Derita Dosa Lebih Berat daripada Musibah
"Manakah yang lebih berat: kehilangan harta atau kehilangan kepekaan hati?"
Pertanyaan itu mungkin terdengar aneh bagi banyak orang. Sebab manusia umumnya mengukur penderitaan dari apa yang tampak oleh mata: sakit, kemiskinan, kegagalan, atau kehilangan orang yang dicintai.
Namun para salaf memandangnya dengan cara yang berbeda.
Bagi mereka, musibah yang menimpa tubuh, keluarga, dan harta benda sering kali bukanlah bencana terbesar. Musibah itu justru dapat menjadi sarana pembersihan dosa dan pengangkat derajat seorang mukmin.
Yang lebih mereka takutkan adalah dosa.
Karena dosa tidak melukai tubuh, melainkan melukai hati. Ia tidak mengurangi harta, tetapi mengurangi cahaya iman. Ia tidak selalu membuat seseorang menangis, tetapi perlahan membuatnya kehilangan kemampuan untuk menangis di hadapan Allah.
---
Dikisahkan seseorang datang mengadu kepada seorang ulama yang sering dinisbatkan kepada Hasan al-Bashri atau Fudhail bin 'Iyadh.
"Aku heran," katanya, "aku tidak pernah ditimpa musibah besar. Hartaku aman, keluargaku baik-baik saja, dan kesehatanku juga baik."
Sang guru menatapnya sejenak, lalu bertanya,
"Apakah engkau masih merasakan manisnya shalat?"
Orang itu terdiam.
"Apakah hatimu masih bergetar ketika mendengar ayat-ayat Allah dibacakan?"
Ia semakin terdiam.
"Apakah kebaikan masih terasa ringan bagimu dan maksiat masih terasa berat?"
Tidak ada jawaban.
Lalu sang guru berkata,
"Itulah musibah yang lebih besar. Ketika hati tidak lagi merasakan nikmat beribadah, ketika ayat-ayat Allah tidak lagi mengguncang jiwa, dan ketika dosa terasa biasa, maka sesungguhnya engkau sedang memikul musibah yang tidak terlihat oleh mata."
---
Musibah dunia adalah luka yang tampak.
Dosa adalah luka yang tersembunyi.
Musibah dunia dapat menggugurkan dosa, sedangkan dosa dapat menghalangi datangnya hidayah.
Musibah dunia membuat seseorang kembali mengetuk pintu Allah, sedangkan dosa yang terus dipelihara membuat seseorang perlahan menjauh dari pintu itu.
Karena itulah para ulama mengatakan bahwa hukuman paling berat bukanlah kemiskinan, bukan pula penyakit, melainkan ketika seseorang kehilangan kepekaan ruhani. Hatinya mengeras, nasihat tidak lagi menyentuh, dan ibadah berubah menjadi rutinitas tanpa ruh.
---
Ada sebuah riwayat yang masyhur dari masa kekhalifahan Umar bin Khattab.
Ketika Madinah pernah diguncang gempa, Umar berdiri di hadapan masyarakat. Beliau tidak hanya melihat peristiwa itu sebagai fenomena alam semata. Dengan penuh ketegasan beliau mengingatkan masyarakat agar melakukan introspeksi dan memperbaiki diri.
Pesan yang hendak beliau bangun sangat jelas: setiap guncangan hendaknya mengingatkan manusia untuk memeriksa keadaan hatinya sebelum sibuk mencari kesalahan di luar dirinya.
Karena kerusakan terbesar sering kali tidak terjadi di permukaan bumi, melainkan di dalam jiwa manusia.
---
Hal yang sama tergambar dalam nasihat Ibrahim bin Adham ketika ditanya mengapa banyak doa tidak kunjung dikabulkan.
Beliau menjelaskan bahwa hati manusia bisa kehilangan daya hidupnya karena dosa yang terus dibiarkan. Mereka mengenal Allah tetapi tidak menunaikan hak-Nya. Mereka membaca Al-Qur'an tetapi tidak mengamalkannya. Mereka mengaku memusuhi setan tetapi justru mengikuti jejaknya.
Dosa, dalam gambaran Ibrahim bin Adham, ibarat pasir yang masuk ke dalam roda-roda mesin. Mesinnya masih utuh, bahan bakarnya masih ada, tetapi pergerakannya tersendat karena sesuatu yang kecil namun terus menumpuk.
Demikian pula hati.
Ia tidak mati sekaligus.
Ia mengeras sedikit demi sedikit.
Sampai suatu hari seseorang masih mampu melihat kebenaran, tetapi tidak lagi terdorong untuk mengikutinya.
---
Seorang mukmin karena itu lebih takut kepada dosa daripada musibah.
Ia tidak hanya menangisi kehilangan dunia, tetapi juga menangisi setiap maksiat yang menjauhkannya dari Allah.
Ia tidak hanya khawatir ketika rezekinya berkurang, tetapi lebih khawatir ketika kekhusyukannya berkurang.
Ia tidak hanya takut kehilangan kesehatan, tetapi lebih takut kehilangan hidayah.
Sebab musibah dunia hanya menyentuh kehidupan yang sementara, sedangkan dosa yang tidak disadari dapat merusak perjalanan menuju kehidupan yang kekal.
Maka ketika musibah datang, bersabarlah. Bisa jadi itu adalah jalan pembersihan yang Allah berikan.
Namun ketika shalat tidak lagi terasa nikmat, ketika Al-Qur'an tidak lagi menggetarkan hati, ketika dosa terasa ringan dan taubat terasa berat, maka itulah saatnya seseorang merasa cemas.
Karena boleh jadi musibah terbesar bukanlah apa yang menimpa dirinya, melainkan apa yang sedang terjadi di dalam hatinya.
Sumber:
Ibnu Jauzy, Shaidul Khathir, Maghfirah Pustaka, 2007
0 komentar: