Belajar dari Metode Para Ulama dalam Menyaring Hikmah Peradaban
Mengapa para ulama besar tidak menutup diri dari berbagai pemikiran di luar tradisi Islam?
Mengapa nama Wahb bin Munabbih begitu sering muncul dalam kitab-kitab klasik, terutama ketika membahas kisah para nabi terdahulu?
Mengapa Imam Al-Ghazali berkali-kali mengutip hikmah dari berbagai sumber untuk melembutkan hati manusia?
Dan mengapa Tafsir Ibnu Katsir, yang menjadi salah satu rujukan utama umat Islam, justru mengalami proses tahqiq (verifikasi) pada banyak bagian yang memuat kisah-kisah Israiliyat?
Pertanyaan-pertanyaan ini membuka sebuah pelajaran besar.
Yang sedang diajarkan para ulama ternyata bukan hanya isi ilmunya, tetapi juga cara berinteraksi dengan ilmu dan peradaban.
Menemukan Sosok di Balik Banyak Riwayat
Nama Wahb bin Munabbih mungkin tidak sepopuler Imam Malik, Imam Syafi'i, atau Imam Ahmad.
Namun jejaknya tersebar di berbagai literatur Islam.
Ia adalah seorang tabi'in, ahli sejarah, dan dikenal memiliki pengetahuan luas mengenai tradisi Bani Israil. Latar belakang keluarganya yang berasal dari Yaman dan memiliki hubungan dengan tradisi Yahudi serta Nasrani menjadikannya banyak meriwayatkan kisah-kisah Israiliyat.
Riwayat-riwayatnya kemudian dikutip oleh banyak ulama, baik dalam kitab tafsir, sejarah, maupun kitab-kitab tentang kezuhudan.
Namun para ulama tidak menerimanya secara mutlak.
Mereka juga tidak menolaknya secara keseluruhan.
Di sinilah letak kedewasaan metodologi Islam.
Israiliyat: Belajar Tanpa Kehilangan Kompas
Para ulama telah meletakkan prinsip yang jelas ketika berinteraksi dengan Israiliyat.
Riwayat yang sesuai dengan Al-Qur'an dan Sunnah diterima sebagai penguat penjelasan.
Riwayat yang bertentangan dengan wahyu ditolak.
Sedangkan riwayat yang tidak diketahui benar atau salahnya tidak dijadikan landasan akidah maupun hukum, tetapi dapat disebutkan sebagai informasi selama tidak diyakini sebagai kebenaran pasti.
Prinsip ini menunjukkan bahwa Islam tidak membangun tradisi intelektual yang anti-dialog.
Sebaliknya, Islam mengajarkan verifikasi, bukan penolakan membabi buta.
Karena itu, proses tahqiq terhadap kitab-kitab klasik bukanlah bentuk pelemahan karya ulama terdahulu.
Justru itulah bukti hidupnya tradisi ilmiah Islam.
Ilmu terus dikaji, diperiksa, dan disempurnakan.
Dapatkah Metode Ini Diterapkan pada Peradaban Modern?
Pertanyaan berikutnya menjadi sangat relevan.
Jika para ulama mampu berinteraksi dengan warisan Yahudi dan Nasrani tanpa kehilangan akidah, apakah prinsip yang sama dapat diterapkan ketika berhadapan dengan peradaban modern?
Apakah seluruh produk peradaban yang dibangun oleh orang-orang non-Muslim harus ditolak?
Ataukah ada hikmah yang dapat diambil tanpa harus menerima ideologi yang melatarbelakanginya?
Sejarah para ulama tampaknya memberikan jawaban yang menarik.
Mereka tidak pernah mengukur sebuah pengetahuan berdasarkan siapa yang membawanya semata.
Mereka mengukurnya dengan timbangan wahyu.
Belajar dari Peradaban, Bukan Menjadi Pengikutnya
Peradaban, sebagaimana manusia, memiliki kelebihan sekaligus kelemahan.
Tidak ada satu pun peradaban yang sempurna.
Al-Qur'an sendiri mengisahkan Mesir, Persia, Romawi, Saba', kaum 'Ad, Tsamud, dan berbagai bangsa lainnya.
Mengapa Allah mengabadikan kisah mereka?
Karena setiap peradaban menyimpan pelajaran.
Ada yang menjadi teladan.
Ada pula yang menjadi peringatan.
Artinya, seorang mukmin diperintahkan membaca sejarah dengan mata hikmah, bukan dengan prasangka.
Allah berfirman bahwa manusia diciptakan berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar saling mengenal (ta'aruf).
Ta'aruf bukan sekadar saling mengetahui identitas.
Ia adalah proses saling belajar, saling memahami, dan mengambil pelajaran tanpa kehilangan jati diri.
Ketika Logika Menjadi Pelayan Wahyu
Sejarah Islam menunjukkan bahwa para ulama tidak pernah alergi terhadap metode berpikir.
Imam Al-Ghazali mempelajari filsafat secara mendalam.
Namun tujuan beliau bukan menjadi filsuf.
Beliau mempelajari cara berpikir lawan agar mampu menjawabnya dengan argumentasi yang lebih kuat.
Dalam Ihya' Ulumuddin maupun Minhajul 'Abidin, logika digunakan untuk membongkar kesombongan hati dan menghidupkan kesadaran ruhani.
Begitu pula Abu Hasan Al-Asy'ari.
Beliau menggunakan pendekatan rasional dalam menjelaskan akidah Ahlus Sunnah agar dapat dipahami masyarakat yang saat itu akrab dengan perdebatan filsafat.
Logika tidak dijadikan pengganti wahyu.
Logika dijadikan alat untuk menjelaskan wahyu.
Di tangan para ulama, akal bukan pesaing iman.
Akal adalah pelayan iman.
Membangun Tradisi Intelektual yang Percaya Diri
Pelajaran terbesar dari sejarah para ulama adalah lahirnya sikap percaya diri dalam berinteraksi dengan dunia.
Mereka tidak merasa terancam hanya karena membaca pemikiran dari luar Islam.
Sebab mereka memiliki kompas yang jelas.
Kompas itu adalah Al-Qur'an dan Sunnah.
Dengan kompas tersebut, mereka mampu mengambil manfaat tanpa kehilangan arah.
Mereka mampu menyerap ilmu tanpa menyerap penyimpangan.
Mereka mampu memanfaatkan metode tanpa mengadopsi keyakinannya.
Inilah kedewasaan intelektual yang melahirkan peradaban Islam sebagai pusat ilmu pengetahuan selama berabad-abad.
Penutup
Berinteraksi dengan ragam pemikiran bukanlah ancaman bagi orang yang memiliki fondasi akidah yang kokoh.
Justru di situlah kualitas ilmu seseorang diuji.
Apakah ia mampu membedakan antara hikmah dan kebatilan?
Apakah ia mampu mengambil manfaat tanpa kehilangan prinsip?
Sejarah para ulama mengajarkan bahwa keterbukaan bukan berarti kehilangan identitas.
Sebaliknya, keterbukaan yang dipandu wahyu akan melahirkan kebijaksanaan.
Sebab hikmah adalah milik Allah.
Ia dapat ditemukan di mana saja.
Namun hanya hati yang dibimbing oleh wahyu yang mampu mengenali, menyaring, lalu mengembalikannya menjadi bagian dari bangunan peradaban Islam.
0 komentar: