Arti kata akal adalah ikatan. Pengertian ini sangat sesuai dengan fungsinya. Sebagaimana tali mengikat unta agar tidak berlari tanpa arah, akal mengikat manusia agar tidak lepas mengikuti hawa nafsunya. Dalam pepatah Melayu dikenal ungkapan: “Mengikat binatang dengan tali, mengikat manusia dengan akal.”
Akal, dengan demikian, bukan sekadar kemampuan berpikir. Ia adalah kekuatan batin yang membuat manusia mampu menahan diri, mempertimbangkan sesuatu, melihat akibat dari perbuatannya, lalu memilih jalan yang patut ditempuh.
Amin bin Abdul Kudus menjelaskan bahwa secara istilah, akal adalah pengetahuan tentang perkara-perkara yang mesti diketahui. Pengetahuan itu dapat diperoleh melalui dua jalan. Pertama, melalui pancaindra. Mata menangkap bentuk, warna, ukuran dan keadaan benda. Telinga mengenali suara, apakah merdu atau sumbang, dekat atau jauh. Lidah mengenali rasa asin, manis dan asam. Hidung mengenali harum dan busuk, sedangkan kulit merasakan kasar dan lembut.
Kedua, ada pengetahuan yang bermula dari dalam diri manusia. Misalnya, mengetahui bahwa sesuatu ada atau tidak ada; memahami bahwa gerak dan diam tidak mungkin berkumpul pada saat yang sama; atau mengetahui bahwa satu lebih sedikit daripada dua. Pengetahuan semacam ini merupakan perkara yang bersifat dharuri, yaitu pengetahuan dasar yang secara langsung dapat diketahui oleh manusia yang sehat akalnya.
Pengertian tersebut pada dasarnya tidak bertentangan dengan perkembangan ilmu pengetahuan modern. Akal terbentuk melalui pertemuan berbagai unsur dalam diri manusia: pancaindra, pikiran, kemauan, dan perasaan. Pancaindra menangkap kenyataan, pikiran mengolahnya, kemauan mendorong manusia untuk menyelidikinya, sedangkan perasaan memberikan warna terhadap apa yang dialaminya.
Karena itu, ada pula yang mendefinisikan akal sebagai kemampuan untuk memperoleh pertimbangan yang membuat manusia dapat mengatur pekerjaannya dengan baik serta memahami akibat, keuntungan, dan kerugiannya.
Namun, sampai di sini kita perlu berhenti sejenak. Apakah setiap orang yang mampu berpikir dan memperhitungkan keuntungan serta kerugian sudah dapat disebut sebagai orang yang berakal?
Belum tentu.
Dalam pengertian yang lebih dalam, orang berakal bukan hanya orang yang cerdas, melainkan orang yang arif dan bijaksana. Ia mampu menimbang sesuatu secara proporsional, memahami sebab dan akibat, serta belajar dari perjalanan hidup. Penderitaan dapat memutihkan rambutnya, tetapi pengalaman menjernihkan pikirannya. Apa yang dilihat dan didengarnya tidak berlalu begitu saja. Semuanya menjadi bahan yang memperkaya jiwa dan mempertajam pandangan.
Orang semacam itu belajar mengenali awal dan akhir suatu perkara, memahami sebab dan akibat, serta mampu mengambil pelajaran dari pengalaman. Karena itu, ia bukan sekadar memiliki kecerdasan, tetapi memiliki kebijaksanaan. Ia dapat menjadi teladan bagi orang-orang di sekitarnya karena dari kecerdikan akalnya, keluasan ilmunya, dan ketajaman pengalamannya lahir berbagai pertimbangan yang dapat dijadikan pedoman hidup.
Di sinilah akal memperoleh maknanya yang lebih tinggi.
Akal bukan hanya kemampuan mengetahui, tetapi kemampuan mengambil sikap yang benar berdasarkan apa yang diketahui.
Orang yang berakal, dalam pengertian ini, adalah orang yang memperoleh inayah dari Allah. Ia memiliki kekayaan batin yang tidak dapat diukur dengan harta. Seorang jutawan mungkin kaya karena banyak memiliki sesuatu di luar dirinya, tetapi orang yang diberi cahaya hidayah memiliki kekayaan yang memancar dari dalam dirinya.
Hatinya dipenuhi kebijaksanaan. Prasangkanya baik. Harapannya benar. Ia tidak berhenti pada apa yang tampak di permukaan, tetapi berusaha menembus sampai kepada hakikat. Orang lain mungkin hanya melihat kulit sebuah peristiwa, sedangkan ia berusaha memahami isinya. Karena itu, ia tidak mudah tergelincir dengan sengaja.
Menurut sebagian ahli ilmu jiwa, akal bukanlah satu sifat yang berdiri sendiri. Ia merupakan hasil kerja sama tiga unsur dalam diri manusia: pikiran, kemauan, dan perasaan—al-fikr, al-iradah, dan al-wijdan. Dalam ungkapan yang sederhana: rasa, periksa, dan karsa.
Pancaindra menjadi pintu pertama yang menangkap berbagai kenyataan. Apa yang ditangkap itu kemudian masuk ke dalam pikiran. Pikiran melahirkan dorongan untuk menyelidiki. Dari sana muncul pula perasaan—senang atau sedih, kagum atau takut, tenang atau gelisah. Ketiga unsur itu saling berinteraksi hingga lahirlah pengetahuan.
Bayangkan seseorang berjalan sendirian di sebuah tempat yang sunyi. Alam terbentang indah di hadapannya. Keindahan itu mungkin menimbulkan rasa haru dan takjub. Kesunyian mungkin menghadirkan rasa sepi. Dari perasaan tersebut muncul keinginan untuk mengetahui: mengapa alam ini begitu indah? Dari mana keindahan itu berasal? Bagaimana semua itu terjadi?
Pertanyaan-pertanyaan itu menggerakkan pikirannya.
Perasaan, kemauan, dan pikiran akhirnya bekerja bersama. Dari sinilah lahir makrifah, yaitu pengetahuan yang lebih mendalam.
Semakin panjang seseorang menjalani kehidupan, semakin banyak pula pengalaman yang semestinya memperluas pikirannya, memperteguh kemauannya, dan mengajarinya menggunakan akalnya dengan lebih matang.
Tidak semua manusia memiliki kekuatan yang sama pada ketiga unsur tersebut. Ada yang sangat halus perasaannya sehingga menjadi seniman besar. Namun, ketika menciptakan karya, ia tetap membutuhkan pikiran dan kemauan. Ada filosof yang sangat dalam pikirannya, tetapi gagasan-gagasannya tetap lahir melalui perasaan dan kehendaknya. Ada pula pemimpin atau panglima yang memiliki kemauan keras. Namun, kemauan itu sering kali bermula dari perasaan: kesedihan melihat penderitaan bangsanya atau kemarahan menyaksikan kezaliman. Setelah itu, pikirannya bekerja mencari jalan untuk mewujudkan kehendaknya.
Dengan demikian, karya manusia pada hakikatnya lahir dari perpaduan berbagai kekuatan batin.
Syair dan roman yang indah lahir dari rasa keindahan yang ditopang pikiran. Pemikiran filsafat yang mendalam lahir dari pikiran yang besar, tetapi tetap membutuhkan perasaan dan kemauan. Ilmu peperangan dan perjuangan lahir dari kemauan yang teguh, tetapi membutuhkan pikiran yang sehat dan perasaan yang menggerakkannya.
Karena itu, tidak tepat jika akal hanya dipersempit menjadi kemampuan berpikir secara logis.
Bahkan, sebagian ahli ilmu jiwa berpendapat bahwa pengetahuan datang lebih dahulu setelah berbagai kenyataan ditangkap oleh pancaindra. Namun, pengetahuan itu pun tidak serta-merta lahir hanya karena mata melihat atau telinga mendengar. Perhatian sangat menentukan.
Seseorang dapat berjalan di tengah keramaian dengan mata terbuka dan telinga mendengar berbagai suara, tetapi jika seluruh pikirannya sedang tertuju pada persoalan yang sangat berat, ia mungkin tidak menyadari ketika seseorang menegurnya. Ia mendengar suara itu, tetapi kesadarannya belum hadir di sana. Setelah berjalan beberapa langkah, barulah ia tersadar bahwa ada orang yang menyapanya.
Peristiwa sederhana ini menunjukkan bahwa melihat tidak selalu berarti mengetahui, dan mendengar tidak selalu berarti menyadari.
Ada sesuatu yang lebih dalam: perhatian, kesadaran, dan pikiran.
Di sanalah rahasia akal mulai tampak.
Akal bekerja ketika manusia tidak sekadar menerima apa yang masuk melalui pancaindra, tetapi menghadirkannya ke dalam kesadaran, memikirkannya, merasakannya, mempertimbangkannya, lalu mengambil sikap.
Maka, semakin sempurna akal seseorang, semestinya semakin dalam pula kemampuannya membaca kehidupan. Ia tidak hanya bertanya, “Apa yang terjadi?”, tetapi juga, “Mengapa ini terjadi? Apa maknanya? Apa akibatnya? Dan apa yang seharusnya kulakukan?”
Pada titik itulah akal menjadi lebih daripada kecerdasan.
Ia menjadi ikatan yang menjaga manusia agar tidak diperbudak oleh hawa nafsu, sekaligus cahaya yang menuntunnya mengenali jalan yang benar.
Sebab manusia tidak menjadi mulia hanya karena ia mampu mengetahui banyak hal. Ia menjadi mulia ketika pengetahuannya membuatnya mampu mengendalikan diri, memahami kehidupan, mengambil pelajaran, dan memilih kebenaran meskipun hawa nafsunya mengajaknya ke arah yang lain.
Itulah akal yang sesungguhnya: bukan sekadar mengetahui, melainkan mampu mengikat diri kepada kebenaran.
0 komentar: