basmalah Pictures, Images and Photos
Our Islamic Story

Choose your Language

Model Ideal Mengarungi Liku-liku Hidup Seorang ulama pernah berkata bahwa Allah akan memberikan cobaan demi cobaan kepada hamba-...

Model Ideal Mengarungi Liku-liku Hidup


Seorang ulama pernah berkata bahwa Allah akan memberikan cobaan demi cobaan kepada hamba-Nya, hingga ia berjalan di muka bumi dalam keadaan bersih dari dosa.

Makna ini dipertegas oleh Fudhail bin Iyadh yang mengatakan: 

 “Sesungguhnya Allah telah membuat perjanjian kepada hamba-Nya yang beriman akan adanya cobaan, sebagaimana seorang kepala keluarga telah berjanji kepada keluarganya akan adanya kebaikan.”

Dengan demikian, ujian bukanlah sesuatu yang asing dalam kehidupan seorang mukmin, melainkan bagian dari janji Ilahi yang mengandung kebaikan, meski sering tersembunyi di balik kesulitan.

Cara paling mudah untuk menjalani ujian dengan benar adalah dengan meneladani jalan yang telah dilalui oleh para kekasih Allah. Mereka adalah contoh hidup tentang bagaimana menghadapi berbagai bentuk ujian dengan sikap yang lurus dan hati yang teguh.

Dalam hal ini, Hatim Al-Asham memberikan gambaran yang mendalam: 

 “Sesungguhnya Allah akan menegakkan hujjah atas makhluk pada hari kiamat: dengan Nabi Sulaiman terhadap orang-orang kaya, Nabi Isa terhadap orang-orang miskin, Nabi Yusuf terhadap para budak, dan Nabi Ayyub terhadap orang-orang yang sakit.”

Pesan ini menunjukkan bahwa setiap keadaan hidup—kaya atau miskin, sehat atau sakit, merdeka atau tertindas—telah memiliki teladan yang sempurna. Tidak ada alasan bagi manusia untuk menyimpang, karena setiap ujian telah dicontohkan cara menjalaninya.


Sumber:
Al-Ghazali, Ihya Ulumuddin, Republika, 2016

Beragam Jenis Permainan Anak Bersama Rasulullah ï·º Permainan anak sering kali dianggap sekadar aktivitas pengisi wakt...

Beragam Jenis Permainan Anak Bersama Rasulullah ï·º


Permainan anak sering kali dianggap sekadar aktivitas pengisi waktu. Namun jika ditelusuri dalam jejak kehidupan Rasulullah ï·º, permainan justru menjadi bagian dari strategi pendidikan yang halus, manusiawi, dan penuh visi.

Dalam beberapa riwayat, tergambar jelas bagaimana Rasulullah ï·º tidak mematikan dunia anak-anak—justru merawatnya, mengarahkannya, dan memberinya makna.

Pada momen hari raya dan kesempatan tertentu di masjid, Rasulullah ï·º membiarkan Aisyah r.a. menyaksikan sekelompok orang Habasyah bermain tombak. Mereka menari dengan senjata, mempertontonkan ketangkasan dan keberanian. Ini bukan sekadar tontonan. Ada pesan yang dibiarkan tumbuh: bahwa permainan bisa menjadi sarana menanamkan jiwa kepahlawanan dan keberanian sejak dini.

Di kesempatan lain, dalam perjalanan, Rasulullah ï·º bahkan terlibat langsung. Beliau berlomba lari dengan Aisyah r.a. Sebuah adegan sederhana, namun sarat makna: kedekatan emosional, kehangatan relasi, sekaligus dorongan terhadap aktivitas fisik.

Tidak berhenti di situ, Rasulullah ï·º juga pernah mengumpulkan putra-putra Abbas bin Abdul Muthalib. Mereka dibariskan, lalu didorong untuk berlomba, saling mendahului, dan berusaha menjadi yang terdepan. Setelahnya, beliau memberi hadiah. Di sini, permainan berubah menjadi ruang belajar: tentang kompetisi yang sehat, sportivitas, dan penghargaan terhadap usaha.

Ketika melewati sekelompok orang yang sedang berlatih memanah, Rasulullah ï·º tidak hanya menyaksikan. Beliau memberi legitimasi sekaligus motivasi:

"Wahai keturunan Ismail, berlatihlah memanah, karena kakek kalian Ismail adalah seorang pemanah."

Permainan diarahkan menjadi latihan keterampilan hidup—ketangkasan, fokus, dan kesiapan menghadapi tantangan.

Di dalam rumah, wajah lain dari pendidikan itu tampak. Aisyah r.a. bermain boneka, bahkan memiliki boneka kuda bersayap—sebuah ruang bagi imajinasi untuk tumbuh. Ia juga bermain ayunan, menikmati keceriaan masa kecilnya tanpa tekanan.

Dan ketika Rasulullah ï·º melihat anak-anak bermain pasir, beliau tidak melarang. Justru membiarkan, seraya bersabda:

"Biarkan mereka, karena pasir adalah taman bagi anak-anak."

Sebuah pernyataan yang, jika ditelusuri lebih dalam, mengandung pemahaman psikologis yang melampaui zamannya: anak-anak belajar melalui eksplorasi.


---

Dari berbagai peristiwa tersebut, dapat ditarik setidaknya lima manfaat utama permainan bagi anak:

Pertama, permainan melatih perkembangan fisik. Aktivitas seperti berlari, memanah, atau bermain ayunan membantu membangun kekuatan, koordinasi, dan kesehatan tubuh.

Kedua, permainan membentuk keberanian dan mental kompetitif yang sehat. Lomba dan permainan strategi mengajarkan anak menghadapi kemenangan dan kekalahan dengan sikap yang seimbang.

Ketiga, permainan mengasah keterampilan hidup. Memanah, misalnya, bukan sekadar permainan, tetapi latihan fokus, kesabaran, dan ketepatan.

Keempat, permainan memperkuat hubungan emosional. Keterlibatan Rasulullah ï·º dalam bermain bersama Aisyah menunjukkan bahwa kebersamaan dalam permainan membangun kedekatan dan rasa aman.

Kelima, permainan merangsang imajinasi dan kreativitas. Boneka, pasir, dan permainan bebas menjadi ruang bagi anak untuk berpikir, berkhayal, dan memahami dunia dengan caranya sendiri.


---

Jika ditarik ke hari ini, pendekatan Rasulullah ï·º seolah menjadi kritik diam terhadap pola pendidikan yang terlalu kaku—yang sering kali memaksa anak tumbuh sebelum waktunya, tetapi melupakan cara mereka belajar.

Rasulullah ï·º tidak sekadar membiarkan anak bermain. Beliau memahami bahwa di balik permainan, ada proses pembentukan manusia.

Dan di situlah letak kejeniusan pendidikan itu: tidak menghilangkan masa kecil, tetapi menjadikannya fondasi bagi masa depan.

Sumber:
Adnan Hasan Shalih Baharits, Mendidik Anak Laki-laki, GIP, 2023

Menjadi Dewasa? Orang yang selalu disibukkan oleh urusan duniawi tidak akan mampu bertindak rasional, meskipun usianya telah men...

Menjadi Dewasa?

Orang yang selalu disibukkan oleh urusan duniawi tidak akan mampu bertindak rasional, meskipun usianya telah mencapai seratus tahun. Ia tetap seperti seorang anak kecil yang belum berpikir dewasa.

Sebaliknya, seorang anak kecil yang tidak tenggelam dalam kesibukan duniawi, pada hakikatnya memiliki kedewasaan. Dalam hal ini, ukuran umur tidak lagi menjadi penentu.

Akal yang dewasa ibarat air yang jernih—tidak berubah dan mampu membersihkan segala kotoran. Ia tetap murni karena tidak tercampuri apa pun. Demikian pula akal yang tidak tercampuri oleh kecintaan berlebihan terhadap dunia, ia akan tetap jernih dan mampu melihat kebenaran dengan utuh.

Sumber:
Jalaluddin Rumi, Fihi Ma Fihi, Penerbit Forum, 2016

Meraih Akhir Hidup yang Paling Diridhai-Nya Di malam menjelang Perang Uhud, Abdullah bin Jahsy berdoa dengan sumpah yang menggun...

Meraih Akhir Hidup yang Paling Diridhai-Nya


Di malam menjelang Perang Uhud, Abdullah bin Jahsy berdoa dengan sumpah yang mengguncang langit batin:

“Ya Allah, aku bersumpah kepada-Mu.
Besok pagi aku akan bertemu musuh. Aku akan syahid—atau Engkau menangkan aku atas mereka.
Jika mereka membelah perutku, mengiris hidungku, dan mencabik telingaku, lalu aku menghadap-Mu…
dan Engkau bertanya, ‘Demi siapa ini semua?’
maka aku akan menjawab, ‘Untuk-Mu.’”

Doa itu bukan sekadar harapan. Ia adalah perjanjian yang sadar—seolah ia telah melihat apa yang akan terjadi esok hari, saat barisan Muslimin porak-poranda.

Saad bin Abi Waqqash yang mendengar doa itu kemudian berkata:

“Kami mendapatkan apa yang kami mohon. Tetapi doa Abdullah bin Jahsy lebih baik dari doaku.”

Ia mengakui, doanya masih berlapis dunia:

“Aku berdoa agar bertemu musuh yang kuat, lalu aku mengalahkannya dan mendapatkan harta rampasan.
Sedangkan dia berdoa untuk menghadap Allah dalam keadaan paling diridhai-Nya.
Dan dia mendapatkannya… dia mendapatkannya.”

Di titik ini, ukuran kemenangan berubah. Bukan lagi sekadar hidup atau menang, tetapi bagaimana seseorang kembali kepada Allah.


---

Ada pula seorang sahabat yang menolak bagian rampasan perang. Ia berkata di hadapan Rasulullah ï·º:

“Tidak, wahai Rasulullah… bukan untuk ini aku berperang.”

Lalu ia menunjuk satu titik di lehernya—tempat nadi berdenyut.

Rasulullah ï·º bersabda:

“Jika ia jujur kepada Allah, ia akan mendapatkan apa yang ia cita-citakan.”

Dan pada pertempuran berikutnya, anak panah benar-benar menancap tepat di titik yang ia tunjuk. Kejujuran itu dijawab dengan takdir.


---

Umar bin Khattab pun pernah berdoa dengan permintaan yang tampak mustahil:

“Ya Allah, matikan aku sebagai syahid di tanah Nabi-Mu.”

Putrinya, Hafsah binti Umar, terkejut:

“Ayah… apakah engkau ingin syahid di Madinah? Apakah itu berarti musuh akan menyerang kota ini?”

Umar menjawab dengan keyakinan yang tenang:

“Wahai Hafsah, Allah Maha Kuasa mengabulkan permohonan tanpa mengurangi karunia-Nya kepada hamba yang lain.”

Dan sejarah membenarkannya. Umar wafat sebagai syahid di mihrab, ditikam oleh Abu Lu’lu’ah—tanpa perlu Madinah menjadi medan perang.


---

Di sinilah letak inti dari semua kisah ini: mereka tidak sekadar hidup untuk Allah, tetapi merencanakan kematian mereka bersama-Nya.

Bukan mencintai kematian sebagai pelarian, melainkan merindukan akhir yang paling diridhai.

Seorang Muslim tidak diperintahkan untuk mencari kematian, tetapi diperintahkan untuk memastikan: ketika kematian datang, ia datang dalam keadaan paling mulia.


---

Lalu, bagaimana mewujudkannya di era sekarang?

Pertama, meluruskan niat dalam setiap amal—bahwa semua yang dilakukan benar-benar “untuk-Nya”, bukan untuk lapisan-lapisan dunia yang tersembunyi.

Kedua, berani memiliki cita-cita spiritual yang tinggi, tidak hanya sekadar selamat, tetapi diridhai.

Ketiga, mengganti ukuran sukses: dari “apa yang didapat” menjadi “bagaimana kembali”.

Keempat, menjaga kejujuran batin—karena Allah membalas sesuai kejujuran itu.

Kelima, memperbanyak doa yang spesifik dan penuh kesadaran, sebagaimana para sahabat berdoa dengan arah yang jelas tentang akhir hidup mereka.


---

Pada akhirnya, kisah-kisah ini mengajarkan satu hal yang sering luput:
bahwa kematian pun bisa direncanakan—bukan waktunya, tetapi keadaannya.

Dan di situlah letak kemuliaan seorang mukmin.

Sumber:
Salim A Fillah, Jalan Cinta Para Pejuang, Pro U Media, 2009

Menangisnya Umar Saat Pembebasan Negeri Di masa Umar bin Khattab, kemenangan kaum Muslimin terjadi secara luar biasa. Wilayah Pe...


Menangisnya Umar Saat Pembebasan Negeri

Di masa Umar bin Khattab, kemenangan kaum Muslimin terjadi secara luar biasa. Wilayah Persia, Romawi, dan Mesir berhasil dibebaskan, sementara negeri Syam lepas dari kekuasaan Romawi. Kota Madinah pun dipenuhi dengan berbagai perbendaharaan dari negeri-negeri tersebut.

Namun, di tengah gelombang kemenangan itu, sikap Umar justru di luar dugaan. Ia tidak larut dalam kegembiraan, tetapi malah menangis.

Sambil menangis, Umar berkata,
“Jika ini adalah kebaikan, mengapa semua ini tidak terjadi di masa Rasulullah Muhammad dan Abu Bakar Ash-Shiddiq?”

Ia kemudian melanjutkan dengan introspeksi yang mendalam,
“Mengapa ini terjadi di masaku? Apakah Allah hendak memisahkanku dari kedua kekasihku?”

Sumber:
Salim A Fillah, Jalan Cinta Para Pejuang, Pro U Media, 2009

Bagi yang Ateis: Al-Qur'an Menggelar "Penyelidikan" tentang Asal Usul Manusia Bagaimana Al-Qur'an menghadapi o...


Bagi yang Ateis: Al-Qur'an Menggelar "Penyelidikan" tentang Asal Usul Manusia


Bagaimana Al-Qur'an menghadapi orang yang menolak keberadaan Tuhan? Menariknya, Al-Qur'an tidak memulai dengan ancaman, melainkan dengan serangkaian pertanyaan yang menguji konsistensi logika manusia.

Dalam Surah Aá¹­-Ṭūr ayat 35–37, Al-Qur'an membangun sebuah rangkaian penyelidikan intelektual. Setiap pertanyaan menutup satu kemungkinan, hingga akhirnya hanya menyisakan satu kesimpulan yang paling masuk akal: adanya Sang Pencipta.

Pertanyaan Pertama: Dari Mana Manusia Berasal?

Allah berfirman:

«"Apakah mereka tercipta tanpa asal-usul ataukah mereka menciptakan diri mereka sendiri?" (QS. Aá¹­-Ṭūr: 35)»

Inilah fondasi penyelidikan Al-Qur'an.

Ada dua kemungkinan yang diajukan.

Pertama, manusia muncul begitu saja tanpa sebab dan tanpa pencipta. Kedua, manusia menciptakan dirinya sendiri.

Kedua-duanya bertentangan dengan akal sehat. Sesuatu yang sebelumnya tidak ada tidak mungkin menghadirkan dirinya sendiri. Demikian pula, sesuatu yang belum eksis tidak mungkin menjadi penyebab keberadaannya sendiri.

Karena itu, keberadaan manusia mengharuskan adanya penyebab yang berada di luar dirinya.

Pertanyaan Kedua: Siapa Pencipta Alam Semesta?

Penyelidikan kemudian diperluas.

«"Apakah mereka menciptakan langit dan bumi? Sebenarnya mereka tidak meyakini (apa yang mereka katakan)." (QS. Aá¹­-Ṭūr: 36)»

Jika manusia tidak mampu menciptakan dirinya sendiri, apakah mereka mampu menciptakan langit dan bumi beserta seluruh sistem yang menopang kehidupan?

Al-Qur'an menunjukkan bahwa jawaban itu mustahil.

Bahkan kaum musyrik Arab pada masa Nabi Muhammad ï·º pun mengakui bahwa Allah adalah Pencipta langit dan bumi. Namun pengakuan tersebut tidak diikuti dengan konsekuensi untuk mentauhidkan-Nya.

Masalah mereka bukan kekurangan bukti, melainkan tidak adanya keyakinan yang konsisten terhadap konsekuensi dari apa yang mereka akui sendiri.

Pertanyaan Ketiga: Siapa yang Mengendalikan Segala Sesuatu?

Setelah asal-usul manusia dan alam semesta dibahas, penyelidikan berlanjut pada persoalan kekuasaan.

«"Apakah di sisi mereka ada perbendaharaan Tuhanmu ataukah mereka yang berkuasa?" (QS. Aá¹­-Ṭūr: 37)»

Apakah manusia memiliki seluruh perbendaharaan rahmat Allah? Apakah mereka menentukan siapa yang menjadi nabi, siapa yang memperoleh rezeki, atau bagaimana alam semesta berjalan?

Faktanya, tidak.

Manusia tidak menguasai kelahiran, kematian, pergantian siang dan malam, ataupun hukum-hukum alam. Mereka hanya memanfaatkan aturan yang telah Allah tetapkan, bukan menciptakannya.

Karena itu, otoritas mutlak tetap berada di tangan Allah semata.

Sebuah Rangkaian Logika yang Mengguncang

Ayat-ayat ini tidak menyerang lawan dengan emosi. Al-Qur'an justru mengajak manusia berpikir secara bertahap.

Pertama, manusia tidak mungkin ada tanpa sebab.

Kedua, manusia tidak menciptakan dirinya sendiri.

Ketiga, manusia juga tidak menciptakan alam semesta.

Keempat, manusia tidak mengendalikan seluruh hukum dan perbendaharaan alam.

Jika seluruh kemungkinan itu gugur, maka tersisa satu kesimpulan yang logis: adanya Tuhan Yang Mahamencipta dan Mahakuasa.

Kekuatan argumentasi ini begitu besar sehingga mengguncang hati banyak orang.

Imam al-Bukhari meriwayatkan bahwa Jubair bin Muá¹­'im, yang ketika itu masih musyrik dan menjadi tawanan setelah Perang Badar, mendengar Nabi Muhammad ï·º membaca Surah Aá¹­-Ṭūr dalam salat Magrib. Ketika bacaan sampai pada ayat 35–37, ia berkata bahwa seakan-akan jantungnya hampir terbang dari dadanya. Peristiwa itu menjadi salah satu sebab yang membuka jalan hidayah hingga akhirnya ia memeluk Islam.

Surah Aṭ-Ṭūr menunjukkan bahwa Al-Qur'an tidak hanya berbicara kepada hati, tetapi juga kepada akal. Keimanan tidak dibangun di atas logika yang dipaksakan, melainkan melalui penyelidikan yang menuntut manusia jujur terhadap kesimpulan yang lahir dari akalnya sendiri.




Shalahuddin Al-Ayubi: Dari Pemuda Lembut Menjadi Pembebas Baitul Maqdis Banyak sejarawan enggan menuliskan sepertiga awal kehidu...

Shalahuddin Al-Ayubi: Dari Pemuda Lembut Menjadi Pembebas Baitul Maqdis

Banyak sejarawan enggan menuliskan sepertiga awal kehidupan Shalahuddin Al-Ayubi secara rinci, karena khawatir bagian itu akan “menodai” gambaran besarnya sebagai seorang pembebas agung.

Dalam catatan Baha ad-Din ibn Shaddad, masa remaja Yusuf—nama kecil Shalahuddin—jauh dari bayangan seorang panglima. Ia membenci pertempuran, ngeri membayangkan darah, dan bergidik melihat luka. Bahkan jeritan kesakitan pun tak sanggup ia dengar.

Kesehariannya lebih dekat dengan kelembutan: ia mencintai kuda-kuda anggun, gemar bermain bola, dan menikmati waktu bertamasya. Jiwanya melankolis, sensitif, mudah menangis karena hal-hal sepele, serta kerap dilanda sakit.

Namun, perjalanan hidupnya tidak berhenti pada fase itu.

Yusuf kemudian tumbuh menjadi sosok pemberani, adil, dan visioner—pemimpin yang kelak membebaskan Baitul Maqdis dari tangan Tentara Salib. Perubahan drastis ini menjadikan namanya dikenal dunia sebagai Shalahuddin Al-Ayubi.

Apa yang mengubahnya?

Menurut Majid Irsan al-Kilani, Islam memiliki kekuatan untuk mentransformasi manusia secara mendasar. Nilai-nilai ilahiyah mampu menyusun ulang komposisi jiwa: seorang yang lemah dapat menjadi kuat, yang takut menjadi berani, dan yang tampak biasa dapat menjelma luar biasa. Masa lalu bukanlah akhir, melainkan titik awal bagi kemungkinan yang lebih besar di masa depan.

Transformasi Yusuf tidak terjadi secara tiba-tiba. Ia ditempa melalui bimbingan dan lingkungan yang kuat, khususnya di bawah asuhan Nur ad-Din Zangi dan pamannya, Asad ad-Din Shirkuh.

Dari tangan merekalah, seorang pemuda yang lembut dibentuk menjadi pemimpin yang tegas—dari jiwa yang rapuh menjadi fondasi bagi lahirnya seorang pembebas.

Sumber: 
Salim A Fillah, Jalan Cinta Para Pejuang, Pro U Media, 2009

Cari Artikel Ketik Lalu Enter

Artikel Lainnya

Indeks Artikel

!qNusantar3 (1) 1+6!zzSirah Ulama (1) Abdullah bin Nuh (1) Abu Bakar (3) Abu Hasan Asy Syadzali (2) Abu Hasan Asy Syadzali Saat Mesir Dikepung (1) Aceh (6) Adnan Menderes (2) Adu domba Yahudi (1) adzan (1) Agama (1) Agribisnis (1) Ahli Epidemiologi (1) Air hujan (1) Akhir Zaman (1) Al-Baqarah (1) Al-Qur'an (362) Al-Qur’an (44) alam (3) Alamiah Kedokteran (1) Ali bin Abi Thalib (1) An-Nadwi (1) Andalusia (1) Angka Binner (1) Angka dalam Al-Qur'an (1) Aqidah (1) Ar Narini (2) As Sinkili (2) Asbabulnuzul (1) Ashabul Kahfi (1) Aurangzeb alamgir (1) Bahasa Arab (1) Bahaya Kemunduran Umat Islam (1) Bani Israel (1) Banjar (1) Banten (1) Barat (1) Belanja (1) Berkah Musyawarah (1) Bermimpi Rasulullah saw (1) Bertanya (1) Bima (1) Biografi (1) BJ Habibie (1) budak jadi pemimpin (1) Buku Hamka (1) busana (1) Buya Hamka (53) Cerita kegagalan (1) cerpen Nabi (8) cerpen Nabi Musa (2) Cina Islam (1) cinta (1) Covid 19 (1) Curhat doa (1) Dajjal (1) dakwah (8) Dakwah (2) Dasar Kesehatan (1) Deli Serdang (1) Demak (3) Demam Tubuh (1) Demografi Umat Islam (1) Detik (1) Diktator (1) Diponegoro (2) Dirham (1) Doa (1) doa mendesain masa depan (1) doa wali Allah (1) dukun (1) Dunia Islam (1) Duplikasi Kebrilianan (1) energi kekuatan (1) Energi Takwa (1) english (6) English (6) Episentrum Perlawanan (1) filsafat (3) filsafat Islam (1) Filsafat Sejarah (1) Fiqh (1) Fir'aun (2) Firasat (1) Firaun (1) Gamal Abdul Naser (1) Gelombang dakwah (1) Gladiator (1) Gowa (1) grand desain tanah (1) Gua Secang (1) Haji (1) Haman (1) Hamka (3) Hasan Al Banna (7) Heraklius (4) Hidup Mudah (1) Hikayat (3) Hikayat Perang Sabil (2) hikmah (1) https://www.literaturislam.com/ (1) Hukum Akhirat (1) hukum kesulitan (1) Hukum Pasti (1) Hukuman Allah (1) Ibadah obat (1) Ibnu Hajar Asqalani (1) Ibnu Khaldun (1) Ibnu Sina (1) Ibrahim (1) Ibrahim bin Adham (1) ide menulis (1) Ikhwanul Muslimin (1) ilmu (2) Ilmu Laduni (3) Ilmu Sejarah (1) Ilmu Sosial (1) Imam Al-Ghazali (2) imam Ghazali (1) Instropeksi diri (1) interpretasi sejarah (1) Islam (1) ISLAM (2) Islam Cina (1) Islam dalam Bahaya (2) Islam di India (1) Islam Nusantara (1) Islampobia (1) Istana Al-Hambra (1) Istana Penguasa (1) Istiqamah (1) Jalan Hidup (1) Jamuran (1) Jebakan Istana (1) Jendral Mc Arthu (1) Jibril (1) jihad (1) Jiwa Berkecamuk (1) Jiwa Mujahid (1) Jogyakarta (1) jordania (1) jurriyah Rasulullah (1) Kabinet Abu Bakar (1) Kajian (1) kambing (1) Karamah (1) Karya Besar (1) Karya Fenomenal (1) Kebebasan beragama (1) Kebohongan Pejabat (1) Kebohongan Yahudi (1) kecerdasan (19) Kecerdasan (318) Kecerdasan Finansial (4) Kecerdasan Laduni (1) Kedok Keshalehan (1) Kejayaan Islam (1) Kejayaan Umat Islam (1) Kekalahan Intelektual (1) Kekhalifahan Islam (2) Kekhalifahan Turki Utsmani (1) Keluar Krisis (1) Kemiskinan Diri (1) Kepemimpinan (1) kerajaan Islam (1) kerajaan Islam di India (1) Kerajaan Sriwijaya (2) Kesehatan (1) Kesultanan Aceh (1) Kesultanan Nusantara (1) Ketuhanan Yang Maha Esa (1) Keturunan Rasulullah saw (1) Keunggulan ilmu (1) keunggulan teknologi (1) Kezaliman (2) KH Hasyim Ashari (1) Khaidir (2) Khalifatur Rasyidin (1) Kiamat (1) Kisah (1) Kisah Al Quran (1) kisah Al-Qur'an (1) Kisah Hadist (4) Kisah Nabi (1) Kisah Nabi dan Rasul (1) Kisah Para Nabi (1) kisah para nabi dan (2) kisah para nabi dan rasul (51) kisah para Nabi dan Rasul (1) Kisah para nabi dan rasul (101) Kisah Para Nabi dan Rasul (577) kisah para nabi dan rasul. Nabi Daud (1) kisah para nabi dan rasul. nabi Musa (2) Kisah Penguasa (1) Kisah ulama (1) kitab primbon (1) Koalisi Negara Ulama (1) Krisis Ekonomi (1) Kumis (1) Kumparan (1) Kurikulum Pemimpin (1) Laduni (1) lauhul mahfudz (1) lockdown (1) Logika (1) Luka darah (1) Luka hati (1) madrasah ramadhan (1) Madu dan Susu (1) Majapahi (1) Majapahit (4) Makkah (1) Malaka (1) Mandi (1) Matematika dalam Al-Qur'an (1) Maulana Ishaq (1) Maulana Malik Ibrahi (1) Melihat Wajah Allah (1) Memerdekakan Akal (1) Menaklukkan penguasa (1) Mendidik anak (1) mendidik Hawa Nafsu (1) Mendikbud (1) Menggenggam Dunia (1) menulis (1) Mesir (1) militer (1) militer Islam (1) Mimpi Rasulullah saw (1) Minangkabau (2) Mindset Dongeng (1) Muawiyah bin Abu Sofyan (1) Mufti Johor (1) muhammad al fatih (3) Muhammad bin Maslamah (1) Mukjizat Nabi Ismail (1) Musa (1) muslimah (1) musuh peradaban (1) Nabi Adam (71) Nabi Ayub (1) Nabi Daud (3) Nabi Ibrahim (3) Nabi Isa (2) nabi Isa. nabi ismail (1) Nabi Ismail (1) Nabi Khaidir (1) Nabi Khidir (1) Nabi Musa (29) Nabi Nuh (6) Nabi Sulaiman (2) Nabi Yunus (1) Nabi Yusuf (15) Namrudz (2) Nasrulloh Baksolahar (1) NKRI (1) nol (1) Nubuwah Rasulullah (4) Nurudin Zanky (1) Nusa Tenggara (1) nusantara (5) Nusantara (266) Nusantara Tanpa Islam (1) obat cinta dunia (2) obat takut mati (1) Olahraga (6) Orang Lain baik (1) Orang tua guru (1) Padjadjaran (2) Palembang (1) Palestina (658) Pancasila (1) Pangeran Diponegoro (3) Pasai (2) Paspampres Rasulullah (1) Pembangun Peradaban (2) Pemecahan masalah (1) Pemerintah rapuh (1) Pemutarbalikan sejarah (1) Pengasingan (1) Pengelolaan Bisnis (1) Pengelolaan Hawa Nafsu (1) Pengobatan (1) pengobatan sederhana (1) Penguasa Adil (1) Penguasa Zalim (1) Penjajah Yahudi (35) Penjajahan Belanda (1) Penjajahan Yahudi (1) Penjara Rotterdam (1) Penyelamatan Sejarah (1) peradaban Islam (1) Perang Aceh (1) Perang Afghanistan (1) Perang Arab Israel (1) Perang Badar (3) Perang Ekonomi (1) Perang Hunain (1) Perang Jawa (1) Perang Khaibar (1) Perang Khandaq (2) Perang Kore (1) Perang mu'tah (1) Perang Paregreg (1) Perang Salib (4) Perang Tabuk (1) Perang Uhud (2) Perdagangan rempah (1) Pergesekan Internal (1) Perguliran Waktu (1) permainan anak (2) Perniagaan (1) Persia (2) Persoalan sulit (1) pertanian modern (1) Pertempuran Rasulullah (1) Pertolongan Allah (3) perut sehat (1) pm Turki (1) POHON SAHABI (1) Portugal (1) Portugis (1) ppkm (1) Prabu Satmata (1) Prilaku Pemimpin (1) prokes (1) puasa (1) pupuk terbaik (1) purnawirawan Islam (1) Qarun (2) Quantum Jiwa (1) Raffles (1) Raja Islam (1) rakyat lapar (1) Rakyat terzalimi (1) Rasulullah (1) Rasulullah SAW (1) Rasulullah shalallahu alaihi wassalam (1) Rehat (493) Rekayasa Masa Depan (1) Republika (2) respon alam (1) Revolusi diri (1) Revolusi Sejarah (1) Revolusi Sosial (1) Rindu Rasulullah (1) Romawi (4) Rumah Semut (1) Ruqyah (1) Rustum (1) Saat Dihina (1) Sahabat (1) sahabat Nabi (1) Sahabat Rasulullah (1) SAHABI (1) Salimul Aqidah (1) satu (1) Sayyidah Musyfiqah (1) Sejarah (2) Sejarah Nabi (1) Sejarah Para Nabi dan Rasul (1) Sejarah Penguasa (1) selat Malaka (2) Seleksi Pejabat (1) Sengketa Hukum (1) Serah Nabawiyah (1) Seruan Jihad (3) shalahuddin al Ayubi (3) shalat (1) Shalat di dalam kuburannya (1) Shalawat Ibrahimiyah (1) Simpel Life (1) Sirah Nabawiyah (299) Sirah Para Nabi dan Rasul (3) Sirah penguasa (11) Sirah Penguasa (247) sirah Sahabat (2) Sirah Sahabat (171) Sirah Tabiin (43) Sirah ulama (31) Sirah Ulama (158) Siroh Sahabat (1) Sofyan Tsauri (1) Solusi Negara (1) Solusi Praktis (1) Sriwijaya Islam (3) Strategi Demonstrasi (1) Suara Hewan (1) Suara lembut (1) Sudah Nabawiyah (1) Sufi (1) sugesti diri (1) sultan Hamid 2 (1) sultan Islam (1) Sultan Mataram (3) Sultanah Aceh (1) Sunah Rasulullah (2) sunan giri (3) Sunan Gresi (1) Sunan Gunung Jati (1) Sunan Kalijaga (1) Sunan Kudus (2) Sunatullah Kekuasaan (1) Supranatural (1) Surakarta (1) Syariat Islam (18) Syeikh Abdul Qadir Jaelani (2) Syeikh Palimbani (3) Tak Ada Solusi (1) Takdir Umat Islam (1) Takwa (1) Takwa Keadilan (1) Tamim Ad Dari (1) Tanda Hari Kiamat (1) Tasawuf (29) teknologi (2) tentang website (1) tentara (1) tentara Islam (1) Ternate (1) Thaharah (1) Thariqah (1) tidur (1) Titik kritis (1) Titik Kritis Kekayaan (1) Tragedi Sejarah (1) Turki (2) Turki Utsmani (2) Ukhuwah (1) Ulama Mekkah (3) Umar bin Abdul Aziz (5) Umar bin Khatab (3) Umar k Abdul Aziz (1) Ummu Salamah (1) Umpetan (1) Utsman bin Affan (2) veteran islam (1) Wabah (1) wafat Rasulullah (1) Wakaf (1) Waki bin Jarrah (1) Wali Allah (1) wali sanga (1) Walisanga (2) Walisongo (3) Wanita Pilihan (1) Wanita Utama (1) Warung Kelontong (1) Waspadai Ibadah (1) Wudhu (1) Yusuf Al Makasari (1) zaman kerajaan islam (1) Zulkarnain (1)