basmalah Pictures, Images and Photos
Our Islamic Story

Sudahkah Kita Mengenali dan Mensyukuri Nikmat Allah? Per...

Sudahkah Kita Mengenali dan Mensyukuri Nikmat Allah?



Pernahkah kita memperhatikan sesuatu yang sederhana dalam kehidupan kita?

Ketika seseorang memberikan bantuan kepada kita, meskipun kecil, sering kali kita segera mengucapkan terima kasih. Bahkan kita dapat berkali-kali memuji orang yang telah membantu kita. Kita mengingat kebaikannya dan merasa berutang budi kepadanya.

Namun, pernahkah kita berhenti sejenak untuk menghitung nikmat Allah yang kita terima setiap hari?

Bukankah nikmat-Nya jauh lebih besar daripada bantuan manusia kepada kita?

Kita menerima penglihatan, pendengaran, akal, kesehatan, makanan, air, udara, keluarga, keamanan, kesempatan hidup, dan begitu banyak nikmat lainnya tanpa pernah mampu membayarnya. Bahkan kita sering menikmatinya tanpa menyadari bahwa semua itu adalah karunia Allah.

Seolah-olah nikmat tersebut adalah hak kita.

Seolah-olah kita memperolehnya semata-mata karena usaha kita sendiri.

Lebih ironis lagi, ada manusia yang menggunakan nikmat Allah justru untuk mendurhakai-Nya.

Bukankah ini sebuah kelalaian?

Bukankah ini bentuk ketidaksyukuran yang sangat besar?

Allah berfirman,

«“Dan apa saja nikmat yang ada padamu, maka dari Allah-lah (datangnya), dan bila kamu ditimpa oleh kemudharatan, maka kepada-Nyalah kamu meminta pertolongan. Kemudian apabila Dia telah menghilangkan kemudharatan itu daripada kamu, tiba-tiba sebagian dari kamu mempersekutukan Tuhannya dengan (yang lain). Biarlah mereka mengingkari nikmat yang telah Kami berikan kepada mereka; maka bersenang-senanglah kamu, kelak kamu akan mengetahui (akibatnya).”
(QS. An-Nahl: 53–55)»

Sering kali manusia baru menyadari nilai sebuah nikmat setelah nikmat itu hilang.

Ketika mata masih melihat, kita jarang memikirkannya. Ketika pendengaran masih berfungsi, kita tidak banyak merenungkannya. Ketika tubuh sehat, kita menganggap kesehatan sebagai sesuatu yang biasa.

Tetapi ketika sakit datang, ketika penglihatan terganggu, ketika pendengaran hilang, atau ketika anggota tubuh tidak lagi berfungsi sebagaimana mestinya, barulah kita menyadari betapa mahalnya nikmat yang selama ini kita miliki.

Mengapa harus menunggu kehilangan untuk bersyukur?

Mengapa harus menunggu musibah untuk mengenal karunia Allah?

Allah telah mengingatkan kita,

«“Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak dapat menghitungnya. Sesungguhnya manusia itu sangat zalim dan sangat mengingkari (nikmat).”
(QS. Ibrahim: 34)»

Karena itu, Al-Qur’an mengajak kita bukan sekadar menerima nikmat, tetapi mengenali nikmat, menyadari sumbernya, menghargainya, memuji Allah atasnya, dan menggunakannya untuk menaati-Nya.

Mari kita berhenti sejenak.

Mari kita bertanya kepada diri sendiri:

Sudahkah kita benar-benar mengenal nikmat Allah yang selama ini kita nikmati?

---

Nikmat Terbesar: Nikmat Islam

Mari kita mulai dari nikmat yang paling besar dan paling agung: nikmat Islam.

Allah berfirman,

«“Pada hari ini telah Aku sempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Aku cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Aku ridhai Islam itu menjadi agama bagimu.”
(QS. Al-Ma’idah: 3)»

Allah juga berfirman,

«“Sesungguhnya agama (yang diridhai) di sisi Allah hanyalah Islam.”
(QS. Ali ‘Imran: 19)»

Dan,

«“Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama) itu daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.”
(QS. Ali ‘Imran: 85)»

Lalu, apakah kita benar-benar menyadari besarnya nikmat Islam?

Sebagian kaum Muslimin mungkin kurang merasakan nilainya karena mereka memperoleh Islam melalui keluarga. Mereka lahir dari orang tua Muslim, tumbuh dalam lingkungan Muslim, mendengar azan sejak kecil, dan mengenal nama Allah sejak masih kanak-kanak.

Karena tidak perlu bersusah payah mendapatkannya, terkadang kita justru tidak menyadari betapa mahalnya nikmat tersebut.

Padahal nikmat Islam adalah nikmat yang tidak dapat dibandingkan dengan nikmat dunia apa pun.

Kehilangan harta adalah musibah.

Kehilangan pekerjaan adalah musibah.

Kehilangan sebagian kesehatan adalah musibah.

Kehilangan orang yang kita cintai adalah musibah.

Tetapi kehilangan agama jauh lebih besar daripada semua itu.

Sebab harta hanya menemani kita di dunia. Sedangkan agama menentukan keselamatan kita di dunia dan akhirat.

Dengan Islam, manusia menemukan arah hidup, mengenal Rabb-nya, mengetahui tujuan penciptaannya, memahami halal dan haram, serta memiliki harapan terhadap kehidupan setelah kematian.

Karena itu, Rasulullah saw. mengajarkan doa agar musibah terbesar bukanlah musibah dunia, tetapi musibah yang menimpa agama.

Maka pantaskah kita hanya bangga karena terlahir sebagai Muslim?

Bukankah kita harus berusaha menjadi Muslim yang benar-benar tunduk kepada Allah, bukan sekadar Muslim karena keturunan dan pengakuan?

Allah mengajarkan kepada kita sebuah doa yang sangat indah:

«“Segala puji bagi Allah yang telah menunjuki kami kepada (surga) ini, dan kami sekali-kali tidak akan mendapat petunjuk kalau Allah tidak memberi kami petunjuk.”
(QS. Al-A’raf: 43)»

Maka jangan hanya berkata, “Saya seorang Muslim.”

Tetapi tanyakan kepada diri:

Apakah nikmat Islam itu telah mengubah cara saya hidup?

Apakah Islam telah menjadi pedoman dalam pikiran, perkataan, pekerjaan, keluarga, dan seluruh kehidupan saya?

---

Mempertahankan Nikmat Islam Sampai Akhir Hayat

Mendapatkan nikmat Islam adalah karunia.

Tetapi mempertahankannya sampai akhir hayat adalah perjuangan.

Allah berfirman,

«“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah kamu sekali-kali mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.”
(QS. Ali ‘Imran: 102)»

Perhatikanlah doa Nabi Yusuf a.s.

Setelah Allah memberinya kekuasaan, ilmu, dan kedudukan, beliau tidak meminta agar kekuasaannya bertambah.

Beliau justru memohon keselamatan yang lebih besar:

«“Ya Tuhanku, sesungguhnya Engkau telah mengaruniakan kerajaan kepadaku dan mengajarkan kepadaku sebagian dari takwil mimpi. Ya Tuhanku, Pencipta langit dan bumi, Engkaulah pelindungku di dunia dan di akhirat. Wafatkanlah aku dalam keadaan Muslim dan gabungkanlah aku dengan orang-orang yang saleh.”
(QS. Yusuf: 101)»

Mengapa Nabi Yusuf berdoa demikian?

Karena segala sesuatu pada akhirnya dinilai dari kesudahannya.

Bukan hanya bagaimana kita memulai hidup, tetapi bagaimana kita mengakhirinya.

Bukan hanya berapa banyak yang kita miliki, tetapi dalam keadaan apa kita bertemu dengan Allah.

---

Nikmat Ukhuwah

Setelah nikmat Islam, ada nikmat besar lainnya yang sering kita lupakan: ukhuwah karena Allah.

Pernahkah kita merasakan nikmat memiliki saudara yang mencintai kita bukan karena harta, jabatan, keturunan, atau kepentingan dunia, tetapi karena Allah?

Ada orang yang mengingatkan kita ketika kita salah.

Ada yang mendoakan kita ketika kita tidak mengetahuinya.

Ada yang menolong ketika kita kesulitan.

Ada yang menasihati ketika kita mulai menyimpang.

Ada yang ikut bahagia ketika kita mendapatkan kebaikan.

Bukankah semua itu nikmat?

Allah berfirman,

«“Dan (Allah-lah) yang mempersatukan hati mereka (orang-orang yang beriman). Walaupun kamu membelanjakan semua kekayaan yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka. Sesungguhnya Dia Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.”
(QS. Al-Anfal: 63)»

Dan Allah berfirman,

«“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa jahiliah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah orang-orang yang bersaudara.”
(QS. Ali ‘Imran: 103)»

Bayangkan kehidupan tanpa ukhuwah.

Bagaimana rasanya hidup di tengah orang-orang yang hatinya dipenuhi dendam?

Bagaimana rasanya hidup bersama orang yang selalu iri terhadap keberhasilan kita?

Bagaimana rasanya hidup dalam lingkungan yang dipenuhi kebencian, permusuhan, dan saling menjatuhkan?

Bukankah kehidupan seperti itu sangat melelahkan?

Maka ketika Allah mempertemukan kita dengan orang-orang yang mencintai kita karena-Nya, jangan anggap itu sesuatu yang biasa.

Itu nikmat.

Dan nikmat harus disyukuri.

---

Pernahkah Kita Membayangkan Kehilangan Penglihatan?

Sekarang mari kita turun kepada nikmat yang lebih dekat dengan tubuh kita.

Cobalah duduk sendirian sejenak.

Pejamkan mata.

Bayangkan suatu hari penglihatan kita benar-benar hilang.

Dokter mengatakan bahwa penglihatan itu tidak mungkin kembali.

Bagaimana kehidupan kita setelah itu?

Bagaimana kita bekerja?

Bagaimana kita membaca?

Bagaimana kita berjalan?

Bagaimana kita mengenali wajah orang yang kita cintai?

Bagaimana kita menikmati keindahan alam?

Betapa banyak aktivitas yang tiba-tiba menjadi sulit.

Pada saat itu, bukankah kita akan menyadari bahwa penglihatan ternyata jauh lebih berharga daripada harta yang selama ini kita kejar?

Jika seseorang menawarkan pilihan:

“Kamu boleh memiliki harta yang sangat banyak, tetapi kehilangan penglihatanmu, atau mempertahankan penglihatanmu tanpa mendapatkan harta itu.”

Apa yang akan kita pilih?

Bukankah kita akan memilih penglihatan?

Lalu mengapa ketika mata masih sehat, kita gunakan untuk melihat sesuatu yang Allah haramkan?

Mengapa kita baru berjanji untuk taat setelah kehilangan?

Mengapa tidak bersyukur sebelum musibah datang?

---

Bagaimana Jika Pendengaran Pun Hilang?

Sekarang bayangkan sesuatu yang lebih berat.

Penglihatan hilang.

Kemudian pendengaran pun hilang.

Kita tidak dapat melihat dunia dan tidak dapat mendengar suara di sekitar kita.

Betapa sempit rasanya kehidupan.

Betapa besar kebutuhan kita kepada orang lain.

Saat itulah kita mungkin baru menyadari:

Ternyata mendengar adalah nikmat.

Suara anak kita adalah nikmat.

Suara pasangan kita adalah nikmat.

Suara azan adalah nikmat.

Suara Al-Qur’an adalah nikmat.

Suara orang yang memberi nasihat adalah nikmat.

Bukankah selama ini kita sering mendengar semuanya tanpa pernah benar-benar bersyukur?

Karena itu, selama pendengaran masih diberikan, mari kita gunakan untuk mendengar yang halal dan bermanfaat.

Jangan tunggu pendengaran hilang untuk mengetahui nilainya.

---

Bagaimana Jika Suara Kita Pun Hilang?

Sekarang bayangkan suara kita pun tidak dapat digunakan.

Kita ingin menyampaikan sesuatu, tetapi tidak mampu mengucapkannya.

Orang lain ingin memahami keinginan kita, tetapi kita kesulitan menyampaikannya.

Betapa beratnya berkomunikasi.

Bukankah kemampuan berbicara adalah nikmat?

Maka selama suara masih ada, mengapa kita gunakan untuk mencela?

Mengapa untuk berdusta?

Mengapa untuk menyakiti?

Mengapa untuk menyebarkan keburukan?

Bukankah lebih pantas jika kita berkata:

“Ya Allah, selama Engkau memberikan suara kepadaku, jadikan lisanku sebagai sarana untuk berkata benar, mengingat-Mu, menasihati dalam kebaikan, dan tidak menyakiti hamba-Mu.”

---

Nikmat Akal

Lalu bagaimana dengan akal?

Ini adalah nikmat yang sangat besar.

Kita dapat berpikir.

Kita dapat memahami.

Kita dapat membedakan yang bermanfaat dan yang berbahaya.

Kita dapat belajar.

Kita dapat mengambil pelajaran dari masa lalu.

Kita dapat mengenal tanda-tanda kebesaran Allah.

Cobalah bayangkan jika tubuh kita sehat, mata kita melihat, telinga kita mendengar, tetapi kemampuan berpikir kita hilang.

Kita tidak mampu memahami apa yang terjadi.

Kita tidak mampu mengendalikan tindakan.

Kita tidak mampu berkomunikasi secara normal dengan orang lain.

Bukankah saat itu kita akan menyadari betapa agungnya nikmat akal?

Karena itu, akal jangan digunakan untuk mencari jalan menuju kemurkaan Allah.

Gunakan akal untuk mengenal Allah.

Gunakan untuk memahami wahyu-Nya.

Gunakan untuk mencari ilmu.

Gunakan untuk membedakan kebenaran dari kebatilan.

Gunakan untuk menghasilkan sesuatu yang bermanfaat bagi manusia.

---

Tubuh yang Sehat: Nikmat yang Sering Dianggap Biasa

Masih banyak nikmat lain pada tubuh kita.

Tangan.

Jari-jemari.

Kaki.

Telapak kaki.

Saraf.

Jantung.

Paru-paru.

Ginjal.

Lambung.

Dan berbagai organ yang bekerja tanpa pernah kita perintah satu per satu.

Pernahkah kita bertanya:

Siapa yang membuat semuanya bekerja begitu teratur?

Satu gangguan kecil pada sistem tubuh dapat mengubah kehidupan seseorang secara drastis.

Satu saraf yang terganggu dapat menyebabkan kelumpuhan.

Satu organ yang gagal berfungsi dapat membuat seseorang harus menjalani perawatan panjang.

Maka Allah mengingatkan,

«“Hai manusia, apakah yang telah memperdayakan kamu (berbuat durhaka) terhadap Tuhanmu Yang Maha Pemurah, yang telah menciptakan kamu lalu menyempurnakan kejadianmu dan menjadikan (susunan tubuh)mu seimbang, dalam bentuk apa saja yang Dia kehendaki, Dia menyusun tubuhmu.”
(QS. Al-Infithar: 6–8)»

Lalu mengapa kita masih merasa biasa saja?

Mengapa kita baru menyadari nikmat kesehatan ketika sakit?

Bukankah lebih baik bersyukur ketika sehat daripada menyesal ketika sakit?

---

Air, Udara, Makanan, dan Kehangatan

Tubuh kita membutuhkan makanan.

Membutuhkan air.

Membutuhkan udara.

Membutuhkan suhu yang sesuai.

Semua itu tersedia di sekitar kita.

Tetapi pernahkah kita memikirkan perjalanan sebuah gelas air sampai ke tangan kita?

Air laut menguap.

Uap air naik.

Awan terbentuk.

Angin membawa dan menggerakkannya.

Hujan turun.

Air mengalir melalui tanah, pegunungan, sungai, dan berbagai saluran.

Kemudian air itu sampai kepada kita.

Kita hanya membuka keran.

Air mengalir.

Kita minum.

Selesai.

Tetapi apakah sesederhana itu?

Tidak.

Di balik segelas air terdapat rangkaian proses yang sangat panjang dan berada dalam ketetapan Allah.

Allah berfirman,

«“Dan Kami jadikan dari air segala sesuatu yang hidup.”
(QS. Al-Anbiya: 30)»

Begitu pula udara.

Kita menghirupnya tanpa membeli.

Kita tidak menghitung setiap tarikan napas.

Kita tidak memikirkan nilainya setiap detik.

Namun jika udara terhenti hanya beberapa saat saja, kita akan menyadari betapa mahalnya nikmat tersebut.

Maka mengapa kita tidak bersyukur ketika masih dapat bernapas?

---

Nikmat Keluarga

Bagaimana dengan pasangan hidup?

Bagaimana dengan anak-anak?

Bukankah mereka juga nikmat Allah?

Allah mengajarkan doa,

«“Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami istri-istri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.”
(QS. Al-Furqan: 74)»

Pasangan yang saleh bukan sekadar teman hidup.

Ia dapat menjadi tempat beristirahatnya jiwa.

Ia dapat menjadi teman dalam ketaatan.

Ia dapat menjadi orang yang mengingatkan ketika kita lalai.

Demikian pula anak.

Anak yang saleh dapat menjadi sumber kebahagiaan dan doa bagi orang tuanya.

Sebaliknya, pasangan atau keturunan yang tidak baik dapat menjadi sumber kesusahan dan fitnah.

Maka jangan hanya meminta keluarga yang membahagiakan kita.

Mintalah kepada Allah agar kita juga menjadi pasangan dan orang tua yang membahagiakan keluarga kita.

Allah berfirman,

«“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.”
(QS. Ar-Rum: 21)»

---

Sudahkah Kita Berpikir?

Allah berfirman,

«“Allah-lah yang menciptakan langit dan bumi dan menurunkan air dari langit, kemudian Dia mengeluarkan dengan air hujan itu berbagai buah-buahan menjadi rezeki bagimu; dan Dia telah menundukkan bahtera bagimu supaya bahtera itu berlayar di lautan dengan kehendak-Nya, dan Dia telah menundukkan pula bagimu sungai-sungai. Dan Dia telah menundukkan pula bagimu matahari dan bulan yang terus-menerus beredar dalam orbitnya; dan telah memberikan kepadamu keperluanmu dari segala apa yang kamu mohonkan kepada-Nya. Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak dapat menghitungnya. Sesungguhnya manusia itu sangat zalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah).”
(QS. Ibrahim: 32–34)»

Maha benar Allah.

Kita tidak akan mampu menghitung nikmat-Nya.

Bahkan kemampuan kita untuk menghitung pun merupakan nikmat dari-Nya.

Kita tidak mampu memenuhi seluruh hak syukur kepada-Nya.

Karena itu, bagaimana mungkin kita sombong?

Bagaimana mungkin kita merasa tidak membutuhkan-Nya?

Bagaimana mungkin kita menggunakan nikmat-Nya untuk mendurhakai-Nya?

---

Pernahkah Kita Memikirkan Nikmat Malam dan Siang?

Kita terbiasa dengan pergantian siang dan malam.

Pagi datang.

Siang berlalu.

Malam tiba.

Kita tidur.

Kemudian bangun kembali.

Semuanya terasa biasa.

Tetapi bagaimana jika malam tidak pernah berakhir?

Allah berfirman,

«“Katakanlah: ‘Terangkanlah kepadaku jika Allah menjadikan untukmu malam itu terus-menerus sampai hari kiamat, siapakah Tuhan selain Allah yang akan mendatangkan siang kepadamu yang kamu beristirahat padanya? Maka apakah kamu tidak memperhatikan?’”
(QS. Al-Qashash: 71)»

Allah melanjutkan,

«“Dan karena rahmat-Nya, Dia jadikan untukmu malam dan siang, supaya kamu beristirahat pada malam itu dan supaya kamu mencari sebagian dari karunia-Nya (pada siang hari) dan agar kamu bersyukur kepada-Nya.”
(QS. Al-Qashash: 73)»

Tidur pun nikmat.

Bayangkan seseorang ingin tidur, tetapi tidak mampu tidur.

Ia berbaring berjam-jam.

Tubuhnya lelah.

Pikirannya ingin beristirahat.

Tetapi matanya tidak kunjung terpejam.

Saat itu ia akan memahami:

Ternyata tidur adalah nikmat.

Demikian pula bangun.

Demikian pula pagi.

Demikian pula siang.

Demikian pula malam.

Semuanya adalah nikmat Allah.

---

Apakah Engkau Telah Bersyukur?

Sungguh, kita tidak akan mampu menyelesaikan pembicaraan tentang nikmat Allah.

Bagaimana mungkin?

Setiap detik kehidupan kita dipenuhi nikmat.

Ketika bergerak, ada nikmat.

Ketika berbicara, ada nikmat.

Ketika makan, ada nikmat.

Ketika minum, ada nikmat.

Ketika tidur, ada nikmat.

Ketika bangun, ada nikmat.

Ketika melihat, ada nikmat.

Ketika mendengar, ada nikmat.

Ketika mencium, ada nikmat.

Ketika merasakan, ada nikmat.

Bahkan ketika kita mampu mengucapkan “Alhamdulillah”, kemampuan itu sendiri adalah nikmat.

Maka pertanyaannya bukan lagi:

“Berapa banyak nikmat yang saya miliki?”

Sebab kita tidak akan mampu menghitungnya.

Pertanyaannya adalah:

“Sudahkah saya menyadari nikmat tersebut?”

“Sudahkah saya bersyukur?”

“Untuk apa saya menggunakan nikmat itu?”

Sebab syukur bukan sekadar ucapan Alhamdulillah.

Syukur juga berarti menggunakan nikmat sesuai dengan tujuan yang Allah ridhai.

Mata yang disyukuri adalah mata yang dijaga dari yang haram.

Telinga yang disyukuri adalah telinga yang digunakan untuk mendengar kebenaran.

Lisan yang disyukuri adalah lisan yang berkata baik.

Akal yang disyukuri adalah akal yang digunakan untuk mengenal Allah dan mencari kebenaran.

Harta yang disyukuri adalah harta yang digunakan pada jalan yang halal.

Kesehatan yang disyukuri adalah kesehatan yang digunakan untuk ketaatan.

---

Jangan Mengukur Nikmat Hanya dengan Uang

Salah satu kesalahan manusia adalah menganggap nikmat hanya berupa pendapatan.

Jika gajinya bertambah, ia merasa Allah memuliakannya.

Jika penghasilannya berkurang, ia merasa Allah menghinakannya.

Padahal Allah berfirman,

«“Adapun manusia apabila Tuhannya mengujinya lalu memuliakannya dan diberinya kesenangan, maka dia berkata, ‘Tuhanku telah memuliakanku.’ Adapun bila Tuhannya mengujinya lalu membatasi rezekinya, maka dia berkata, ‘Tuhanku menghinakanku.’”
(QS. Al-Fajr: 15–16)»

Benarkah kemuliaan hanya diukur dengan banyaknya harta?

Benarkah kesempitan rezeki selalu berarti kehinaan?

Tidak.

Hidup ini adalah ujian.

Allah berfirman,

«“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan yang sebenar-benarnya. Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan.”
(QS. Al-Anbiya: 35)»

Kita diuji dengan kekayaan.

Kita juga diuji dengan kemiskinan.

Kita diuji dengan kesehatan.

Kita juga diuji dengan sakit.

Kita diuji dengan keberhasilan.

Kita juga diuji dengan kegagalan.

Kita diuji dengan kelapangan.

Kita juga diuji dengan kesempitan.

Maka jangan hanya bertanya:

“Mengapa Allah memberikan ini kepadaku?”

Tetapi bertanyalah:

“Apa yang Allah kehendaki dariku melalui nikmat ini?”

---

Dari Menikmati Nikmat Menuju Mengenal Pemberi Nikmat

Setelah perjalanan panjang ini, semoga kita memperoleh satu bekal penting: ma’rifah terhadap karunia Allah.

Kita mulai menyadari bahwa seluruh kehidupan kita bergantung kepada-Nya.

Kita tidak berdiri sendiri.

Kita tidak hidup dengan kekuatan kita sendiri.

Kita tidak bernapas dengan kemampuan kita sendiri.

Kita tidak melihat dengan kekuatan kita sendiri.

Kita tidak berpikir dengan kekuatan kita sendiri.

Bahkan kemampuan kita untuk berusaha pun merupakan nikmat Allah.

Lalu, bagaimana mungkin kita menggunakan nikmat-Nya untuk melawan-Nya?

Bagaimana mungkin mata yang Allah berikan digunakan untuk bermaksiat kepada-Nya?

Bagaimana mungkin telinga yang Allah berikan digunakan untuk mendengar sesuatu yang Dia murkai?

Bagaimana mungkin lisan yang Allah berikan digunakan untuk menyakiti hamba-hamba-Nya?

Bagaimana mungkin harta yang Allah titipkan digunakan untuk sesuatu yang haram?

Nikmat yang tidak disyukuri dapat berubah menjadi bencana.

Sebab masalahnya bukan hanya pada apa yang kita miliki, tetapi bagaimana kita menggunakan apa yang kita miliki.

---

Mari Bertanya kepada Diri Sendiri

Maka sebelum kita mengakhiri renungan ini, mari duduk sejenak bersama diri kita sendiri.

Tanyakanlah:

Sudahkah aku bersyukur atas nikmat Islam?

Sudahkah aku menjaga iman yang Allah karuniakan kepadaku?

Sudahkah aku mensyukuri keluarga yang Allah berikan?

Sudahkah aku mensyukuri kesehatan sebelum kesehatan itu hilang?

Sudahkah aku menggunakan mataku untuk melihat yang halal?

Sudahkah aku menggunakan telingaku untuk mendengar kebaikan?

Sudahkah aku menggunakan lisanku untuk berkata benar?

Sudahkah aku menggunakan akalku untuk mengenal Allah?

Sudahkah aku menggunakan hartaku untuk sesuatu yang diridhai-Nya?

Sudahkah aku mensyukuri waktu yang setiap hari berlalu tanpa pernah kembali?

Dan pertanyaan yang paling penting:

Jika semua nikmat yang sedang kita nikmati hari ini adalah titipan Allah, apakah kita telah menggunakan titipan itu sesuai dengan kehendak Pemiliknya?

Mungkin selama ini kita terlalu sibuk menghitung apa yang belum kita miliki.

Padahal Allah telah memberikan begitu banyak hal yang bahkan tidak pernah kita minta.

Mungkin kita terlalu sibuk mengeluhkan kekurangan.

Padahal ada jutaan nikmat yang setiap hari bekerja dalam tubuh dan kehidupan kita tanpa kita sadari.

Mungkin kita terlalu sering meminta tambahan nikmat.

Padahal kita belum selesai mensyukuri nikmat yang sudah ada.

Maka mulai hari ini, jangan hanya melihat apa yang hilang.

Lihatlah apa yang masih Allah berikan.

Jangan hanya menghitung kekurangan.

Hitunglah karunia.

Jangan menunggu musibah untuk belajar bersyukur.

Bersyukurlah sebelum kehilangan.

Jangan menunggu sakit untuk mengenal nikmat sehat.

Kenalilah kesehatan ketika tubuh masih kuat.

Jangan menunggu kehilangan iman untuk memahami nikmat Islam.

Jagalah iman sebelum ajal datang.

Dan jangan menunggu kehidupan berakhir untuk menyadari bahwa seluruh kehidupan ini adalah karunia.

Sebab pada akhirnya kita akan kembali kepada-Nya.

Semoga Allah menjadikan kita hamba-hamba yang mampu mengenali nikmat-Nya, mengakui karunia-Nya, memuji-Nya atas segala pemberian-Nya, serta menggunakan seluruh nikmat tersebut untuk menaati-Nya.

Ya Allah, jangan jadikan nikmat-Mu yang kami terima sebagai sebab kami semakin jauh dari-Mu.

Jadikanlah setiap nikmat yang Engkau berikan sebagai jalan bagi kami untuk semakin mengenal-Mu, mencintai-Mu, menaati-Mu, dan bersyukur kepada-Mu.

Amin.

Karakteristik Ajaran Islam  «“Shibghah Allah. Dan siapakah yang lebih baik shibg...

Karakteristik Ajaran Islam 



«“Shibghah Allah. Dan siapakah yang lebih baik shibghahnya daripada Allah?”
(QS. Al-Baqarah [2]: 138)»

1. Jika Islam Adalah “Shibghah”, Apa yang Membuatnya Berbeda?

Apa yang sesungguhnya membedakan Islam dari konsep-konsep kehidupan lainnya?

Apakah hanya seperangkat ritual?

Apakah hanya kumpulan hukum?

Ataukah Islam memiliki suatu karakter dasar yang memberikan warna tersendiri kepada seluruh ajaran, nilai, hukum, dan pandangan hidupnya?

Di sinilah konsep shibghah Allah menjadi penting.

Shibghah berarti celupan atau warna. Ia menggambarkan bagaimana seseorang menerima warna tertentu sehingga warna tersebut memengaruhi seluruh penampilan dan identitasnya.

Demikian pula Islam.

Islam bukan sekadar sesuatu yang ditempelkan pada kehidupan manusia. Islam memberikan warna kepada cara manusia berpikir, merasa, memilih, bertindak, membangun keluarga, mengelola ekonomi, menyusun masyarakat, dan memandang kehidupan.

Namun dari seluruh karakteristik Islam yang begitu banyak, apakah ada satu karakter utama yang menjadi sumber semuanya?

Ada.

Karakteristik itu adalah kerabbaniannya.

Islam adalah konsep yang rabbani—bersumber dari Allah, Tuhan yang menciptakan manusia sekaligus mengetahui hakikat manusia.

Maka Islam datang bukan sebagai hasil eksperimen manusia, bukan sebagai produk suatu zaman, dan bukan sebagai sistem yang harus terus-menerus diperbaiki karena keterbatasan pengetahuan penciptanya.

Manusialah yang harus membentuk dirinya dengan Islam.

Bukan Islam yang harus dibentuk mengikuti selera manusia.

---

2. Siapa yang Harus Berkembang: Islam atau Manusia?

Di sini terdapat sebuah pertanyaan penting.

Jika manusia terus berkembang, apakah ajaran Islam juga harus terus berubah?

Jawabannya perlu dibedakan dengan cermat.

Dalam pandangan ini, esensi konsep Islam tidak berkembang, tetapi manusialah yang berkembang dalam kerangka Islam.

Mengapa?

Karena sumber Islam dan sumber penciptaan manusia adalah sama: Allah.

Allah yang menciptakan manusia mengetahui tabiat manusia.

Allah mengetahui kebutuhan manusia.

Allah mengetahui kelemahan manusia.

Allah mengetahui perubahan zaman.

Allah juga mengetahui perkembangan kehidupan manusia dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Karena itu, Islam memberikan prinsip-prinsip yang tetap, sementara manusia terus berkembang di dalam ruang yang diberikan oleh prinsip-prinsip tersebut.

Bayangkan sebuah kapal yang terus bergerak.

Apakah kapal tidak membutuhkan arah hanya karena ia bergerak?

Justru karena ia bergerak, ia membutuhkan arah.

Demikian pula kehidupan manusia.

Perubahan tidak berarti kehilangan prinsip.

Kemajuan tidak berarti membuang pedoman.

Perkembangan tidak berarti meniadakan batas.

Manusia boleh berkembang dalam ilmu pengetahuan, teknologi, ekonomi, budaya, dan berbagai bentuk kehidupan. Tetapi perkembangan itu tetap membutuhkan orientasi agar tidak berubah menjadi kekacauan.

---

3. Mengapa Sistem Buatan Manusia Terus Berubah?

Sekarang bandingkan dengan konsep-konsep yang sepenuhnya dibuat manusia.

Mengapa sistem manusia sering membutuhkan perubahan?

Karena manusia memiliki keterbatasan.

Manusia hanya melihat sebagian realitas.

Manusia memiliki pengetahuan yang terbatas.

Manusia dipengaruhi pengalaman, lingkungan, kepentingan, tradisi, emosi, dan hawa nafsu.

Sebuah sistem yang dirancang manusia mungkin sangat baik dalam menjawab persoalan pada suatu tempat dan zaman. Tetapi ketika kondisi berubah, sistem tersebut mungkin tidak lagi mampu menjawab persoalan baru.

Akibatnya, ia perlu direvisi.

Kadang-kadang diperbaiki.

Kadang-kadang dirombak.

Bahkan dalam kondisi tertentu, harus diganti secara total.

Mengapa?

Karena manusia yang membuatnya tidak memiliki pengetahuan yang sempurna tentang masa depan.

Di sinilah konsep rabbani berbeda.

Allah tidak memiliki keterbatasan seperti manusia.

Dia tidak belajar setelah sebelumnya tidak mengetahui.

Dia tidak memilih karena tekanan kepentingan.

Dia tidak dipengaruhi hawa nafsu.

Dia mengetahui manusia secara sempurna karena Dialah Pencipta manusia.

Maka, menurut kerangka pemikiran ini, prinsip-prinsip dasar Islam tidak membutuhkan perubahan mengikuti setiap perubahan zaman.

Justru manusialah yang harus menemukan cara menerapkan prinsip yang tetap itu dalam kondisi yang terus berubah.

---

4. Bergerak, tetapi Tidak Kehilangan Orbit

Ada sebuah analogi yang sangat menarik.

Gerak merupakan salah satu hukum alam.

Planet bergerak.

Bintang bergerak.

Benda-benda langit bergerak dalam orbitnya.

Tetapi apakah gerakan itu bebas tanpa aturan?

Tidak.

Justru keteraturan gerak itulah yang memungkinkan alam semesta tetap berlangsung.

Bayangkan sebuah planet keluar dari orbitnya.

Apa yang terjadi?

Keteraturan berubah menjadi kekacauan.

Begitu pula kehidupan manusia.

Manusia harus bergerak.

Manusia harus berkembang.

Manusia harus maju.

Tetapi gerak tidak sama dengan kebebasan tanpa batas.

Manusia membutuhkan orbit moral.

Ia membutuhkan poros.

Ia membutuhkan batas.

Di sinilah konsep rabbani berfungsi.

Islam bukan tembok yang menghalangi kehidupan manusia untuk bergerak. Islam adalah orbit yang menjaga gerakan manusia agar tidak berubah menjadi kehancuran.

Maka prinsip Islam dapat dibayangkan sebagai poros yang tetap, sementara kehidupan manusia terus bergerak mengelilinginya.

Prinsipnya tetap.

Konteksnya berubah.

Tantangannya berubah.

Teknologinya berubah.

Manusianya berkembang.

Tetapi orientasi dasarnya tidak kehilangan arah.

---

5. Islam Tidak Membutuhkan “Tambalan” dari Luar

Jika Islam berasal dari Allah, lalu apakah Islam membutuhkan sistem lain untuk menyempurnakannya?

Dalam kerangka pemikiran ini, jawabannya adalah tidak.

Islam merupakan konsep yang sempurna dan integral.

Ia tidak membutuhkan tambahan dari luar agar menjadi lengkap.

Justru Islam datang kepada manusia untuk membentuk, meluruskan, mengembangkan, dan mengarahkan manusia.

Islam tidak datang untuk mematikan potensi manusia.

Sebaliknya, Islam datang untuk membangkitkannya.

Akal tidak dimatikan.

Hati tidak diabaikan.

Potensi manusia tidak disia-siakan.

Kreativitas tidak dihentikan.

Semua potensi itu diarahkan agar bekerja secara positif dan konstruktif.

Pertanyaannya bukan:

“Apakah manusia bebas?”

Tetapi:

“Untuk apa kebebasan itu digunakan?”

Bukan:

“Apakah manusia boleh berkembang?”

Tetapi:

“Ke arah mana perkembangan itu dibawa?”

Bukan:

“Apakah manusia boleh menggunakan akalnya?”

Tetapi:

“Apakah akal itu digunakan untuk menemukan kebenaran atau justru membenarkan hawa nafsu?”

Dengan demikian, Islam tidak memusuhi kemajuan.

Islam menghendaki kemajuan yang memiliki arah.

---

6. Islam sebagai Konsep yang Mandiri

Karena itu, konsep Islam memiliki kemandirian.

Ia mempunyai sumber nilai sendiri.

Ia mempunyai ukuran sendiri.

Ia mempunyai prinsip sendiri.

Ia mempunyai tujuan sendiri.

Ia tidak harus meminjam identitas dari konsep lain agar menjadi sah.

Di sinilah pentingnya memahami Islam sebagai sistem yang memiliki kepribadian dan karakter khas.

Jika Islam memiliki sumber nilai yang berbeda, apakah tepat apabila seluruh ukuran kebenarannya harus ditentukan oleh ukuran yang berasal dari luar Islam?

Jika Islam memiliki cara pandang sendiri terhadap manusia, Tuhan, kehidupan, masyarakat, dan tujuan hidup, apakah tepat jika ia hanya dianggap benar setelah mendapatkan legitimasi dari suatu ideologi lain?

Pertanyaan ini membawa kita kepada persoalan metodologi.

Bagaimana seharusnya kita mengkaji Islam?

---

7. Jangan Mengukur Islam dengan Timbangan yang Bukan Miliknya

Ada kesalahan metodologis yang perlu dihindari:

mengambil begitu saja ukuran yang lahir dari konsep lain lalu menggunakannya untuk menilai Islam.

Mengapa hal ini bermasalah?

Karena setiap konsep memiliki asumsi dasarnya sendiri.

Jika sebuah sistem memandang manusia semata-mata sebagai makhluk material, tentu ia akan memiliki ukuran kesejahteraan yang berbeda dengan Islam yang memandang manusia sebagai makhluk material sekaligus spiritual.

Jika sebuah sistem memandang kebebasan sebagai kebebasan tanpa batas, tentu definisi kebebasannya berbeda dengan Islam yang menghubungkan kebebasan dengan tanggung jawab kepada Allah.

Jika sebuah sistem memandang keberhasilan hanya dari pertumbuhan materi, tentu ukuran keberhasilannya berbeda dengan Islam yang memasukkan dimensi moral dan akhirat.

Maka kita harus berhati-hati.

Jangan mengambil kesimpulan tentang Islam dengan menggunakan asumsi dasar yang justru bertentangan dengan Islam.

Ini bukan berarti Islam menolak semua pengetahuan dari luar.

Bukan.

Manusia tetap dapat belajar dari pengalaman manusia lain, ilmu pengetahuan, teknologi, sejarah, dan berbagai temuan yang bermanfaat.

Namun ada perbedaan antara mengambil pengetahuan dan menyerahkan sumber nilai.

Pengetahuan empiris dapat dipelajari dari mana saja.

Tetapi ukuran halal-haram, benar-salah secara wahyu, dan orientasi akhir kehidupan tidak diserahkan kepada sistem yang berdiri di luar wahyu.

---

8. Kepada Siapa Nilai Harus Dikembalikan?

Jika terjadi perselisihan tentang suatu persoalan, apa rujukannya?

Al-Qur'an memberikan prinsip:

«“Kemudian jika kamu berbeda pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah kepada Allah dan Rasul, jika kamu beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama bagimu dan lebih baik akibatnya.”
(QS. An-Nisa' [4]: 59)»

Ayat ini memberikan sebuah metodologi.

Ketika manusia berbeda pendapat, ia tidak hanya mencari pendapat yang paling populer.

Tidak pula semata-mata mencari pendapat yang paling menguntungkan.

Ia mengembalikan persoalan kepada Allah dan Rasul-Nya.

Dengan demikian, Al-Qur'an dan Sunnah bukan sekadar sumber informasi keagamaan.

Keduanya menjadi rujukan nilai dan orientasi kehidupan.

Dari sinilah akal dan hati seorang Muslim dibentuk.

Dari sinilah ukuran benar dan salah diarahkan.

Dari sinilah perilaku memperoleh orientasi.

---

9. Islam sebagai “Shibghah”

Pada akhirnya, kita kembali kepada firman Allah:

«“Shibghah Allah. Dan siapakah yang lebih baik shibghahnya daripada Allah?”
(QS. Al-Baqarah [2]: 138)»

Apa makna terdalamnya bagi kehidupan?

Islam bukan sekadar sesuatu yang diketahui.

Islam harus menjadi sesuatu yang mewarnai.

Mewarnai cara berpikir.

Mewarnai cara merasa.

Mewarnai cara bekerja.

Mewarnai cara menggunakan kekayaan.

Mewarnai cara memimpin.

Mewarnai cara memperlakukan manusia.

Mewarnai cara menghadapi perubahan.

Dan bahkan mewarnai cara seseorang memahami keberhasilan dan kegagalan.

Seseorang mungkin menguasai banyak teori Islam, tetapi apakah Islam telah menjadi shibghah dalam hidupnya?

Seseorang mungkin mampu berbicara tentang tauhid, tetapi apakah tauhid telah menentukan cara ia mengambil keputusan?

Seseorang mungkin memahami syariat, tetapi apakah syariat telah membentuk perilakunya?

Di sinilah perbedaan antara mengetahui Islam dan menjadi manusia yang dibentuk oleh Islam.

---

10. Prinsip Tetap, Kehidupan Bergerak

Dari seluruh pembahasan ini, kita dapat menarik satu prinsip besar:

Islam tidak harus berubah setiap kali dunia berubah. Manusialah yang harus belajar menerapkan prinsip Islam dalam dunia yang terus berubah.

Teknologi berubah.

Ekonomi berubah.

Politik berubah.

Budaya berubah.

Pola komunikasi berubah.

Bentuk pekerjaan berubah.

Tantangan manusia berubah.

Namun manusia tetap membutuhkan keadilan.

Tetap membutuhkan kejujuran.

Tetap membutuhkan amanah.

Tetap membutuhkan keluarga.

Tetap membutuhkan tanggung jawab.

Tetap membutuhkan makna.

Dan tetap membutuhkan hubungan dengan Penciptanya.

Karena itu, prinsip yang bersumber dari Allah menjadi poros, sementara kreativitas manusia menjadi gerak.

Tanpa prinsip, gerak menjadi liar.

Tanpa gerak, prinsip hanya menjadi gagasan yang tidak diwujudkan.

Maka kehidupan Islam membutuhkan keduanya:

keteguhan pada prinsip dan keluwesan dalam penerapan.

---

Penutup: Siapa yang Sebenarnya Harus Berubah?

Pada akhirnya, pertanyaan ini layak kita renungkan:

Apakah Islam harus mengikuti setiap perubahan manusia?

Ataukah manusia yang harus belajar menemukan bentuk terbaik kehidupannya dalam bimbingan Islam?

Jika Islam adalah shibghah Allah, maka jawabannya menjadi jelas.

Islam bukan warna yang berubah mengikuti manusia.

Manusialah yang seharusnya dicelupkan ke dalam warna Islam.

Islam datang bukan karena manusia telah sempurna.

Islam datang justru untuk membentuk manusia.

Bukan untuk mematikan gerak kehidupan, tetapi untuk memberinya arah.

Bukan untuk menghambat kemajuan, tetapi untuk menjaganya agar tidak kehilangan tujuan.

Bukan untuk menggantikan akal, tetapi untuk membimbing akal.

Bukan untuk menghapus kebebasan, tetapi untuk mengajarkan manusia menggunakan kebebasan dengan tanggung jawab.

Dan bukan untuk menjadikan manusia berhenti berkembang, tetapi agar setiap perkembangan tetap berada dalam orbit kebenaran.

Manusia bergerak. Dunia berubah. Peradaban berkembang.

Tetapi selama manusia tetap membutuhkan arah, selama itu pula ia membutuhkan petunjuk dari Allah.

Itulah makna terdalam dari shibghah Allah:

bukan sekadar memiliki identitas Islam, tetapi membiarkan Islam memberi warna kepada seluruh kehidupan.

Apa yang Sebenarnya Dipelajari Ekonomi Islam? Ketika kita berbicara ...

Apa yang Sebenarnya Dipelajari Ekonomi Islam?



Ketika kita berbicara tentang ekonomi Islam, pertanyaan pertama yang perlu diajukan bukanlah “bagaimana cara memperoleh keuntungan?”, melainkan:

“Manusia seperti apa yang menjadi subjek ekonomi Islam, kebutuhan apa yang hendak dipenuhi, dan untuk kesejahteraan seperti apa seluruh kegiatan ekonomi diarahkan?”

Pertanyaan ini penting karena ekonomi Islam tidak sekadar menawarkan teknik mengelola uang, pasar, produksi, atau konsumsi. Ia berangkat dari pandangan tertentu tentang manusia, kebutuhan, sumber daya, moralitas, dan tujuan hidup.

Dalam pengertian yang dikemukakan penulis, ilmu ekonomi Islam merupakan ilmu pengetahuan sosial yang mempelajari masalah-masalah ekonomi masyarakat yang diilhami oleh nilai-nilai Islam.

Apakah definisi ini berarti kaum Muslimin hanya boleh mempelajari persoalan ekonomi masyarakat Muslim?

Tentu tidak.

Justru sebaliknya. Nilai-nilai Islam mendorong manusia untuk mempelajari persoalan ekonomi seluruh umat manusia, termasuk masyarakat non-Muslim. Bahkan dalam konteks sebuah negara Islam, persoalan ekonomi kelompok minoritas non-Muslim tetap merupakan bagian dari perhatian ekonomi Islam.

Dengan demikian, definisi yang tampak terbatas itu sebenarnya memiliki cakupan yang jauh lebih luas.

Ekonomi Modern dan Ekonomi Islam: Di Mana Perbedaannya?

Di sinilah perbandingan dengan ilmu ekonomi modern menjadi menarik.

Ilmu ekonomi modern sering didefinisikan sebagai ilmu yang mempelajari perilaku manusia dalam menghadapi tujuan yang beragam dan sarana yang terbatas serta memiliki berbagai kegunaan alternatif.

Profesor Robbins, misalnya, mendefinisikan ekonomi sebagai ilmu yang mempelajari perilaku manusia sebagai hubungan antara tujuan dan sarana langka yang mempunyai kegunaan alternatif.

Definisi tersebut menjelaskan dengan baik persoalan utama ekonomi modern:

Manusia memiliki banyak tujuan, sedangkan sarana untuk mencapainya terbatas.

Tetapi apakah manusia hanya dapat dipahami sebagai makhluk yang memilih di antara sarana yang terbatas?

Ekonomi Islam menjawab: tidak.

Manusia memang makhluk sosial. Ia membutuhkan orang lain, melakukan pertukaran, bekerja, memproduksi, mengonsumsi, dan mendistribusikan kekayaan. Namun manusia juga merupakan makhluk moral dan religius.

Karena itu, ekonomi Islam tidak mempelajari manusia sebagai individu yang terisolasi seperti gambaran hipotetis Robinson Crusoe. Ekonomi baru menjadi relevan ketika manusia hidup bersama manusia lain dan muncul fenomena pertukaran, kerja sama, distribusi, tanggung jawab, serta konflik kepentingan.

Dengan kata lain:

Manusia ekonomi Islam adalah manusia sosial yang sekaligus memiliki kesadaran moral dan religius.

Dari Kebutuhan Menuju Masalah Ekonomi

Lalu dari mana masalah ekonomi bermula?

Jawabannya sederhana:

Dari kebutuhan manusia dan keterbatasan sarana untuk memenuhinya.

Manusia mempunyai kebutuhan. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut, manusia membutuhkan tenaga, waktu, pengetahuan, modal, tanah, teknologi, dan berbagai sumber daya lainnya.

Masalah muncul karena sarana tersebut terbatas.

Bayangkan jika semua sumber daya tersedia tanpa batas. Tidak ada kelangkaan, tidak ada konflik penggunaan sumber daya, dan tidak ada kebutuhan untuk memilih.

Apakah ilmu ekonomi masih diperlukan?

Tentu tidak.

Karena itu, baik ekonomi modern maupun ekonomi Islam sama-sama berangkat dari kenyataan mendasar:

«Kebutuhan manusia banyak, sedangkan sarana untuk memenuhinya terbatas.»

Di sinilah masalah ekonomi muncul.

Namun persoalan yang lebih penting kemudian muncul:

Jika kita tidak mungkin memenuhi semua kebutuhan sekaligus, kebutuhan mana yang harus didahulukan?

Inilah persoalan pilihan.

Ketika “Need” Bertemu “Want”

Di titik ini kita perlu membedakan antara kebutuhan (needs) dan keinginan (wants).

Tidak semua yang diinginkan manusia merupakan kebutuhan yang harus dipenuhi.

Seseorang mungkin want memiliki rumah yang lebih besar, kendaraan yang lebih mahal, pakaian yang lebih mewah, atau makanan yang lebih berlimpah. Tetapi apakah semua itu otomatis menjadi need?

Tidak.

Ekonomi Islam mengajak kita bertanya lebih dalam:

Apa yang benar-benar dibutuhkan manusia untuk hidup baik?

Dan lebih jauh lagi:

Apakah sesuatu yang diinginkan boleh selalu dipenuhi hanya karena manusia mampu membelinya?

Pertanyaan tersebut membawa ekonomi keluar dari wilayah kalkulasi material menuju wilayah etika.

Jika kebutuhan dan keinginan manusia tidak terbatas, sedangkan sumber daya terbatas, maka manusia harus menetapkan prioritas.

Tetapi siapa yang menentukan prioritas tersebut?

Di sinilah ekonomi Islam berbeda secara mendasar dari pendekatan yang menyerahkan pilihan terutama kepada preferensi individu.

Pilihan Tidak Pernah Benar-Benar Netral

Dalam ekonomi modern, pilihan sering dianalisis berdasarkan preferensi individu. Individu menentukan apa yang ingin dicapai dan kemudian memilih cara paling efisien untuk mencapainya.

Namun dalam ekonomi Islam, seseorang tidak bebas menentukan pilihan ekonomi tanpa batas.

Ada batas moral yang bersumber dari Al-Qur'an dan Sunnah.

Artinya, ketika manusia memilih bagaimana menggunakan sumber daya, ia tidak hanya bertanya:

“Apa yang menguntungkan saya?”

Tetapi juga:

“Apakah ini halal?”
“Apakah ini adil?”
“Apakah ini merugikan orang lain?”
“Apakah ini membawa maslahat?”
“Apakah Allah meridhainya?”

Dengan demikian, persoalan ekonomi bukan sekadar persoalan efisiensi.

Ia juga merupakan persoalan moralitas pilihan.

Dua Model Ekonomi

Secara sederhana, perbedaan keduanya dapat digambarkan sebagai berikut.

Ekonomi Islam:

Manusia sosial dan religius → memiliki banyak kebutuhan dan keinginan → menghadapi kelangkaan sumber daya → harus memilih → pilihan dibimbing nilai-nilai Islam → pertukaran dan distribusi berlangsung melalui pasar sekaligus mekanisme sosial dan moral → tujuan akhirnya adalah kesejahteraan manusia secara menyeluruh.

Ekonomi modern:

Manusia sosial → memiliki banyak kebutuhan dan keinginan → menghadapi kelangkaan sumber daya → harus memilih → pilihan terutama dipengaruhi preferensi dan kepentingan individu → pertukaran terutama dikoordinasikan melalui mekanisme pasar → perhatian utama diarahkan pada kesejahteraan ekonomi.

Perbedaannya bukan terletak pada ada atau tidaknya kelangkaan.

Keduanya mengakui kelangkaan.

Perbedaannya terletak pada bagaimana manusia memilih ketika menghadapi kelangkaan dan untuk tujuan apa pilihan tersebut diarahkan.

Apakah Ekonomi Harus Netral terhadap Nilai?

Di sinilah muncul perdebatan penting.

Apakah ilmu ekonomi harus bersikap netral terhadap berbagai tujuan manusia?

Ekonomi modern dalam tradisi Robbins cenderung memisahkan analisis ekonomi dari penilaian terhadap tujuan. Ekonomi terutama membahas hubungan antara tujuan manusia dan sarana yang terbatas, bukan menentukan apakah tujuan tersebut baik atau buruk.

Tetapi apakah pemisahan itu selalu mungkin?

Bayangkan seseorang memperoleh keuntungan besar dari perdagangan minuman keras.

Secara ekonomi, aktivitas tersebut dapat dianalisis: berapa biaya produksinya, berapa permintaannya, berapa harga jualnya, berapa keuntungannya, dan bagaimana struktur pasarnya.

Namun Islam mengajukan pertanyaan yang berbeda:

Apakah aktivitas itu halal?

Jika tidak, maka keuntungan yang diperoleh tidak dapat dibenarkan hanya karena secara ekonomi menguntungkan.

Inilah titik penting ekonomi Islam.

Ekonomi Islam tidak menganggap semua tujuan sama-sama sah.

Ada tujuan yang diperbolehkan dan ada yang dilarang. Ada cara memperoleh kekayaan yang halal dan ada yang haram. Ada konsumsi yang dibenarkan dan ada yang berlebihan. Ada transaksi yang adil dan ada yang zalim.

Karena itu, ekonomi Islam tidak dapat sepenuhnya netral terhadap nilai.

Kesejahteraan: Lebih dari Sekadar Uang

Perbedaan tersebut menjadi semakin jelas ketika kita berbicara tentang kesejahteraan.

Dalam pendekatan ekonomi yang berorientasi pada kepuasan individu, kesejahteraan sering dikaitkan dengan kemampuan seseorang memperoleh barang dan jasa yang ia inginkan, dengan mempertimbangkan pengorbanan yang harus dilakukan.

Tetapi apakah semakin banyak barang otomatis berarti semakin sejahtera?

Apakah seseorang yang memiliki kekayaan besar tetapi memperolehnya melalui cara haram dapat disebut sejahtera?

Apakah masyarakat yang kaya tetapi dipenuhi ketidakadilan dapat disebut makmur?

Ekonomi Islam menjawab pertanyaan tersebut dengan memperluas makna kesejahteraan.

Kesejahteraan bukan hanya tentang berapa banyak yang dimiliki, tetapi juga bagaimana diperoleh, bagaimana digunakan, dan apa dampaknya bagi kehidupan manusia.

Karena itu, kesejahteraan memiliki dimensi material sekaligus moral, sosial, dan spiritual.

Halal sebagai Fondasi Aktivitas Ekonomi

Islam menempatkan pencarian nafkah halal sebagai prinsip penting.

Al-Qur'an berfirman:

«“Wahai manusia! Makanlah dari makanan yang halal dan baik yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan.”
(QS. Al-Baqarah [2]: 168)»

Ayat tersebut menunjukkan bahwa bahkan aktivitas yang sangat sederhana seperti makan tidak dilepaskan dari pertimbangan moral.

Manusia tidak hanya diperintahkan untuk mencari sesuatu yang tersedia, tetapi sesuatu yang halal dan baik.

Karena itu, cara memperoleh kekayaan juga memiliki batas.

Al-Qur'an melarang manusia memperoleh harta dengan cara yang batil:

«“Janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil...”
(QS. An-Nisa [4]: 29)»

Dengan demikian, Islam tidak membenarkan prinsip:

“Yang penting menguntungkan.”

Prinsipnya adalah:

“Menguntungkan, tetapi harus halal, adil, dan membawa maslahat.”

Kekayaan Bukan untuk Ditumpuk

Islam juga memberikan perhatian besar terhadap distribusi kekayaan.

Kekayaan tidak boleh hanya berputar di antara segelintir orang. Al-Qur'an menegaskan agar harta tidak hanya beredar di kalangan orang-orang kaya saja.

«“...agar harta itu jangan hanya beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kamu.”
(QS. Al-Hasyr [59]: 7)»

Karena itu, masalah ekonomi Islam bukan hanya bagaimana kekayaan diproduksi, tetapi juga bagaimana kekayaan didistribusikan.

Keserakahan tidak dipuji.

Kikir tidak dipuji.

Pemborosan juga tidak dipuji.

Al-Qur'an mengingatkan:

«“Janganlah kamu berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.”
(QS. Al-An'am [6]: 141)»

Dan:

«“Sesungguhnya orang-orang yang pemboros itu adalah saudara-saudara setan.”
(QS. Al-Isra' [17]: 27)»

Dengan demikian, ekonomi Islam berusaha mencari keseimbangan:

tidak kikir, tetapi juga tidak boros;
tidak malas, tetapi juga tidak eksploitatif;
tidak anti-kekayaan, tetapi juga tidak menjadikan kekayaan sebagai tujuan hidup.

Konsumen dan Produsen Bukan “Raja”

Dalam ekonomi yang sangat berorientasi pada pasar, konsumen dan produsen sering digambarkan memiliki kebebasan yang luas untuk menentukan pilihan.

Dalam Islam, kebebasan tersebut tidak absolut.

Konsumen bukan raja.

Produsen juga bukan raja.

Keduanya berada dalam kerangka tanggung jawab kepada Allah dan masyarakat.

Konsumen tidak boleh mengonsumsi sesuatu yang haram atau berlebihan hanya karena mampu membelinya.

Produsen tidak boleh memproduksi sesuatu yang merusak masyarakat hanya karena ada permintaan dan keuntungan.

Maka ukuran keberhasilan ekonomi tidak cukup berhenti pada pertanyaan:

“Berapa besar keuntungan yang diperoleh?”

Pertanyaan berikutnya harus diajukan:

“Keuntungan itu diperoleh dengan cara apa, digunakan untuk apa, dan membawa manfaat bagi siapa?”

Ekonomi Islam: Lebih Sempit Sekaligus Lebih Luas

Dari sini kita dapat memahami sebuah paradoks.

Ekonomi Islam dalam satu pengertian lebih terbatas daripada ekonomi modern.

Mengapa?

Karena ekonomi Islam tidak menganggap semua perilaku ekonomi sebagai sesuatu yang boleh dilakukan. Ada batas halal dan haram. Ada aktivitas yang harus ditolak meskipun menghasilkan keuntungan.

Namun dalam pengertian lain, ekonomi Islam justru lebih luas.

Mengapa?

Karena ekonomi Islam tidak hanya mempertimbangkan faktor material. Ia juga memasukkan faktor politik, sosial, etika, moral, dan spiritual.

Jadi, ekonomi Islam bukan sekadar:

administrasi sumber daya yang langka.

Ia adalah:

pengelolaan sumber daya yang langka dalam rangka mencapai kesejahteraan manusia berdasarkan nilai-nilai Islam.

Dengan demikian, ruang lingkup ekonomi Islam tidak hanya menyangkut sebab-sebab material kesejahteraan, tetapi juga faktor nonmaterial yang memengaruhi kualitas kehidupan manusia.

---

2.2 Asal-usul Ekonomi Islam

Apakah Ekonomi Islam Baru Lahir di Zaman Modern?

Setelah memahami hakikat ekonomi Islam, pertanyaan berikutnya adalah:

Kapan ekonomi Islam sebenarnya lahir?

Apakah ia baru muncul pada abad ke-20 ketika para sarjana Muslim mulai menulis buku dengan judul “ekonomi Islam”?

Jika demikian, bagaimana kita menjelaskan pemikiran ekonomi yang telah berkembang di dunia Islam berabad-abad sebelumnya?

Prinsip fundamental ekonomi Islam memang bersumber dari Al-Qur'an dan Sunnah.

Namun prinsip tidak akan menjadi sistem pemikiran yang operasional tanpa proses penafsiran, pengembangan, dan penerapan.

Karena itu, sejarah ekonomi Islam tidak hanya berupa sejarah ayat dan hadis tentang ekonomi.

Ia juga merupakan sejarah ijtihad intelektual para ulama dan cendekiawan Muslim dalam memahami persoalan ekonomi pada zamannya.

Dari Prinsip ke Teori

Berbagai persoalan ekonomi telah dibahas oleh para pemikir Muslim:

- nilai dan harga;
- pembagian kerja;
- permintaan dan penawaran;
- harga yang adil;
- konsumsi dan produksi;
- pertumbuhan penduduk;
- perpajakan;
- pengeluaran negara;
- peran pemerintah;
- perdagangan;
- monopoli;
- pengendalian harga;
- kepemilikan;
- pendapatan dan pengeluaran rumah tangga.

Pertanyaannya:

Apakah semua pemikiran tersebut muncul secara tiba-tiba pada zaman modern?

Tentu tidak.

Sejumlah cendekiawan Muslim telah membahas persoalan-persoalan tersebut jauh sebelum ekonomi modern menjadi disiplin akademik.

Di antara nama-nama yang sering disebut adalah Abu Dzar al-Ghifari, Abu Yusuf, Yahya ibn Adam, al-Farabi, Ibn Hazm, al-Ghazali, al-Tusi, Ibn Taimiyah, Ibn Khaldun, dan Shah Waliullah.

Mereka hidup dalam konteks sejarah yang berbeda dan memiliki perhatian yang berbeda pula. Namun pemikiran mereka menunjukkan bahwa masyarakat Muslim telah lama melakukan refleksi sistematis terhadap persoalan ekonomi.

Abu Yusuf: Negara dan Kepentingan Publik

Abu Yusuf, yang hidup pada abad ke-8, memberikan perhatian penting terhadap keuangan publik.

Pemikirannya menekankan peran negara, pekerjaan umum, perpajakan, dan pembangunan pertanian.

Mengapa persoalan tersebut penting?

Karena negara tidak hanya berfungsi sebagai penjaga keamanan.

Negara juga memiliki tanggung jawab terhadap kesejahteraan masyarakat.

Jika kebijakan pajak menghancurkan petani, apakah kebijakan itu dapat disebut baik?

Jika negara mengabaikan infrastruktur publik, apakah perekonomian dapat berkembang?

Pertanyaan-pertanyaan seperti ini menunjukkan bahwa pemikiran ekonomi Islam sejak awal telah menghubungkan kebijakan fiskal dengan kesejahteraan masyarakat.

Al-Tusi: Mengapa Manusia Harus Bekerja Sama?

Al-Tusi memberikan perhatian pada pembagian kerja, pertukaran, nilai, dan kesejahteraan.

Ia mengajukan sebuah pertanyaan sederhana tetapi mendasar:

Mungkinkah setiap manusia memproduksi sendiri seluruh kebutuhannya?

Jika setiap orang harus menyediakan sendiri makanan, pakaian, rumah, alat kerja, dan seluruh kebutuhannya, tentu kehidupan akan menjadi sangat berat.

Karena itu manusia bekerja sama.

Seseorang menjadi petani.

Yang lain menjadi pengrajin.

Yang lain menjadi pedagang.

Yang lain menyediakan jasa.

Masing-masing menghasilkan sesuatu yang lebih dari kebutuhan dirinya, lalu menukarkannya dengan hasil kerja orang lain.

Di sinilah pembagian kerja menciptakan saling ketergantungan.

Al-Tusi menjelaskan bahwa kerja sama tersebut memungkinkan kebutuhan manusia terpenuhi melalui pertukaran.

Dengan kata lain:

manusia tidak hidup karena mampu melakukan semuanya sendiri, tetapi karena mampu bekerja sama dengan orang lain.

Dan kerja sama itu membutuhkan keadilan.

Tanpa keadilan, pertukaran berubah menjadi eksploitasi.

Ibn Taimiyah: Ketika Pasar Tidak Sempurna

Kemudian kita sampai kepada Ibn Taimiyah.

Apa yang membuat pemikirannya menarik?

Ia membahas persoalan harga, mekanisme pasar, ketidaksempurnaan pasar, pengendalian harga, kebutuhan pokok masyarakat, peran negara, dan hak milik.

Ia memperkenalkan gagasan tentang harga yang ekuivalen atau adil serta memberikan perhatian terhadap kondisi ketika pasar tidak berjalan secara wajar.

Pertanyaannya:

Apakah pasar selalu menghasilkan keadilan?

Jika tidak ada monopoli, manipulasi, penimbunan, penipuan, atau rekayasa harga, pasar dapat memainkan peran penting dalam mengalokasikan sumber daya.

Tetapi jika kekuatan ekonomi disalahgunakan, apakah negara boleh diam?

Dalam pemikiran Ibn Taimiyah, negara memiliki tanggung jawab tertentu untuk memastikan masyarakat memperoleh kebutuhan pokok dan agar kegiatan ekonomi tidak berubah menjadi sarana kezaliman.

Di sini terlihat kembali karakter ekonomi Islam:

pasar dihargai, tetapi pasar tidak disakralkan.

Ibn Khaldun: Ekonomi sebagai Bagian dari Peradaban

Jika kita berbicara tentang hubungan ekonomi dengan masyarakat, politik, pendidikan, dan moral, nama Ibn Khaldun menjadi sangat penting.

Ibn Khaldun, cendekiawan Muslim dari Tunisia yang hidup pada abad ke-14, melihat masyarakat sebagai sebuah sistem yang saling berkaitan.

Baginya, ekonomi tidak dapat dipisahkan dari struktur sosial dan politik.

Mengapa suatu negara menjadi makmur?

Apakah hanya karena memiliki sumber daya alam?

Tidak.

Ada kerja.

Ada pembagian kerja.

Ada penduduk.

Ada perdagangan.

Ada pemerintahan.

Ada pajak.

Ada keamanan.

Ada pendidikan.

Ada moralitas.

Semua faktor tersebut saling memengaruhi.

Karena itu, Ibn Khaldun melihat persoalan ekonomi dalam hubungan yang lebih luas dengan peradaban.

Ia membahas berbagai persoalan yang kemudian menjadi bagian penting dari ilmu ekonomi dan ilmu sosial: pembagian kerja, kontribusi tenaga kerja terhadap nilai, pertumbuhan penduduk, pembentukan modal, perdagangan, harga, perpajakan, dan peran negara.

Ekonomi Bukan Pulau yang Terpisah

Di sinilah pemikiran Ibn Khaldun memberikan pelajaran yang sangat penting.

Ekonomi tidak berdiri sendiri.

Ekonomi dipengaruhi politik.

Politik dipengaruhi struktur sosial.

Struktur sosial dipengaruhi pendidikan dan budaya.

Semua itu berhubungan dengan moral dan nilai masyarakat.

Maka ketika sebuah negara mengalami krisis ekonomi, pertanyaannya tidak cukup:

“Berapa tingkat inflasinya?”

Kita juga perlu bertanya:

“Bagaimana kualitas pemerintahannya?”

“Bagaimana tingkat kepercayaan masyarakat?”

“Bagaimana distribusi kekayaannya?”

“Bagaimana moral para pelaku ekonominya?”

“Bagaimana kualitas pendidikannya?”

“Bagaimana sistem hukumnya?”

Inilah cara pandang yang membuat ekonomi Islam memiliki hubungan erat dengan ilmu sosial dan teori peradaban.

Dari Para Pemikir Muslim Menuju Ekonomi Modern

Karena itu, pemikiran ekonomi Islam tidak seharusnya dilihat sebagai sesuatu yang baru muncul ketika ekonomi modern berkembang.

Jauh sebelum Adam Smith, Ricardo, Malthus, atau Keynes, para pemikir Muslim telah membahas berbagai persoalan ekonomi.

Tentu kita tidak boleh menyederhanakan sejarah dengan mengatakan bahwa semua teori ekonomi modern berasal langsung dari pemikir Muslim. Hubungan sejarah antartradisi intelektual jauh lebih kompleks.

Namun kita juga tidak tepat jika menganggap dunia Islam sama sekali tidak memiliki tradisi pemikiran ekonomi.

Justru sejarah menunjukkan adanya kesinambungan gagasan mengenai:

kerja, pertukaran, harga, pasar, keadilan, negara, pajak, distribusi, kesejahteraan, dan peradaban.

Penutup: Ekonomi untuk Apa?

Pada akhirnya, seluruh pembahasan ini membawa kita kembali kepada pertanyaan paling sederhana sekaligus paling mendalam:

Untuk apa ekonomi?

Untuk memperbesar produksi?

Untuk memperbanyak konsumsi?

Untuk memaksimalkan keuntungan?

Atau untuk membangun kehidupan manusia yang sejahtera?

Ekonomi Islam tidak menolak keuntungan, kekayaan, perdagangan, pasar, produksi, ataupun pertumbuhan.

Yang ditolak adalah anggapan bahwa semua itu merupakan tujuan akhir.

Kekayaan adalah sarana.

Pasar adalah sarana.

Produksi adalah sarana.

Uang adalah sarana.

Bahkan pertumbuhan ekonomi pun adalah sarana.

Lalu apa tujuannya?

Kesejahteraan manusia yang utuh—material, sosial, moral, dan spiritual—dalam kerangka pengabdian kepada Allah.

Karena itu, ekonomi Islam pada hakikatnya mengajukan sebuah koreksi terhadap cara manusia memandang kegiatan ekonomi:

«Bukan sekadar bagaimana manusia memperoleh dan membelanjakan harta, tetapi bagaimana harta digunakan agar kehidupan manusia menjadi lebih adil, bermartabat, dan diridhai Allah.»

Dan di sinilah ekonomi kembali kepada pertanyaan tentang manusia.

Sebab masalah ekonomi pada akhirnya bukan hanya tentang barang yang langka.

Ia juga tentang keinginan yang harus dikendalikan, kebutuhan yang harus diprioritaskan, kekayaan yang harus dipertanggungjawabkan, dan pilihan yang harus diarahkan oleh nilai.

Dengan demikian, ekonomi Islam bukan sekadar ilmu tentang kelangkaan.

Ia adalah ilmu tentang pilihan manusia di tengah kelangkaan, dalam batas-batas moral, menuju kesejahteraan yang lebih luas daripada sekadar kepuasan material.

Mitos Bangsa Terpilih Bacaan Fundamentalis tentang Zionisme Politik «“Beginilah ...

Mitos Bangsa
Terpilih


Bacaan Fundamentalis tentang Zionisme Politik

«“Beginilah firman Tuhan: Israel ialah anak-Ku, anak-Ku yang sulung.”
(Keluaran IV: 22)»

«“Penduduk dunia dapat dibagi antara Israel dan bangsa lain yang dianggap satu. Israel adalah bangsa yang terpilih: dogma pangkal.”
— Rabi Cohen, Le Talmud (Paris: Payot, 1986), hlm. 104.»

Bangsa Terpilih: Wahyu atau Konstruksi Sejarah?

Apa yang sebenarnya dimaksud dengan “bangsa terpilih”?

Apakah ia merupakan sebuah kenyataan sejarah yang dapat dibuktikan secara objektif, ataukah sebuah keyakinan teologis yang kemudian berkembang menjadi identitas politik?

Pertanyaan ini penting, sebab gagasan tentang “bangsa terpilih” sering kali ditempatkan sebagai dasar pembenaran bagi Zionisme politik. Dalam pembacaan fundamentalis, dunia seolah-olah terbagi secara tegas menjadi dua: Israel sebagai bangsa pilihan dan bangsa-bangsa lain sebagai kelompok di luar pilihan tersebut.

Tetapi benarkah monoteisme dan gagasan tentang bangsa terpilih sejak awal sudah hadir dalam bentuk yang matang sebagaimana dipahami kemudian?

Jika kita membaca sejarah agama-agama Timur Tengah secara lebih kritis, jawabannya ternyata tidak sesederhana itu.

Dari Henoteisme Menuju Monoteisme

Ada anggapan bahwa monoteisme lahir bersamaan dengan Perjanjian Lama dan sejak awal menjadi ciri khas bangsa Israel. Namun, pembacaan historis terhadap teks-teks Bibel menunjukkan perkembangan yang jauh lebih kompleks.

Dua tradisi utama yang sering disebut sebagai Yahvis dan Elohis, misalnya, belum menunjukkan monoteisme absolut dalam pengertian yang kemudian berkembang. Yang tampak pada tahap awal lebih menyerupai penegasan superioritas Yahve atas tuhan-tuhan bangsa lain.

Bukankah dalam Kitab Keluaran terdapat perintah:

«“Kamu tidak mempunyai tuhan selain Aku.”
(Keluaran XX: 3)»

Kalimat itu dapat dibaca bukan semata-mata sebagai pernyataan filosofis bahwa tidak ada tuhan lain sama sekali, tetapi sebagai tuntutan agar Israel tidak menyembah tuhan selain Yahve.

Bahkan teks-teks Bibel sendiri masih mengenal keberadaan tuhan-tuhan bangsa lain. Kamos, misalnya, disebut sebagai tuhan orang Moab. Hal ini menunjukkan bahwa kesadaran religius masyarakat Israel mengalami proses perkembangan yang panjang.

Terjemahan Bibel secara Oekumenik bahkan memberikan catatan yang menegaskan bahwa sejak lama di Israel terdapat kepercayaan mengenai keberadaan dan kekuasaan tuhan-tuhan lain.

Lalu, kapan monoteisme dalam pengertian yang benar-benar tegas muncul?

Perkembangannya terutama semakin kuat setelah masa pengasingan, khususnya melalui seruan para nabi. Rumusan teologis kemudian bergerak dari tuntutan agar Israel hanya menyembah Yahve menuju pernyataan yang lebih radikal:

«“Aku adalah Tuhan dan tidak ada yang lain.”
(Yesaya XLV: 22)»

Di sinilah terjadi perubahan penting: dari eksklusivitas penyembahan menuju afirmasi ontologis tentang keesaan Tuhan.

Pernyataan monoteisme yang tegas ini oleh penulis ditempatkan sekitar pertengahan abad VI SM, antara 550 dan 539 SM.

Maka muncul pertanyaan yang lebih mendasar:

Jika monoteisme berkembang melalui proses sejarah, mungkinkah gagasan tentang “bangsa terpilih” juga harus dibaca dalam konteks perkembangan sejarah itu, bukan sebagai doktrin politik yang sejak awal telah sempurna?

Monoteisme dan Perjumpaan Kebudayaan

Lebih jauh lagi, apakah monoteisme merupakan fenomena yang hanya lahir dari tradisi Israel?

Sejarah agama-agama Timur Tengah menunjukkan bahwa gagasan mengenai keesaan Tuhan muncul melalui proses panjang dalam berbagai kebudayaan.

Mesir memberikan salah satu contoh penting. Pada abad XIV SM, Fir'aun Akhenaton melakukan reformasi keagamaan yang sangat radikal dengan mengangkat Aten sebagai pusat pemujaan.

Mesopotamia pun menunjukkan perkembangan pemikiran keagamaan yang menarik. Dalam tradisi Babilonia, Marduk memperoleh kedudukan tertinggi, sementara berbagai tuhan dipahami dalam suatu hubungan yang semakin terintegrasi.

Sejarawan Albright melihat perkembangan tersebut sebagai bagian dari transformasi religius yang secara bertahap mendekati monoteisme. Dalam Hymne kepada Matahari, misalnya, terdapat gagasan bahwa banyak nama dan bentuk ilahi pada akhirnya menunjuk kepada satu realitas ketuhanan.

Dengan demikian, bukankah lebih tepat jika sejarah monoteisme dipahami sebagai perjalanan intelektual dan spiritual umat manusia yang panjang?

Bukannya sebagai hak eksklusif suatu bangsa?

Bahkan Gagasan tentang Manusia yang Menderita Bersifat Universal

Menariknya, perkembangan religius tersebut bukan hanya berkaitan dengan konsep Tuhan. Ia juga menyentuh pertanyaan tentang penderitaan manusia.

Dalam sastra Babilonia terdapat gambaran manusia saleh yang menderita, merasa ditinggalkan Tuhan, tetapi tetap berusaha mempertahankan kepercayaannya.

Gambaran tersebut mengingatkan kita kepada figur Ayub dalam tradisi Bibel.

Demikian pula, teks-teks Ugarit dari Ras Shamra memuat kisah tentang Danel, seorang tokoh yang mengalami penderitaan dan hukuman ilahi. Bahkan Yehezkiel menyebut Danel bersama Ayub dan Nuh sebagai figur yang dikenal karena kesalehannya.

Lalu, apa yang hendak dikatakan oleh semua kemiripan ini?

Barangkali bahwa pengalaman spiritual manusia tidak lahir dari satu bangsa saja.

Manusia di berbagai tempat menghadapi pertanyaan yang sama:

Mengapa orang yang benar harus menderita?
Mengapa Tuhan membiarkan kejahatan terjadi?
Apakah penderitaan memiliki makna?
Dan apakah manusia masih dapat berharap ketika segala sesuatu tampak runtuh?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut jauh lebih tua daripada batas-batas politik sebuah bangsa.

Eksodus: Sejarah atau Perumpamaan Spiritual?

Contoh lain yang menarik adalah kisah Keluaran atau Eksodus.

Mircea Eliade berpendapat bahwa penyeberangan Laut Merah tidak dapat begitu saja diperlakukan sebagai peristiwa sejarah yang dapat diverifikasi secara sederhana. Namun, apakah keterbatasan historis itu membuat kisah tersebut kehilangan arti?

Sama sekali tidak.

Justru di sinilah kekuatan mitos religius terlihat.

Eksodus menjadi simbol pembebasan manusia dari perbudakan. Ia bukan hanya kisah tentang perpindahan sekelompok manusia dari Mesir menuju tanah yang dijanjikan, tetapi juga sebuah gambaran spiritual tentang manusia yang keluar dari penindasan menuju kebebasan.

Sejak sekitar 621 SM, perayaan Eksodus semakin memperoleh posisi penting dalam perayaan Paskah. Kisah pembebasan itu kemudian menjadi bagian dari memori kolektif dan sejarah suci Yahudi.

Tetapi apakah pengalaman pembebasan semacam itu hanya dimiliki Israel?

Ternyata tidak.

Berbagai bangsa memiliki kisah tentang perjalanan panjang, penderitaan, pertolongan ilahi, dan pencarian tanah atau kehidupan yang lebih baik.

Bangsa Aztek, misalnya, memiliki kisah pengembaraan panjang menuju tempat yang dijanjikan oleh petunjuk ilahi. Suku-suku pengembara di berbagai wilayah Timur Tengah juga memiliki tradisi mengenai perjalanan dan pemberian tanah oleh Tuhan.

Dengan demikian, Eksodus dapat dipahami sebagai salah satu bentuk dari pengalaman religius manusia yang universal:

manusia ditindas, manusia berharap, manusia berjalan, dan manusia mencari kebebasan.

Mitos sebagai Bahasa Universal Manusia

Di sinilah kita menemukan fungsi penting mitos.

Mitos bukan sekadar cerita yang harus diuji hanya berdasarkan apakah setiap detailnya dapat diverifikasi secara historis. Mitos juga dapat menjadi bahasa simbolik untuk mengungkap pengalaman terdalam manusia.

Kisah banjir besar, misalnya, muncul dalam berbagai peradaban. Kita menemukannya dalam Gilgamesh di Mesopotamia hingga Popol Vuh dalam tradisi Maya.

Polanya hampir selalu mengandung gagasan yang serupa:

Manusia melakukan kesalahan.
Tuhan atau kekuatan ilahi memberikan hukuman.
Dunia lama berakhir.
Kemudian penciptaan dimulai kembali.

Bukankah pola semacam ini menunjukkan adanya pengalaman spiritual manusia yang melampaui batas etnis?

Demikian pula dengan himne-himne pujian kepada Tuhan. Setiap kebudayaan memiliki bentuknya sendiri dalam mengungkapkan rasa takjub terhadap penciptaan.

Dalam tradisi Inca, misalnya, terdapat pujian kepada Pachamama dan Wiraqocha:

«“Wiraqocha, akar dari wujud,
Tuhan selalu dekat,
yang menciptakan dengan berkata:
Jadilah pria,
Jadilah wanita.”»

Kemudian dilanjutkan dengan permohonan agar Tuhan menjaga ciptaan-Nya sehingga kehidupan dapat berkembang dan berjalan di jalan yang lurus.

Apakah pengalaman religius semacam ini dapat begitu saja dianggap tidak memiliki nilai hanya karena tidak lahir dari tradisi Israel?

Bahaya Etnosentrisme

Di titik ini muncul persoalan yang lebih besar.

Jika seseorang menjadikan satu tradisi sebagai ukuran mutlak untuk seluruh pengalaman religius manusia, bukankah ia sedang terjebak dalam etnosentrisme?

Mengapa pengalaman pencarian Tuhan dari bangsa lain harus dianggap lebih rendah?

Mengapa kisah pembebasan suatu bangsa harus dipandang universal, sementara kisah spiritual bangsa lain dianggap sekadar mitos lokal?

Bukankah setiap manusia, apa pun bangsanya, menghadapi persoalan yang sama tentang hidup, mati, penderitaan, kebebasan, keadilan, dan Tuhan?

Karena itu, persoalan “bangsa terpilih” menjadi semakin menarik.

Terpilih untuk apa?

Jika “terpilih” berarti menerima amanah moral dan spiritual, maka maknanya dapat dipahami sebagai tanggung jawab.

Tetapi jika “terpilih” diterjemahkan menjadi superioritas rasial, hak istimewa permanen, atau legitimasi politik atas bangsa lain, maka di situlah persoalan serius bermula.

Sebab pilihan ilahi, jika benar-benar berasal dari Tuhan, seharusnya melahirkan tanggung jawab—bukan kesombongan.

Dari Israel Menuju Universalitas

Dalam kerangka penulis, pesan kehidupan dan ajaran Yesus kemudian dipandang mencapai universalitas yang lebih luas.

Mengapa?

Karena visi tentang Kerajaan Tuhan tidak lagi dibatasi oleh kemenangan politik suatu bangsa. Ia justru berakar pada harapan orang-orang miskin dan tertindas.

Di sinilah terjadi pergeseran yang penting.

Agama tidak lagi semata-mata dibaca sebagai kisah tentang satu bangsa yang memperoleh kemenangan sejarah. Ia dibaca sebagai panggilan universal kepada manusia.

Bukankah ini juga yang membuat pesan spiritual menjadi hidup?

Sebab manusia tidak hanya membutuhkan identitas kolektif. Manusia juga membutuhkan makna yang dapat menembus batas bangsa, bahasa, dan zaman.

Monoteisme Bukan Milik Satu Bangsa

Menariknya, perjalanan menuju gagasan tentang Tuhan Yang Esa bahkan ditemukan dalam kebudayaan yang jauh dari Timur Tengah.

Tradisi Veda di India memberikan contoh yang sangat tua.

Rig-Veda memuat ungkapan:

«“Orang-orang bijak memberi lebih dari satu nama kepada wujud yang unik.”»

Dalam bagian lain dikatakan bahwa satu realitas ilahi menjadi sumber berbagai bentuk dan nama.

Gagasan tersebut kemudian diringkas dalam ungkapan:

«“Nama-namanya beragam, tetapi Dia adalah satu.”»

Teks-teks Veda tersebut berasal dari rentang waktu yang panjang, sekitar abad XVI hingga VI SM.

Jules Monchanin, dalam upayanya memahami dimensi spiritual Veda, menyebutnya sebagai bentuk “puisi liturgis yang mutlak”.

Sekali lagi kita dihadapkan pada pertanyaan yang sama:

Apakah pencarian manusia terhadap Tuhan Yang Esa benar-benar milik satu bangsa?

Atau justru merupakan bagian dari perjalanan panjang kesadaran manusia?

Refleksi Penutup

Maka, sebelum menjadikan konsep “bangsa terpilih” sebagai dasar politik, kita perlu berhenti sejenak dan bertanya:

Apa arti sebenarnya dari “terpilih”?

Apakah terpilih berarti lebih tinggi daripada yang lain?

Ataukah berarti memikul tanggung jawab yang lebih besar?

Apakah pilihan Tuhan merupakan lisensi untuk menguasai?

Ataukah amanah untuk menegakkan keadilan?

Jika sejarah agama-agama manusia memperlihatkan bahwa pencarian Tuhan, pengalaman penderitaan, kisah pembebasan, dan kerinduan terhadap kehidupan yang lebih baik ditemukan di berbagai peradaban, maka klaim eksklusivitas harus dibaca dengan sangat hati-hati.

Sebab bisa jadi yang universal bukanlah monopoli sebuah bangsa atas Tuhan, melainkan kerinduan seluruh manusia untuk menemukan Tuhan, kebebasan, keadilan, dan makna hidup.

Dan pada akhirnya, pertanyaan terpenting bukanlah:

“Bangsa mana yang paling dipilih?”

Melainkan:

“Siapa yang paling sungguh-sungguh menjalankan amanah yang dipercayakan Tuhan kepadanya?”


Cari Artikel Ketik Lalu Enter

Artikel Lainnya

Indeks Artikel

!qNusantar3 (1) 1+6!zzSirah Ulama (1) Abdullah bin Nuh (1) Abu Bakar (3) Abu Hasan Asy Syadzali (2) Abu Hasan Asy Syadzali Saat Mesir Dikepung (1) Aceh (6) Adam (5) Adnan Menderes (2) Adu domba Yahudi (1) adzan (1) Agama (1) Agribisnis (1) Ahli Epidemiologi (1) Air hujan (1) Akhir Zaman (1) Al-Baqarah (1) Al-Qur'an (362) Al-Qur’an (55) alam (3) Alamiah Kedokteran (1) Ali bin Abi Thalib (1) An-Nadwi (1) Andalusia (1) Angka Binner (1) Angka dalam Al-Qur'an (1) Aqidah (1) Ar Narini (2) As Sinkili (2) Asbabulnuzul (1) Ashabul Kahfi (1) Aurangzeb alamgir (1) Bahasa Arab (1) Bahaya Kemunduran Umat Islam (1) Bani Israel (1) Banjar (1) Banten (1) Barat (1) Belanja (1) Berkah Musyawarah (1) Bermimpi Rasulullah saw (1) Bertanya (1) Bima (1) Biografi (1) BJ Habibie (1) budak jadi pemimpin (1) Buku Hamka (1) busana (1) Buya Hamka (53) Cerita kegagalan (1) cerpen Nabi (8) cerpen Nabi Musa (2) Cina Islam (1) cinta (1) Covid 19 (1) Curhat doa (1) Dajjal (1) dakwah (16) Dakwah (17) Dasar Kesehatan (1) Deli Serdang (1) Demak (3) Demam Tubuh (1) Demografi Umat Islam (1) Detik (1) Diktator (1) Diponegoro (2) Dirham (1) Doa (1) doa mendesain masa depan (1) doa wali Allah (1) dukun (1) Dunia Islam (1) Duplikasi Kebrilianan (1) ekonomi (2) Ekonomi (11) energi kekuatan (1) Energi Takwa (1) english (6) English (6) Episentrum Perlawanan (1) filsafat (3) filsafat Islam (1) Filsafat Sejarah (1) Fiqh (1) Fir'aun (2) Firasat (1) Firaun (1) Gamal Abdul Naser (1) Gelombang dakwah (1) Gladiator (1) Gowa (1) grand desain tanah (1) Gua Secang (1) Haji (1) Haman (1) Hamka (3) Hasan Al Banna (7) Heraklius (4) Hidup Mudah (1) Hikayat (3) Hikayat Perang Sabil (2) hikmah (1) https://www.literaturislam.com/ (1) Hukum Akhirat (1) hukum kesulitan (1) Hukum Pasti (1) Hukuman Allah (1) Ibadah obat (1) Ibnu Hajar Asqalani (1) Ibnu Khaldun (1) Ibnu Sina (1) Ibrahim (1) Ibrahim bin Adham (1) ide menulis (1) Ikhwanul Muslimin (1) ilmu (2) Ilmu Laduni (3) Ilmu Sejarah (1) Ilmu Sosial (1) Imam Al-Ghazali (2) imam Ghazali (1) Instropeksi diri (1) interpretasi sejarah (1) Islam (1) ISLAM (2) Islam Cina (1) Islam dalam Bahaya (2) Islam di India (1) Islam Nusantara (1) Islampobia (1) Istana Al-Hambra (1) Istana Penguasa (1) Istiqamah (1) Jalan Hidup (1) Jamuran (1) Jebakan Istana (1) Jendral Mc Arthu (1) Jibril (1) jihad (1) Jiwa Berkecamuk (1) Jiwa Mujahid (1) Jogyakarta (1) jordania (1) jurriyah Rasulullah (1) Kabinet Abu Bakar (1) Kajian (1) kambing (1) Karamah (1) Karya Besar (1) Karya Fenomenal (1) Kebebasan beragama (1) Kebohongan Pejabat (1) Kebohongan Yahudi (1) kecerdasan (20) Kecerdasan (331) Kecerdasan Finansial (4) Kecerdasan Laduni (1) Kedok Keshalehan (1) Kejayaan Islam (1) Kejayaan Umat Islam (1) Kekalahan Intelektual (1) Kekhalifahan Islam (2) Kekhalifahan Turki Utsmani (1) Keluar Krisis (1) Kemiskinan Diri (1) Kepemimpinan (1) kerajaan Islam (1) kerajaan Islam di India (1) Kerajaan Sriwijaya (2) Kesehatan (1) Kesultanan Aceh (1) Kesultanan Nusantara (1) Ketuhanan Yang Maha Esa (1) Keturunan Rasulullah saw (1) Keunggulan ilmu (1) keunggulan teknologi (1) Kezaliman (2) KH Hasyim Ashari (1) Khaidir (2) Khalifatur Rasyidin (1) Kiamat (1) Kisah (1) Kisah Al Quran (1) kisah Al-Qur'an (1) Kisah Hadist (4) Kisah Nabi (1) Kisah Nabi dan Rasul (1) Kisah Para Nabi (1) kisah para nabi dan (2) kisah para nabi dan rasul (58) kisah para Nabi dan Rasul (1) Kisah para nabi dan rasul (113) Kisah Para Nabi dan Rasul (577) kisah para nabi dan rasul. Nabi Daud (1) kisah para nabi dan rasul. nabi Musa (2) Kisah Penguasa (1) Kisah ulama (1) kitab primbon (1) Koalisi Negara Ulama (1) Krisis Ekonomi (1) Kumis (1) Kumparan (1) Kurikulum Pemimpin (1) Laduni (1) lauhul mahfudz (1) lockdown (1) Logika (1) Luka darah (1) Luka hati (1) madrasah ramadhan (1) Madu dan Susu (1) Majapahi (1) Majapahit (4) Makkah (1) Malaka (1) Mandi (1) Matematika dalam Al-Qur'an (1) Maulana Ishaq (1) Maulana Malik Ibrahi (1) Melihat Wajah Allah (1) Memerdekakan Akal (1) Menaklukkan penguasa (1) Mendidik anak (1) mendidik Hawa Nafsu (1) Mendikbud (1) Menggenggam Dunia (1) menulis (1) Mesir (1) militer (1) militer Islam (1) Mimpi Rasulullah saw (1) Minangkabau (2) Mindset Dongeng (1) Muawiyah bin Abu Sofyan (1) Mufti Johor (1) muhammad al fatih (3) Muhammad bin Maslamah (1) Mukjizat Nabi Ismail (1) Musa (1) muslimah (1) musuh peradaban (1) nabi adam (1) Nabi Adam (75) nabi Adam. Adam (1) Nabi Ayub (1) Nabi Daud (3) Nabi Ibrahim (3) Nabi Isa (2) nabi Isa. nabi ismail (1) Nabi Ismail (1) Nabi Khaidir (1) Nabi Khidir (1) Nabi Musa (29) Nabi Nuh (6) Nabi Sulaiman (2) Nabi Yunus (1) Nabi Yusuf (15) Namrudz (2) Nasrulloh Baksolahar (1) NKRI (1) nol (1) Nubuwah Rasulullah (4) Nurudin Zanky (1) Nusa Tenggara (1) nusantara (9) Nusantara (297) Nusantara Tanpa Islam (1) obat cinta dunia (2) obat takut mati (1) Olahraga (6) Orang Lain baik (1) Orang tua guru (1) Padjadjaran (2) Palembang (1) Palestina (714) Pancasila (1) Pangeran Diponegoro (3) Pasai (2) Paspampres Rasulullah (1) Pembangun Peradaban (2) Pemecahan masalah (1) Pemerintah rapuh (1) Pemutarbalikan sejarah (1) Pengasingan (1) Pengelolaan Bisnis (1) Pengelolaan Hawa Nafsu (1) Pengobatan (1) pengobatan sederhana (1) Penguasa Adil (1) Penguasa Zalim (1) Penjajah Yahudi (35) Penjajahan Belanda (1) Penjajahan Yahudi (1) Penjara Rotterdam (1) Penyelamatan Sejarah (1) peradaban Islam (1) Perang Aceh (1) Perang Afghanistan (1) Perang Arab Israel (1) Perang Badar (3) Perang Ekonomi (1) Perang Hunain (1) Perang Jawa (1) Perang Khaibar (1) Perang Khandaq (2) Perang Kore (1) Perang mu'tah (1) Perang Paregreg (1) Perang Salib (4) Perang Tabuk (1) Perang Uhud (2) Perdagangan rempah (1) Pergesekan Internal (1) Perguliran Waktu (1) permainan anak (2) Perniagaan (1) Persia (2) Persoalan sulit (1) pertanian modern (1) Pertempuran Rasulullah (1) Pertolongan Allah (3) perut sehat (1) pm Turki (1) POHON SAHABI (1) Portugal (1) Portugis (1) ppkm (1) Prabu Satmata (1) Prilaku Pemimpin (1) prokes (1) puasa (1) pupuk terbaik (1) purnawirawan Islam (1) Qarun (2) Quantum Jiwa (1) Raffles (1) Raja Islam (1) rakyat lapar (1) Rakyat terzalimi (1) Rasulullah (1) Rasulullah SAW (1) Rasulullah shalallahu alaihi wassalam (1) Rehat (493) Rekayasa Masa Depan (1) Republika (2) respon alam (1) Revolusi diri (1) Revolusi Sejarah (1) Revolusi Sosial (1) Rindu Rasulullah (1) Romawi (4) Rumah Semut (1) Ruqyah (1) Rustum (1) Saat Dihina (1) Sahabat (1) sahabat Nabi (1) Sahabat Rasulullah (1) SAHABI (1) Salimul Aqidah (1) satu (1) Sayyidah Musyfiqah (1) Sejarah (2) Sejarah Nabi (1) Sejarah Para Nabi dan Rasul (1) Sejarah Penguasa (1) selat Malaka (2) Seleksi Pejabat (1) Sengketa Hukum (1) Serah Nabawiyah (1) Seruan Jihad (3) shalahuddin al Ayubi (3) shalat (1) Shalat di dalam kuburannya (1) Shalawat Ibrahimiyah (1) Simpel Life (1) Sirah Nabawiyah (322) Sirah Para Nabi dan Rasul (3) Sirah penguasa (11) Sirah Penguasa (248) sirah Sahabat (2) Sirah Sahabat (173) Sirah Tabiin (43) Sirah ulama (36) Sirah Ulama (158) Siroh Sahabat (1) Sofyan Tsauri (1) Solusi Negara (1) Solusi Praktis (1) Sriwijaya Islam (3) Strategi Demonstrasi (1) Suara Hewan (1) Suara lembut (1) Sudah Nabawiyah (1) Sufi (1) sugesti diri (1) sultan Hamid 2 (1) sultan Islam (1) Sultan Mataram (3) Sultanah Aceh (1) Sunah Rasulullah (2) sunan giri (3) Sunan Gresi (1) Sunan Gunung Jati (1) Sunan Kalijaga (1) Sunan Kudus (2) Sunatullah Kekuasaan (1) Supranatural (1) Surakarta (1) Syariat Islam (18) Syeikh Abdul Qadir Jaelani (2) Syeikh Palimbani (3) Tak Ada Solusi (1) Takdir Umat Islam (1) Takwa (1) Takwa Keadilan (1) Tamim Ad Dari (1) Tanda Hari Kiamat (1) Tasawuf (29) teknologi (2) tentang website (1) tentara (1) tentara Islam (1) Ternate (1) Thaharah (1) Thariqah (1) tidur (1) Titik kritis (1) Titik Kritis Kekayaan (1) Tragedi Sejarah (1) Turki (2) Turki Utsmani (2) Ukhuwah (1) Ulama Mekkah (3) Umar bin Abdul Aziz (5) Umar bin Khatab (3) Umar k Abdul Aziz (1) Ummu Salamah (1) Umpetan (1) Utsman bin Affan (2) veteran islam (1) Wabah (1) wafat Rasulullah (1) Wakaf (1) Waki bin Jarrah (1) Wali Allah (1) wali sanga (1) Walisanga (2) Walisongo (3) Wanita Pilihan (1) Wanita Utama (1) Warung Kelontong (1) Waspadai Ibadah (1) Wudhu (1) Yusuf Al Makasari (1) zaman kerajaan islam (1) Zulkarnain (1)