PERTANYAAN-PERTANYAAN ALLAH DAN JAWABANNYA UNTUK ORANG-ORANG YANG MASIH MERAGUKAN AKHIRAT
Kebangkitan dan kehidupan di alam akhirat yang kekal dan abadi adalah sebuah berita yang amat besar. Ia bukan berita tentang sesuatu yang telah terjadi dan dapat kita saksikan dengan mata kepala sendiri, melainkan berita tentang sesuatu yang pasti akan terjadi.
Kejadian langit dan bumi, bintang-bintang, planet-planet, serta seluruh alam semesta memang merupakan peristiwa yang luar biasa besar. Namun, karena semua itu telah terjadi dan sebagian dapat kita lihat serta saksikan, maka bagi manusia ia bukan lagi sekadar berita, melainkan kenyataan yang dapat diamati.
Berbeda dengan kehidupan akhirat.
Kebangkitan manusia setelah kematian, kehidupan yang kekal, dan pertanggungjawaban di hadapan Allah belum kita alami. Karena itulah ia menjadi berita besar yang menuntut keimanan, perenungan, dan penggunaan akal.
Allah berfirman:
«عَمَّ يَتَسَاءَلُونَ عَنِ النَّبَإِ الْعَظِيمِ الَّذِي هُمْ فِيهِ مُخْتَلِفُونَ»
«"Tentang apakah mereka saling bertanya-tanya? Tentang berita yang besar, yang mereka perselisihkan tentangnya."
(QS An-Naba' [78]: 1–3)»
Berita itu begitu besar sehingga sejak dahulu manusia memperdebatkannya. Ada yang membenarkannya, ada yang meragukannya, bahkan ada yang sama sekali menolaknya.
Dahulu, sebagian manusia meragukan akhirat karena keterbatasan pengetahuan. Namun pada zaman modern, keraguan itu kadang justru muncul di tengah kemajuan ilmu pengetahuan.
Di sinilah persoalannya menjadi menarik.
Apakah semakin tinggi ilmu pengetahuan otomatis membuat manusia semakin dekat kepada kebenaran?
Belum tentu.
Ilmu dapat membuat manusia mengetahui banyak hal tentang alam, tetapi belum tentu membuatnya memahami tujuan keberadaan dirinya. Seseorang dapat sangat maju dalam ilmu tentang materi, tetapi tetap bingung ketika ditanya tentang apa yang terjadi setelah kematian.
Al-Qur'an telah menggambarkan keadaan semacam itu.
Allah berfirman:
«"Bahkan pengetahuan mereka tentang akhirat tidak sampai kepada mereka; bahkan mereka dalam keraguan tentang akhirat itu, bahkan mereka buta tentangnya."»
«"Dan orang-orang kafir berkata, 'Apakah setelah kami menjadi tanah dan juga nenek moyang kami, benar-benar kami akan dibangkitkan?'"»
«"Sungguh, kami telah diberi ancaman seperti ini, begitu pula nenek moyang kami dahulu. Ini tidak lain hanyalah dongeng orang-orang terdahulu."»
«(QS An-Naml [27]: 66–68)»
Ketika ilmu tidak membawa kepada kebenaran
Al-Qur'an tidak mencela ilmu. Yang dicela ialah ilmu yang kehilangan arah dan tidak membawa manusia kepada kebenaran.
Seseorang mungkin sangat ahli dalam ilmu eksakta, filsafat, teknologi, ekonomi, politik, atau berbagai bidang kehidupan lainnya. Ia mungkin mampu memahami hukum-hukum alam, mengembangkan industri, membangun kota, mengumpulkan kekayaan, bahkan memperoleh nama besar di tengah manusia.
Tetapi ada satu pertanyaan yang tetap harus dijawab:
Untuk apa semua itu jika manusia tidak memahami ke mana akhirnya ia akan pergi?
Pengetahuan tentang dunia dapat membuat manusia berhasil mengelola kehidupan. Namun pengetahuan tentang akhirat menentukan bagaimana ia seharusnya menjalani kehidupan itu.
Karena itu, ilmu yang hanya membuat manusia semakin sibuk dengan dunia, tetapi membuatnya lupa kepada kehidupan setelah kematian, pada akhirnya dapat menjadi ilmu yang tidak menyelamatkan.
Bukan karena ilmunya salah, melainkan karena cakrawala berpikirnya tidak lengkap.
Manusia mengetahui bagaimana sesuatu bekerja, tetapi lupa bertanya untuk apa ia hidup.
Ia mengetahui bagaimana memperpanjang usia, tetapi lupa bertanya apa yang akan terjadi ketika usia itu berakhir.
Ia mampu menguasai dunia, tetapi tidak mempersiapkan dirinya ketika dunia meninggalkannya.
Ketika seluruh perhatian hanya tertuju kepada dunia
Ada pula manusia yang sama sekali tidak mau memikirkan akhirat.
Seluruh perhatiannya diarahkan kepada kehidupan sebelum mati: makanan, minuman, pakaian, rumah, kendaraan, olahraga, kesenian, hiburan, keluarga, politik, ekonomi, pembangunan, industri, kekuasaan, dan berbagai kesenangan dunia.
Untuk mengejar semua itu, ia rela mengurangi tidur dan istirahat. Ia pergi ke berbagai tempat, bekerja tanpa mengenal lelah, mengejar kedudukan, mengumpulkan harta, dan membangun nama besar.
Akhirnya, dunia memang dapat memberinya apa yang dikejarnya.
Ia mendapatkan kekayaan.
Ia mendapatkan jabatan.
Ia mendapatkan ketenaran.
Namanya dikenal di berbagai tempat. Setelah meninggal pun namanya mungkin masih disebut-sebut. Buku menuliskan jasanya, surat kabar mengenangnya, pidato-pidato mengabadikan namanya, dan generasi sesudahnya mungkin masih memperingatinya.
Tetapi ada sesuatu yang tidak dapat diberikan oleh semua kemasyhuran itu:
jaminan keselamatan di akhirat.
Harta yang ditinggalkan tidak ikut masuk ke dalam kubur.
Jabatan berhenti ketika nyawa berpisah dari tubuh.
Popularitas tidak dapat menjawab pertanyaan malaikat.
Nama besar tidak dapat menggantikan amal.
Dan pujian manusia tidak dapat menggantikan keridaan Allah.
Karena itu, betapa pentingnya manusia berhenti sejenak di tengah kesibukan dunia dan bertanya kepada dirinya sendiri:
Setelah semua yang saya kejar ini berakhir, apa yang akan saya bawa menghadap Allah?
Penyesalan yang datang terlambat
Inilah yang sering dilupakan manusia.
Selama hidup, kematian terasa seperti sesuatu yang masih jauh. Akhirat terasa seperti persoalan nanti. Selama tubuh sehat, harta masih ada, pekerjaan berjalan, keluarga berkumpul, dan berbagai kesenangan masih dapat dinikmati, manusia mudah merasa bahwa kehidupan akan berlangsung lama.
Padahal kematian tidak pernah berjanji akan datang setelah semua urusan selesai.
Ia dapat datang ketika manusia masih memiliki banyak rencana.
Ketika roh telah sampai di kerongkongan, tidak ada lagi kesempatan untuk mengulang kehidupan.
Allah menggambarkan keadaan itu dalam Surah Al-Qiyamah:
«"Sekali-kali jangan. Apabila napas telah sampai ke tenggorokan, dan dikatakan, 'Siapa yang dapat menyembuhkan?' dan dia yakin bahwa itulah waktu perpisahan, dan bertautlah betis dengan betis. Kepada Tuhanmulah pada hari itu kamu dihalau."»
Kemudian Allah bertanya:
«أَيَحْسَبُ الْإِنسَانُ أَلَّن نَّجْمَعَ عِظَامَهُ»
«"Apakah manusia mengira bahwa Kami tidak akan mengumpulkan kembali tulang-belulangnya?"»
Lalu Allah memberikan jawaban yang sangat kuat:
«بَلَىٰ قَادِرِينَ عَلَىٰ أَن نُّسَوِّيَ بَنَانَهُ»
«"Bahkan Kami mampu menyusun kembali jari-jemarinya dengan sempurna."»
Dan pada bagian akhir rangkaian ayat itu Allah mengingatkan:
«"Bukankah Dia yang menciptakan manusia dari setetes mani yang dipancarkan, kemudian menjadi segumpal darah, lalu Dia menciptakannya dan menyempurnakannya, kemudian Dia menjadikan darinya sepasang laki-laki dan perempuan? Bukankah Allah yang demikian berkuasa menghidupkan orang yang telah mati?"»
«(QS Al-Qiyamah [75]: 26–40)»
Pertanyaan itu sebenarnya sekaligus merupakan jawaban.
Jika Allah mampu menciptakan manusia pertama kali dari sesuatu yang sangat kecil, mengapa manusia meragukan kemampuan Allah untuk membangkitkannya kembali?
Inilah salah satu cara Al-Qur'an menghadapi keraguan manusia: mengajaknya melihat kembali kepada asal penciptaannya sendiri.
Manusia dahulu tidak ada.
Kemudian Allah menciptakannya.
Ia tumbuh dari sesuatu yang tidak memiliki bentuk manusia seperti sekarang.
Allah menyusun tubuhnya, memberikan kehidupan, pendengaran, penglihatan, akal, dan berbagai kemampuan.
Jika penciptaan pertama merupakan kenyataan, maka kebangkitan bukanlah sesuatu yang mustahil bagi Allah.
Mengapa Al-Qur'an berulang kali mengingatkan akhirat?
Karena berita akhirat begitu besar dan manusia begitu mudah melupakannya, Al-Qur'an berulang kali mengingatkan manusia tentang kebangkitan.
Diulang dan diulang.
Dijelaskan dengan berbagai perumpamaan.
Dibawa melalui pertanyaan.
Ditegaskan melalui tanda-tanda kekuasaan Allah.
Semua itu bukan karena Allah kekurangan hujah, melainkan karena manusia sering kali memiliki masalah bukan pada kurangnya informasi, tetapi pada kelalaian hati.
Satu kali peringatan mungkin belum menyentuh hati.
Peringatan kedua mungkin masih diabaikan.
Peringatan ketiga mungkin belum membuat seseorang berubah.
Karena itu Al-Qur'an terus mengingatkan, agar manusia memiliki kesempatan untuk kembali sebelum terlambat.
Tujuannya sederhana tetapi sangat besar:
jangan sampai manusia mati sebelum benar-benar menyadari ke mana ia akan pergi.
Allah berfirman:
«"Dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan Muslim."»
«(QS Al-Baqarah [2]: 132)»
Ayat ini bukan sekadar perintah untuk percaya kepada akhirat. Ia merupakan panggilan agar manusia menata seluruh hidupnya berdasarkan keyakinan bahwa kehidupan dunia bukanlah akhir perjalanan.
Dunia bukan tempat terakhir
Jika akhirat benar-benar ada, maka kehidupan dunia harus dipandang dengan ukuran yang berbeda.
Harta tetap boleh dicari, tetapi jangan sampai harta menjadi tujuan terakhir.
Jabatan boleh diraih, tetapi jangan sampai jabatan membuat manusia lupa kepada Pemilik kekuasaan.
Ilmu harus dikembangkan, tetapi jangan sampai ilmu menjadikan manusia sombong dan menolak kebenaran.
Keluarga harus dicintai, tetapi jangan sampai kecintaan kepada keluarga membuat seseorang lupa menyelamatkan mereka dari kebinasaan.
Kesenangan boleh dinikmati, tetapi jangan sampai kesenangan membuat manusia kehilangan arah.
Sebab dunia ini fana.
Apa yang kita miliki hari ini akan berpindah tangan.
Rumah yang kita bangun akan ditempati orang lain.
Harta yang kita kumpulkan akan diwariskan.
Jabatan yang kita banggakan akan berakhir.
Tubuh yang kita rawat akan kembali menjadi tanah.
Yang akan menyertai kita hanyalah apa yang kita kerjakan untuk Allah.
Jangan menunggu sampai terlambat
Manusia sering kali menunda perubahan.
"Besok saya akan bertobat."
"Nanti kalau sudah tua saya akan lebih rajin beribadah."
"Nanti kalau sudah kaya saya akan banyak bersedekah."
"Nanti kalau urusan dunia sudah selesai, saya akan memikirkan akhirat."
Padahal tidak seorang pun mengetahui apakah ia masih memiliki "nanti".
Kematian tidak menunggu seseorang menjadi tua.
Kematian tidak menunggu seseorang menjadi kaya.
Kematian tidak menunggu semua cita-citanya selesai.
Karena itu, pertanyaan tentang akhirat bukan pertanyaan yang boleh ditunda.
Ia adalah pertanyaan terbesar dalam kehidupan manusia.
Ke mana saya akan pergi setelah mati?
Kepada siapa saya akan mempertanggungjawabkan hidup saya?
Apa yang telah saya persiapkan?
Apa yang akan saya jawab ketika seluruh alasan dunia tidak lagi berguna?
Pertanyaan-pertanyaan itu seharusnya tidak membuat kita putus asa. Justru sebaliknya, ia seharusnya membangunkan kita.
Selama nyawa masih ada, pintu perubahan masih terbuka.
Selama kematian belum datang, manusia masih dapat memperbaiki amal.
Selama matahari belum terbenam bagi kehidupan kita, kita masih dapat memilih jalan yang benar.
Renungkan sebelum datang penyesalan
Wahai manusia, renungkanlah.
Kehidupan akhirat bukan dongeng.
Bukan khayalan.
Bukan sekadar cerita untuk menakut-nakuti manusia.
Ia adalah bagian dari berita yang disampaikan para nabi dan ditegaskan berulang kali oleh Al-Qur'an.
Jangan biarkan kegembiraan dunia membuat kita lupa kepada akhirat.
Jangan biarkan kesibukan mencari harta menghilangkan kesadaran tentang kematian.
Jangan biarkan pangkat dan kedudukan membuat kita lupa bahwa suatu hari kita akan berdiri tanpa pangkat di hadapan Allah.
Jangan biarkan musik, tontonan, hiburan, dan berbagai kesenangan dunia menguasai seluruh perhatian kita sehingga persoalan terbesar dalam kehidupan justru kita abaikan.
Sebab dunia mempunyai akhir.
Sedangkan akhirat tidak mempunyai akhir.
Dan ketika manusia telah sampai di sana, tidak ada lagi kesempatan untuk kembali ke dunia dan memperbaiki apa yang telah rusak.
Maka sebelum penyesalan itu datang, marilah kita bertanya kepada diri sendiri:
Sudahkah saya benar-benar mempersiapkan diri untuk kehidupan yang tidak berakhir?
Dan bukan hanya diri kita.
Kita juga mempunyai tanggung jawab terhadap keluarga.
Allah mengingatkan:
«"Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka."»
«(QS At-Tahrim [66]: 6)»
Inilah salah satu bentuk kasih sayang yang paling dalam: bukan hanya berusaha membuat keluarga bahagia di dunia, tetapi juga berusaha agar seluruh keluarga selamat di akhirat.
Sebab kebahagiaan dunia hanya sementara.
Sedangkan keselamatan akhirat adalah keselamatan yang sebenarnya.
Jangan sampai kita begitu sibuk membangun kehidupan dunia, tetapi lupa mempersiapkan kehidupan yang kekal.
Jangan sampai kita menjadi orang yang baru percaya ketika kematian telah datang.
Jangan sampai kesadaran itu hadir ketika kesempatan telah habis.
Maka selama masih hidup, selama masih diberi waktu, selama masih dapat memilih dan memperbaiki diri, jawablah panggilan Allah itu dengan iman, amal saleh, dan kesiapan menghadap-Nya.
Karena pada akhirnya, setiap manusia akan sampai kepada satu kepastian:
dunia akan berakhir, tetapi perjalanan manusia belum berakhir.
0 komentar: