Hasan Al-Banna tentang Kepemimpinan Islam
Apakah dominasi peradaban dunia selalu berpindah dari satu bangsa ke bangsa lain?
Apakah kebangkitan dan kemunduran sebuah peradaban merupakan sekadar hasil kekuatan militer dan ekonomi, ataukah bagian dari sunnatullah yang mengatur perjalanan sejarah manusia?
Pertanyaan-pertanyaan inilah yang menjadi titik tolak pemikiran Imam Hasan Al-Banna dalam Risalah An-Nur.
Menurut pendiri Ikhwanul Muslimin tersebut, sejarah dunia menunjukkan bahwa kepemimpinan peradaban tidak pernah bersifat abadi. Ia selalu berpindah dari satu pusat kekuatan ke pusat kekuatan lainnya sesuai dengan kehendak Allah dan hukum-hukum sejarah yang telah ditetapkan-Nya.
Hasan Al-Banna menulis:
«"Sesungguhnya kepemimpinan dunia pada suatu masa berada di tangan Timur. Kemudian berpindah ke Barat setelah munculnya Yunani dan Romawi. Setelah itu dipindahkan kembali oleh kenabian Musa, Isa, dan Muhammad kepada Timur. Kemudian Timur tertidur lelap, sedangkan Barat bangkit pada era modern. Semua itu berlangsung sesuai sunnatullah yang tidak pernah berubah."»
Bagi Hasan Al-Banna, kebangkitan Barat bukanlah sebuah kecelakaan sejarah.
Demikian pula, kemundurannya kelak bukanlah sesuatu yang mustahil.
Ia melihat bahwa setiap peradaban memiliki masa kejayaan, kemudian mengalami kemunduran ketika kezaliman, kesombongan, dan penyimpangan moral mulai mendominasi.
Karena itu, menurutnya, dominasi Barat bukanlah akhir sejarah.
Ia meyakini akan datang suatu masa ketika kepemimpinan dunia kembali berada di bawah nilai-nilai Al-Qur'an.
Hasan Al-Banna menggambarkan harapan tersebut dengan kalimat yang sangat optimistis:
«"Yang tersisa adalah kekuatan Timur di bawah panji Allah, dipimpin oleh bendera Al-Qur'an dan didukung pasukan kaum mukmin yang kokoh."»
Dalam pandangannya, apabila kepemimpinan dunia kembali dibangun di atas petunjuk Allah, maka yang lahir bukan sekadar pergantian kekuasaan, melainkan lahirnya peradaban yang menghadirkan keadilan dan ketenteraman.
Karena itulah ia mengutip doa penghuni surga yang diabadikan dalam Surah Al-A'raf ayat 43:
«"Segala puji bagi Allah yang telah memberikan petunjuk kepada kami. Kami tidak akan memperoleh petunjuk sekiranya Allah tidak memberi petunjuk kepada kami."»
Mengapa Hasan Al-Banna mengutip ayat yang berbicara tentang penghuni surga ketika membahas kepemimpinan dunia?
Jawabannya menarik.
Ayat tersebut sesungguhnya berbicara tentang keadaan penghuni surga yang telah dibersihkan dari segala rasa dengki, kebencian, dan permusuhan. Mereka memuji Allah karena menyadari bahwa seluruh keberhasilan mereka bukan semata hasil usaha pribadi, melainkan karena petunjuk dan rahmat Allah.
Tafsir Tahlili Kementerian Agama menjelaskan bahwa penghuni surga mengakui satu kenyataan penting: tanpa petunjuk Allah, mereka tidak akan sampai kepada keselamatan. Bahkan masuk surga sendiri bukan semata-mata karena amal, tetapi karena rahmat Allah yang menyempurnakan amal tersebut.
Karena itu, kutipan Hasan Al-Banna dapat dipahami sebagai penegasan bahwa kemenangan sebuah peradaban Islam—jika benar-benar terjadi—bukanlah hasil keunggulan manusia semata, melainkan buah dari petunjuk dan pertolongan Allah.
Namun Hasan Al-Banna juga menegaskan bahwa harapan tersebut bukanlah angan-angan kosong.
Ia mendasarkan optimisme itu pada firman Allah dalam Surah Al-Ma'idah ayat 54:
«"Maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Dia mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya..."»
Ayat ini turun dalam konteks peringatan kepada kaum Muslimin agar tidak berpaling dari agama. Allah menegaskan bahwa jika ada orang-orang yang meninggalkan Islam, agama ini tidak akan runtuh. Allah akan mengganti mereka dengan generasi lain yang lebih layak memikul amanah.
Menurut Tafsir Tahlili, sejarah membuktikan kebenaran ayat tersebut.
Setelah wafatnya Rasulullah ï·º, sebagian kabilah Arab murtad dan menolak membayar zakat. Namun Allah menghadirkan generasi yang tetap teguh mempertahankan agama melalui kepemimpinan Khalifah Abu Bakar ash-Shiddiq. Berbagai pemberontakan berhasil dipadamkan sehingga persatuan umat tetap terjaga.
Al-Qur'an kemudian menyebut enam karakter utama generasi pengganti tersebut.
Pertama, mereka dicintai Allah.
Kedua, mereka mencintai Allah.
Ketiga, mereka rendah hati terhadap sesama orang beriman.
Keempat, mereka tegas dalam menghadapi pihak yang memusuhi agama.
Kelima, mereka bersungguh-sungguh berjihad di jalan Allah.
Keenam, mereka tidak takut terhadap celaan manusia ketika mempertahankan kebenaran.
Bagi Hasan Al-Banna, enam karakter inilah fondasi kepemimpinan Islam.
Kebangkitan umat tidak dimulai dari kekuatan ekonomi ataupun teknologi semata.
Ia dimulai dari pembentukan manusia yang memiliki hubungan kuat dengan Allah, kasih sayang kepada sesama mukmin, keberanian menegakkan kebenaran, serta keteguhan dalam menghadapi tekanan.
Karena itu, cita-cita kebangkitan Islam menurut Hasan Al-Banna bukanlah sekadar pergantian pusat kekuasaan dunia.
Yang lebih penting adalah lahirnya generasi yang pantas menerima amanah tersebut.
Jika generasi seperti itu belum hadir, maka pergantian kepemimpinan hanyalah perubahan penguasa tanpa perubahan peradaban.
Sebaliknya, apabila sifat-sifat yang disebutkan dalam Surah Al-Ma'idah ayat 54 benar-benar terwujud dalam diri kaum Muslimin, maka mereka telah mempersiapkan diri menjadi bagian dari sunnatullah kebangkitan yang dijanjikan Allah.
Pada akhirnya, pesan Hasan Al-Banna bukan mengajak umat sibuk menebak kapan perubahan itu akan datang.
Ia justru mengajak setiap Muslim bertanya kepada dirinya sendiri:
Apakah aku sedang menjadi bagian dari generasi yang akan diganti, atau justru bagian dari generasi yang Allah cintai dan dipilih untuk memikul amanah kebangkitan Islam?
Sumber:
Ali Muhammad Jarisyah, Syarah Syiar Tarbiyah, Era Intermedia, 2021, Hal. 154-155
0 komentar: