Wahabi di Nusantara: Ketika Arus Pemurnian Bertemu Tradisi
Apakah Nusantara hanya menjadi penerima pengaruh dari Timur Tengah?
Ataukah Nusantara juga memberi warna terhadap gerakan-gerakan Islam yang datang dari luar?
Sejarah menunjukkan bahwa hubungan keduanya tidak pernah berjalan satu arah. Nusantara memang menerima pengaruh pemikiran dari Timur Tengah, tetapi pada saat yang sama juga mengolah, menyeleksi, dan membentuknya menjadi karakter Islam yang khas.
Salah satu contohnya adalah perjumpaan dengan gerakan yang kemudian dikenal sebagai Wahabi.
Sebelum Wahabi Lahir
Untuk memahami perjalanan ini, kita perlu mundur beberapa abad.
Ketika Imam Ibnu Taimiyah (1263–1328 M) mengemukakan gagasan pembaruan akidah dan pemurnian ajaran Islam di Damaskus, Nusantara sedang memasuki babak penting sejarahnya. Samudra Pasai berkembang sebagai kerajaan Islam, sementara Majapahit menjadi kekuatan besar di Jawa. Di belahan dunia lain, Eropa masih berada pada penghujung Abad Pertengahan.
Artinya, benih-benih pembaruan Islam di Timur Tengah telah muncul jauh sebelum gerakan Wahabi lahir pada abad ke-18.
Masuknya Pengaruh Wahabi ke Nusantara
Gerakan yang dipelopori oleh Muhammad bin 'Abd al-Wahhab (1703–1792 M) berkembang di Najd melalui kerja sama politik dengan keluarga Al Saud.
Menurut sejumlah sumber sejarah, menjelang akhir abad ke-18 mulai terdapat penyebar gagasan tersebut yang datang ke Nusantara. Buya Hamka dalam Dari Perbendaharaan Lama mencatat adanya orang-orang Arab yang membawa semangat pemurnian tauhid ke berbagai wilayah Jawa, seperti Surakarta, Yogyakarta, Cirebon, Banten, dan Madura pada masa pemerintahan Paku Buwono IV.
Pada tahap awal, kehadiran mereka memperoleh sambutan yang cukup baik.
Mengapa?
Karena pesan utama yang mereka bawa adalah penguatan tauhid dan semangat kembali kepada Al-Qur'an dan Sunnah.
Namun, perkembangan itu segera menarik perhatian pemerintah kolonial Belanda.
Belanda melihat bahwa semangat keagamaan sering kali berubah menjadi semangat politik. Tauhid tidak hanya melahirkan pembaruan ibadah, tetapi juga keberanian menolak penjajahan.
Sebagian tokoh yang dicurigai menyebarkan pengaruh tersebut kemudian diawasi, ditangkap, bahkan diusir.
Dari Makkah ke Minangkabau
Gelombang berikutnya datang bukan melalui pedagang Arab, melainkan melalui ulama Nusantara sendiri.
Sekitar awal abad ke-19, tiga orang haji Minangkabau—Haji Miskin, Haji Sumanik, dan Haji Piobang—kembali dari Makkah membawa semangat pembaruan yang mereka jumpai di Tanah Suci.
Di Minangkabau, gagasan itu bertemu dengan persoalan sosial yang telah lama berkembang.
Lahirlah Gerakan Padri.
Pada mulanya, gerakan ini berfokus pada reformasi moral dan keagamaan. Namun, setelah campur tangan Belanda, konflik berkembang menjadi perang melawan kolonialisme yang berlangsung selama lebih dari tiga dasawarsa.
Christine Dobbin dalam Islamic Revivalism in a Changing Peasant Economy menunjukkan bahwa Perang Padri tidak dapat dipahami hanya sebagai konflik keagamaan. Di dalamnya terdapat perubahan sosial, ekonomi, dan politik yang saling bertaut.
Dari Pemurnian Menuju Pembaruan
Memasuki awal abad ke-20, pengaruh pembaruan Islam tampil dalam wajah yang berbeda.
Di Minangkabau lahir Gerakan Kaum Muda.
Di Jawa muncul Muhammadiyah yang didirikan KH Ahmad Dahlan.
Di kalangan masyarakat Arab berkembang Al-Irsyad yang dipimpin Syekh Ahmad Surkati.
Meskipun sering dikaitkan dengan pengaruh pembaruan dari Timur Tengah, para sejarawan mengingatkan bahwa tidak tepat menyamakan seluruh gerakan pembaruan di Indonesia dengan Wahabisme.
Azyumardi Azra menjelaskan bahwa jaringan ulama Nusantara lebih banyak dipengaruhi tradisi reformisme yang luas di Haramain. Mereka menyerap gagasan pembaruan, tetapi tetap membawanya ke dalam konteks sosial dan budaya Nusantara.
Deliar Noer juga menunjukkan bahwa gerakan modernis Indonesia berkembang melalui pendidikan, dakwah, pelayanan sosial, dan pembaruan pemikiran, bukan sekadar reproduksi gerakan Wahabi dari Najd.
Ketika Nusantara Memberi Warna
Di sinilah sejarah mengambil arah yang menarik.
Bukan hanya Timur Tengah yang memengaruhi Nusantara.
Nusantara pun mulai memengaruhi Timur Tengah.
Ketika Abdul Aziz Ibnu Saud menguasai Hijaz dan muncul kekhawatiran bahwa praktik empat mazhab akan dibatasi di Makkah dan Madinah, para ulama Nusantara mengambil langkah diplomasi.
Mereka membentuk Komite Hijaz.
Delegasi ini memohon agar umat Islam dari berbagai mazhab tetap diberi kebebasan menjalankan ajaran masing-masing di tanah suci.
Peristiwa tersebut kemudian menjadi salah satu latar penting berdirinya Nahdlatul Ulama pada 31 Januari 1926.
Peristiwa ini memperlihatkan sesuatu yang jarang disorot.
Ulama Nusantara tidak sekadar menerima pengaruh dari Timur Tengah.
Mereka juga membawa aspirasi umat Islam Asia Tenggara ke pusat dunia Islam.
Mengapa Berbeda dengan Salafi Arab Saudi?
Pertanyaan yang sering muncul adalah mengapa gerakan Salafi di Arab Saudi tampak berbeda dengan organisasi-organisasi Islam Indonesia yang pada awal sejarahnya sama-sama dipengaruhi arus pembaruan?
Jawabannya terletak pada proses transformasi.
Di Nusantara, setiap gagasan asing bertemu dengan tradisi pesantren, budaya musyawarah, pengalaman hidup dalam masyarakat majemuk, serta perjuangan panjang melawan kolonialisme.
Akibatnya, gagasan yang datang dari luar tidak diterima secara utuh.
Ia mengalami proses seleksi, penyesuaian, bahkan perubahan arah.
Muhammadiyah berkembang sebagai gerakan pendidikan, kesehatan, dan pelayanan sosial.
Nahdlatul Ulama mempertahankan tradisi fikih mazhab, tasawuf, dan pesantren sambil tetap terlibat dalam perjuangan kebangsaan.
Keduanya lahir dari konteks Indonesia, bukan sekadar perpanjangan tangan gerakan Timur Tengah.
Kesimpulan
Sejarah menunjukkan bahwa Nusantara bukan ruang kosong yang hanya menerima pengaruh.
Ia adalah ruang dialog.
Pemikiran dari Timur Tengah memang datang dan memberi warna.
Namun, ketika memasuki bumi Nusantara, pemikiran itu bertemu dengan tradisi lokal, pengalaman sejarah, dan kebutuhan masyarakat yang berbeda.
Hasilnya bukan salinan, melainkan transformasi.
Karena itu, lebih tepat mengatakan bahwa Nusantara bukan hanya diwarnai oleh arus pembaruan Islam, tetapi juga mewarnai perkembangan pemikiran Islam itu sendiri.
Di situlah letak kekhasan Islam Nusantara: terbuka terhadap pembaruan, tetapi tetap mampu mempertahankan identitasnya sendiri.
0 komentar: