Sultan Iskandar Muda Menjepit Portugis di Malaka
Di awal abad ke-17, Malaka masih berada dalam cengkeraman Portugis sejak penaklukan tahun 1511. Pelabuhan itu bukan sekadar kota dagang, melainkan simpul utama perdagangan Asia Tenggara. Siapa yang menguasainya, menguasai arus rempah, emas, dan kekuatan geopolitik kawasan. Namun dari utara Sumatera, Kesultanan Aceh Darussalam di bawah Sultan Iskandar Muda mulai merancang strategi besar: menjepit Portugis hingga kehilangan daya cengkeramnya.
Sejak naik takhta pada 1607, Iskandar Muda tidak bergerak secara sporadis. Ia menyusun langkah berlapis. Tahap pertama adalah konsolidasi kekuatan internal. Angkatan laut Aceh dibangun menjadi salah satu yang terkuat di kawasan, dilengkapi kapal-kapal besar, meriam, dan pasukan terlatih. Armada ini bukan hanya alat tempur, tetapi instrumen kontrol atas Selat Malaka.
Namun Iskandar Muda memahami bahwa Malaka tidak bisa direbut hanya dengan satu serangan frontal. Ia memilih strategi mengepung dari luar. Penaklukan wilayah seperti Pahang (1617), Kedah (1619), dan Perak (1621) bukan ekspansi tanpa arah, melainkan upaya sistematis memutus jaringan pendukung Portugis. Wilayah-wilayah ini selama ini menjadi sumber logistik dan sekutu yang menopang pertahanan Malaka. Dengan menguasainya, Aceh secara perlahan mengisolasi Portugis.
Langkah berikutnya adalah tekanan ekonomi. Aceh menguasai daerah penghasil lada di Sumatera dan mengendalikan jalur perdagangan penting. Kapal-kapal Portugis yang melintas kerap disergap. Pelabuhan-pelabuhan strategis diblokade. Akibatnya, sistem perdagangan Portugis mulai terguncang. Mereka tidak lagi leluasa mengontrol arus barang seperti sebelumnya.
Di saat yang sama, Iskandar Muda membuka jalur diplomasi internasional. Hubungan dengan Kesultanan Utsmaniyah diperkuat untuk memperoleh dukungan teknologi militer, terutama meriam dan teknik peperangan. Kontak dengan Persia dan India juga dimanfaatkan untuk memperkuat logistik dan pasokan. Ini menunjukkan bahwa konflik di Malaka bukan sekadar perang lokal, tetapi bagian dari jaringan kekuatan global.
Puncak dari seluruh rangkaian strategi itu terjadi pada tahun 1629. Aceh melancarkan ekspedisi besar-besaran ke Malaka. Sekitar 19.000 prajurit dikerahkan, didukung ratusan kapal perang, termasuk kapal induk legendaris Cakra Dunia. Ini bukan lagi serangan biasa, melainkan upaya penentuan untuk mengakhiri dominasi Portugis.
Pertempuran berlangsung sengit. Pada fase awal, pasukan Aceh sempat menekan pertahanan Portugis. Namun situasi berbalik ketika bantuan militer Portugis datang dari Goa. Dukungan ini memperkuat pertahanan Malaka dan memukul mundur pasukan Aceh. Ekspedisi besar itu akhirnya gagal mencapai tujuan utamanya: merebut Malaka.
Meski demikian, kegagalan tersebut tidak serta-merta menghapus dampak strategis yang telah dibangun Iskandar Muda. Portugis memang masih bertahan, tetapi mereka tidak lagi berada dalam posisi dominan. Jalur perdagangan mereka terganggu, sekutu mereka berkurang, dan tekanan militer terus menghantui.
Di sisi lain, konteks global turut memengaruhi dinamika konflik. Eropa saat itu sedang dilanda Perang Tiga Puluh Tahun yang mempertemukan kekuatan Katolik dan Protestan. Portugis, sebagai kekuatan Katolik, mulai menghadapi tekanan dari Belanda yang berhaluan Protestan. Kehadiran Belanda di Nusantara kemudian menciptakan babak baru: Portugis melemah, tetapi Aceh juga menghadapi pesaing baru yang tak kalah ambisius.
Dalam perspektif ideologis, konflik ini juga sarat muatan keagamaan. Ulama seperti Nuruddin ar-Raniri menyebut perjuangan Aceh melawan Portugis sebagai jihad. Di sisi lain, tokoh seperti Francis Xavier melihat ekspansi Portugis sebagai misi suci. Ini menunjukkan bahwa pertempuran di Malaka bukan hanya perebutan wilayah, tetapi juga benturan keyakinan dan peradaban.
Pada akhirnya, strategi Sultan Iskandar Muda tidak sepenuhnya berhasil mengusir Portugis dari Malaka. Namun ia berhasil melakukan sesuatu yang lebih mendasar: menjepit kekuatan Portugis secara militer, ekonomi, dan diplomatik. Ia mengubah peta kekuasaan di Selat Malaka, dari dominasi tunggal menjadi arena persaingan terbuka.
Dari rangkaian ini terlihat bahwa keunggulan Iskandar Muda bukan hanya pada keberanian menyerang, tetapi pada kemampuannya membaca medan, memutus rantai kekuatan lawan, dan menekan dari berbagai arah sekaligus. Malaka mungkin belum jatuh, tetapi Portugis telah kehilangan kejayaannya—dan itu adalah hasil dari strategi panjang yang disusun dengan cermat dari Aceh.
Sumber
Salim A Fillah, Kisah-Kisah Pahlawan Nusantara, Pro U Media, 2022
https://bbaceh.kemendikdasmen.go.id/2021/04/30/aceh-portugis-dan-tahun-tahun-perang-suci-yang-membara/
0 komentar: