Agar Manusia Menjadi Pantulan Sifat-Sifat Allah
Menurut Jalaluddin Rumi, manusia adalah cermin bagi sifat-sifat Allah. Ia merupakan pantulan yang jujur, tempat tampaknya tanda-tanda kekuasaan dan keindahan Ilahi.
Segala kesempurnaan yang terlihat pada diri manusia sejatinya bukan miliknya, melainkan pantulan dari sifat-sifat Allah. Rumi mengibaratkannya seperti cahaya bulan yang memantul indah di atas permukaan sungai yang jernih. Keindahan itu bukan berasal dari air, tetapi dari cahaya yang dipantulkannya.
Demikian pula manusia. Ia bagaikan air bening yang memantulkan ilmu, keadilan, dan kelembutan Allah. Ketika hati bersih, pantulan itu tampak jelas—seperti bintang kejora yang berkilau di permukaan air yang tenang.
Namun, tidak semua manusia mampu menjadi cermin yang jernih. Pantulan itu hanya hadir pada hati yang bersih dan terjaga. Jika hati keruh oleh hawa nafsu dan kegelapan batin, maka cahaya Ilahi tidak lagi tampak dengan sempurna.
Karena itu, kunci agar manusia menjadi pantulan sifat-sifat Allah adalah menjaga kejernihan hati. Hati yang bening akan memantulkan keindahan Ilahi secara utuh, sebagaimana air jernih di setiap cekungan bumi yang mampu menangkap dan memantulkan cahaya langit.
Sumber
Abdul Hasan An-Nadwi, Jalaluddin Rumi Sufi Penyair Besar, Pustaka Firdaus, 2015
0 komentar: