Cinta Kita Hanya kepada Allah
Untuk apa sebenarnya kita hidup?
Bukankah tujuan akhir seluruh perjalanan kita adalah Allah?
Karena itulah, cinta terbesar seorang mukmin bukanlah kepada dunia, bukan pula kepada manusia, melainkan kepada Rabb yang menciptakannya. Kita mencintai Allah melebihi rasa takut kita kepada-Nya. Namun cinta itu tidak membuat kita merasa aman dari murka-Nya. Sebaliknya, rasa takut kepada-Nya tidak pula menghilangkan cinta kita kepada-Nya.
Seorang mukmin hidup di antara cinta dan takut.
Mengapa kita mencintai Allah?
Karena kita mengenal-Nya.
Dan semakin dalam kita mengenal Allah, semakin besar pula rasa cinta kepada-Nya. Jalan untuk mengenal-Nya adalah dengan mentadabburi nama-nama-Nya yang indah dan sifat-sifat-Nya yang sempurna.
Renungkanlah.
Jika kita mencintai seseorang karena kemurahan hatinya, bukankah Allah adalah Dzat Yang Mahamurah?
Jika kita mengagumi seseorang karena kasih sayangnya, bukankah kasih sayang Allah meliputi segala sesuatu?
Jika kita menghormati seseorang karena kebijaksanaannya, bukankah Allah adalah Dzat Yang Mahabijaksana?
Kalau begitu, kepada siapakah cinta terbesar seharusnya diberikan?
Asmaul Husna Menunjukkan Kesempurnaan Allah
Semua nama dan sifat Allah bersifat mutlak, sedangkan seluruh sifat manusia hanyalah bayangan yang sangat terbatas.
Manusia dapat menyayangi, tetapi kasih sayangnya terbatas oleh waktu, tenaga, dan keadaan.
Adapun Allah, rahmat-Nya meliputi segala sesuatu. Allah menegaskan bahwa rahmat-Nya meliputi seluruh ciptaan, dan apabila Dia membuka pintu rahmat bagi seorang hamba, tidak ada seorang pun yang mampu menutupnya. Sebaliknya, jika Dia menahannya, tidak ada yang mampu memberikannya selain Dia. Demikian pula, apabila Allah menimpakan suatu kesulitan, tidak ada yang dapat menghilangkannya kecuali Dia. Dan apabila Dia menghendaki kebaikan bagi seseorang, tidak ada yang mampu menolaknya.
Bukankah ini menunjukkan bahwa seluruh kebaikan hakikatnya berasal dari Allah?
Demikian pula dengan ampunan-Nya.
Manusia mungkin mampu memaafkan kesalahan orang lain. Sebagian bahkan mampu melupakan luka yang pernah diterimanya. Namun, adakah manusia yang menganggap kesalahan itu sebagai kebaikan?
Allah justru lebih agung daripada itu.
Dia membuka pintu ampunan bagi semua dosa selama seorang hamba bertobat. Bahkan Rasulullah ï·º menjelaskan bahwa Allah mencintai hamba yang berdosa kemudian kembali memohon ampun kepada-Nya. Lebih dari itu, Allah bukan hanya menghapus dosa-dosa mereka, tetapi juga menggantinya dengan pahala dan kebaikan.
Adakah kasih sayang yang lebih besar daripada itu?
Seluruh Kesempurnaan Berkumpul pada Dzat Allah
Keistimewaan lain dari Allah adalah seluruh sifat kesempurnaan berhimpun pada Dzat-Nya.
Pada manusia, sifat-sifat sering kali saling mengurangi. Orang yang sangat lembut kadang sulit bersikap tegas. Orang yang sangat tegas kadang kehilangan kelembutan.
Namun Allah tidak demikian.
Dia Maha Pengampun sekaligus keras siksa-Nya.
Dia Maha Penyayang sekaligus Mahaperkasa.
Dia Maha Lembut sekaligus Mahakuasa.
Tidak ada satu pun sifat kesempurnaan yang saling mengurangi pada diri-Nya. Semuanya sempurna pada waktu yang bersamaan.
Sebaliknya, ada banyak sifat yang sama sekali tidak mungkin dimiliki oleh manusia.
Manusia tidak mampu mencipta dari ketiadaan.
Tidak mampu memberi rezeki kepada seluruh makhluk.
Tidak mampu menghidupkan ataupun mematikan.
Semua itu adalah kekhususan Allah.
Karena itu, jika kita mengagumi manusia karena satu sifat baik yang dimilikinya, bukankah Allah memiliki seluruh sifat yang layak untuk dicintai dalam kesempurnaan yang tidak berbatas?
Lalu mengapa hati kita lebih mudah terpaut kepada makhluk daripada kepada Sang Pencipta?
Mengenal Allah Melalui Akhlak
Mengenal Asmaul Husna bukan sekadar untuk dihafal atau dibaca dalam zikir.
Nama-nama Allah juga menjadi inspirasi bagi akhlak seorang mukmin.
Rasulullah ï·º bersabda bahwa orang yang paling beliau cintai dan paling dekat tempat duduknya pada hari kiamat adalah mereka yang paling mulia akhlaknya.
Dalam hadis lain beliau menjelaskan bahwa seorang mukmin dapat mencapai derajat orang yang rajin berpuasa dan menghidupkan malam hanya dengan akhlak yang baik.
Bukankah ini kabar yang sangat menggembirakan?
Tidak semua orang mampu berpuasa sepanjang tahun.
Tidak semua orang mampu menghidupkan malam dengan salat.
Namun setiap orang memiliki kesempatan untuk menjadi penyayang, jujur, pemaaf, dermawan, sabar, dan rendah hati.
Semakin seseorang meneladani sifat-sifat yang Allah cintai, semakin dekat pula ia kepada Rabb-nya.
Setiap Nikmat Mengajak Kita Mencintai Allah
Renungkan kembali kehidupan kita.
Bukankah sejak kita belum ada, Allah telah menyiapkan segala sesuatu?
Dia memberi kita nikmat Islam.
Nikmat iman.
Nikmat persaudaraan.
Dia menciptakan kita dari ketiadaan, membentuk kita di dalam rahim, menyempurnakan rupa kita, memberi kita pendengaran, penglihatan, akal, dan hati.
Dia menundukkan bumi untuk kita pijak.
Laut sebagai sumber makanan.
Langit sebagai atap yang terjaga.
Burung dapat terbang di udara karena Dia yang menahannya.
Tanaman tumbuh dari air yang sama, tetapi menghasilkan rasa yang berbeda-beda.
Buah-buahan silih berganti pada setiap musim.
Laut, gunung, hewan ternak, hujan, udara, dan seluruh isi alam menjadi bukti kasih sayang-Nya.
Allah bahkan mengingatkan bahwa jika manusia berusaha menghitung nikmat-Nya, niscaya mereka tidak akan mampu menghitungnya.
Bukankah setiap tarikan napas adalah nikmat?
Bukankah setiap detak jantung adalah karunia?
Lalu mengapa hati kita sering lalai mencintai Dzat yang tidak pernah berhenti berbuat baik kepada kita?
Allah Lebih Berhak Dicintai
Jika kepada manusia saja kita mencintai karena satu atau dua kebaikan yang mereka lakukan, bukankah Allah lebih berhak mendapatkan seluruh cinta kita?
Kebaikan manusia mungkin berhenti.
Kasih sayang manusia dapat berubah.
Pertolongan manusia memiliki batas.
Namun kebaikan Allah tidak pernah terputus walau sedetik.
Bahkan ketika kita bermaksiat, Dia masih memberi udara untuk bernapas, makanan untuk dimakan, air untuk diminum, dan kesempatan untuk bertobat.
Siapakah yang lebih layak dicintai selain Dia?
Semakin Menyerupai Akhlak yang Dicintai Allah, Semakin Dekat kepada-Nya
Semakin mulia akhlak seseorang, semakin ia merasakan kedekatan dengan Allah.
Bukan karena ia menjadi seperti Allah—karena tidak ada satu pun makhluk yang menyerupai-Nya—melainkan karena ia menghiasi dirinya dengan akhlak yang Allah cintai.
Orang yang penyayang akan mencintai kasih sayang.
Orang yang jujur akan mencintai kejujuran.
Orang yang pemaaf akan mudah menerima keluasan ampunan Allah.
Rasulullah ï·º bersabda bahwa ruh-ruh manusia bagaikan pasukan yang saling mengenal. Ruh yang memiliki kecenderungan yang sama akan saling dekat, sedangkan yang saling bertolak belakang akan saling menjauh.
Demikian pula hubungan seorang hamba dengan Rabb-nya.
Semakin ia mencintai sifat-sifat yang Allah cintai, semakin tenteram hatinya ketika mengingat Allah, beribadah kepada-Nya, dan bermunajat kepada-Nya.
Karena itu, marilah kita terus mengenal Allah melalui nama-nama-Nya yang indah, mentadabburi nikmat-nikmat-Nya yang tak terhitung, lalu menjadikan seluruh cinta dalam hati kita bermuara kepada-Nya.
Sebab hanya Allah yang memiliki seluruh kesempurnaan.
Hanya Allah yang tidak pernah berhenti berbuat baik.
Dan hanya Allah yang benar-benar layak menjadi tujuan akhir seluruh cinta dan penghambaan kita.
Sumber;
Ali Muhammad Jarisyah, Syarah 5 Syiar Tarbiyah, Era Intermedia, 2021, hal.42-50
0 komentar: