwa orang-orang Arab dan Persia telah hadir di kawasan ini sejak abad ke-7 atau ke-8 Masehi.
Jika interpretasi ini benar, maka hubungan antara Nusantara dan dunia Islam dimulai hanya beberapa dekade setelah wafatnya Rasulullah ï·º.
Jalur Rempah yang Menghubungkan Dunia
Pada abad ke-7 hingga ke-9, pantai barat Sumatera merupakan salah satu simpul perdagangan paling strategis di dunia.
Kapal-kapal dari Basrah, Oman, Yaman, Gujarat, Sri Lanka, hingga Tiongkok berlayar mengikuti pola angin muson. Mereka tidak dapat berlayar kapan saja. Para pelaut harus menunggu perubahan arah angin selama berbulan-bulan di pelabuhan transit.
Akibatnya, pelabuhan-pelabuhan seperti Barus, Lamuri, dan wilayah Sriwijaya berkembang menjadi tempat tinggal sementara bahkan permanen bagi para pedagang asing.
Di titik inilah komunitas-komunitas Muslim mulai muncul.
Mereka datang bukan sebagai pasukan penakluk, melainkan sebagai pedagang, pelaut, penerjemah, dan perantara perdagangan internasional.
Keberadaan mereka bukan sekadar dugaan. Catatan Tiongkok menunjukkan bahwa dunia perdagangan Asia saat itu telah dipenuhi oleh jaringan pedagang Muslim yang sangat luas.
Tragedi Guangzhou yang Mengungkap Besarnya Diaspora Muslim
Salah satu peristiwa yang sering dijadikan bukti tidak langsung adalah pemberontakan Huang Chao pada tahun 878 M.
Sumber-sumber Tiongkok menyebutkan bahwa ketika pemberontakan itu mengguncang Guangzhou, sekitar 120.000 hingga 200.000 orang asing terbunuh. Mereka terdiri dari Muslim, Persia, Yahudi, dan komunitas asing lainnya yang menetap di kota pelabuhan tersebut.
Angka itu memang masih diperdebatkan oleh para sejarawan modern. Namun bahkan jika jumlah sebenarnya jauh lebih kecil, fakta yang tidak terbantahkan adalah bahwa komunitas Muslim di Tiongkok pada abad ke-9 telah berjumlah sangat besar.
Jika di ujung timur jalur perdagangan saja terdapat ribuan bahkan puluhan ribu Muslim, maka sangat masuk akal apabila pelabuhan-pelabuhan transit seperti Sumatera dan Jawa juga telah memiliki komunitas Muslim jauh sebelumnya.
Dengan kata lain, catatan Guangzhou memperlihatkan betapa luasnya jaringan diaspora Islam di Asia pada masa itu.
Ratu Sima: Jawa atau Sumatera?
Di sinilah perdebatan mulai memanas.
Mayoritas sejarawan Indonesia mengidentifikasi Ratu Sima sebagai penguasa Kerajaan Kalingga di pesisir utara Jawa Tengah pada abad ke-7.
Kisahnya terkenal karena ketegasannya dalam menegakkan hukum. Dalam tradisi sejarah Jawa, Ratu Sima digambarkan sebagai simbol keadilan dan integritas pemerintahan.
Namun sebagian peneliti menilai bahwa beberapa deskripsi dalam sumber Tiongkok dapat pula dikaitkan dengan wilayah lain yang memiliki hubungan erat dengan jalur perdagangan internasional, termasuk kawasan Sumatera.
Perdebatan ini belum sepenuhnya selesai. Akan tetapi, pandangan yang paling banyak diterima hingga saat ini tetap menempatkan Ratu Sima di Jawa melalui identifikasi Kerajaan Ho-ling atau Kalingga.
Benarkah Muawiyah Mengirim Utusan?
Di antara tokoh yang paling berpengaruh dalam mengangkat teori ini adalah Hamka.
Menurut Hamka, hubungan antara dunia Islam dan Nusantara telah berlangsung sejak masa pemerintahan Muawiyah ibn Abi Sufyan.
Dalam pandangannya, orang-orang Arab yang datang ke Jawa bukanlah pasukan penakluk, melainkan utusan yang melakukan penjajakan diplomatik dan dakwah.
Hamka bahkan berpendapat bahwa pemerintahan Umayyah memiliki sistem informasi dan jaringan diplomasi yang memungkinkan mereka mengetahui perkembangan negeri-negeri jauh di luar wilayah kekuasaannya.
Teori ini menarik karena menunjukkan kemungkinan adanya kontak langsung antara pusat kekhalifahan dan kerajaan-kerajaan Nusantara pada abad pertama Hijriah.
Namun di sinilah batas antara fakta dan interpretasi harus dijaga.
Sampai hari ini belum ditemukan dokumen Arab sezaman yang secara eksplisit menyebut pengiriman utusan Muawiyah kepada Ratu Sima. Karena itu, sebagian besar akademisi menganggapnya sebagai hipotesis yang masuk akal tetapi belum dapat dibuktikan secara definitif.
Nama-Nama Muslim dalam Diplomasi Sriwijaya
Meski hubungan langsung antara Muawiyah dan Ratu Sima masih diperdebatkan, terdapat fakta lain yang lebih kuat.
Catatan Tiongkok pada abad ke-10 mencatat kedatangan sejumlah utusan dari Sriwijaya yang memiliki nama-nama bernuansa Islam.
Di antaranya adalah Ali Shadi (Li Shu-ti) pada tahun 960 M, Ali Leyli (Li Li-li) pada 962 M, Ali Hamid (Li He-mo) pada 971 M, dan Ali Badi (Li Mei-di) pada 1008 M.
Data ini menunjukkan bahwa unsur Muslim telah hadir dalam jaringan diplomasi internasional Sriwijaya.
Mereka bukan lagi sekadar pedagang yang singgah di pelabuhan, melainkan individu yang terlibat dalam urusan politik dan hubungan antarnegara.
Fenomena ini mengindikasikan bahwa Islam telah memperoleh tempat dalam kehidupan elit maritim Nusantara jauh sebelum munculnya kerajaan-kerajaan Islam besar seperti Samudera Pasai.
Menimbang Bukti Arkeologis
Selain kronik Tiongkok, para pendukung teori Islam abad ke-7 sering menunjuk kawasan Barus di pantai barat Sumatera.
Barus telah lama dikenal sebagai pusat perdagangan kapur barus yang sangat bernilai di pasar Timur Tengah.
Sejumlah makam Islam kuno ditemukan di kawasan tersebut. Temuan-temuan ini memperlihatkan bahwa komunitas Muslim memang pernah hidup dan berkembang di wilayah itu pada masa yang sangat awal.
Meski beberapa penanggalan masih menjadi bahan perdebatan di kalangan arkeolog, keberadaan komunitas Muslim awal di Barus secara umum diterima oleh banyak peneliti.
Antara Fakta dan Hipotesis
Dari seluruh bukti yang tersedia, terdapat beberapa kesimpulan yang relatif kuat.
Pertama, komunitas Muslim telah hadir di Nusantara sejak abad ke-7 atau ke-8 melalui jaringan perdagangan internasional.
Kedua, pelabuhan-pelabuhan di Sumatera dan Jawa menjadi titik persinggahan penting bagi pedagang Arab dan Persia yang berlayar menuju Tiongkok.
Ketiga, pada abad ke-10 unsur Muslim telah terlibat dalam diplomasi kerajaan-kerajaan maritim Nusantara.
Namun mengenai klaim bahwa Muawiyah bin Abu Sufyan secara langsung mengirimkan utusan kepada Ratu Sima, bukti yang tersedia masih belum cukup untuk mengangkatnya menjadi fakta sejarah yang pasti.
Di sinilah letak daya tarik penelitian sejarah. Sering kali, pertanyaan yang paling menarik justru lahir dari ruang kosong di antara fakta-fakta yang tersisa.
Yang jelas, catatan Dinasti Tang telah membuka sebuah kemungkinan besar: bahwa hubungan Nusantara dengan dunia Islam mungkin dimulai jauh lebih awal daripada yang selama ini diajarkan dalam banyak buku sejarah. Dan jejak-jejak itu masih menunggu untuk terus diteliti, diuji, dan dipahami secara lebih mendalam oleh generasi berikutnya.
0 komentar: