Agar Persoalan Tak Jadi Persoalan
Mengapa dua orang menghadapi persoalan yang hampir sama, tetapi menghasilkan akhir yang sangat berbeda?
Seseorang kehilangan harta, lalu hidupnya runtuh. Yang lain kehilangan lebih banyak, tetapi tetap tenang.
Ada yang diuji penyakit ringan, namun putus asa. Ada pula yang bertahun-tahun hidup dalam penderitaan, tetapi tetap mampu bersyukur.
Apakah perbedaannya terletak pada besar kecilnya persoalan?
Atau justru persoalan itu sendiri bukan sumber penderitaan?
Di sinilah letak persoalan yang sering luput disadari.
Persoalan Bukanlah Musuh Utama
Sebagian besar manusia menganggap persoalan sebagai pusat kehidupan.
Padahal, Al-Qur'an dan sunnah mengajarkan sebaliknya.
Persoalan hanyalah bagian kecil dari perjalanan menuju Allah. Ia bukan tujuan perjalanan.
Rasulullah ï·º pernah menggambar sebuah garis lurus di atas tanah. Di kanan dan kirinya beliau menggambar garis-garis kecil, lalu menjelaskan bahwa garis lurus itulah jalan Allah, sedangkan garis-garis di sekitarnya adalah jalan-jalan yang mengajak manusia berpaling dari jalan-Nya.
Gangguan itu selalu ada.
Persoalannya bukan ada atau tidaknya gangguan, tetapi apakah hati tetap berjalan lurus atau justru menoleh kepada setiap tarikan nafsu dan bisikan setan.
Sering kali penderitaan dimulai bukan ketika masalah datang, tetapi ketika hati berhenti menatap tujuan.
Mengapa Persoalan Menjadi Sangat Berat?
Persoalan sebenarnya hanyalah seperti goresan kecil pada kulit.
Luka kecil umumnya mudah disembuhkan.
Namun jika dibiarkan terinfeksi, ia berubah menjadi borok yang membusuk dan sulit dipulihkan.
Demikian pula hati.
Persoalan kecil berubah menjadi penderitaan panjang ketika hati kehilangan arah.
Bukan karena masalahnya membesar, tetapi karena hati menjauh dari Allah.
Semakin jauh hati dari Allah, semakin besar persoalan tampak di hadapan manusia.
Sebaliknya, semakin dekat hati kepada Allah, semakin kecil persoalan terlihat dibandingkan kebesaran-Nya.
Ketika Hati Kehilangan Orientasi
Mengapa hati mudah rapuh?
Karena ia terlalu lama tenggelam dalam persoalan, tetapi jarang tenggelam dalam mengenal Allah.
Manusia sibuk menghitung masalah, tetapi lupa menghitung nikmat.
Sibuk memikirkan sebab-sebab dunia, tetapi lalai mengingat Asmaul Husna.
Padahal hati diciptakan untuk mengenal Allah.
Jika hati tidak dibenamkan dalam samudra nama-nama dan sifat-sifat-Nya, ia akan mudah dikuasai rasa takut, cemas, marah, iri, dan putus asa.
Persoalan akhirnya bukan lagi berada di luar diri, tetapi telah berpindah ke dalam hati.
Persoalan Adalah Alarm, Bukan Hukuman
Banyak orang mengira setiap musibah adalah akhir dari kebahagiaan.
Padahal, bisa jadi ia hanyalah panggilan agar manusia kembali kepada Allah.
Persoalan menyadarkan bahwa manusia lemah.
Bahwa ia bukan pengendali kehidupan.
Bahwa ada Dzat Yang Mahakuasa yang selama ini terlupakan ketika hidup terasa nyaman.
Karena itu, persoalan bukan semata-mata untuk dihilangkan.
Ia hadir agar manusia kembali menyadari kebutuhannya kepada Allah.
Kembali kepada Peran Sejati
Mengapa persoalan terasa begitu melelahkan?
Karena manusia sering lupa siapa dirinya.
Allah menciptakan manusia sebagai hamba dan khalifah.
Sebagai hamba, tugas utamanya adalah beribadah dan mendekat kepada Allah.
Sebagai khalifah, tugasnya mengelola amanah kehidupan sesuai petunjuk-Nya.
Ketika manusia justru sibuk menjadi "penguasa" atas takdirnya sendiri, setiap kegagalan terasa sebagai kehancuran.
Sebaliknya, ketika ia kembali menjadi hamba, persoalan berubah menjadi bagian dari proses pendidikan Allah.
Jangan Biarkan Persoalan Mencuri Allah dari Hati
Inilah bahaya terbesar.
Bukan kehilangan harta.
Bukan kehilangan jabatan.
Bukan kehilangan kesehatan.
Tetapi kehilangan kehadiran Allah dalam hati.
Sebab ketika hati berpaling dari Allah, persoalan sekecil apa pun akan terasa menyesakkan.
Namun ketika Allah memenuhi hati, persoalan sebesar apa pun kehilangan daya untuk menghancurkan jiwa.
Karena itu, kemenangan terbesar bukanlah ketika masalah selesai.
Melainkan ketika masalah gagal menjauhkan hati dari Allah.
Persoalan Adalah Tangga, Bukan Jurang
Setiap persoalan membawa satu pertanyaan.
Apakah kita akan sibuk bergumul dengan masalah?
Ataukah kita akan menjadikannya tangga untuk semakin dekat kepada Allah?
Orang yang hanya melihat persoalan akan tenggelam dalam kecemasan.
Sebaliknya, orang yang melihat Allah di balik setiap persoalan akan menemukan ketenangan bahkan sebelum masalahnya selesai.
Ia memahami bahwa tujuan hidup bukanlah hidup tanpa persoalan.
Tujuan hidup adalah tetap bersama Allah dalam setiap keadaan.
Penutup
Persoalan tidak selalu dapat dihindari.
Namun penderitaan sering kali lahir dari cara manusia memandang persoalan.
Semakin hati terpaut kepada Allah, semakin kecil persoalan terlihat.
Sebaliknya, semakin hati terpaut kepada dunia, semakin kecil persoalan terasa seperti bencana besar.
Karena itu, jangan habiskan hidup untuk bergumul dengan persoalan.
Habiskanlah hidup untuk memperkuat hubungan dengan Allah.
Sebab ketika Allah memenuhi hati, persoalan tidak lagi menjadi pusat kehidupan.
Ia hanya menjadi jalan yang mengantarkan seorang hamba semakin dekat kepada Rabb-nya.
0 komentar: