basmalah Pictures, Images and Photos
MEMPERHALUS AKAL - Our Islamic Story

MEMPERHALUS AKAL Akal tidak boleh dicukupkan hanya dengan apa yang telah diketahui. Ia harus terus diasah, diperluas, dan diperh...

MEMPERHALUS AKAL

MEMPERHALUS AKAL

Akal tidak boleh dicukupkan hanya dengan apa yang telah diketahui. Ia harus terus diasah, diperluas, dan diperhalus. Orang belajar bukan semata-mata untuk menambah banyaknya ilmu, tetapi juga untuk memperbaiki timbangan akalnya: agar ia semakin cermat melihat hubungan antara sebab dan akibat, semakin tajam membaca tanda-tanda, serta semakin bijaksana mengambil kesimpulan.

Semakin halus akal seseorang, semakin tinggi pula martabatnya dalam pergaulan hidup. Ia tidak mudah tertipu oleh apa yang tampak di permukaan. Ia mampu membaca sesuatu melalui tanda-tandanya, menyelidiki bagian untuk memahami keseluruhan, dan mengambil pelajaran dari kejadian yang telah berlalu.

Para ahli akal membagi sebab-sebab kehalusan akal itu ke dalam tiga bentuk:

1. Kias, yaitu membandingkan sesuatu dengan pangkal atau sebabnya.
2. Menyelidiki sebagian untuk menghukum keseluruhannya, yaitu mengambil kesimpulan tentang sesuatu yang lebih luas berdasarkan tanda atau bagian yang dapat diketahui.
3. Menetapkan hukum pada suatu bagian karena terdapat sebab yang serupa pada bagian lain, yaitu melihat persamaan sebab untuk mengambil pelajaran dan kesimpulan.

Ketiga-tiganya pada hakikatnya mengajarkan satu hal: akal yang halus tidak berhenti pada apa yang terlihat, tetapi berusaha menemukan apa yang berada di baliknya.

1. KIAS: MEMBACA TANDA DARI BEKASNYA

Kias berarti perbandingan. Dalam kehidupan, sesuatu kadang-kadang tidak terlihat secara langsung, tetapi dapat diketahui melalui bekas atau tanda yang ditinggalkannya.

Pernah terjadi seorang raja sedang berada dalam perjalanan peperangan bersama para pengiringnya. Mereka berhenti di suatu tempat, sementara musuh diperkirakan masih jauh.

Tiba-tiba seorang pengiring berkata,

«"Tuanku, lebih baik kita berangkat sekarang juga. Musuh telah dekat."»

Raja bertanya,

«"Apa sebabnya? Tidak tampak tanda-tanda bahwa musuh akan datang."»

Pengiring itu menjawab bahwa mereka harus segera pergi. Raja pun memerintahkan pasukannya bersiap dan meninggalkan tempat itu.

Tidak lama kemudian, tampak dari kejauhan pasukan musuh mengejar.

Raja heran.

«"Bagaimana engkau mengetahui kedatangan musuh?"»

Pengiring itu menjawab bahwa ia melihat binatang-binatang liar berlari mendekati tempat mereka. Padahal, biasanya binatang-binatang itu akan menjauh apabila melihat manusia.

Dari perubahan perilaku binatang itulah ia mengambil kesimpulan: pasti ada sesuatu yang lebih menakutkan di belakangnya.

Dan benar. Yang membuat binatang-binatang itu ketakutan adalah pasukan musuh yang sedang mengejar.

Inilah kecerdasan membaca tanda. Orang yang tajam akalnya tidak selalu menunggu sesuatu tampak dengan jelas. Ia memperhatikan perubahan kecil, lalu menghubungkannya dengan kemungkinan sebab yang berada di belakangnya.

Melihat sesuatu dari ukuran dan keadaannya

Dalam hikayat orang tua terdapat pula sebuah perumpamaan tentang seekor singa yang mengajak seekor lembu berkunjung ke sarangnya. Singa itu mengatakan bahwa ia hendak menjamu tamunya dengan seekor kambing.

Ketika sampai di sarang, lembu melihat unggunan makanan yang disediakan singa sangat besar. Ukurannya tidak mungkin hanya untuk seekor kambing. Lebih cocok untuk seekor lembu.

Lembu pun segera mengundurkan diri.

Singa bertanya,

«"Mengapa engkau mengundurkan diri?"»

Lembu menjawab,

«"Saya melihat unggunan itu terlalu besar. Rupanya bukan kambing yang hendak tuan potong, melainkan sesuatu yang lebih besar daripada kambing."»

Lembu tidak perlu menunggu sampai dirinya menjadi korban. Ia membaca ketidaksesuaian antara janji dan tanda yang ada di hadapannya.

Kadang-kadang keselamatan seseorang bukan karena ia mengetahui segala sesuatu, melainkan karena ia cukup cerdas membaca tanda sebelum terlambat.

Mengetahui jumlah dari sebuah petunjuk

Menurut riwayat Ibnul Jauzi, menjelang Perang Badar pernah ditangkap dua orang: seorang Quraisy dan seorang budak milik 'Aqabah bin Abi Mu'ith. Orang Quraisy itu berhasil meloloskan diri, sedangkan budak tersebut tidak.

Ketika ditanya tentang jumlah pasukan Quraisy, ia tidak mau memberikan jawaban secara langsung. Ia hanya mengatakan bahwa jumlah mereka sangat banyak dan kuat.

Rasulullah ﷺ kemudian bertanya,

«"Berapa ekor unta yang mereka potong dalam sehari?"»

Ia menjawab,

«"Sepuluh ekor."»

Dari informasi yang tampaknya sederhana itu, Rasulullah ﷺ memperkirakan jumlah mereka sekitar seribu orang, karena seekor unta dapat mencukupi makanan sekitar seratus orang.

Sebuah informasi kecil dapat menjadi jendela untuk melihat sesuatu yang lebih besar.

Itulah salah satu ciri akal yang tajam: ia mampu menemukan informasi yang tersembunyi di balik sebuah fakta sederhana.

Membaca keganjilan

Ketika Ahmad bin Thulun menjadi raja di Mesir, ia pernah melihat seorang pemuda membawa sebuah peti. Pemuda itu tampak gemetar.

Raja memperhatikan keadaan tersebut. Kalau peti itu berat, seharusnya kepala atau tubuh pemuda itu lebih banyak tertekan oleh beratnya. Tetapi bukan itu yang terjadi.

Ketika sampai di hadapan orang banyak, kegemetaran pemuda itu bahkan semakin bertambah.

Ahmad bin Thulun merasa ada sesuatu yang tidak biasa. Ia memerintahkan agar pemuda itu ditangkap dan petinya dibuka.

Ternyata di dalamnya terdapat mayat seorang perempuan muda yang telah dibunuh.

Kegemetaran pemuda itu bukan semata-mata karena berat peti, melainkan karena beban rahasia yang ada di dalamnya.

Di sinilah kita belajar bahwa sesuatu yang ganjil sering kali menjadi petunjuk adanya sebab yang tersembunyi.

Orang yang memperhalus akalnya belajar bertanya:

Mengapa sesuatu terjadi tidak sebagaimana biasanya?

Sebab perubahan dari kebiasaan sering kali menunjukkan adanya sebab baru.

Ketika sesuatu tidak sesuai dengan kebiasaan

Al-Kisai, salah seorang qari yang terkenal, menjadi guru bagi anak-anak raja. Salah seorang muridnya ialah al-Amin, putra Harun ar-Rasyid.

Menurut kebiasaan, apabila murid salah membaca suatu ayat, al-Kisai mengetukkan tongkatnya ke lantai sebagai tanda agar bacaan itu diulangi.

Suatu hari, bacaan al-Amin sampai kepada ayat:

«يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لِمَ تَقُوْلُوْنَ مَا لَا تَفْعَلُوْنَ»

«"Wahai orang-orang yang beriman! Mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan?"
(QS Ash-Shaff [61]: 2)»

Al-Kisai mengetukkan tongkatnya.

Al-Amin mengulangi bacaannya.

Setelah selesai, tongkat kembali diketukkan. Sampai tiga kali, tetapi al-Kisai tidak menunjukkan letak kesalahannya.

Al-Amin tidak berani bertanya karena menghormati gurunya.

Sesampainya di hadapan ayahnya, ia menceritakan kejadian tersebut. Lalu ia bertanya kepada Harun ar-Rasyid apakah sang ayah pernah membuat janji kepada gurunya yang belum ditepati.

Harun ar-Rasyid pun tersadar. Ia memang pernah berjanji memberikan suatu anugerah kepada al-Kisai, tetapi telah melupakannya.

Maka al-Kisai dipanggil dan diberikan anugerah sebagaimana mestinya.

Al-Amin telah belajar membaca tanda. Ketukan tongkat yang berulang bukan sekadar kesalahan membaca, tetapi mungkin menunjuk kepada kesalahan yang lebih dalam: mengatakan sesuatu yang belum dilakukan.

Keganjilan yang mengundang penyelidikan

Pernah pula seorang laki-laki memberitahu istrinya bahwa ia akan membawa tamu ke rumah pada keesokan hari.

Sang istri pun bersiap. Ia menumbuk tepung untuk membuat roti.

Namun ketika pagi tiba, tepung itu didapati telah dijilat anjing. Karena malu menyajikannya kepada tamu, ia membawa tepung tersebut ke pasar untuk ditukarkan dengan beras yang masih belum ditumbuk.

Seorang ahli akal yang melihat kejadian itu berkata kepada temannya:

«"Kalau tidak ada sesuatu sebab yang penting, tidaklah perempuan itu mau menukar tepung yang sudah halus dengan beras yang belum ditumbuk."»

Sekali lagi, yang diperhatikan bukan sekadar perbuatan, melainkan alasan mengapa seseorang melakukan sesuatu yang tidak lazim.

Begitu pula pepatah Melayu:

«"Kalau tidak ada berada, tidak tempua bersarang rendah."»

Burung tempua biasanya bersarang di tempat tinggi. Jika ia tiba-tiba memilih tempat yang rendah, tentu ada sebabnya: mungkin di atas ada bahaya, atau di bawah ada sesuatu yang sangat menguntungkan.

Perubahan perilaku adalah tanda. Dan tanda mengajak akal mencari sebab.

Karena itu, nenek moyang kita pun mengajarkan pentingnya memperhatikan bukti ketika hendak menilai suatu kesalahan:

«"Berjebak bak bakik, bersurih bak sipasin, berbau bak ambacang, tertangkap tangan, kecenderungan mata orang banyak."»

Semua itu menunjukkan bahwa kesalahan tidak selalu harus menunggu pengakuan. Kadang-kadang bekas perbuatan sudah berbicara lebih dahulu.

---

2. MENYELIDIKI SEBAGIAN UNTUK MEMAHAMI KESELURUHAN

Bentuk kedua kehalusan akal ialah kemampuan menyelidiki sebagian tanda untuk mendapatkan gambaran tentang keseluruhannya.

Kita tidak selalu dapat melihat seluruh keadaan secara langsung. Karena itu, akal bekerja dengan mengambil petunjuk yang tersedia, lalu menghubungkannya sehingga dapat diperoleh kesimpulan yang lebih luas.

Al-Asma'i meriwayatkan sebuah kisah dari Isa bin Umar tentang Abul Jahm Huzaifah.

Suatu ketika Abul Jahm datang menghadap Muawiyah yang sedang memerintah di Syam.

Ketika ia hendak pergi, Muawiyah berkata bahwa ia mengetahui kemuliaan Abul Jahm, kedudukannya, serta hubungan kerabatnya dengan Nabi ﷺ. Namun karena banyaknya beban pemerintahan, Muawiyah hanya dapat memberikan kepadanya seratus ribu dirham.

Abul Jahm menerimanya, tetapi di dalam hatinya ia merasa kurang puas.

Kemudian Muawiyah wafat dan digantikan oleh putranya, Yazid.

Abul Jahm kembali datang menghadap. Yazid mengatakan bahwa ia mengetahui kemuliaan dan kedudukan Abul Jahm, tetapi beban yang harus dipikulnya juga berat. Karena itu ia hanya memberikan lima puluh ribu dirham.

Abul Jahm kembali merasa kecewa.

Ia kemudian melihat kepada keadaan yang lebih luas. Muawiyah memberinya seratus ribu dirham. Yazid hanya lima puluh ribu. Dari sana ia mulai membentuk suatu penilaian tentang keadaan pemerintahan yang sedang berlangsung.

Ketika Abdullah bin Zubair menyatakan dirinya sebagai khalifah di Mekah, Abul Jahm pergi ke sana. Ia berharap menemukan kembali kemuliaan Quraisy.

Namun ketika bertemu Abdullah bin Zubair, ia hanya diberi seribu dirham.

Abul Jahm justru sangat gembira. Ia memuji Abdullah bin Zubair dengan pujian yang luar biasa.

Abdullah bin Zubair merasa heran. Mengapa orang yang dahulu menerima seratus ribu dirham dari Muawiyah tidak memuji seperti itu, sedangkan setelah menerima seribu dirham justru pujiannya begitu tinggi?

Abul Jahm menjawab dengan sindiran yang sangat tajam. Ia mengatakan bahwa setelah melihat pemberian Muawiyah, kemudian Yazid, dan terakhir Abdullah bin Zubair, ia sampai pada keyakinan bahwa jika Abdullah bin Zubair wafat, tidak ada lagi yang akan mengatur urusan orang banyak selain "babi-babi liar".

Jawaban itu pahit, tetapi di dalamnya terdapat cara berpikir yang khas: ia membaca keadaan pemerintahan melalui tanda-tanda yang ditemuinya pada orang-orang yang memegang kekuasaan.

Dari satu bagian, ia berusaha memahami keseluruhan.

Namun di sini kita juga perlu berhati-hati. Akal yang halus bukan berarti akal yang tergesa-gesa menghakimi. Kesimpulan harus dibangun dari tanda yang cukup, bukan dari prasangka.

Sebab, membaca tanda membutuhkan ketelitian; mengubah tanda menjadi kesimpulan membutuhkan kebijaksanaan.

---

3. MENETAPKAN HUKUM BERDASARKAN KESAMAAN SEBAB

Bentuk ketiga ialah menetapkan hukum pada suatu bagian karena terdapat sebab yang serupa dengan bagian yang lain.

Di sinilah pengalaman menjadi guru. Kita melihat suatu perilaku pada seseorang, kemudian kita bandingkan dengan perilaku serupa yang pernah kita lihat sebelumnya.

Pepatah orang budiman mengatakan:

«"Kalau ada orang yang suka membuka aib orang lain di hadapanmu, tandanya dia suka pula membuka aibmu di hadapan orang lain. Orang yang suka memaparkan kesalahan seseorang di hadapanmu, tandanya kesalahanmu akan dipaparkannya pula di hadapan orang lain."»

Mengapa demikian?

Karena sifat yang sama cenderung melahirkan perilaku yang sama.

Jika seseorang terbiasa menjadikan aib orang lain sebagai bahan pembicaraan, jangan terlalu cepat merasa aman hanya karena pada saat ini yang dibicarakannya bukan aib kita.

Bisa jadi hari ini ia membawa cerita tentang orang lain kepada kita. Besok ia membawa cerita tentang kita kepada orang lain.

Karena itu, akal yang halus bukan hanya bertanya:

"Apa yang sedang dilakukan orang ini?"

Tetapi juga:

"Jika sebabnya sama, apakah akibatnya kelak akan sama?"

Sayidina Ali karamallahu wajhahu mengajarkan:

«"Suatu perkara yang sulit hendaklah diambil i'tibar akhirnya daripada awalnya."»

Dalam pepatah Melayu dikatakan:

«"Kusut di ujung tali, tiliklah di pangkal tali."»

Jika kita ingin memahami kekusutan di ujung, lihatlah pangkalnya.

Sebab akhir merupakan buah dari awal.

Natijah adalah buah dari mukadimah. Kesimpulan adalah hasil dari premis.

Apa yang tampak pada akhir sering kali telah memiliki akar pada permulaan.

Karena itu, Sayidina Ali dalam suratnya kepada Haris al-Hamdani berpesan agar mengambil pelajaran dari dunia yang telah berlalu, menghubungkan ujung dengan pangkal, dan jangan menjadi orang yang tidak mempan menerima pengajaran kecuali setelah mendapatkan pukulan yang menyakitkan.

Betapa banyak manusia sebenarnya telah melihat tanda-tanda, tetapi tidak mengambil pelajaran sampai akibat buruk itu menimpa dirinya sendiri.

---

MELIHAT UJUNG DARI PANGKAL

Ada sebuah hikayat orang tua yang menggambarkan kecerdasan membaca ujung dari pangkal.

Pada suatu hari sang kancil berjalan melewati gua seekor singa tua yang sudah tidak kuat lagi mencari makanan.

Ketika melihat sang kancil, singa berkata dengan suara manis,

«"Silakan masuk ke teratak burukku, wahai Tuan Syekh Alim di rimba. Jangan segan-segan dan jangan malu."»

Sang kancil melihat ke arah mulut gua dengan sudut matanya.

Singa kembali membujuk,

«"Silakan masuk, jangan segan-segan, wahai Syekh!"»

Kancil menjawab dengan penuh hormat,

«"Terima kasih banyak-banyak. Segala titah patik junjung, daulat tuanku raja rimba. Harap diampun, tiadalah dapat patik masuk menjunjung duli. Patik akan segera pergi."»

Singa bertanya,

«"Apakah sebabnya demikian?"»

Kancil menjawab,

«"Sebab patik melihat di muka pintu istana terlalu banyak jejak orang-orang yang masuk ke dalam, tetapi tidak sebuah pun jejak yang menghadap ke luar. Selamat tinggal, tuanku."»

Kancil tidak masuk ke dalam gua karena ia tidak memerlukan bukti tambahan.

Ia melihat jejak.

Jejak itu menunjukkan apa yang telah terjadi sebelumnya. Tidak adanya jejak yang keluar memberikan petunjuk tentang apa yang mungkin terjadi kepada mereka yang masuk.

Kancil menyambungkan pangkal dengan ujung.

Ia tidak tertipu oleh kata-kata manis, karena ia lebih percaya kepada bukti yang ditinggalkan oleh kenyataan.

---

AKAL YANG HALUS TIDAK MUDAH TERTIPU

Dari seluruh kisah tersebut, kita dapat melihat bahwa memperhalus akal bukanlah sekadar menjadi pandai berbicara atau memiliki banyak pengetahuan.

Akal yang halus ialah akal yang mampu membaca tanda, menemukan sebab, membandingkan keadaan, menghubungkan pangkal dengan ujung, dan mengambil pelajaran sebelum akibat buruk datang.

Ada orang yang melihat, tetapi tidak memperhatikan.

Ada yang memperhatikan, tetapi tidak menghubungkan.

Ada yang menghubungkan, tetapi terburu-buru menyimpulkan.

Dan ada pula yang sudah mengetahui kesimpulan, tetapi tidak mengambil pelajaran darinya.

Karena itu, ilmu perlu berjalan bersama ketelitian dan kebijaksanaan.

Jangan hanya bertanya:

"Apa yang terjadi?"

Tetapi biasakan pula bertanya:

"Mengapa hal itu terjadi?"

"Tanda apa yang mendahuluinya?"

"Apa sebab yang berada di baliknya?"

"Jika sebab yang sama muncul lagi, mungkinkah akibatnya juga akan sama?"

Dan yang paling penting:

"Apa pelajaran yang harus saya ambil sebelum pengalaman itu menjadi pukulan bagi diri saya sendiri?"

Itulah salah satu jalan memperhalus akal.

Sebab kehidupan tidak selalu memberi kita kesempatan untuk melihat seluruh kenyataan. Kadang-kadang Allah hanya memperlihatkan sebagian tanda. Dari tanda itulah manusia dituntut menggunakan akalnya.

Orang yang bijaksana tidak menunggu semua pintu terbuka untuk mengetahui bahwa ada bahaya di dalam. Ia cukup membaca tanda-tanda yang telah tersedia.

Akal yang halus mampu melihat sesuatu yang belum tampak melalui sesuatu yang sudah tampak; mampu memahami keseluruhan melalui sebagian tanda; dan mampu membaca masa depan melalui pelajaran masa lalu.

Dengan demikian, ilmu tidak hanya membuat manusia lebih banyak tahu, tetapi juga membuatnya lebih tepat menimbang.

Dan pada akhirnya, kehalusan akal bukan diukur dari banyaknya kesimpulan yang dapat dibuat, melainkan dari ketepatan dalam mengambil kesimpulan dan kedalaman dalam mengambil i'tibar.

0 komentar:

Cari Artikel Ketik Lalu Enter

Artikel Lainnya

Indeks Artikel

!qNusantar3 (1) 1+6!zzSirah Ulama (1) Abdullah bin Nuh (1) Abu Bakar (3) Abu Hasan Asy Syadzali (2) Abu Hasan Asy Syadzali Saat Mesir Dikepung (1) Aceh (6) Adam (5) Adnan Menderes (2) Adu domba Yahudi (1) adzan (1) Agama (1) Agribisnis (1) Ahli Epidemiologi (1) Air hujan (1) Akhir Zaman (1) Akhirat (4) Al-Baqarah (1) Al-Qur'an (362) Al-Qur’an (55) alam (3) Alamiah Kedokteran (1) Ali bin Abi Thalib (1) An-Nadwi (1) Andalusia (1) Angka Binner (1) Angka dalam Al-Qur'an (1) Aqidah (1) Ar Narini (2) As Sinkili (2) Asbabulnuzul (1) Ashabul Kahfi (1) Aurangzeb alamgir (1) Bahasa Arab (1) Bahaya Kemunduran Umat Islam (1) Bani Israel (1) Banjar (1) Banten (1) Barat (1) Belanja (1) Berkah Musyawarah (1) Bermimpi Rasulullah saw (1) Bertanya (1) Bima (1) Biografi (1) BJ Habibie (1) budak jadi pemimpin (1) Buku Hamka (1) busana (1) Buya Hamka (53) Cerita kegagalan (1) cerpen Nabi (8) cerpen Nabi Musa (2) Cina Islam (1) cinta (1) Covid 19 (1) Curhat doa (1) Dajjal (1) dakwah (18) Dakwah (23) Dasar Kesehatan (1) Deli Serdang (1) Demak (3) Demam Tubuh (1) Demografi Umat Islam (1) Detik (1) Diktator (1) Diponegoro (2) Dirham (1) Doa (1) doa mendesain masa depan (1) doa wali Allah (1) dukun (1) Dunia Islam (1) Duplikasi Kebrilianan (1) ekonomi (2) Ekonomi (20) energi kekuatan (1) Energi Takwa (1) english (6) English (6) Episentrum Perlawanan (1) filsafat (3) filsafat Islam (1) Filsafat Sejarah (1) Fiqh (1) Fir'aun (2) Firasat (1) Firaun (1) Gamal Abdul Naser (1) Gelombang dakwah (1) Gladiator (1) Gowa (1) grand desain tanah (1) Gua Secang (1) Haji (1) Haman (1) Hamka (3) Hasan Al Banna (7) Heraklius (4) Hidup Mudah (1) Hikayat (3) Hikayat Perang Sabil (2) hikmah (1) https://www.literaturislam.com/ (1) Hukum Akhirat (1) hukum kesulitan (1) Hukum Pasti (1) Hukuman Allah (1) Ibadah obat (1) Ibnu Hajar Asqalani (1) Ibnu Khaldun (1) Ibnu Sina (1) Ibrahim (1) Ibrahim bin Adham (1) ide menulis (1) Ikhwanul Muslimin (1) ilmu (2) Ilmu Laduni (3) Ilmu Sejarah (1) Ilmu Sosial (1) Imam Al-Ghazali (2) imam Ghazali (1) Instropeksi diri (1) interpretasi sejarah (1) Islam (1) ISLAM (2) Islam Cina (1) Islam dalam Bahaya (2) Islam di India (1) Islam Nusantara (1) Islampobia (1) Istana Al-Hambra (1) Istana Penguasa (1) Istiqamah (1) Jalan Hidup (1) Jamuran (1) Jebakan Istana (1) Jendral Mc Arthu (1) Jibril (1) jihad (1) Jiwa Berkecamuk (1) Jiwa Mujahid (1) Jogyakarta (1) jordania (1) jurriyah Rasulullah (1) Kabinet Abu Bakar (1) Kajian (1) kambing (1) Karamah (1) Karya Besar (1) Karya Fenomenal (1) Kebebasan beragama (1) Kebohongan Pejabat (1) Kebohongan Yahudi (1) kecerdasan (21) Kecerdasan (337) Kecerdasan Finansial (4) Kecerdasan Laduni (1) Kedok Keshalehan (1) Kejayaan Islam (1) Kejayaan Umat Islam (1) Kekalahan Intelektual (1) Kekhalifahan Islam (2) Kekhalifahan Turki Utsmani (1) Keluar Krisis (1) Kemiskinan Diri (1) Kepemimpinan (1) kerajaan Islam (1) kerajaan Islam di India (1) Kerajaan Sriwijaya (2) Kesehatan (1) Kesultanan Aceh (1) Kesultanan Nusantara (1) Ketuhanan Yang Maha Esa (1) Keturunan Rasulullah saw (1) Keunggulan ilmu (1) keunggulan teknologi (1) Kezaliman (2) KH Hasyim Ashari (1) Khaidir (2) Khalifatur Rasyidin (1) Kiamat (1) Kisah (1) Kisah Al Quran (1) kisah Al-Qur'an (1) Kisah Hadist (4) Kisah Nabi (1) Kisah Nabi dan Rasul (1) Kisah Para Nabi (1) kisah para nabi dan (2) kisah para nabi dan rasul (59) kisah para Nabi dan Rasul (1) Kisah para nabi dan rasul (114) Kisah Para Nabi dan Rasul (577) kisah para nabi dan rasul. Nabi Daud (1) kisah para nabi dan rasul. nabi Musa (2) Kisah Penguasa (1) Kisah ulama (1) kitab primbon (1) Koalisi Negara Ulama (1) Krisis Ekonomi (1) Kumis (1) Kumparan (1) Kurikulum Pemimpin (1) Laduni (1) lauhul mahfudz (1) lockdown (1) Logika (1) Luka darah (1) Luka hati (1) madrasah ramadhan (1) Madu dan Susu (1) Majapahi (1) Majapahit (4) Makkah (1) Malaka (1) Mandi (1) Matematika dalam Al-Qur'an (1) Maulana Ishaq (1) Maulana Malik Ibrahi (1) Melihat Wajah Allah (1) Memerdekakan Akal (1) Menaklukkan penguasa (1) Mendidik anak (1) mendidik Hawa Nafsu (1) Mendikbud (1) Menggenggam Dunia (1) menulis (1) Mesir (1) militer (1) militer Islam (1) Mimpi Rasulullah saw (1) Minangkabau (2) Mindset Dongeng (1) Muawiyah bin Abu Sofyan (1) Mufti Johor (1) muhammad al fatih (3) Muhammad bin Maslamah (1) Mukjizat Nabi Ismail (1) Musa (1) muslimah (1) musuh peradaban (1) nabi adam (1) Nabi Adam (75) nabi Adam. Adam (1) Nabi Ayub (1) Nabi Daud (3) Nabi Ibrahim (3) Nabi Isa (2) nabi Isa. nabi ismail (1) Nabi Ismail (1) Nabi Khaidir (1) Nabi Khidir (1) Nabi Musa (29) Nabi Nuh (6) Nabi Sulaiman (2) Nabi Yunus (1) Nabi Yusuf (15) Namrudz (2) Nasrulloh Baksolahar (1) NKRI (1) nol (1) Nubuwah Rasulullah (4) Nurudin Zanky (1) Nusa Tenggara (1) nusantara (11) Nusantara (303) Nusantara Tanpa Islam (1) obat cinta dunia (2) obat takut mati (1) Olahraga (6) Orang Lain baik (1) Orang tua guru (1) Padjadjaran (2) Palembang (1) Palestina (729) Pancasila (1) Pangeran Diponegoro (3) Pasai (2) Paspampres Rasulullah (1) Pembangun Peradaban (2) Pemecahan masalah (1) Pemerintah rapuh (1) Pemutarbalikan sejarah (1) Pengasingan (1) Pengelolaan Bisnis (1) Pengelolaan Hawa Nafsu (1) Pengobatan (1) pengobatan sederhana (1) Penguasa Adil (1) Penguasa Zalim (1) Penjajah Yahudi (35) Penjajahan Belanda (1) Penjajahan Yahudi (1) Penjara Rotterdam (1) Penyelamatan Sejarah (1) peradaban Islam (1) Perang Aceh (1) Perang Afghanistan (1) Perang Arab Israel (1) Perang Badar (3) Perang Ekonomi (1) Perang Hunain (1) Perang Jawa (1) Perang Khaibar (1) Perang Khandaq (2) Perang Kore (1) Perang mu'tah (1) Perang Paregreg (1) Perang Salib (4) Perang Tabuk (1) Perang Uhud (2) Perdagangan rempah (1) Pergesekan Internal (1) Perguliran Waktu (1) permainan anak (2) Perniagaan (1) Persia (2) Persoalan sulit (1) pertanian modern (1) Pertempuran Rasulullah (1) Pertolongan Allah (3) perut sehat (1) pm Turki (1) POHON SAHABI (1) politik (1) Politik (4) Portugal (1) Portugis (1) ppkm (1) Prabu Satmata (1) Prilaku Pemimpin (1) prokes (1) puasa (1) pupuk terbaik (1) purnawirawan Islam (1) Qarun (2) Quantum Jiwa (1) Raffles (1) Raja Islam (1) rakyat lapar (1) Rakyat terzalimi (1) Rasulullah (1) Rasulullah SAW (1) Rasulullah shalallahu alaihi wassalam (1) Rehat (493) Rekayasa Masa Depan (1) Republika (2) respon alam (1) Revolusi diri (1) Revolusi Sejarah (1) Revolusi Sosial (1) Rindu Rasulullah (1) Romawi (4) Rumah Semut (1) Ruqyah (1) Rustum (1) Saat Dihina (1) Sahabat (1) sahabat Nabi (1) Sahabat Rasulullah (1) SAHABI (1) Salimul Aqidah (1) satu (1) Sayyidah Musyfiqah (1) Sejarah (2) Sejarah Nabi (1) Sejarah Para Nabi dan Rasul (1) Sejarah Penguasa (1) selat Malaka (2) Seleksi Pejabat (1) Sengketa Hukum (1) Serah Nabawiyah (1) Seruan Jihad (3) shalahuddin al Ayubi (3) shalat (1) Shalat di dalam kuburannya (1) Shalawat Ibrahimiyah (1) Simpel Life (1) Sirah Nabawiyah (327) Sirah Para Nabi dan Rasul (3) Sirah penguasa (11) Sirah Penguasa (248) sirah Sahabat (2) Sirah Sahabat (173) Sirah Tabiin (43) Sirah ulama (36) Sirah Ulama (158) Siroh Sahabat (1) Sofyan Tsauri (1) Solusi Negara (1) Solusi Praktis (1) Sriwijaya Islam (3) Strategi Demonstrasi (1) Suara Hewan (1) Suara lembut (1) Sudah Nabawiyah (1) Sufi (1) sugesti diri (1) sultan Hamid 2 (1) sultan Islam (1) Sultan Mataram (3) Sultanah Aceh (1) Sunah Rasulullah (2) sunan giri (3) Sunan Gresi (1) Sunan Gunung Jati (1) Sunan Kalijaga (1) Sunan Kudus (2) Sunatullah Kekuasaan (1) Supranatural (1) Surakarta (1) Syariat Islam (18) Syeikh Abdul Qadir Jaelani (2) Syeikh Palimbani (3) Tak Ada Solusi (1) Takdir Umat Islam (1) Takwa (1) Takwa Keadilan (1) Tamim Ad Dari (1) Tanda Hari Kiamat (1) Tasawuf (29) teknologi (2) tentang website (1) tentara (1) tentara Islam (1) Ternate (1) Thaharah (1) Thariqah (1) tidur (1) Titik kritis (1) Titik Kritis Kekayaan (1) Tragedi Sejarah (1) Turki (2) Turki Utsmani (2) Ukhuwah (1) Ulama Mekkah (3) Umar bin Abdul Aziz (5) Umar bin Khatab (3) Umar k Abdul Aziz (1) Ummu Salamah (1) Umpetan (1) Utsman bin Affan (2) veteran islam (1) Wabah (1) wafat Rasulullah (1) Wakaf (1) Waki bin Jarrah (1) Wali Allah (1) wali sanga (1) Walisanga (2) Walisongo (3) Wanita Pilihan (1) Wanita Utama (1) Warung Kelontong (1) Waspadai Ibadah (1) Wudhu (1) Yusuf Al Makasari (1) zaman kerajaan islam (1) Zulkarnain (1)