Kita Semua Didoakan Nabi Ibrahim, Malaikat, dan Mukminin Terdahulu
Pernahkah kita membayangkan bahwa sebelum kita lahir, sudah ada orang-orang saleh yang mendoakan kita?
Bahkan hingga hari ini, ada makhluk-makhluk Allah yang terus memohonkan ampun bagi orang-orang yang beriman.
Al-Qur'an menghadirkan sebuah jalinan persaudaraan yang melampaui ruang dan waktu. Iman ternyata bukan hanya menghubungkan manusia yang hidup sezaman, tetapi juga menyambungkan generasi terdahulu, generasi sekarang, bahkan para malaikat di langit dalam satu untaian doa.
Nabi Ibrahim: Doa Seorang Ayah bagi Generasi Beriman
Allah mengabadikan doa Nabi Ibrahim:
«"Ya Tuhan kami, ampunilah aku, kedua orang tuaku, dan orang-orang mukmin pada hari diadakan perhitungan." (QS. Ibrahim: 41)»
Perhatikan urutan doa itu.
Beliau memulai dari dirinya sendiri, kemudian kedua orang tuanya, lalu meluaskannya kepada seluruh orang beriman.
Seolah-olah Nabi Ibrahim ingin mengajarkan bahwa keselamatan tidak pernah dipandang secara individual. Seorang mukmin tidak cukup hanya memikirkan dirinya sendiri. Ia membawa keluarganya dalam doa, lalu merangkul seluruh saudaranya seiman hingga Hari Kiamat.
Tafsir Kemenag menjelaskan bahwa Nabi Ibrahim pernah memohonkan ampun bagi ayahnya karena sebuah janji. Namun ketika nyata bahwa ayahnya tetap memusuhi Allah, beliau pun berlepas diri darinya sebagaimana dijelaskan dalam QS. At-Taubah ayat 114. Dari sini kita belajar bahwa kasih sayang berjalan seiring dengan ketaatan kepada Allah.
Mukmin Setelahnya: Mewarisi Doa, Bukan Dendam
Kemudian Al-Qur'an membawa kita kepada generasi berikutnya.
Allah menggambarkan doa orang-orang beriman yang datang setelah kaum Muhajirin dan Ansar:
«"Ya Tuhan kami, ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang telah lebih dahulu beriman, dan janganlah Engkau jadikan dalam hati kami kedengkian terhadap orang-orang yang beriman." (QS. Al-Hasyr: 10)»
Betapa indahnya doa ini.
Mereka tidak hanya memohon ampun bagi dirinya sendiri, tetapi juga bagi orang-orang yang telah lebih dahulu beriman. Bahkan mereka memohon agar hati mereka dibersihkan dari dengki, iri, dan kebencian.
Persaudaraan iman ternyata tidak dibangun hanya dengan bertemu dan saling mengenal.
Ia dibangun dengan saling mendoakan.
Tafsir Kemenag menegaskan beberapa pelajaran penting. Doa hendaknya dimulai untuk diri sendiri, kemudian untuk orang lain. Kaum mukmin adalah satu keluarga besar yang saling mencintai dan saling memohonkan ampun. Hubungan Muhajirin dan Ansar menjadi teladan bahwa keimanan, keikhlasan, dan tolong-menolong mampu melahirkan persaudaraan yang jauh lebih kuat daripada sekadar ikatan darah.
Malaikat Pun Ikut Mendoakan
Lalu Al-Qur'an mengangkat pandangan kita ke langit.
Di sana, para malaikat yang memikul 'Arasy tidak hanya bertasbih. Mereka juga berdoa:
«"Ya Tuhan kami, rahmat dan ilmu-Mu meliputi segala sesuatu. Maka ampunilah orang-orang yang bertobat dan mengikuti jalan-Mu, serta lindungilah mereka dari azab Jahim." (QS. Gafir: 7)»
Sungguh mengharukan.
Makhluk-makhluk yang tidak pernah berbuat dosa justru memohonkan ampun bagi manusia yang penuh kekhilafan.
Mereka mengetahui bahwa rahmat Allah lebih luas daripada dosa manusia. Karena itu mereka memohon agar setiap hamba yang bertobat memperoleh ampunan, perlindungan, dan keselamatan.
Bukankah ini kabar yang menenangkan hati?
Ketika seorang mukmin berusaha kembali kepada Allah, ia tidak berjalan sendirian. Ada doa-doa para malaikat yang mengiringinya.
Jejak Doa dalam Kisah-Kisah Al-Qur'an dan Sirah
Tema besar ini berulang dalam banyak kisah.
Ibu Nabi Musa menyerahkan bayinya ke Sungai Nil dengan penuh tawakal setelah menerima wahyu dari Allah. Keimanan seorang ibu dan doanya menjadi sebab terjaganya masa depan seorang nabi. Doa orang tua ternyata mampu menembus masa depan anak-anaknya.
Kita juga melihat keteladanan Abu Bakar Ash-Shiddiq. Ketika difitnah melalui peristiwa yang menimpa Aisyah, beliau tetap memaafkan dan tetap membantu Mistah bin Utsatsah. Hatinya tidak dikuasai dendam. Seolah-olah beliau menghidupkan doa Al-Hasyr ayat 10: jangan biarkan kedengkian tinggal di dalam hati terhadap orang-orang beriman.
Demikian pula dalam hadis tentang orang yang menunggu waktu salat di masjid. Rasulullah ï·º mengabarkan bahwa para malaikat terus mendoakan mereka, "Ya Allah, ampunilah dia. Ya Allah, rahmatilah dia," selama ia tetap berada dalam keadaan suci. Ayat Gafir benar-benar hadir dalam kehidupan seorang mukmin.
Persaudaraan Muhajirin dan Ansar juga menjadi bukti nyata. Sa'ad bin Ar-Rabi' menawarkan separuh hartanya kepada Abdurrahman bin Auf sebagai bentuk persaudaraan. Namun Abdurrahman hanya meminta ditunjukkan jalan menuju pasar agar dapat bekerja sendiri. Persaudaraan mereka dibangun oleh keikhlasan, bukan ketergantungan.
Sebuah Renungan
Tiga kelompok ternyata sedang mendoakan orang-orang beriman.
Nabi Ibrahim mendoakan kita.
Generasi mukmin terdahulu mendoakan kita.
Para malaikat pun memohonkan ampun untuk kita.
Lalu muncul sebuah pertanyaan yang layak kita ajukan kepada diri sendiri.
Sudahkah kita mendoakan orang lain sebagaimana mereka mendoakan kita?
Ataukah hati kita masih dipenuhi iri, dengki, dan prasangka yang justru memutus mata rantai persaudaraan iman?
Mungkin inilah pesan terdalam dari ketiga ayat tersebut.
Peradaban Islam tidak hanya dibangun dengan ilmu, kekuatan, dan amal saleh.
Ia juga dibangun oleh doa-doa yang saling bersambung dari bumi hingga langit, dari generasi ke generasi, hingga tiba hari ketika seluruh manusia berdiri di hadapan Allah untuk mempertanggungjawabkan amalnya.
0 komentar: