Suasana Kecemasan Batin Petinggi Yahudi Pasca Badai Al-Aqsa
Akhir Sebuah Era: Mengapa "Keistimewaan" Yahudi di Amerika Kini Tinggal Kenangan?
Apakah yang paling ditakutkan sebuah komunitas yang selama puluhan tahun merasa telah menemukan rumah permanennya?
Bukan semata meningkatnya ancaman fisik. Yang jauh lebih mengusik adalah runtuhnya sebuah keyakinan: keyakinan bahwa mereka akhirnya telah keluar dari siklus panjang sejarah diaspora.
Itulah kegelisahan yang digambarkan Andres Spokoiny.
Ia tumbuh di Argentina dengan pengalaman yang akrab bagi banyak komunitas Yahudi diaspora. Ia mencintai tanah kelahirannya. Ia mengagumi José de San MartÃn, mengidolakan Presiden Raúl AlfonsÃn, dan larut dalam euforia ketika tim nasional Argentina bertanding. Namun, di balik patriotisme itu, selalu tersimpan kesadaran bahwa kehidupan Yahudi di sana bersifat sementara. Stabilitas politik dapat berubah. Krisis ekonomi dapat datang. Dan sebuah negeri yang hari ini terasa sebagai rumah, esok dapat berubah menjadi tempat yang asing.
Lalu bagaimana dengan Amerika Serikat?
Selama beberapa generasi, Amerika dipandang sebagai pengecualian dalam sejarah diaspora Yahudi. Di sanalah mereka merasa tidak lagi sekadar "menumpang", melainkan menjadi bagian utuh dari bangsa itu sendiri.
Inilah yang disebut Spokoiny sebagai American Jewish exceptionalism—perasaan bahwa sejarah panjang pengasingan akhirnya telah berakhir.
Perasaan itu pernah dirumuskan secara indah oleh Will Herberg pada tahun 1955:
«"Orang Yahudi Amerika tidak hidup dalam pengasingan; ia hidup di tanah yang ia anggap sebagai miliknya sendiri, dan di dalam tanah itulah ia membentuk identitas Yahudi yang sukarela, percaya diri, dan sepenuhnya Amerika."»
Kalimat itu bukan hanya deskripsi sosiologis.
Ia adalah fondasi psikologis sebuah komunitas.
---
Namun, apakah fondasi itu masih berdiri?
Menurut Spokoiny, jawabannya tidak lagi.
Peristiwa 7 Oktober 2023 beserta dampak global sesudahnya menjadi titik balik yang mengguncang keyakinan tersebut.
Yang mengejutkan bukan hanya meningkatnya antisemitisme.
Yang lebih mengejutkan adalah tempat kemunculannya.
Universitas-universitas elite.
Lembaga kebudayaan.
Ruang-ruang intelektual.
Institusi-institusi yang selama ini dianggap sebagai benteng liberalisme dan pluralisme justru berubah menjadi arena konfrontasi terhadap komunitas Yahudi.
Di sinilah muncul ironi sejarah.
Bukankah banyak intelektual Yahudi turut berkontribusi dalam pengembangan gagasan hak asasi manusia universal, kebebasan sipil, serta konsep Diversity, Equity, and Inclusion (DEI)?
Namun kini, menurut Spokoiny, bahasa moral yang dahulu mereka bantu bangun justru digunakan untuk menyerang mereka sendiri.
Seolah-olah alat yang dahulu mereka ciptakan kini berbalik arah.
---
Yang lebih mengkhawatirkan lagi adalah perubahan lanskap politik Amerika.
Dahulu, antisemitisme dipandang sebagai penyimpangan yang segera dikoreksi oleh masyarakat luas.
Kini?
Ia mulai memperoleh ruang politik.
Ia mulai mendapatkan legitimasi elektoral.
Bagi banyak komunitas Yahudi, kemenangan tokoh-tokoh seperti Zohran Mamdani dipandang sebagai sinyal bahwa retorika yang selama ini dianggap berada di pinggiran kini mulai memasuki arus utama politik.
Jika dahulu antisemitisme dianggap sebagai "bug" dalam sistem demokrasi Amerika, kini sebagian orang mulai khawatir bahwa ia telah berubah menjadi salah satu "fitur" dalam kompetisi politik.
---
Ada pertanyaan yang lebih dalam lagi.
Siapa yang berhak mendefinisikan rasa sakit sebuah komunitas?
Spokoiny mengajukan analogi yang cukup provokatif.
Ketika komunitas kulit hitam menyatakan bahwa sebuah kata tertentu bersifat rasis, masyarakat umumnya menerima penilaian itu.
Tidak ada perdebatan panjang mengenai niat tersembunyi atau makna alternatif.
Mengapa?
Karena komunitas yang menjadi sasaran dianggap memiliki otoritas untuk menjelaskan pengalaman mereka sendiri.
Namun, mengapa ketika komunitas Yahudi mengatakan bahwa suatu slogan atau tindakan bersifat antisemitik, justru muncul perdebatan panjang mengenai apakah mereka "terlalu sensitif"?
Mengapa pihak luar—bahkan mereka yang memusuhi Yahudi—sering kali justru diberi ruang untuk menentukan apa yang boleh atau tidak boleh disebut antisemitisme?
Bagi Spokoiny, di sinilah berakhirnya mitos keistimewaan itu.
Mereka mulai menyadari bahwa perlindungan sosial ternyata tidak bersifat otomatis.
Ia sangat bergantung pada dinamika politik.
---
Lalu, apa yang harus dilakukan?
Spokoiny menawarkan gagasan yang terdengar paradoksal.
Berhentilah mencari rumah politik yang permanen.
Ia menyebutnya sebagai political homelessness—gelandangan politik.
Istilah ini bukan berarti apatis terhadap politik.
Sebaliknya, ia adalah strategi untuk tidak menggantungkan keamanan komunitas pada satu kubu ideologi tertentu.
Mengapa?
Karena baik sayap kiri maupun kanan, menurut pengamatannya, sama-sama akan membela antisemitisme hanya ketika hal itu menguntungkan kepentingan politik mereka.
Jika demikian, mengapa harus menyerahkan loyalitas secara penuh kepada salah satu pihak?
Lebih baik bersikap independen.
Memberikan dukungan berdasarkan prinsip, bukan berdasarkan identitas partisan.
---
Namun, jika posisi eksternal menjadi semakin rapuh, dari mana kekuatan itu harus dibangun?
Jawaban Spokoiny sederhana.
Dari dalam.
Jika penerimaan sosial menjadi semakin bersyarat, maka identitas internal harus menjadi tanpa syarat.
Karena itu, pendidikan Yahudi, literatur, sejarah, tradisi, dan kebanggaan terhadap identitas dipandang sebagai benteng psikologis yang jauh lebih penting daripada sekadar perlindungan politik.
Tanpa jangkar identitas yang kuat, tekanan sosial dapat dengan mudah berubah menjadi krisis identitas.
---
Pada akhirnya, seluruh refleksi ini bermuara pada satu kesimpulan yang menurut Spokoiny tidak lagi dapat dihindari.
Amerika adalah proyek kebangsaan yang terbuka bagi semua warga negara.
Tetapi Israel?
Israel, menurutnya, adalah satu-satunya proyek kolektif bangsa Yahudi yang masih ada di dunia.
Karena itu, hubungan diaspora dengan Israel tidak lagi dipahami sekadar sebagai hubungan emosional.
Melainkan sebagai hubungan eksistensial.
Namun keterlibatan itu, menurutnya, tidak berarti menerima semua kebijakan pemerintah Israel tanpa kritik.
Justru karena Israel dipandang sebagai proyek kolektif bersama, komunitas Yahudi diaspora merasa memiliki tanggung jawab untuk ikut menjaga arah moralnya—membela demokrasi, memperkuat nilai-nilai liberal, sekaligus menolak berbagai kecenderungan yang mereka anggap dapat merusak masa depan negara tersebut.
Pada titik inilah kegelisahan Spokoiny menjadi jelas.
Yang sedang berakhir bukan hanya sebuah fase politik.
Yang sedang runtuh adalah keyakinan panjang bahwa Amerika merupakan pengecualian dalam sejarah diaspora Yahudi.
Dan ketika keyakinan itu runtuh, muncul kembali pertanyaan yang telah menghantui sejarah mereka selama berabad-abad:
Jika tidak ada lagi tempat yang benar-benar permanen, di manakah sebenarnya rumah itu berada?
0 komentar: