Shalat dan Malaikat yang Diutus untuk Mengabulkan Doa
Shalat bukan sekadar ibadah rutin. Dalam banyak kisah para ulama, shalat menjadi jalan pertolongan ketika segala pintu terasa tertutup.
Ibnu Hajar al-Asqalani, penulis Fathul Bari, pernah mengalami peristiwa yang menegangkan. Suatu hari, ketika ia sedang dalam perjalanan menuju sebuah benteng di Mesir, ia dihadang oleh sekelompok perampok.
Di tengah ancaman itu, ia tidak panik. Ia tidak berdebat. Ia tidak mencari jalan lari.
Ia berdiri dan melaksanakan shalat.
Melalui shalat itulah, Allah membukakan jalan keselamatan baginya.
---
Kisah lain datang dari seorang ibu yang diliputi kegelisahan. Ia mendatangi seorang ulama dengan harapan yang besar.
“Wahai Syaikh, anakku ditangkap oleh Sultan. Tolonglah aku agar ia dibebaskan.”
Sang ulama tidak banyak berbicara. Ia tidak segera memberi jawaban.
Ia bangkit, lalu berdiri untuk shalat.
Dalam keheningan itu, sang ibu menunggu dengan penuh harap. Tak lama kemudian, kabar datang: anaknya telah dibebaskan.
---
Kisah yang lebih menggugah diceritakan oleh Ibnu Qayyim al-Jawziyyah.
Ia mengisahkan tentang seorang laki-laki saleh yang dihadang oleh perampok di salah satu jalan di Syam. Perampok itu hendak membunuhnya.
Laki-laki tersebut meminta satu hal:
kesempatan untuk shalat dua rakaat.
Dalam shalatnya, ia membaca berulang kali ayat:
“Bukankah Dia yang memperkenankan doa orang yang dalam kesulitan ketika ia berdoa kepada-Nya?”
Ia mengulanginya hingga tiga kali.
Pada saat itu pula, turunlah seorang malaikat dari langit dengan membawa pedang. Dengan izin Allah, malaikat tersebut membunuh perampok itu.
Malaikat itu kemudian berkata,
“Aku adalah utusan dari Dzat Yang memperkenankan doa orang yang dalam kesulitan.”
---
Dari kisah-kisah ini, tampak satu benang merah yang kuat:
ketika manusia menghadapi jalan buntu, shalat membuka jalan langit.
Ia bukan sekadar ritual, tetapi pintu pertolongan.
Bukan sekadar gerakan, tetapi panggilan yang dijawab.
Dan di saat-saat paling sulit, shalat menjadi jembatan antara kelemahan manusia dan kekuasaan Allah.
Sumber:
Aidh Al-Qarni, La Tahzan, Qisthi Press, 2005
0 komentar: