Mengapa Seluruh Pemimpin Perang Quraisy di Uhud akhirnya Menjadi Pembela Islam?
Perang Uhud adalah salah satu pertempuran paling menentukan dalam sejarah Islam. Bagi kaum Quraisy, perang ini bukan sekadar operasi militer. Ia adalah misi balas dendam.
Setahun sebelumnya, mereka mengalami kekalahan telak dalam Perang Badar. Banyak pemimpin dan tokoh terkemuka Quraisy terbunuh. Kekalahan itu tidak hanya menghancurkan kekuatan militer mereka, tetapi juga meruntuhkan wibawa politik dan ekonomi Quraisy di Jazirah Arab.
Karena itu, segera setelah Badar berakhir, para pemimpin Quraisy sepakat untuk menyiapkan serangan besar-besaran ke Madinah.
Di antara tokoh yang paling bersemangat mengobarkan perang adalah Abu Sufyan bin Harb, Shafwan bin Umayyah, Ikrimah bin Abu Jahal, dan Abdullah bin Abu Rabiah.
Mereka menyerukan kepada masyarakat Quraisy:
«"Wahai Quraisy, Muhammad telah membunuh orang-orang terbaik kalian dan membuat kalian hidup dalam ketakutan. Karena itu, bantulah kami dengan harta kalian untuk memeranginya. Mudah-mudahan kita dapat menuntut balas."»
Seruan itu mendapat sambutan luas. Harta, senjata, dan tenaga dikumpulkan. Dendam menjadi bahan bakar utama mobilisasi perang tersebut.
Operasi Balas Dendam Terbesar Quraisy
Persiapan militer dilakukan secara serius.
Abu Sufyan bin Harb memegang komando tertinggi pasukan. Shafwan bin Umayyah memimpin infanteri. Abdullah bin Abu Rabiah memimpin pasukan pemanah. Sementara pasukan kavaleri dipercayakan kepada dua tokoh muda yang sangat berbakat dalam strategi perang: Khalid bin Walid dan Ikrimah bin Abu Jahal.
Di sisi lain, dendam pribadi juga ikut mewarnai persiapan perang.
Hindun binti Utbah, yang kehilangan ayah, saudara, dan kerabat dekatnya di Badar, bertekad membalas kematian mereka. Ia menyewa Wahsyi, seorang budak yang mahir melempar tombak, untuk membunuh Hamzah bin Abdul Muthalib, paman Rasulullah saw.
Target mereka bukan sekadar memenangkan pertempuran.
Mereka ingin menghancurkan kepemimpinan Islam dari akarnya.
Ketika Strategi Quraisy Berhasil
Pada awal pertempuran, pasukan Muslim berhasil mendesak Quraisy. Namun keadaan berubah ketika sebagian pemanah Muslim meninggalkan pos yang telah ditentukan Rasulullah saw.
Kesempatan itu segera dimanfaatkan Khalid bin Walid.
Dengan manuver cepat, pasukan kavaleri Quraisy menyerang dari belakang. Pada saat yang sama, pasukan Abu Sufyan terus menekan dari depan.
Pasukan Muslim terjepit dari dua arah.
Situasi berubah menjadi kacau. Banyak sahabat gugur. Sebagian pasukan tercerai-berai. Bahkan beredar kabar bahwa Rasulullah saw. telah terbunuh.
Di tengah kekacauan itu, Rasulullah saw. sendiri mengalami luka serius. Wajah beliau terluka, gigi beliau patah, dan beliau berada dalam kepungan musuh yang berusaha menghabisinya.
Secara manusiawi, saat itu adalah momen yang sangat tepat untuk mengutuk musuh-musuhnya.
Namun yang keluar dari lisan beliau justru doa:
«"Ya Allah, ampunilah kaumku. Ya Allah, berilah mereka petunjuk, karena mereka tidak mengetahui."»
Doa inilah yang menjadi salah satu episode paling menggetarkan dalam sejarah kenabian.
Efek yang Tidak Terlihat di Medan Uhud
Jika dilihat dari sudut pandang militer, doa tersebut tampak tidak mengubah keadaan saat itu juga.
Pasukan Muslim tetap mengalami kerugian besar.
Hamzah gugur.
Banyak sahabat syahid.
Quraisy pulang dengan perasaan berhasil membalas dendam.
Namun sejarah menunjukkan sesuatu yang jauh lebih besar sedang berlangsung.
Doa Rasulullah saw. ternyata bekerja melampaui medan perang.
Tokoh-tokoh yang saat itu berdiri di garis depan untuk membunuh beliau, satu per satu justru mendapat hidayah dan memeluk Islam.
Dari Musuh Menjadi Pembela
Abu Sufyan bin Harb akhirnya masuk Islam menjelang Fathu Makkah. Setelah itu ia ikut membela Islam dan bahkan kehilangan penglihatannya dalam peperangan melawan Bizantium.
Ikrimah bin Abu Jahal, putra musuh terbesar Rasulullah, sempat melarikan diri setelah Fathu Makkah. Namun ia kembali, masuk Islam, dan kemudian gugur sebagai syahid dalam Perang Yarmuk saat melawan pasukan Romawi.
Shafwan bin Umayyah yang dahulu menjadi penggerak utama perang Uhud akhirnya memeluk Islam dan menjadi salah satu pendukung penting kaum Muslimin. Saat perang Hunain meminjamkan logistik perang kepada Muslimin.
Abdullah bin Abu Rabiah yang ikut mengatur persiapan perang Quraisy kemudian menjadi seorang Muslim yang dipercaya mengemban tugas-tugas pemerintahan di era Khalifatur Rasyidin.
Khalid bin Walid, arsitek manuver yang mengubah jalannya Perang Uhud, masuk Islam beberapa tahun kemudian. Ia menjelma menjadi salah satu panglima terbesar dalam sejarah Islam dan mendapat gelar Saifullah al-Maslul, Pedang Allah yang Terhunus.
Hindun binti Utbah yang dahulu mengobarkan semangat balas dendam akhirnya menjadi Muslimah dan turut membakar semangat pasukan Islam dalam Perang Yarmuk.
Bahkan Wahsyi, pembunuh Hamzah, juga memeluk Islam. Kelak ia menjadi orang yang membunuh Musailamah al-Kadzdzab dalam Perang Yamamah, membantu menyelamatkan umat Islam dari ancaman besar setelah wafatnya Rasulullah saw.
Mengapa Semua Itu Bisa Terjadi?
Inilah salah satu paradoks terbesar dalam sejarah Islam.
Pada Perang Uhud, Rasulullah saw. tidak melihat mereka sebagai musuh yang harus dimusnahkan. Beliau melihat mereka sebagai manusia yang tersesat dan masih memiliki peluang untuk mendapatkan petunjuk.
Di saat para sahabat terluka, keluarga kehilangan orang-orang tercinta, dan darah masih mengalir di medan perang, Rasulullah tidak meminta kebinasaan bagi mereka.
Beliau justru memohon agar Allah mengampuni dan memberi mereka hidayah.
Bertahun-tahun kemudian, sejarah membuktikan bahwa doa tersebut bukanlah doa yang sia-sia.
Orang-orang yang dahulu mengangkat pedang untuk membunuh Rasulullah saw. justru menjadi orang-orang yang mengangkat pedang untuk membela agama yang beliau bawa.
Pelajaran dari Uhud
Perang Uhud mengajarkan bahwa manusia tidak boleh dinilai hanya dari satu fase kehidupannya.
Seorang musuh hari ini bisa menjadi sahabat esok hari.
Seorang penentang dakwah hari ini bisa menjadi pembela Islam yang paling gigih di masa depan.
Karena itu, Rasulullah saw. tidak hanya memenangkan peperangan dengan strategi dan keberanian. Beliau juga memenangkan hati manusia dengan kasih sayang, kesabaran, dan doa.
Dan mungkin, salah satu kemenangan terbesar Rasulullah bukanlah ketika Makkah berhasil ditaklukkan, melainkan ketika para pemimpin Quraisy yang dahulu ingin membunuhnya akhirnya berdiri dalam barisan yang sama untuk membela Islam.
Sumber:
Al-Mubarakfuri, Sirah Nabawiyah, Ummul Qura, 2017
0 komentar: