Mengobati Jiwa Saat Diejek dan Dihina
Siapa yang tidak terluka ketika dihina?
Siapa yang tidak sesak dadanya ketika menjadi bahan olok-olok, difitnah, atau direndahkan di hadapan orang lain?
Perasaan itu sangat manusiawi. Bahkan Rasulullah ﷺ, manusia yang paling mulia, juga mengalaminya.
Ketika Rasulullah Menjadi Sasaran Ejekan
Pada fase awal dakwah di Mekah, Rasulullah ﷺ bukan hanya ditolak. Beliau dijadikan sasaran penghinaan.
Para pembesar Quraisy membentuk barisan yang dikenal sebagai al-mustahzi'un, yaitu orang-orang yang menjadikan ejekan sebagai senjata untuk menghentikan dakwah.
Di antara mereka ialah al-Walid bin Mughirah, al-'Ash bin Wa'il, al-'Adi bin Qais, Aswad bin Abdu Yaghuts, dan Aswad bin Muththalib.
Mereka tidak sekadar menolak ajaran Islam. Mereka berusaha menghancurkan kehormatan Rasulullah ﷺ.
Beliau dituduh sebagai penyihir, dukun, orang gila, bahkan pendusta. Al-Qur'an disebut sebagai dongeng orang-orang terdahulu. Ketika Rasulullah shalat di dekat Ka'bah, mereka mengganggu beliau. Ketika beliau berbicara kepada manusia, mereka menyebarkan fitnah agar tidak ada yang mau mendengarkan.
Mereka memahami bahwa jika pribadi Rasulullah berhasil diruntuhkan, dakwah pun akan ikut melemah.
Allah Lebih Dahulu Menenangkan Nabi
Lalu bagaimana Allah mengobati luka itu?
Yang menarik, Allah tidak langsung memerintahkan Rasulullah untuk membalas ejekan mereka.
Allah terlebih dahulu memberikan jaminan:
«اِنَّا كَفَيْنٰكَ الْمُسْتَهْزِءِيْنَ
"Sesungguhnya Kamilah yang akan memeliharamu dari orang-orang yang memperolok-olokkanmu." (QS. Al-Hijr: 95)»
Seolah Allah berfirman, "Wahai Muhammad, urusan mereka adalah urusan-Ku. Engkau tidak perlu membalas setiap ejekan. Aku sendiri yang akan mencukupimu."
Ini adalah terapi pertama bagi jiwa yang terluka: meyakini bahwa Allah mengetahui dan menjaga hamba-Nya.
Allah Mengakui Luka Itu
Namun Allah juga mengetahui bahwa jaminan itu tidak serta-merta menghilangkan rasa sakit.
Karena itu Allah berfirman:
«وَلَقَدْ نَعْلَمُ اَنَّكَ يَضِيْقُ صَدْرُكَ بِمَا يَقُوْلُوْنَ
"Sungguh, Kami benar-benar mengetahui bahwa dadamu menjadi sempit karena apa yang mereka ucapkan." (QS. Al-Hijr: 97)»
Betapa indah ayat ini.
Allah tidak mengatakan, "Jangan bersedih."
Allah justru mengakui kesedihan Rasul-Nya.
Seakan-akan Allah berkata, "Aku mengetahui apa yang sedang engkau rasakan."
Inilah hiburan pertama. Seorang mukmin tidak pernah sendirian menghadapi luka batinnya.
Apa Obatnya?
Setelah mengakui kesedihan Rasulullah ﷺ, Allah tidak memerintahkan beliau membalas hinaan dengan hinaan.
Allah memberikan resep yang sangat berbeda.
«فَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ وَكُنْ مِّنَ السَّاجِدِيْنَ
"Maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan jadilah engkau termasuk orang-orang yang bersujud." (QS. Al-Hijr: 98)»
Mengapa bertasbih?
Karena ketika manusia terlalu lama memikirkan perkataan manusia, jiwanya menjadi sempit.
Tetapi ketika ia memperbanyak mengingat Allah, ukuran persoalannya berubah. Yang semula terasa sangat besar menjadi kecil di hadapan kebesaran Allah.
Lalu Allah memerintahkan sujud.
Sujud adalah posisi paling dekat antara seorang hamba dengan Rabbnya. Di tempat itulah luka-luka hati paling mudah disembuhkan.
Terus Beribadah, Jangan Berhenti Karena Hinaan
Allah kemudian menutup rangkaian ayat ini dengan pesan yang sangat kuat.
«وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتّٰى يَأْتِيَكَ الْيَقِيْنُ
"Sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu kepastian (kematian)." (QS. Al-Hijr: 99)»
Jangan biarkan ejekan manusia menghentikan ibadahmu.
Jangan biarkan penghinaan membuatmu meninggalkan jalan yang benar.
Teruslah beribadah sampai akhir kehidupan.
Pelajaran bagi Kita
Rangkaian ayat ini mengajarkan urutan penyembuhan jiwa yang sangat indah.
Pertama, Allah memberikan rasa aman: "Kami akan mencukupimu."
Kedua, Allah mengakui rasa sakit hamba-Nya: "Kami mengetahui dadamu menjadi sempit."
Ketiga, Allah memberikan terapi ruhani: bertasbih, sujud, dan memperbanyak ibadah.
Keempat, Allah mengajarkan istiqamah: tetaplah beribadah hingga akhir hayat.
Ternyata obat bagi hati yang terluka bukanlah membalas setiap hinaan.
Obatnya adalah semakin dekat kepada Allah.
Semakin keras suara manusia merendahkan kita, semakin kuat pula alasan untuk memperbanyak tasbih, memperpanjang sujud, dan mengokohkan ibadah.
Karena pada akhirnya, bukan manusia yang menentukan kemuliaan seseorang.
Allah-lah yang menjaga kehormatan hamba-hamba-Nya yang tetap teguh di jalan-Nya.
0 komentar: