Caci Maki dan Cemoohan Tidak Akan Membahayakan Dirimu
Mengapa kita begitu gelisah ketika dicela?
Mengapa satu kalimat yang keluar dari mulut orang lain mampu merampas ketenangan kita selama berhari-hari?
Bukankah yang paling merugi bukanlah orang yang mencela, melainkan orang yang membiarkan celaan itu menguasai pikirannya?
Renungkanlah.
Apakah setiap tuduhan harus dijawab?
Apakah setiap hinaan harus dibalas?
Apakah setiap cemoohan layak menghabiskan waktu dan energi kita?
Abraham Lincoln pernah berkata,
«"Saya tidak pernah membaca surat-surat cercaan yang ditujukan kepada saya, tidak pernah membuka amplopnya, apalagi membalasnya. Sebab jika saya sibuk mengurusi semua itu, saya akan kehabisan waktu untuk berbuat demi rakyat."»
Betapa banyak waktu manusia terbuang bukan karena besarnya masalah, tetapi karena terlalu sibuk memikirkan perkataan orang lain.
Al-Qur'an justru mengajarkan sikap yang berbeda.
Allah memerintahkan Rasul-Nya untuk berpaling dari orang-orang yang gemar menyakiti, memaafkan mereka dengan cara yang baik, dan mengakhiri perdebatan yang tidak bermanfaat dengan ucapan yang penuh kedamaian. Sikap seorang mukmin bukanlah larut dalam celaan, tetapi tetap berjalan di jalan yang benar tanpa kehilangan ketenangan jiwanya.
Hassan bin Tsabit pernah mengungkapkan sikap itu dalam syairnya. Baginya, celaan orang-orang yang gemar merendahkan orang lain tidak lebih berarti daripada suara hewan liar yang berlalu begitu saja. Ia tidak pantas mengganggu hati seorang mukmin yang memiliki tujuan hidup yang besar.
Bukankah orang yang sibuk mencela biasanya justru tidak memiliki karya yang lebih baik untuk ditunjukkan?
Mengapa kita harus menghentikan langkah hanya karena suara-suara seperti itu?
Sejarah juga memberikan pelajaran.
Seorang pemimpin Angkatan Laut Amerika pada Perang Dunia II pernah mengalami begitu banyak hinaan, ejekan, dan perendahan dari orang-orang di sekitarnya. Namun setelah bertahun-tahun menghadapinya, ia berkata,
«"Kini aku memiliki kekebalan terhadap semua bentuk kritik. Aku tahu bahwa ucapan-ucapan seperti itu tidak akan mampu menghancurkan kemuliaanku dan tidak akan mampu merobohkan benteng yang kokoh."»
Benar adanya.
Hinaan tidak pernah melukai kehormatan seseorang.
Yang melukai adalah ketika kita memberikan izin kepada hinaan itu untuk tinggal di dalam hati.
Karena itu para penyair sering bertanya dengan nada heran,
«"Apa lagi yang mereka inginkan dariku, sedangkan usiaku telah berlalu dan pengalaman telah mengajariku?"»
Semakin dewasa seseorang, seharusnya semakin kecil pengaruh ucapan manusia terhadap ketenangan jiwanya.
Bukankah yang lebih penting adalah penilaian Allah daripada penilaian manusia?
Isa putra Maryam mengajarkan satu pelajaran yang sangat berat sekaligus sangat membebaskan,
«"Cintailah musuh-musuhmu."»
Bukan karena mereka layak dicintai, tetapi karena kebencian yang terus dipelihara hanya akan memenjarakan hati kita sendiri.
Memaafkan bukan berarti membenarkan kesalahan.
Memaafkan adalah membebaskan diri dari beban dendam.
Karena itu Allah memuji orang-orang yang mampu menahan amarah, memaafkan kesalahan manusia, dan tetap berbuat baik. Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebajikan.
Lihatlah Rasulullah ï·º ketika berhasil menaklukkan Makkah.
Padahal bertahun-tahun beliau dihina, diusir, disakiti, bahkan diperangi oleh kaumnya.
Namun ketika seluruh kekuasaan berada di tangan beliau, kalimat yang keluar bukanlah pembalasan.
Beliau hanya berkata,
«"Pergilah, kalian semua telah bebas."»
Kalimat itu mengubah musuh menjadi saudara.
Nabi Yusuf juga mengajarkan pelajaran yang sama ketika bertemu kembali dengan saudara-saudaranya yang dahulu membuangnya ke dalam sumur.
Beliau berkata,
«"Pada hari ini tidak ada cercaan terhadap kalian."»
Begitulah hati para nabi.
Mereka tidak membangun masa depan dengan bahan bakar kebencian.
Mereka membangunnya dengan maaf.
Allah pun berulang kali mengingatkan bahwa Dia Maha Pemaaf terhadap kesalahan-kesalahan yang telah berlalu bagi orang yang kembali kepada-Nya.
Jika Allah Yang Mahamulia saja mencintai ampunan, mengapa kita begitu sulit melepaskan dendam?
Karena itu, jangan habiskan umurmu untuk membalas setiap hinaan.
Jangan biarkan hidupmu dikendalikan oleh ucapan orang lain.
Teruslah melangkah.
Biarkan orang mencela jika memang itu pilihan mereka.
Tugasmu bukan membungkam setiap mulut, melainkan menjaga hatimu tetap bersih dan amalmu tetap lurus.
Sebab pada akhirnya, caci maki tidak akan membahayakan dirimu.
Yang benar-benar membahayakan adalah ketika kebencian dan keinginan membalas itu berhasil menguasai hatimu.
Sumber:
Aidh Al-Qarni, La Tahzan, Qisthi Press, 2005, hal.220-221
0 komentar: