Mengambil Kejernihan Peradaban Lain
Bagaimana sebenarnya wajah peradaban Arab sebelum Islam?
Banyak orang langsung membayangkan penyembahan berhala, tawaf dalam keadaan telanjang, peperangan antarsuku, dan berbagai praktik jahiliah lainnya. Gambaran itu memang benar. Namun, benarkah seluruh peradaban Quraisy hanya berisi kegelapan?
Jika ditelusuri lebih dalam, jawabannya ternyata tidak sesederhana itu.
Jejak sejarah menunjukkan bahwa masyarakat Quraisy masih menyimpan sisa-sisa ajaran Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail. Di tengah penyimpangan akidah yang begitu jauh, masih terdapat tradisi-tradisi luhur yang diwariskan dari agama hanif. Islam kemudian tidak menghapus seluruh warisan itu, tetapi menyaringnya: yang menyimpang diluruskan, sedangkan yang selaras dengan tauhid dipertahankan dan disempurnakan.
Inilah pola besar yang menarik untuk ditelusuri.
Menelusuri Awal Penyimpangan
Mengapa kaum Quraisy bertawaf tanpa busana? Apakah sejak awal ibadah itu memang seperti demikian?
Tidak.
Tradisi itu lahir melalui proses penyimpangan yang panjang. Demikian pula keberadaan ratusan berhala di sekitar Ka'bah. Pada masa Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail, Ka'bah dibangun sebagai pusat tauhid. Penyembahan terhadap berhala baru muncul setelah generasi-generasi berikutnya mengubah ajaran yang lurus.
Al-Qur'an juga menggambarkan pola serupa pada kaum Nabi Nuh. Penyimpangan tidak dimulai dengan kemusyrikan secara tiba-tiba. Awalnya masyarakat hanya menghormati orang-orang saleh. Setelah beberapa generasi, penghormatan berubah menjadi pengkultusan, lalu berkembang menjadi penyembahan. Setan memanfaatkan kecenderungan manusia sedikit demi sedikit hingga tauhid bergeser menjadi syirik.
Sejarah memperlihatkan sebuah siklus yang terus berulang. Sebuah peradaban lahir di atas fitrah, berkembang, kemudian perlahan mengalami distorsi karena hawa nafsu dan penyimpangan manusia.
Islam Tidak Menghapus Segalanya
Di sinilah letak keunikan Islam.
Ketika Rasulullah ﷺ menaklukkan Makkah, beliau tidak membangun seluruh tata kehidupan dari titik nol. Beliau menghancurkan berhala, menghapus kesyirikan, dan mengoreksi berbagai praktik yang menyimpang. Namun pada saat yang sama, beliau mempertahankan berbagai tradisi yang memang berasal dari warisan Nabi Ibrahim.
Sa'i antara Shafa dan Marwah tetap menjadi syiar Allah.
Penghormatan terhadap bulan-bulan haram tetap dipelihara.
Pelayanan kepada jamaah haji tetap diteruskan dengan orientasi yang dibersihkan dari kebanggaan kesukuan menuju keikhlasan karena Allah.
Dengan kata lain, Islam tidak sekadar meruntuhkan sebuah peradaban, tetapi melakukan proses pemurnian. Yang rusak dibuang, yang benar dilanjutkan.
Inilah metode perubahan yang diajarkan Rasulullah ﷺ.
Melihat Peradaban dengan Perspektif yang Lebih Luas
Pelajaran tersebut memberi cara pandang baru terhadap berbagai peradaban dunia saat ini.
Seluruh manusia berasal dari Nabi Adam. Seluruh risalah para nabi bermuara pada tauhid. Karena itu, berbagai peradaban di dunia sesungguhnya memiliki akar fitrah yang sama, meskipun kemudian berkembang melalui pengalaman sejarah yang berbeda-beda.
Perjalanan sejarah melahirkan berbagai penyimpangan, tetapi juga menyisakan nilai-nilai universal yang tetap hidup: kejujuran, disiplin, penghargaan terhadap ilmu, kepedulian sosial, kerja keras, amanah, dan keadilan.
Nilai-nilai inilah yang menjadi titik temu antarmanusia.
Karena itu, seorang Muslim tidak diperintahkan menolak seluruh produk sebuah peradaban hanya karena peradaban tersebut dibangun oleh masyarakat non-Muslim. Yang diperintahkan adalah melakukan penyaringan dengan Al-Qur'an dan Sunnah sebagai standar kebenaran.
Mengambil Kejernihan, Membuang Kekeruhan
Al-Qur'an memberikan ilustrasi yang sangat kuat.
Air bah membawa buih ke permukaan. Buih tampak besar, tetapi segera menghilang. Adapun air yang memberi manfaat tetap tinggal dan menghidupi manusia.
Demikian pula perjalanan peradaban.
Kebatilan, kesombongan, dan penyimpangan hanyalah buih sejarah. Ia mungkin tampak dominan pada suatu masa, tetapi tidak bertahan lama. Yang akan tetap hidup adalah nilai-nilai yang membawa manfaat bagi manusia.
Maka tugas umat Islam bukan sekadar mengkritik peradaban lain, melainkan menemukan kejernihan yang masih tersisa di dalamnya, kemudian mengembalikannya kepada orientasi tauhid.
Baitul Hikmah: Contoh Nyata dalam Sejarah
Prinsip inilah yang diwujudkan pada masa Dinasti Abbasiyah.
Di bawah kepemimpinan Khalifah Al-Ma'mun, kaum Muslim mengumpulkan naskah-naskah ilmu pengetahuan dari Yunani, Persia, India, dan berbagai peradaban lainnya. Semua itu diterjemahkan ke dalam bahasa Arab melalui Baitul Hikmah.
Mereka tidak sekadar menerjemahkan.
Mereka mengkritisi, mengembangkan, mengoreksi, lalu melahirkan ilmu-ilmu baru yang kemudian menjadi fondasi kemajuan dunia.
Mereka mengambil kejernihan ilmu, bukan menyerap seluruh pandangan hidup yang menyertainya.
Di sinilah tampak kepercayaan diri sebuah peradaban yang memiliki standar wahyu. Mereka tidak takut berdialog dengan ilmu dari luar karena memiliki Al-Qur'an dan Sunnah sebagai neraca.
Menjadi Saksi Peradaban
Al-Qur'an menyebut umat Islam sebagai syuhadā' 'ala an-nās—umat yang menjadi saksi bagi manusia.
Menjadi saksi bukan berarti menolak semua yang berasal dari luar, juga bukan berarti menerima semuanya tanpa kritik.
Menjadi saksi berarti mampu membedakan antara kejernihan dan kekeruhan.
Mengambil hikmah yang masih hidup.
Meluruskan penyimpangan yang muncul.
Lalu membangun kembali peradaban di atas fondasi tauhid.
Inilah pelajaran besar yang diwariskan Rasulullah ﷺ ketika memurnikan tradisi Quraisy, dan inilah pula pelajaran yang diwariskan Baitul Hikmah ketika berinteraksi dengan peradaban dunia.
Peradaban Islam tidak lahir dari sikap tertutup, tetapi juga tidak dibangun di atas sikap latah meniru. Ia tumbuh melalui keberanian berdialog, kecermatan menyaring, dan keteguhan menjaga wahyu sebagai hakim tertinggi.
Mungkin di situlah letak pelajaran terpenting bagi umat Islam hari ini: bukan sekadar menjadi konsumen peradaban dunia, melainkan menjadi penyaring, penyempurna, dan penjaga kejernihan nilai-nilai kemanusiaan agar kembali bermuara kepada Allah SWT.
0 komentar: