Mengapa Memuji Allah?
Mengenal Allah sebagai Rabb Semesta Alam
Mengapa Al-Qur'an berkali-kali mengajarkan kita mengucapkan alhamdulillah?
Apakah pujian itu menambah kemuliaan Allah?
Tidak.
Allah Mahamulia sebelum ada makhluk yang memuji-Nya. Kemuliaan-Nya tidak bertambah oleh pujian manusia, sebagaimana tidak berkurang oleh pengingkaran mereka.
Lalu mengapa kita diperintahkan memuji-Nya?
Karena dengan memuji Allah, manusialah yang belajar mengenali siapa Tuhannya.
Semakin mengenal Allah, semakin lahir rasa syukur, cinta, tawakal, dan ketenangan.
Allah adalah Rabb
Surah Al-Fatihah membuka seluruh Al-Qur'an dengan kalimat yang sangat agung:
«"Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam." (QS. Al-Fatihah: 2)»
Mengapa Allah memperkenalkan diri sebagai Rabb, bukan sekadar sebagai Pencipta?
Karena makna Rabb jauh lebih luas.
Menurut Tafsir Tahlili Kementerian Agama, Rabb berarti Pemilik, Pengelola, Pemelihara, sekaligus Pendidik.
Di dalam kata itu terkandung makna mendidik secara bertahap hingga mencapai kesempurnaan.
Maka Allah bukan hanya menciptakan alam semesta lalu membiarkannya berjalan sendiri.
Dia terus memelihara.
Dia mengatur.
Dia memberi rezeki.
Dia menjaga keseimbangan.
Dia membimbing setiap makhluk menuju tujuan penciptaannya.
Lihatlah langit yang tak pernah terlambat beredar.
Perhatikan benih yang perlahan tumbuh menjadi pohon.
Amatilah janin yang berkembang dalam rahim hingga lahir sebagai manusia.
Tidak ada satu tahap pun yang luput dari pemeliharaan-Nya.
Inilah makna Rabb.
Dia mendidik seluruh alam dengan kasih sayang dan hikmah.
Rabb Membimbing Melalui Wahyu
Namun manusia berbeda dengan makhluk lainnya.
Ia diberi akal sekaligus kebebasan memilih.
Karena itulah manusia memerlukan petunjuk.
Maka Allah tidak hanya memelihara tubuh manusia.
Dia juga membimbing hati dan pikirannya.
Karena itu Surah Al-Kahfi kembali diawali dengan pujian:
«"Segala puji bagi Allah yang telah menurunkan Kitab kepada hamba-Nya dan Dia tidak menjadikan padanya sedikit pun kebengkokan." (QS. Al-Kahfi: 1)»
Mengapa Allah dipuji?
Karena Dia tidak membiarkan manusia tersesat.
Dia menurunkan Al-Qur'an sebagai cahaya, penunjuk jalan, dan pembeda antara yang benar dan yang batil.
Sebagaimana hujan menghidupkan bumi yang kering, Al-Qur'an menghidupkan hati yang gersang.
Sebagaimana kompas menuntun musafir di tengah padang pasir, Al-Qur'an membimbing manusia menempuh perjalanan menuju kehidupan yang diridhai Allah.
Maka setiap kali membuka Al-Qur'an, sesungguhnya kita sedang menerima sentuhan pendidikan dari Rabb semesta alam.
Rabb Mengatur Alam Melalui Malaikat
Lalu bagaimana Allah mengelola alam semesta yang begitu luas?
Surah Fatir memberikan jawabannya.
«"Segala puji bagi Allah, Pencipta langit dan bumi, yang menjadikan malaikat sebagai utusan-utusan..." (QS. Fatir: 1)»
Allah adalah Pencipta langit dan bumi.
Namun Dia juga menetapkan sistem yang sangat teratur.
Di antara bagian dari sistem itu adalah para malaikat.
Mereka menjalankan tugas sesuai perintah Allah.
Ada yang membawa wahyu kepada para nabi.
Ada yang mencatat amal manusia.
Ada yang mengatur berbagai urusan alam sesuai ketetapan-Nya.
Semuanya bekerja tanpa lalai dan tanpa membangkang.
Tafsir Tahlili menjelaskan bahwa para malaikat memiliki bentuk yang Allah kehendaki. Sebagian memiliki dua, tiga, empat sayap, bahkan lebih. Rasulullah ï·º pernah melihat Malaikat Jibril dalam wujud aslinya dengan enam ratus sayap pada malam Isra dan Mi'raj.
Semua itu menunjukkan keluasan kekuasaan Allah.
Alam semesta yang tampak begitu teratur bukanlah hasil kebetulan.
Di balik keteraturan itu ada Rabb yang mengatur dengan ilmu, hikmah, dan kekuasaan-Nya.
Mengapa Kita Memuji Allah?
Kini kita mulai memahami mengapa Al-Qur'an berkali-kali mengawali pembahasannya dengan kalimat alhamdulillah.
Kita memuji Allah karena Dia adalah Rabb.
Dia menciptakan alam semesta.
Dia memeliharanya setiap saat.
Dia mendidik seluruh makhluk menuju kesempurnaannya.
Dia menurunkan Al-Qur'an agar manusia tidak tersesat.
Dia mengutus para malaikat untuk menjalankan urusan alam dan menyampaikan wahyu.
Setiap nikmat yang kita rasakan bersumber dari-Nya.
Setiap petunjuk yang kita terima berasal dari-Nya.
Setiap hembusan kehidupan berlangsung atas pemeliharaan-Nya.
Karena itu, alhamdulillah bukan sekadar kalimat pembuka.
Ia adalah pengakuan.
Pengakuan bahwa seluruh kehidupan berada dalam didikan Sang Rabb.
Sebuah Renungan
Cobalah bertanya kepada diri sendiri.
Ketika mengucapkan alhamdulillah, apakah lidah kita hanya mengulang sebuah kebiasaan?
Ataukah hati benar-benar sedang menyaksikan kasih sayang Rabb yang mengurus setiap detik kehidupan kita?
Semakin dalam seseorang mengenal makna Rabb, semakin tulus pula pujiannya.
Sebab ia sadar, dirinya hidup bukan karena kekuatannya sendiri, melainkan karena setiap saat berada dalam pemeliharaan, pendidikan, dan kasih sayang Allah, Rabb semesta alam.
0 komentar: