Mengapa persoalan manusia seolah tidak pernah berubah?
Mengapa setiap generasi mengalami kegagalan, kehilangan, pengkhianatan, konflik keluarga, kemiskinan, fitnah, penyakit, hingga kezaliman penguasa, meskipun zaman terus berganti?
Jika diamati lebih dalam, persoalan manusia modern ternyata hanyalah pengulangan dari persoalan yang telah dialami para Nabi dan Rasul. Berbeda zaman, berbeda tempat, tetapi pola ujiannya tetap sama.
Seakan-akan Allah telah lebih dahulu menyusun peta global kehidupan manusia, lalu merekam seluruh simpul persoalan beserta jalan keluarnya melalui kisah para Nabi dan Rasul dalam Al-Qur'an.
Karena itu, kisah para Nabi bukan sekadar sejarah. Ia adalah manual kehidupan yang selalu relevan bagi setiap manusia hingga akhir zaman.
Seluruh Persoalan Manusia Berputar pada Pola yang Sama
Ketika seseorang ingin memulai kehidupan baru, membangun keluarga, atau bangkit setelah kegagalan, ia sedang memasuki wilayah yang pernah dilalui Nabi Adam.
Ketika rumah tangga diguncang kecemburuan, pasangan tidak mendukung perjuangan, atau orang-orang yang memiliki kekuasaan dan harta mengganggu keharmonisan keluarga, jejak persoalan itu dapat ditemukan dalam kisah Nabi Adam, Nabi Ibrahim, Nabi Nuh, Nabi Luth, hingga Nabi Ayyub.
Konflik anak dengan orang tua maupun perselisihan antarsaudara telah lebih dahulu digambarkan dalam kisah Habil dan Qabil, putra Nabi Nuh, serta perjalanan panjang keluarga Nabi Ya'qub bersama putra-putranya.
Tidak ada persoalan keluarga yang benar-benar baru.
Ketika Kehidupan Berubah Menjadi Musibah
Apa yang harus dilakukan ketika seluruh harta habis?
Bagaimana bersikap ketika anak-anak meninggal dunia?
Bagaimana jika penyakit tak kunjung sembuh, sementara orang-orang mulai menjauh?
Nabi Ayyub telah melewati seluruh fase itu.
Beliau kehilangan harta, keluarga, kesehatan, bahkan dukungan manusia. Namun beliau tidak kehilangan hubungan dengan Allah.
Begitu pula Nabi Ya'qub. Bertahun-tahun beliau hidup dalam kesedihan akibat kehilangan Yusuf hingga penglihatannya memudar. Namun harapan kepada Allah tidak pernah padam.
Kedua kisah ini mengajarkan bahwa kesabaran bukan berarti pasrah tanpa usaha, melainkan tetap menjaga kepercayaan kepada Allah ketika seluruh sebab dunia tampak tertutup.
Ketika Hidup Berada di Titik Buntu
Sebagian manusia merasa seolah seluruh jalan telah tertutup.
Nabi Ibrahim pernah berada di tengah kobaran api.
Nabi Musa terjebak di depan Laut Merah sementara pasukan Fir'aun mengejar dari belakang.
Nabi Yusuf berada di dasar sumur, lalu dipenjara tanpa kesalahan.
Nabi Yunus berada dalam gelapnya perut ikan di dasar lautan.
Secara logika manusia, seluruh keadaan itu adalah jalan buntu.
Namun justru pada titik itulah pertolongan Allah datang melalui jalan yang sama sekali tidak diperkirakan.
Al-Qur'an mengajarkan bahwa ketika seluruh pintu makhluk tertutup, pintu Allah justru terbuka.
Krisis Ekonomi, Kelaparan, dan Perjalanan Hidup
Kelaparan, kekeringan, dan krisis pangan bukan persoalan baru.
Nabi Yusuf memperlihatkan bagaimana krisis ekonomi harus dihadapi dengan ilmu, perencanaan, dan amanah.
Nabi Musa memimpin kaumnya melewati padang pasir dengan berbagai keterbatasan.
Nabi Ismail bersama Hajar mengajarkan bahwa tawakal selalu berjalan bersama ikhtiar. Zamzam muncul setelah Hajar berlari berkali-kali antara Shafa dan Marwah.
Mukjizat tidak menghapus usaha.
Ketika Fitnah Menjadi Ujian
Ada manusia yang dijatuhkan bukan karena kesalahannya, tetapi karena fitnah.
Nabi Yusuf difitnah melakukan perbuatan yang tidak pernah ia lakukan.
Beliau kehilangan kebebasan, tetapi tidak kehilangan integritas.
Penjara tidak mengubah akhlaknya.
Sebaliknya, penjara justru menjadi tempat dakwah dan awal perubahan besar dalam hidupnya.
Kisah Yusuf menunjukkan bahwa kehormatan seseorang tidak ditentukan oleh penilaian manusia, tetapi oleh penilaian Allah.
Kekuasaan Juga Sebuah Ujian
Tidak semua ujian berbentuk penderitaan.
Sebagian manusia diuji ketika berada di puncak kekuasaan.
Nabi Yusuf memimpin Mesir tanpa dendam kepada orang-orang yang dahulu mengkhianatinya.
Nabi Sulaiman memiliki kerajaan yang belum pernah dimiliki manusia lain, tetapi tetap mengakui bahwa seluruh nikmat hanyalah karunia Allah.
Kisah mereka mengajarkan bahwa mempertahankan kerendahan hati sering kali lebih sulit daripada bertahan dalam kemiskinan.
Peta Kehidupan Sudah Disediakan
Jika disusun secara menyeluruh, hampir seluruh persoalan manusia telah dipetakan dalam kisah para Nabi.
- Memulai kehidupan: Nabi Adam.
- Konflik keluarga: Adam, Ibrahim, Nuh, Luth, Ya'qub.
- Perselisihan saudara: Habil-Qabil, Yusuf dan saudara-saudaranya.
- Tidak memiliki keturunan: Ibrahim dan Zakaria.
- Kehilangan keluarga dan harta: Ayyub.
- Penyakit berkepanjangan: Ayyub.
- Fitnah dan tuduhan: Yusuf dan Maryam.
- Hidup membujang: Isa.
- Perceraian dan dinamika keluarga: Ismail.
- Krisis ekonomi: Yusuf.
- Kelaparan dan kehausan: Musa dan Ismail.
- Pengembaraan dan perjalanan berat: Musa.
- Laut dan bencana: Nuh, Musa, Yunus.
- Menghadapi penguasa zalim: Ibrahim, Musa, Muhammad ï·º.
- Mengelola kekuasaan: Yusuf dan Sulaiman.
- Menunggu jawaban doa dalam waktu panjang: Nuh, Ya'qub, Zakaria, Ibrahim.
Semakin dipelajari, semakin tampak bahwa hampir tidak ada persoalan manusia yang berada di luar peta Al-Qur'an.
Mengapa Manusia Masih Bingung?
Jika peta telah tersedia, mengapa manusia tetap mengalami kebuntuan?
Kemungkinan terbesar bukan karena Al-Qur'an tidak memberikan jawaban, melainkan karena manusia sering membaca kisah para Nabi hanya sebagai sejarah.
Padahal Allah menghadirkannya sebagai petunjuk.
Kita mengagumi Nabi Yusuf tanpa belajar menjaga integritas.
Kita mengagumi Nabi Ayyub tanpa belajar bersabar.
Kita mengagumi Nabi Musa tanpa belajar keberanian.
Kita mengagumi Nabi Ibrahim tanpa belajar berkorban.
Kita mengagumi Nabi Yunus tanpa belajar mengakui kesalahan.
Akibatnya, kisah-kisah itu berhenti menjadi bacaan, bukan menjadi pedoman kehidupan.
Penutup
Al-Qur'an bukan sekadar kitab yang mengisahkan masa lalu.
Ia adalah atlas kehidupan manusia.
Di dalamnya Allah telah memetakan berbagai jalan yang akan dilalui manusia, lengkap dengan contoh nyata dari para Nabi dan Rasul yang berhasil melewati ujian tersebut.
Semakin seseorang memahami kisah-kisah kenabian, semakin ia menyadari bahwa hidup bukanlah perjalanan tanpa arah.
Petanya telah tersedia.
Kompasnya adalah wahyu.
Dan para Nabi adalah penunjuk jalan yang telah lebih dahulu menempuh seluruh medan kehidupan sebelum kita.
0 komentar: