MEMPERHALUS AKAL
Akal tidak boleh dicukupkan hanya dengan apa yang telah diketahui. Ia harus terus diasah, diperluas, dan diperhalus. Orang belajar bukan semata-mata untuk menambah banyaknya ilmu, tetapi juga untuk memperbaiki timbangan akalnya: agar ia semakin cermat melihat hubungan antara sebab dan akibat, semakin tajam membaca tanda-tanda, serta semakin bijaksana mengambil kesimpulan.
Semakin halus akal seseorang, semakin tinggi pula martabatnya dalam pergaulan hidup. Ia tidak mudah tertipu oleh apa yang tampak di permukaan. Ia mampu membaca sesuatu melalui tanda-tandanya, menyelidiki bagian untuk memahami keseluruhan, dan mengambil pelajaran dari kejadian yang telah berlalu.
Para ahli akal membagi sebab-sebab kehalusan akal itu ke dalam tiga bentuk:
1. Kias, yaitu membandingkan sesuatu dengan pangkal atau sebabnya.
2. Menyelidiki sebagian untuk menghukum keseluruhannya, yaitu mengambil kesimpulan tentang sesuatu yang lebih luas berdasarkan tanda atau bagian yang dapat diketahui.
3. Menetapkan hukum pada suatu bagian karena terdapat sebab yang serupa pada bagian lain, yaitu melihat persamaan sebab untuk mengambil pelajaran dan kesimpulan.
Ketiga-tiganya pada hakikatnya mengajarkan satu hal: akal yang halus tidak berhenti pada apa yang terlihat, tetapi berusaha menemukan apa yang berada di baliknya.
1. KIAS: MEMBACA TANDA DARI BEKASNYA
Kias berarti perbandingan. Dalam kehidupan, sesuatu kadang-kadang tidak terlihat secara langsung, tetapi dapat diketahui melalui bekas atau tanda yang ditinggalkannya.
Pernah terjadi seorang raja sedang berada dalam perjalanan peperangan bersama para pengiringnya. Mereka berhenti di suatu tempat, sementara musuh diperkirakan masih jauh.
Tiba-tiba seorang pengiring berkata,
«"Tuanku, lebih baik kita berangkat sekarang juga. Musuh telah dekat."»
Raja bertanya,
«"Apa sebabnya? Tidak tampak tanda-tanda bahwa musuh akan datang."»
Pengiring itu menjawab bahwa mereka harus segera pergi. Raja pun memerintahkan pasukannya bersiap dan meninggalkan tempat itu.
Tidak lama kemudian, tampak dari kejauhan pasukan musuh mengejar.
Raja heran.
«"Bagaimana engkau mengetahui kedatangan musuh?"»
Pengiring itu menjawab bahwa ia melihat binatang-binatang liar berlari mendekati tempat mereka. Padahal, biasanya binatang-binatang itu akan menjauh apabila melihat manusia.
Dari perubahan perilaku binatang itulah ia mengambil kesimpulan: pasti ada sesuatu yang lebih menakutkan di belakangnya.
Dan benar. Yang membuat binatang-binatang itu ketakutan adalah pasukan musuh yang sedang mengejar.
Inilah kecerdasan membaca tanda. Orang yang tajam akalnya tidak selalu menunggu sesuatu tampak dengan jelas. Ia memperhatikan perubahan kecil, lalu menghubungkannya dengan kemungkinan sebab yang berada di belakangnya.
Melihat sesuatu dari ukuran dan keadaannya
Dalam hikayat orang tua terdapat pula sebuah perumpamaan tentang seekor singa yang mengajak seekor lembu berkunjung ke sarangnya. Singa itu mengatakan bahwa ia hendak menjamu tamunya dengan seekor kambing.
Ketika sampai di sarang, lembu melihat unggunan makanan yang disediakan singa sangat besar. Ukurannya tidak mungkin hanya untuk seekor kambing. Lebih cocok untuk seekor lembu.
Lembu pun segera mengundurkan diri.
Singa bertanya,
«"Mengapa engkau mengundurkan diri?"»
Lembu menjawab,
«"Saya melihat unggunan itu terlalu besar. Rupanya bukan kambing yang hendak tuan potong, melainkan sesuatu yang lebih besar daripada kambing."»
Lembu tidak perlu menunggu sampai dirinya menjadi korban. Ia membaca ketidaksesuaian antara janji dan tanda yang ada di hadapannya.
Kadang-kadang keselamatan seseorang bukan karena ia mengetahui segala sesuatu, melainkan karena ia cukup cerdas membaca tanda sebelum terlambat.
Mengetahui jumlah dari sebuah petunjuk
Menurut riwayat Ibnul Jauzi, menjelang Perang Badar pernah ditangkap dua orang: seorang Quraisy dan seorang budak milik 'Aqabah bin Abi Mu'ith. Orang Quraisy itu berhasil meloloskan diri, sedangkan budak tersebut tidak.
Ketika ditanya tentang jumlah pasukan Quraisy, ia tidak mau memberikan jawaban secara langsung. Ia hanya mengatakan bahwa jumlah mereka sangat banyak dan kuat.
Rasulullah ﷺ kemudian bertanya,
«"Berapa ekor unta yang mereka potong dalam sehari?"»
Ia menjawab,
«"Sepuluh ekor."»
Dari informasi yang tampaknya sederhana itu, Rasulullah ﷺ memperkirakan jumlah mereka sekitar seribu orang, karena seekor unta dapat mencukupi makanan sekitar seratus orang.
Sebuah informasi kecil dapat menjadi jendela untuk melihat sesuatu yang lebih besar.
Itulah salah satu ciri akal yang tajam: ia mampu menemukan informasi yang tersembunyi di balik sebuah fakta sederhana.
Membaca keganjilan
Ketika Ahmad bin Thulun menjadi raja di Mesir, ia pernah melihat seorang pemuda membawa sebuah peti. Pemuda itu tampak gemetar.
Raja memperhatikan keadaan tersebut. Kalau peti itu berat, seharusnya kepala atau tubuh pemuda itu lebih banyak tertekan oleh beratnya. Tetapi bukan itu yang terjadi.
Ketika sampai di hadapan orang banyak, kegemetaran pemuda itu bahkan semakin bertambah.
Ahmad bin Thulun merasa ada sesuatu yang tidak biasa. Ia memerintahkan agar pemuda itu ditangkap dan petinya dibuka.
Ternyata di dalamnya terdapat mayat seorang perempuan muda yang telah dibunuh.
Kegemetaran pemuda itu bukan semata-mata karena berat peti, melainkan karena beban rahasia yang ada di dalamnya.
Di sinilah kita belajar bahwa sesuatu yang ganjil sering kali menjadi petunjuk adanya sebab yang tersembunyi.
Orang yang memperhalus akalnya belajar bertanya:
Mengapa sesuatu terjadi tidak sebagaimana biasanya?
Sebab perubahan dari kebiasaan sering kali menunjukkan adanya sebab baru.
Ketika sesuatu tidak sesuai dengan kebiasaan
Al-Kisai, salah seorang qari yang terkenal, menjadi guru bagi anak-anak raja. Salah seorang muridnya ialah al-Amin, putra Harun ar-Rasyid.
Menurut kebiasaan, apabila murid salah membaca suatu ayat, al-Kisai mengetukkan tongkatnya ke lantai sebagai tanda agar bacaan itu diulangi.
Suatu hari, bacaan al-Amin sampai kepada ayat:
«يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لِمَ تَقُوْلُوْنَ مَا لَا تَفْعَلُوْنَ»
«"Wahai orang-orang yang beriman! Mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan?"
(QS Ash-Shaff [61]: 2)»
Al-Kisai mengetukkan tongkatnya.
Al-Amin mengulangi bacaannya.
Setelah selesai, tongkat kembali diketukkan. Sampai tiga kali, tetapi al-Kisai tidak menunjukkan letak kesalahannya.
Al-Amin tidak berani bertanya karena menghormati gurunya.
Sesampainya di hadapan ayahnya, ia menceritakan kejadian tersebut. Lalu ia bertanya kepada Harun ar-Rasyid apakah sang ayah pernah membuat janji kepada gurunya yang belum ditepati.
Harun ar-Rasyid pun tersadar. Ia memang pernah berjanji memberikan suatu anugerah kepada al-Kisai, tetapi telah melupakannya.
Maka al-Kisai dipanggil dan diberikan anugerah sebagaimana mestinya.
Al-Amin telah belajar membaca tanda. Ketukan tongkat yang berulang bukan sekadar kesalahan membaca, tetapi mungkin menunjuk kepada kesalahan yang lebih dalam: mengatakan sesuatu yang belum dilakukan.
Keganjilan yang mengundang penyelidikan
Pernah pula seorang laki-laki memberitahu istrinya bahwa ia akan membawa tamu ke rumah pada keesokan hari.
Sang istri pun bersiap. Ia menumbuk tepung untuk membuat roti.
Namun ketika pagi tiba, tepung itu didapati telah dijilat anjing. Karena malu menyajikannya kepada tamu, ia membawa tepung tersebut ke pasar untuk ditukarkan dengan beras yang masih belum ditumbuk.
Seorang ahli akal yang melihat kejadian itu berkata kepada temannya:
«"Kalau tidak ada sesuatu sebab yang penting, tidaklah perempuan itu mau menukar tepung yang sudah halus dengan beras yang belum ditumbuk."»
Sekali lagi, yang diperhatikan bukan sekadar perbuatan, melainkan alasan mengapa seseorang melakukan sesuatu yang tidak lazim.
Begitu pula pepatah Melayu:
«"Kalau tidak ada berada, tidak tempua bersarang rendah."»
Burung tempua biasanya bersarang di tempat tinggi. Jika ia tiba-tiba memilih tempat yang rendah, tentu ada sebabnya: mungkin di atas ada bahaya, atau di bawah ada sesuatu yang sangat menguntungkan.
Perubahan perilaku adalah tanda. Dan tanda mengajak akal mencari sebab.
Karena itu, nenek moyang kita pun mengajarkan pentingnya memperhatikan bukti ketika hendak menilai suatu kesalahan:
«"Berjebak bak bakik, bersurih bak sipasin, berbau bak ambacang, tertangkap tangan, kecenderungan mata orang banyak."»
Semua itu menunjukkan bahwa kesalahan tidak selalu harus menunggu pengakuan. Kadang-kadang bekas perbuatan sudah berbicara lebih dahulu.
---
2. MENYELIDIKI SEBAGIAN UNTUK MEMAHAMI KESELURUHAN
Bentuk kedua kehalusan akal ialah kemampuan menyelidiki sebagian tanda untuk mendapatkan gambaran tentang keseluruhannya.
Kita tidak selalu dapat melihat seluruh keadaan secara langsung. Karena itu, akal bekerja dengan mengambil petunjuk yang tersedia, lalu menghubungkannya sehingga dapat diperoleh kesimpulan yang lebih luas.
Al-Asma'i meriwayatkan sebuah kisah dari Isa bin Umar tentang Abul Jahm Huzaifah.
Suatu ketika Abul Jahm datang menghadap Muawiyah yang sedang memerintah di Syam.
Ketika ia hendak pergi, Muawiyah berkata bahwa ia mengetahui kemuliaan Abul Jahm, kedudukannya, serta hubungan kerabatnya dengan Nabi ﷺ. Namun karena banyaknya beban pemerintahan, Muawiyah hanya dapat memberikan kepadanya seratus ribu dirham.
Abul Jahm menerimanya, tetapi di dalam hatinya ia merasa kurang puas.
Kemudian Muawiyah wafat dan digantikan oleh putranya, Yazid.
Abul Jahm kembali datang menghadap. Yazid mengatakan bahwa ia mengetahui kemuliaan dan kedudukan Abul Jahm, tetapi beban yang harus dipikulnya juga berat. Karena itu ia hanya memberikan lima puluh ribu dirham.
Abul Jahm kembali merasa kecewa.
Ia kemudian melihat kepada keadaan yang lebih luas. Muawiyah memberinya seratus ribu dirham. Yazid hanya lima puluh ribu. Dari sana ia mulai membentuk suatu penilaian tentang keadaan pemerintahan yang sedang berlangsung.
Ketika Abdullah bin Zubair menyatakan dirinya sebagai khalifah di Mekah, Abul Jahm pergi ke sana. Ia berharap menemukan kembali kemuliaan Quraisy.
Namun ketika bertemu Abdullah bin Zubair, ia hanya diberi seribu dirham.
Abul Jahm justru sangat gembira. Ia memuji Abdullah bin Zubair dengan pujian yang luar biasa.
Abdullah bin Zubair merasa heran. Mengapa orang yang dahulu menerima seratus ribu dirham dari Muawiyah tidak memuji seperti itu, sedangkan setelah menerima seribu dirham justru pujiannya begitu tinggi?
Abul Jahm menjawab dengan sindiran yang sangat tajam. Ia mengatakan bahwa setelah melihat pemberian Muawiyah, kemudian Yazid, dan terakhir Abdullah bin Zubair, ia sampai pada keyakinan bahwa jika Abdullah bin Zubair wafat, tidak ada lagi yang akan mengatur urusan orang banyak selain "babi-babi liar".
Jawaban itu pahit, tetapi di dalamnya terdapat cara berpikir yang khas: ia membaca keadaan pemerintahan melalui tanda-tanda yang ditemuinya pada orang-orang yang memegang kekuasaan.
Dari satu bagian, ia berusaha memahami keseluruhan.
Namun di sini kita juga perlu berhati-hati. Akal yang halus bukan berarti akal yang tergesa-gesa menghakimi. Kesimpulan harus dibangun dari tanda yang cukup, bukan dari prasangka.
Sebab, membaca tanda membutuhkan ketelitian; mengubah tanda menjadi kesimpulan membutuhkan kebijaksanaan.
---
3. MENETAPKAN HUKUM BERDASARKAN KESAMAAN SEBAB
Bentuk ketiga ialah menetapkan hukum pada suatu bagian karena terdapat sebab yang serupa dengan bagian yang lain.
Di sinilah pengalaman menjadi guru. Kita melihat suatu perilaku pada seseorang, kemudian kita bandingkan dengan perilaku serupa yang pernah kita lihat sebelumnya.
Pepatah orang budiman mengatakan:
«"Kalau ada orang yang suka membuka aib orang lain di hadapanmu, tandanya dia suka pula membuka aibmu di hadapan orang lain. Orang yang suka memaparkan kesalahan seseorang di hadapanmu, tandanya kesalahanmu akan dipaparkannya pula di hadapan orang lain."»
Mengapa demikian?
Karena sifat yang sama cenderung melahirkan perilaku yang sama.
Jika seseorang terbiasa menjadikan aib orang lain sebagai bahan pembicaraan, jangan terlalu cepat merasa aman hanya karena pada saat ini yang dibicarakannya bukan aib kita.
Bisa jadi hari ini ia membawa cerita tentang orang lain kepada kita. Besok ia membawa cerita tentang kita kepada orang lain.
Karena itu, akal yang halus bukan hanya bertanya:
"Apa yang sedang dilakukan orang ini?"
Tetapi juga:
"Jika sebabnya sama, apakah akibatnya kelak akan sama?"
Sayidina Ali karamallahu wajhahu mengajarkan:
«"Suatu perkara yang sulit hendaklah diambil i'tibar akhirnya daripada awalnya."»
Dalam pepatah Melayu dikatakan:
«"Kusut di ujung tali, tiliklah di pangkal tali."»
Jika kita ingin memahami kekusutan di ujung, lihatlah pangkalnya.
Sebab akhir merupakan buah dari awal.
Natijah adalah buah dari mukadimah. Kesimpulan adalah hasil dari premis.
Apa yang tampak pada akhir sering kali telah memiliki akar pada permulaan.
Karena itu, Sayidina Ali dalam suratnya kepada Haris al-Hamdani berpesan agar mengambil pelajaran dari dunia yang telah berlalu, menghubungkan ujung dengan pangkal, dan jangan menjadi orang yang tidak mempan menerima pengajaran kecuali setelah mendapatkan pukulan yang menyakitkan.
Betapa banyak manusia sebenarnya telah melihat tanda-tanda, tetapi tidak mengambil pelajaran sampai akibat buruk itu menimpa dirinya sendiri.
---
MELIHAT UJUNG DARI PANGKAL
Ada sebuah hikayat orang tua yang menggambarkan kecerdasan membaca ujung dari pangkal.
Pada suatu hari sang kancil berjalan melewati gua seekor singa tua yang sudah tidak kuat lagi mencari makanan.
Ketika melihat sang kancil, singa berkata dengan suara manis,
«"Silakan masuk ke teratak burukku, wahai Tuan Syekh Alim di rimba. Jangan segan-segan dan jangan malu."»
Sang kancil melihat ke arah mulut gua dengan sudut matanya.
Singa kembali membujuk,
«"Silakan masuk, jangan segan-segan, wahai Syekh!"»
Kancil menjawab dengan penuh hormat,
«"Terima kasih banyak-banyak. Segala titah patik junjung, daulat tuanku raja rimba. Harap diampun, tiadalah dapat patik masuk menjunjung duli. Patik akan segera pergi."»
Singa bertanya,
«"Apakah sebabnya demikian?"»
Kancil menjawab,
«"Sebab patik melihat di muka pintu istana terlalu banyak jejak orang-orang yang masuk ke dalam, tetapi tidak sebuah pun jejak yang menghadap ke luar. Selamat tinggal, tuanku."»
Kancil tidak masuk ke dalam gua karena ia tidak memerlukan bukti tambahan.
Ia melihat jejak.
Jejak itu menunjukkan apa yang telah terjadi sebelumnya. Tidak adanya jejak yang keluar memberikan petunjuk tentang apa yang mungkin terjadi kepada mereka yang masuk.
Kancil menyambungkan pangkal dengan ujung.
Ia tidak tertipu oleh kata-kata manis, karena ia lebih percaya kepada bukti yang ditinggalkan oleh kenyataan.
---
AKAL YANG HALUS TIDAK MUDAH TERTIPU
Dari seluruh kisah tersebut, kita dapat melihat bahwa memperhalus akal bukanlah sekadar menjadi pandai berbicara atau memiliki banyak pengetahuan.
Akal yang halus ialah akal yang mampu membaca tanda, menemukan sebab, membandingkan keadaan, menghubungkan pangkal dengan ujung, dan mengambil pelajaran sebelum akibat buruk datang.
Ada orang yang melihat, tetapi tidak memperhatikan.
Ada yang memperhatikan, tetapi tidak menghubungkan.
Ada yang menghubungkan, tetapi terburu-buru menyimpulkan.
Dan ada pula yang sudah mengetahui kesimpulan, tetapi tidak mengambil pelajaran darinya.
Karena itu, ilmu perlu berjalan bersama ketelitian dan kebijaksanaan.
Jangan hanya bertanya:
"Apa yang terjadi?"
Tetapi biasakan pula bertanya:
"Mengapa hal itu terjadi?"
"Tanda apa yang mendahuluinya?"
"Apa sebab yang berada di baliknya?"
"Jika sebab yang sama muncul lagi, mungkinkah akibatnya juga akan sama?"
Dan yang paling penting:
"Apa pelajaran yang harus saya ambil sebelum pengalaman itu menjadi pukulan bagi diri saya sendiri?"
Itulah salah satu jalan memperhalus akal.
Sebab kehidupan tidak selalu memberi kita kesempatan untuk melihat seluruh kenyataan. Kadang-kadang Allah hanya memperlihatkan sebagian tanda. Dari tanda itulah manusia dituntut menggunakan akalnya.
Orang yang bijaksana tidak menunggu semua pintu terbuka untuk mengetahui bahwa ada bahaya di dalam. Ia cukup membaca tanda-tanda yang telah tersedia.
Akal yang halus mampu melihat sesuatu yang belum tampak melalui sesuatu yang sudah tampak; mampu memahami keseluruhan melalui sebagian tanda; dan mampu membaca masa depan melalui pelajaran masa lalu.
Dengan demikian, ilmu tidak hanya membuat manusia lebih banyak tahu, tetapi juga membuatnya lebih tepat menimbang.
Dan pada akhirnya, kehalusan akal bukan diukur dari banyaknya kesimpulan yang dapat dibuat, melainkan dari ketepatan dalam mengambil kesimpulan dan kedalaman dalam mengambil i'tibar.
0 komentar: