Jihad Sultan Aceh terhadap Portugis di Malaka dari Masa ke Masa
Pada 1453, dunia berubah. Penaklukan Konstantinopel oleh Mehmed II menandai bangkitnya Kesultanan Utsmaniyah sebagai kekuatan global. Di Eropa, semangat Perang Salib memang mereda, tetapi tidak pernah benar-benar padam. Ia berubah bentuk—dari perang darat menjadi ekspansi laut.
Di sinilah Portugal mengambil peran. Dengan teknologi navigasi dan ambisi religius, mereka menjelajah samudra, membawa misi dagang sekaligus penyebaran agama. Setelah Vasco da Gama mencapai India pada 1498, jalan menuju Asia Tenggara terbuka. Puncaknya, pada 1511, Afonso de Albuquerque merebut Malaka—simpul utama perdagangan dunia Timur.
Sejak saat itu, Selat Malaka berubah menjadi medan konflik panjang.
Di utara Sumatera, Kesultanan Aceh Darussalam melihat kehadiran Portugis bukan sekadar ancaman ekonomi, tetapi juga ancaman akidah. Aktivitas misionaris, pembangunan gereja, serta agresi terhadap wilayah Muslim seperti Pasai memicu respons keras. Pada 1519, Aceh mulai menyerang kapal-kapal Portugis. Setahun kemudian, wilayah Daya direbut, diikuti Pidie dan Pasai pada 1524. Di bawah Ali Mughayat Syah, fondasi perlawanan mulai dibangun.
Konflik kemudian memasuki fase ekspedisi militer besar. Pada masa Alauddin al-Kahhar, Aceh tidak lagi menunggu. Serangan langsung ke Malaka dilancarkan berulang kali (1537, 1547, 1568). Untuk memperkuat posisi, Aceh menjalin aliansi dengan Kesultanan Utsmaniyah. Bantuan datang dalam bentuk prajurit, ahli artileri, dan persenjataan modern. Bahkan, pasukan Aceh diperkuat oleh elemen internasional—dari Turki hingga Moor India.
Namun, meski tekanan terus meningkat, Portugis tetap bertahan. Faktor utamanya: jaringan sekutu regional dan keunggulan benteng pertahanan di Malaka.
Memasuki akhir abad ke-16, di bawah Husain Ali Riayat Syah, serangan kembali digencarkan. Ekspedisi 1573 dan 1575 menunjukkan konsistensi strategi Aceh. Namun, hasilnya tetap sama: Portugis terdesak, tetapi tidak tumbang. Konflik internal Aceh setelah 1579 bahkan sempat menghentikan momentum.
Situasi berubah drastis pada awal abad ke-17. Setelah berhasil mengusir serangan Portugis pada 1607, seorang tokoh muda naik takhta: Sultan Iskandar Muda. Di tangannya, perang memasuki fase paling sistematis dan terorganisir.
Iskandar Muda tidak sekadar menyerang—ia menyusun strategi pengepungan total. Langkah pertamanya adalah ekspansi wilayah. Pahang (1617), Kedah (1619), dan Perak (1621) ditaklukkan. Ini bukan ekspansi biasa, melainkan operasi memutus jalur logistik Portugis. Wilayah-wilayah tersebut sebelumnya menjadi penopang Malaka. Dengan menguasainya, Aceh mengisolasi Portugis dari bantuan regional.
Langkah kedua adalah penguatan militer. Armada laut Aceh diperbesar secara signifikan, dengan kapal-kapal perang raksasa dan meriam berat. Selat Malaka tidak lagi aman bagi kapal Portugis. Penyergapan di laut menjadi taktik rutin.
Langkah ketiga: blokade ekonomi. Aceh mengendalikan perdagangan lada dan jalur pelayaran strategis. Portugis mulai kehilangan suplai dan pengaruh dagang. Tekanan tidak hanya datang dari meriam, tetapi juga dari kelumpuhan ekonomi.
Semua strategi ini mencapai puncaknya pada 1629. Dalam ekspedisi terbesar sepanjang sejarah Aceh, sekitar 19.000 prajurit dan ratusan kapal perang—termasuk kapal induk Cakra Dunia—dikerahkan untuk menggempur Malaka. Pertempuran berlangsung sengit. Pada awalnya, Aceh unggul.
Namun, sejarah kembali berulang. Bantuan militer Portugis dari Goa datang tepat waktu. Serangan Aceh dipatahkan. Ekspedisi besar itu gagal merebut Malaka.
Kegagalan ini sering dilihat sebagai titik lemah. Namun jika ditelusuri lebih dalam, justru di sinilah keberhasilan strategis Aceh terlihat. Selama lebih dari satu abad, Portugis tidak pernah benar-benar aman di Malaka. Mereka terus ditekan, diputus jalurnya, dan dipaksa bertahan.
Pada akhirnya, Portugis memang belum terusir pada masa Iskandar Muda. Namun dominasi mereka telah retak. Aceh, melalui jihad panjang dari masa ke masa, berhasil mengubah Malaka dari simbol kekuasaan tunggal menjadi medan perlawanan yang tak pernah sepi.
Dan sejarah sering membuktikan: kekuatan besar tidak selalu runtuh dalam satu serangan, tetapi melalui tekanan panjang yang tak henti-henti.
Sumber:
https://bbaceh.kemendikdasmen.go.id/2021/04/30/aceh-portugis-dan-tahun-tahun-perang-suci-yang-membara/
0 komentar: