basmalah Pictures, Images and Photos
Our Islamic Story

Choose your Language

Menjadi Pribadi yang Berpengaruh Pribadi yang berpengaruh lahir dari kepemimpinan yang bersih, penghayatan yang dalam, dan kemam...

Menjadi Pribadi yang Berpengaruh

Pribadi yang berpengaruh lahir dari kepemimpinan yang bersih, penghayatan yang dalam, dan kemampuan yang matang.

Ia dianugerahi kekuatan iman yang mendalam. Dari sanalah lahir pengaruh yang tidak dibuat-buat—pengaruh yang mampu menyentuh hati para pendengarnya. Pancaran iman itu mengalir, menembus kata-kata, lalu menetap di hati orang-orang di sekelilingnya.

Memang, hanya orang yang memiliki kalbu yang hidup yang mampu menghidupkan hati orang lain. Seruannya bukan sekadar terdengar, tetapi terasa.

Sebaliknya, hati yang beku tidak akan mampu menghidupkan siapa pun. Ia mungkin berbicara, tetapi tanpa daya menggerakkan.

Seperti seorang ibu: ibu yang tertidur tidak akan mampu menenangkan anaknya. Berbeda dengan ibu yang terjaga—ia bukan hanya hadir, tetapi juga menghidupkan ketenangan.

Begitulah pengaruh sejati: lahir dari hati yang hidup, lalu menghidupkan.

Sumber;
Yusuf Al-Qardhawi, Sistem Pendidikan Ikhwanul Muslimin, Dewan Dakwah, 1988

Tujuan Tarbiyah Diri Tarbiyah memang membentuk seorang Muslim yang menjaga shalat, puasa, zikir, dan doa. Namun, tujuan tarbiyah...

Tujuan Tarbiyah Diri

Tarbiyah memang membentuk seorang Muslim yang menjaga shalat, puasa, zikir, dan doa. Namun, tujuan tarbiyah tidak berhenti pada titik ini.

Tarbiyah diri seharusnya melahirkan pribadi yang bergairah—yang hatinya mampu merasakan apa yang dirasakan oleh masyarakat di sekitarnya. Kegairahan itu tidak berhenti sebagai perasaan, tetapi diolah menjadi motivasi yang sehat untuk bekerja dan mendorong perubahan.

Pribadi yang ditarbiyah tidak mudah menyerah pada keadaan. Ia tidak larut dalam keluhan atau sekadar menyesali nasib. Sebaliknya, ia bangkit dan berdaya upaya untuk mengubah kenyataan sesuai dengan perintah Allah.

Ia tidak menolak qadar, tetapi juga tidak menjadikannya alasan untuk berdiam diri. Ia terus menjalankan risalah, mengabdi kepada umat, serta menumbuhsuburkan tradisi yang berlandaskan ketuhanan, kemanusiaan, dan moralitas.

Dengan demikian, tarbiyah diri bukan hanya membentuk ibadah personal, tetapi juga melahirkan kekuatan untuk menghadirkan perubahan yang nyata.


Sumber:
Yusuf Al-Qardhawi, Sistem Pendidikan Ikhwanul Muslimin, Dewan Dakwah, 1988

Apapun Masalahnya, Shalat-lah Ketika Rasulullah ï·º ditimpa rasa takut, beliau segera mendirikan shalat. Dalam sebuah sabda, belia...


Apapun Masalahnya, Shalat-lah

Ketika Rasulullah ï·º ditimpa rasa takut, beliau segera mendirikan shalat. Dalam sebuah sabda, beliau menyatakan,
“Dijadikan ketenanganku dalam shalat.”

Shalat bagi Rasulullah ï·º bukan sekadar kewajiban, tetapi tempat kembali—ruang untuk menenangkan hati dan menata kembali kekuatan jiwa.

Karena itu, ketika hati terasa sempit, masalah terasa rumit, dan tipu muslihat datang dari berbagai arah, maka bersegeralah menuju shalat.

Ketika hari-hari terasa gelap, malam-malam mencekam, dan orang-orang di sekitar mulai berpaling, maka shalat menjadi tempat berlindung yang paling aman.

Dalam berbagai urusan besar, Rasulullah ï·º selalu menjadikan shalat sebagai penopang ketenangan. Hal itu tampak dalam momen-momen penting seperti Perang Badar, Ahzab, Tabuk, dan berbagai kesempatan lainnya.

Dari sini kita belajar, bahwa shalat bukan hanya ibadah, tetapi juga sumber kekuatan—tempat hati kembali tegak di tengah tekanan hidup.


Sumber:
Aidh Al-Qarni, La Tahzan, Qisthi Press, 2005

Mengapa Memuji Allah? Mengenal Allah sebagai Rabb Semesta Alam Mengapa Al-Qur'an berkali-kali mengajarkan kita mengucapkan a...

Mengapa Memuji Allah?


Mengenal Allah sebagai Rabb Semesta Alam

Mengapa Al-Qur'an berkali-kali mengajarkan kita mengucapkan alhamdulillah?

Apakah pujian itu menambah kemuliaan Allah?

Tidak.

Allah Mahamulia sebelum ada makhluk yang memuji-Nya. Kemuliaan-Nya tidak bertambah oleh pujian manusia, sebagaimana tidak berkurang oleh pengingkaran mereka.

Lalu mengapa kita diperintahkan memuji-Nya?

Karena dengan memuji Allah, manusialah yang belajar mengenali siapa Tuhannya.

Semakin mengenal Allah, semakin lahir rasa syukur, cinta, tawakal, dan ketenangan.

Allah adalah Rabb

Surah Al-Fatihah membuka seluruh Al-Qur'an dengan kalimat yang sangat agung:

«"Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam." (QS. Al-Fatihah: 2)»

Mengapa Allah memperkenalkan diri sebagai Rabb, bukan sekadar sebagai Pencipta?

Karena makna Rabb jauh lebih luas.

Menurut Tafsir Tahlili Kementerian Agama, Rabb berarti Pemilik, Pengelola, Pemelihara, sekaligus Pendidik.

Di dalam kata itu terkandung makna mendidik secara bertahap hingga mencapai kesempurnaan.

Maka Allah bukan hanya menciptakan alam semesta lalu membiarkannya berjalan sendiri.

Dia terus memelihara.

Dia mengatur.

Dia memberi rezeki.

Dia menjaga keseimbangan.

Dia membimbing setiap makhluk menuju tujuan penciptaannya.

Lihatlah langit yang tak pernah terlambat beredar.

Perhatikan benih yang perlahan tumbuh menjadi pohon.

Amatilah janin yang berkembang dalam rahim hingga lahir sebagai manusia.

Tidak ada satu tahap pun yang luput dari pemeliharaan-Nya.

Inilah makna Rabb.

Dia mendidik seluruh alam dengan kasih sayang dan hikmah.

Rabb Membimbing Melalui Wahyu

Namun manusia berbeda dengan makhluk lainnya.

Ia diberi akal sekaligus kebebasan memilih.

Karena itulah manusia memerlukan petunjuk.

Maka Allah tidak hanya memelihara tubuh manusia.

Dia juga membimbing hati dan pikirannya.

Karena itu Surah Al-Kahfi kembali diawali dengan pujian:

«"Segala puji bagi Allah yang telah menurunkan Kitab kepada hamba-Nya dan Dia tidak menjadikan padanya sedikit pun kebengkokan." (QS. Al-Kahfi: 1)»

Mengapa Allah dipuji?

Karena Dia tidak membiarkan manusia tersesat.

Dia menurunkan Al-Qur'an sebagai cahaya, penunjuk jalan, dan pembeda antara yang benar dan yang batil.

Sebagaimana hujan menghidupkan bumi yang kering, Al-Qur'an menghidupkan hati yang gersang.

Sebagaimana kompas menuntun musafir di tengah padang pasir, Al-Qur'an membimbing manusia menempuh perjalanan menuju kehidupan yang diridhai Allah.

Maka setiap kali membuka Al-Qur'an, sesungguhnya kita sedang menerima sentuhan pendidikan dari Rabb semesta alam.

Rabb Mengatur Alam Melalui Malaikat

Lalu bagaimana Allah mengelola alam semesta yang begitu luas?

Surah Fatir memberikan jawabannya.

«"Segala puji bagi Allah, Pencipta langit dan bumi, yang menjadikan malaikat sebagai utusan-utusan..." (QS. Fatir: 1)»

Allah adalah Pencipta langit dan bumi.

Namun Dia juga menetapkan sistem yang sangat teratur.

Di antara bagian dari sistem itu adalah para malaikat.

Mereka menjalankan tugas sesuai perintah Allah.

Ada yang membawa wahyu kepada para nabi.

Ada yang mencatat amal manusia.

Ada yang mengatur berbagai urusan alam sesuai ketetapan-Nya.

Semuanya bekerja tanpa lalai dan tanpa membangkang.

Tafsir Tahlili menjelaskan bahwa para malaikat memiliki bentuk yang Allah kehendaki. Sebagian memiliki dua, tiga, empat sayap, bahkan lebih. Rasulullah ï·º pernah melihat Malaikat Jibril dalam wujud aslinya dengan enam ratus sayap pada malam Isra dan Mi'raj.

Semua itu menunjukkan keluasan kekuasaan Allah.

Alam semesta yang tampak begitu teratur bukanlah hasil kebetulan.

Di balik keteraturan itu ada Rabb yang mengatur dengan ilmu, hikmah, dan kekuasaan-Nya.

Mengapa Kita Memuji Allah?

Kini kita mulai memahami mengapa Al-Qur'an berkali-kali mengawali pembahasannya dengan kalimat alhamdulillah.

Kita memuji Allah karena Dia adalah Rabb.

Dia menciptakan alam semesta.

Dia memeliharanya setiap saat.

Dia mendidik seluruh makhluk menuju kesempurnaannya.

Dia menurunkan Al-Qur'an agar manusia tidak tersesat.

Dia mengutus para malaikat untuk menjalankan urusan alam dan menyampaikan wahyu.

Setiap nikmat yang kita rasakan bersumber dari-Nya.

Setiap petunjuk yang kita terima berasal dari-Nya.

Setiap hembusan kehidupan berlangsung atas pemeliharaan-Nya.

Karena itu, alhamdulillah bukan sekadar kalimat pembuka.

Ia adalah pengakuan.

Pengakuan bahwa seluruh kehidupan berada dalam didikan Sang Rabb.

Sebuah Renungan

Cobalah bertanya kepada diri sendiri.

Ketika mengucapkan alhamdulillah, apakah lidah kita hanya mengulang sebuah kebiasaan?

Ataukah hati benar-benar sedang menyaksikan kasih sayang Rabb yang mengurus setiap detik kehidupan kita?

Semakin dalam seseorang mengenal makna Rabb, semakin tulus pula pujiannya.

Sebab ia sadar, dirinya hidup bukan karena kekuatannya sendiri, melainkan karena setiap saat berada dalam pemeliharaan, pendidikan, dan kasih sayang Allah, Rabb semesta alam.

Kita Semua Didoakan Nabi Ibrahim, Malaikat, dan Mukminin Terdahulu Pernahkah kita membayangkan bahwa sebelum kita lahir, sudah a...

Kita Semua Didoakan Nabi Ibrahim, Malaikat, dan Mukminin Terdahulu


Pernahkah kita membayangkan bahwa sebelum kita lahir, sudah ada orang-orang saleh yang mendoakan kita?

Bahkan hingga hari ini, ada makhluk-makhluk Allah yang terus memohonkan ampun bagi orang-orang yang beriman.

Al-Qur'an menghadirkan sebuah jalinan persaudaraan yang melampaui ruang dan waktu. Iman ternyata bukan hanya menghubungkan manusia yang hidup sezaman, tetapi juga menyambungkan generasi terdahulu, generasi sekarang, bahkan para malaikat di langit dalam satu untaian doa.

Nabi Ibrahim: Doa Seorang Ayah bagi Generasi Beriman

Allah mengabadikan doa Nabi Ibrahim:

«"Ya Tuhan kami, ampunilah aku, kedua orang tuaku, dan orang-orang mukmin pada hari diadakan perhitungan." (QS. Ibrahim: 41)»

Perhatikan urutan doa itu.

Beliau memulai dari dirinya sendiri, kemudian kedua orang tuanya, lalu meluaskannya kepada seluruh orang beriman.

Seolah-olah Nabi Ibrahim ingin mengajarkan bahwa keselamatan tidak pernah dipandang secara individual. Seorang mukmin tidak cukup hanya memikirkan dirinya sendiri. Ia membawa keluarganya dalam doa, lalu merangkul seluruh saudaranya seiman hingga Hari Kiamat.

Tafsir Kemenag menjelaskan bahwa Nabi Ibrahim pernah memohonkan ampun bagi ayahnya karena sebuah janji. Namun ketika nyata bahwa ayahnya tetap memusuhi Allah, beliau pun berlepas diri darinya sebagaimana dijelaskan dalam QS. At-Taubah ayat 114. Dari sini kita belajar bahwa kasih sayang berjalan seiring dengan ketaatan kepada Allah.

Mukmin Setelahnya: Mewarisi Doa, Bukan Dendam

Kemudian Al-Qur'an membawa kita kepada generasi berikutnya.

Allah menggambarkan doa orang-orang beriman yang datang setelah kaum Muhajirin dan Ansar:

«"Ya Tuhan kami, ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang telah lebih dahulu beriman, dan janganlah Engkau jadikan dalam hati kami kedengkian terhadap orang-orang yang beriman." (QS. Al-Hasyr: 10)»

Betapa indahnya doa ini.

Mereka tidak hanya memohon ampun bagi dirinya sendiri, tetapi juga bagi orang-orang yang telah lebih dahulu beriman. Bahkan mereka memohon agar hati mereka dibersihkan dari dengki, iri, dan kebencian.

Persaudaraan iman ternyata tidak dibangun hanya dengan bertemu dan saling mengenal.

Ia dibangun dengan saling mendoakan.

Tafsir Kemenag menegaskan beberapa pelajaran penting. Doa hendaknya dimulai untuk diri sendiri, kemudian untuk orang lain. Kaum mukmin adalah satu keluarga besar yang saling mencintai dan saling memohonkan ampun. Hubungan Muhajirin dan Ansar menjadi teladan bahwa keimanan, keikhlasan, dan tolong-menolong mampu melahirkan persaudaraan yang jauh lebih kuat daripada sekadar ikatan darah.

Malaikat Pun Ikut Mendoakan

Lalu Al-Qur'an mengangkat pandangan kita ke langit.

Di sana, para malaikat yang memikul 'Arasy tidak hanya bertasbih. Mereka juga berdoa:

«"Ya Tuhan kami, rahmat dan ilmu-Mu meliputi segala sesuatu. Maka ampunilah orang-orang yang bertobat dan mengikuti jalan-Mu, serta lindungilah mereka dari azab Jahim." (QS. Gafir: 7)»

Sungguh mengharukan.

Makhluk-makhluk yang tidak pernah berbuat dosa justru memohonkan ampun bagi manusia yang penuh kekhilafan.

Mereka mengetahui bahwa rahmat Allah lebih luas daripada dosa manusia. Karena itu mereka memohon agar setiap hamba yang bertobat memperoleh ampunan, perlindungan, dan keselamatan.

Bukankah ini kabar yang menenangkan hati?

Ketika seorang mukmin berusaha kembali kepada Allah, ia tidak berjalan sendirian. Ada doa-doa para malaikat yang mengiringinya.

Jejak Doa dalam Kisah-Kisah Al-Qur'an dan Sirah

Tema besar ini berulang dalam banyak kisah.

Ibu Nabi Musa menyerahkan bayinya ke Sungai Nil dengan penuh tawakal setelah menerima wahyu dari Allah. Keimanan seorang ibu dan doanya menjadi sebab terjaganya masa depan seorang nabi. Doa orang tua ternyata mampu menembus masa depan anak-anaknya.

Kita juga melihat keteladanan Abu Bakar Ash-Shiddiq. Ketika difitnah melalui peristiwa yang menimpa Aisyah, beliau tetap memaafkan dan tetap membantu Mistah bin Utsatsah. Hatinya tidak dikuasai dendam. Seolah-olah beliau menghidupkan doa Al-Hasyr ayat 10: jangan biarkan kedengkian tinggal di dalam hati terhadap orang-orang beriman.

Demikian pula dalam hadis tentang orang yang menunggu waktu salat di masjid. Rasulullah ï·º mengabarkan bahwa para malaikat terus mendoakan mereka, "Ya Allah, ampunilah dia. Ya Allah, rahmatilah dia," selama ia tetap berada dalam keadaan suci. Ayat Gafir benar-benar hadir dalam kehidupan seorang mukmin.

Persaudaraan Muhajirin dan Ansar juga menjadi bukti nyata. Sa'ad bin Ar-Rabi' menawarkan separuh hartanya kepada Abdurrahman bin Auf sebagai bentuk persaudaraan. Namun Abdurrahman hanya meminta ditunjukkan jalan menuju pasar agar dapat bekerja sendiri. Persaudaraan mereka dibangun oleh keikhlasan, bukan ketergantungan.

Sebuah Renungan

Tiga kelompok ternyata sedang mendoakan orang-orang beriman.

Nabi Ibrahim mendoakan kita.

Generasi mukmin terdahulu mendoakan kita.

Para malaikat pun memohonkan ampun untuk kita.

Lalu muncul sebuah pertanyaan yang layak kita ajukan kepada diri sendiri.

Sudahkah kita mendoakan orang lain sebagaimana mereka mendoakan kita?

Ataukah hati kita masih dipenuhi iri, dengki, dan prasangka yang justru memutus mata rantai persaudaraan iman?

Mungkin inilah pesan terdalam dari ketiga ayat tersebut.

Peradaban Islam tidak hanya dibangun dengan ilmu, kekuatan, dan amal saleh.

Ia juga dibangun oleh doa-doa yang saling bersambung dari bumi hingga langit, dari generasi ke generasi, hingga tiba hari ketika seluruh manusia berdiri di hadapan Allah untuk mempertanggungjawabkan amalnya.

Shalat dan Malaikat yang Diutus untuk Mengabulkan Doa Shalat bukan sekadar ibadah rutin. Dalam banyak kisah para ulama, shalat m...


Shalat dan Malaikat yang Diutus untuk Mengabulkan Doa


Shalat bukan sekadar ibadah rutin. Dalam banyak kisah para ulama, shalat menjadi jalan pertolongan ketika segala pintu terasa tertutup.

Ibnu Hajar al-Asqalani, penulis Fathul Bari, pernah mengalami peristiwa yang menegangkan. Suatu hari, ketika ia sedang dalam perjalanan menuju sebuah benteng di Mesir, ia dihadang oleh sekelompok perampok.

Di tengah ancaman itu, ia tidak panik. Ia tidak berdebat. Ia tidak mencari jalan lari.

Ia berdiri dan melaksanakan shalat.

Melalui shalat itulah, Allah membukakan jalan keselamatan baginya.


---

Kisah lain datang dari seorang ibu yang diliputi kegelisahan. Ia mendatangi seorang ulama dengan harapan yang besar.

“Wahai Syaikh, anakku ditangkap oleh Sultan. Tolonglah aku agar ia dibebaskan.”

Sang ulama tidak banyak berbicara. Ia tidak segera memberi jawaban.

Ia bangkit, lalu berdiri untuk shalat.

Dalam keheningan itu, sang ibu menunggu dengan penuh harap. Tak lama kemudian, kabar datang: anaknya telah dibebaskan.


---

Kisah yang lebih menggugah diceritakan oleh Ibnu Qayyim al-Jawziyyah.

Ia mengisahkan tentang seorang laki-laki saleh yang dihadang oleh perampok di salah satu jalan di Syam. Perampok itu hendak membunuhnya.

Laki-laki tersebut meminta satu hal:
kesempatan untuk shalat dua rakaat.

Dalam shalatnya, ia membaca berulang kali ayat:

“Bukankah Dia yang memperkenankan doa orang yang dalam kesulitan ketika ia berdoa kepada-Nya?”

Ia mengulanginya hingga tiga kali.

Pada saat itu pula, turunlah seorang malaikat dari langit dengan membawa pedang. Dengan izin Allah, malaikat tersebut membunuh perampok itu.

Malaikat itu kemudian berkata,
“Aku adalah utusan dari Dzat Yang memperkenankan doa orang yang dalam kesulitan.”


---

Dari kisah-kisah ini, tampak satu benang merah yang kuat:

ketika manusia menghadapi jalan buntu, shalat membuka jalan langit.

Ia bukan sekadar ritual, tetapi pintu pertolongan.
Bukan sekadar gerakan, tetapi panggilan yang dijawab.

Dan di saat-saat paling sulit, shalat menjadi jembatan antara kelemahan manusia dan kekuasaan Allah.

Sumber:
Aidh Al-Qarni, La Tahzan, Qisthi Press, 2005

Agar Shalatnya Seperti Shalat Para Nabi dan Sahabat  Tsabit berkata, “Para nabi dan rasul, apabila ditimpa suatu masalah, mereka...

Agar Shalatnya Seperti Shalat Para Nabi dan Sahabat 


Tsabit berkata, “Para nabi dan rasul, apabila ditimpa suatu masalah, mereka segera mendirikan shalat.”

Pernyataan ini bukan sekadar kisah, tetapi pola yang berulang dalam sejarah kenabian: shalat menjadi tempat kembali, sumber ketenangan, sekaligus pintu pertolongan.

Di masa Nabi Musa, ketika kekejaman Firaun mencapai puncaknya, Allah tidak langsung memerintahkan perlawanan terbuka. Sebaliknya, Allah memerintahkan Bani Israil agar menjadikan rumah-rumah mereka sebagai tempat shalat. Dari ruang-ruang sunyi itulah kekuatan ruhani dibangun—hingga akhirnya datang pertolongan Allah yang menenggelamkan Firaun.

Namun, pertanyaan muncul pada masa kini:
mengapa shalat yang kita kerjakan tidak selalu menghadirkan jalan keluar seperti itu?

Ibnu Mas‘ud pernah memberikan kunci jawabannya. Ia berkata,
“Amal kalian lebih banyak daripada para sahabat, tetapi mereka lebih baik daripada kalian. Sebab mereka lebih zuhud terhadap dunia dan lebih mencintai akhirat.”

Bahkan pada generasi setelahnya—para tabi’in—terdapat orang-orang yang ibadahnya lebih banyak: shalat malamnya lebih panjang, puasanya lebih sering. Namun tetap saja, derajat mereka tidak melampaui para sahabat. Mengapa? Karena para sahabat memiliki sesuatu yang lebih dalam: kezuhudan, keyakinan yang kokoh, dan tawakal yang total kepada Allah.

Di sinilah letak perbedaannya.

Shalatnya mungkin sama.
Gerakannya sama.
Bacaannya sama.

Namun hati yang berdiri di dalamnya berbeda.

Maka, persoalannya bukan pada shalat itu sendiri, tetapi pada keadaan jiwa yang menghidupkannya. Ketika shalat kehilangan ruhnya, ia menjadi rutinitas. Tetapi ketika hati hadir dengan iman, yakin, dan tawakal, shalat kembali menjadi jalan—sebagaimana jalan yang ditempuh para nabi.


Sumber:
Ali Muhammad Ash-Shallabi, Biografi Hasan bin Ali, Ummul Qura, 2017

Cari Artikel Ketik Lalu Enter

Artikel Lainnya

Indeks Artikel

!qNusantar3 (1) 1+6!zzSirah Ulama (1) Abdullah bin Nuh (1) Abu Bakar (3) Abu Hasan Asy Syadzali (2) Abu Hasan Asy Syadzali Saat Mesir Dikepung (1) Aceh (6) Adnan Menderes (2) Adu domba Yahudi (1) adzan (1) Agama (1) Agribisnis (1) Ahli Epidemiologi (1) Air hujan (1) Akhir Zaman (1) Al-Baqarah (1) Al-Qur'an (362) Al-Qur’an (44) alam (3) Alamiah Kedokteran (1) Ali bin Abi Thalib (1) An-Nadwi (1) Andalusia (1) Angka Binner (1) Angka dalam Al-Qur'an (1) Aqidah (1) Ar Narini (2) As Sinkili (2) Asbabulnuzul (1) Ashabul Kahfi (1) Aurangzeb alamgir (1) Bahasa Arab (1) Bahaya Kemunduran Umat Islam (1) Bani Israel (1) Banjar (1) Banten (1) Barat (1) Belanja (1) Berkah Musyawarah (1) Bermimpi Rasulullah saw (1) Bertanya (1) Bima (1) Biografi (1) BJ Habibie (1) budak jadi pemimpin (1) Buku Hamka (1) busana (1) Buya Hamka (53) Cerita kegagalan (1) cerpen Nabi (8) cerpen Nabi Musa (2) Cina Islam (1) cinta (1) Covid 19 (1) Curhat doa (1) Dajjal (1) dakwah (8) Dakwah (2) Dasar Kesehatan (1) Deli Serdang (1) Demak (3) Demam Tubuh (1) Demografi Umat Islam (1) Detik (1) Diktator (1) Diponegoro (2) Dirham (1) Doa (1) doa mendesain masa depan (1) doa wali Allah (1) dukun (1) Dunia Islam (1) Duplikasi Kebrilianan (1) energi kekuatan (1) Energi Takwa (1) english (6) English (6) Episentrum Perlawanan (1) filsafat (3) filsafat Islam (1) Filsafat Sejarah (1) Fiqh (1) Fir'aun (2) Firasat (1) Firaun (1) Gamal Abdul Naser (1) Gelombang dakwah (1) Gladiator (1) Gowa (1) grand desain tanah (1) Gua Secang (1) Haji (1) Haman (1) Hamka (3) Hasan Al Banna (7) Heraklius (4) Hidup Mudah (1) Hikayat (3) Hikayat Perang Sabil (2) hikmah (1) https://www.literaturislam.com/ (1) Hukum Akhirat (1) hukum kesulitan (1) Hukum Pasti (1) Hukuman Allah (1) Ibadah obat (1) Ibnu Hajar Asqalani (1) Ibnu Khaldun (1) Ibnu Sina (1) Ibrahim (1) Ibrahim bin Adham (1) ide menulis (1) Ikhwanul Muslimin (1) ilmu (2) Ilmu Laduni (3) Ilmu Sejarah (1) Ilmu Sosial (1) Imam Al-Ghazali (2) imam Ghazali (1) Instropeksi diri (1) interpretasi sejarah (1) Islam (1) ISLAM (2) Islam Cina (1) Islam dalam Bahaya (2) Islam di India (1) Islam Nusantara (1) Islampobia (1) Istana Al-Hambra (1) Istana Penguasa (1) Istiqamah (1) Jalan Hidup (1) Jamuran (1) Jebakan Istana (1) Jendral Mc Arthu (1) Jibril (1) jihad (1) Jiwa Berkecamuk (1) Jiwa Mujahid (1) Jogyakarta (1) jordania (1) jurriyah Rasulullah (1) Kabinet Abu Bakar (1) Kajian (1) kambing (1) Karamah (1) Karya Besar (1) Karya Fenomenal (1) Kebebasan beragama (1) Kebohongan Pejabat (1) Kebohongan Yahudi (1) kecerdasan (19) Kecerdasan (319) Kecerdasan Finansial (4) Kecerdasan Laduni (1) Kedok Keshalehan (1) Kejayaan Islam (1) Kejayaan Umat Islam (1) Kekalahan Intelektual (1) Kekhalifahan Islam (2) Kekhalifahan Turki Utsmani (1) Keluar Krisis (1) Kemiskinan Diri (1) Kepemimpinan (1) kerajaan Islam (1) kerajaan Islam di India (1) Kerajaan Sriwijaya (2) Kesehatan (1) Kesultanan Aceh (1) Kesultanan Nusantara (1) Ketuhanan Yang Maha Esa (1) Keturunan Rasulullah saw (1) Keunggulan ilmu (1) keunggulan teknologi (1) Kezaliman (2) KH Hasyim Ashari (1) Khaidir (2) Khalifatur Rasyidin (1) Kiamat (1) Kisah (1) Kisah Al Quran (1) kisah Al-Qur'an (1) Kisah Hadist (4) Kisah Nabi (1) Kisah Nabi dan Rasul (1) Kisah Para Nabi (1) kisah para nabi dan (2) kisah para nabi dan rasul (51) kisah para Nabi dan Rasul (1) Kisah para nabi dan rasul (101) Kisah Para Nabi dan Rasul (577) kisah para nabi dan rasul. Nabi Daud (1) kisah para nabi dan rasul. nabi Musa (2) Kisah Penguasa (1) Kisah ulama (1) kitab primbon (1) Koalisi Negara Ulama (1) Krisis Ekonomi (1) Kumis (1) Kumparan (1) Kurikulum Pemimpin (1) Laduni (1) lauhul mahfudz (1) lockdown (1) Logika (1) Luka darah (1) Luka hati (1) madrasah ramadhan (1) Madu dan Susu (1) Majapahi (1) Majapahit (4) Makkah (1) Malaka (1) Mandi (1) Matematika dalam Al-Qur'an (1) Maulana Ishaq (1) Maulana Malik Ibrahi (1) Melihat Wajah Allah (1) Memerdekakan Akal (1) Menaklukkan penguasa (1) Mendidik anak (1) mendidik Hawa Nafsu (1) Mendikbud (1) Menggenggam Dunia (1) menulis (1) Mesir (1) militer (1) militer Islam (1) Mimpi Rasulullah saw (1) Minangkabau (2) Mindset Dongeng (1) Muawiyah bin Abu Sofyan (1) Mufti Johor (1) muhammad al fatih (3) Muhammad bin Maslamah (1) Mukjizat Nabi Ismail (1) Musa (1) muslimah (1) musuh peradaban (1) Nabi Adam (71) Nabi Ayub (1) Nabi Daud (3) Nabi Ibrahim (3) Nabi Isa (2) nabi Isa. nabi ismail (1) Nabi Ismail (1) Nabi Khaidir (1) Nabi Khidir (1) Nabi Musa (29) Nabi Nuh (6) Nabi Sulaiman (2) Nabi Yunus (1) Nabi Yusuf (15) Namrudz (2) Nasrulloh Baksolahar (1) NKRI (1) nol (1) Nubuwah Rasulullah (4) Nurudin Zanky (1) Nusa Tenggara (1) nusantara (5) Nusantara (266) Nusantara Tanpa Islam (1) obat cinta dunia (2) obat takut mati (1) Olahraga (6) Orang Lain baik (1) Orang tua guru (1) Padjadjaran (2) Palembang (1) Palestina (658) Pancasila (1) Pangeran Diponegoro (3) Pasai (2) Paspampres Rasulullah (1) Pembangun Peradaban (2) Pemecahan masalah (1) Pemerintah rapuh (1) Pemutarbalikan sejarah (1) Pengasingan (1) Pengelolaan Bisnis (1) Pengelolaan Hawa Nafsu (1) Pengobatan (1) pengobatan sederhana (1) Penguasa Adil (1) Penguasa Zalim (1) Penjajah Yahudi (35) Penjajahan Belanda (1) Penjajahan Yahudi (1) Penjara Rotterdam (1) Penyelamatan Sejarah (1) peradaban Islam (1) Perang Aceh (1) Perang Afghanistan (1) Perang Arab Israel (1) Perang Badar (3) Perang Ekonomi (1) Perang Hunain (1) Perang Jawa (1) Perang Khaibar (1) Perang Khandaq (2) Perang Kore (1) Perang mu'tah (1) Perang Paregreg (1) Perang Salib (4) Perang Tabuk (1) Perang Uhud (2) Perdagangan rempah (1) Pergesekan Internal (1) Perguliran Waktu (1) permainan anak (2) Perniagaan (1) Persia (2) Persoalan sulit (1) pertanian modern (1) Pertempuran Rasulullah (1) Pertolongan Allah (3) perut sehat (1) pm Turki (1) POHON SAHABI (1) Portugal (1) Portugis (1) ppkm (1) Prabu Satmata (1) Prilaku Pemimpin (1) prokes (1) puasa (1) pupuk terbaik (1) purnawirawan Islam (1) Qarun (2) Quantum Jiwa (1) Raffles (1) Raja Islam (1) rakyat lapar (1) Rakyat terzalimi (1) Rasulullah (1) Rasulullah SAW (1) Rasulullah shalallahu alaihi wassalam (1) Rehat (493) Rekayasa Masa Depan (1) Republika (2) respon alam (1) Revolusi diri (1) Revolusi Sejarah (1) Revolusi Sosial (1) Rindu Rasulullah (1) Romawi (4) Rumah Semut (1) Ruqyah (1) Rustum (1) Saat Dihina (1) Sahabat (1) sahabat Nabi (1) Sahabat Rasulullah (1) SAHABI (1) Salimul Aqidah (1) satu (1) Sayyidah Musyfiqah (1) Sejarah (2) Sejarah Nabi (1) Sejarah Para Nabi dan Rasul (1) Sejarah Penguasa (1) selat Malaka (2) Seleksi Pejabat (1) Sengketa Hukum (1) Serah Nabawiyah (1) Seruan Jihad (3) shalahuddin al Ayubi (3) shalat (1) Shalat di dalam kuburannya (1) Shalawat Ibrahimiyah (1) Simpel Life (1) Sirah Nabawiyah (299) Sirah Para Nabi dan Rasul (3) Sirah penguasa (11) Sirah Penguasa (247) sirah Sahabat (2) Sirah Sahabat (171) Sirah Tabiin (43) Sirah ulama (32) Sirah Ulama (158) Siroh Sahabat (1) Sofyan Tsauri (1) Solusi Negara (1) Solusi Praktis (1) Sriwijaya Islam (3) Strategi Demonstrasi (1) Suara Hewan (1) Suara lembut (1) Sudah Nabawiyah (1) Sufi (1) sugesti diri (1) sultan Hamid 2 (1) sultan Islam (1) Sultan Mataram (3) Sultanah Aceh (1) Sunah Rasulullah (2) sunan giri (3) Sunan Gresi (1) Sunan Gunung Jati (1) Sunan Kalijaga (1) Sunan Kudus (2) Sunatullah Kekuasaan (1) Supranatural (1) Surakarta (1) Syariat Islam (18) Syeikh Abdul Qadir Jaelani (2) Syeikh Palimbani (3) Tak Ada Solusi (1) Takdir Umat Islam (1) Takwa (1) Takwa Keadilan (1) Tamim Ad Dari (1) Tanda Hari Kiamat (1) Tasawuf (29) teknologi (2) tentang website (1) tentara (1) tentara Islam (1) Ternate (1) Thaharah (1) Thariqah (1) tidur (1) Titik kritis (1) Titik Kritis Kekayaan (1) Tragedi Sejarah (1) Turki (2) Turki Utsmani (2) Ukhuwah (1) Ulama Mekkah (3) Umar bin Abdul Aziz (5) Umar bin Khatab (3) Umar k Abdul Aziz (1) Ummu Salamah (1) Umpetan (1) Utsman bin Affan (2) veteran islam (1) Wabah (1) wafat Rasulullah (1) Wakaf (1) Waki bin Jarrah (1) Wali Allah (1) wali sanga (1) Walisanga (2) Walisongo (3) Wanita Pilihan (1) Wanita Utama (1) Warung Kelontong (1) Waspadai Ibadah (1) Wudhu (1) Yusuf Al Makasari (1) zaman kerajaan islam (1) Zulkarnain (1)