Kuli Pasar Madinah Menjadi Ketua Pasukan Khusus Pembuka Benteng Al-Bahnasa Romawi
Di tengah riuh pasar Madinah, nama Abu Mas'ud al-Badri mungkin tak menonjol. Ia bukan bangsawan, bukan pula saudagar kaya. Ia hanyalah seorang pekerja kasar—kuli pasar—yang mengandalkan tenaga untuk menyambung hidup. Namun, di balik kesederhanaannya, tersimpan keteguhan iman dan kesiapan berkorban yang kelak mengubah perannya dalam sejarah.
Ia termasuk generasi awal pendukung dakwah Rasulullah ï·º, bahkan berada di antara orang-orang Yatsrib yang mendesak agar Nabi diselamatkan dari tekanan di Makkah. Hidupnya keras, tetapi hatinya lembut. Saat seruan infak pada Perang Tabuk dikumandangkan, ia tidak memiliki apa-apa. Ia pergi ke pasar, bekerja sebagai kuli, lalu menyerahkan seluruh upahnya untuk perjuangan.
Namun kisahnya tidak berhenti di sana.
Beberapa tahun kemudian, panggung sejarah berpindah ke Mesir. Dalam ekspansi Islam di bawah komando Amr bin al-As pada masa Umar bin Khattab, terjadi pertempuran penting di Al-Bahnasa—wilayah strategis yang dikuasai Kekaisaran Bizantium. Benteng di kawasan ini terkenal sulit ditembus. Serangan berulang belum mampu merobohkan pertahanannya.
Di titik kebuntuan itulah, sebuah operasi khusus disusun.
Abu Mas’ud al-Badri ditunjuk memimpin pasukan kecil untuk menjalankan misi berisiko tinggi: menyusup dan membuka gerbang benteng dari dalam. Pilihan ini bukan kebetulan. Ia dikenal kuat, disiplin, dan memiliki keberanian yang teruji.
Malam itu, operasi dimulai dalam senyap. Pasukan khusus bergerak mendekati tembok benteng dengan membawa tangga kayu. Tanpa suara, mereka menegakkannya dan mulai memanjat. Gerakan mereka cepat, terukur, dan nyaris tak terlihat—seperti bayangan yang menyatu dengan gelap.
Setelah mencapai puncak, mereka melompat masuk ke dalam benteng. Serangan dilakukan secara tiba-tiba. Para penjaga yang lengah dilumpuhkan dalam waktu singkat. Target utama segera dicapai: gerbang benteng dibuka dari dalam.
Momentum itu tidak disia-siakan. Pasukan Muslimin segera masuk dan mengambil alih kendali. Benteng yang sebelumnya tak tertembus akhirnya jatuh.
Peristiwa di Al-Bahnasa bukan sekadar kemenangan militer. Ia memperlihatkan bagaimana sosok yang lahir dari kerasnya kehidupan—seorang kuli pasar—dapat menjelma menjadi pemimpin operasi penting di medan perang. Dalam struktur yang rapi dan strategi yang matang, keberanian individu seperti Abu Mas’ud menjadi faktor penentu.
Sejarah sering menyorot para jenderal. Namun, di balik keberhasilan besar, ada sosok-sosok sunyi yang bekerja dalam gelap—dan membuka jalan kemenangan.
Sumber
Hamid Az-Zaini, The Untold Stories Sahabat Nabi, GIP, 2025
0 komentar: