basmalah Pictures, Images and Photos
Kota-Kota Pelabuhan Muslim di Indonesia - Our Islamic Story

Kota-Kota Pelabuhan Muslim di Indonesia Sebelum Portugis datang ke Nusantara, ja...

Kota-Kota Pelabuhan Muslim di Indonesia

Kota-Kota Pelabuhan Muslim di Indonesia


Sebelum Portugis datang ke Nusantara, jaringan perdagangan di kepulauan Indonesia sesungguhnya telah berkembang sangat luas. Kota-kota pelabuhan tumbuh bukan sekadar sebagai tempat kapal berlabuh dan barang diperdagangkan, tetapi juga sebagai pusat kekuasaan, kebudayaan, dan penyebaran Islam. Sejumlah pelabuhan bahkan berkembang menjadi ibu kota kerajaan Muslim sekaligus negara-kota yang memiliki hubungan perdagangan dengan berbagai wilayah Asia.

Data sejarah dan arkeologis menunjukkan bahwa salah satu kerajaan Islam paling awal di kawasan ini adalah Samudera Pasai, yang berkembang sejak abad ke-13. Sultan Malik as-Salih dikenal sebagai sultan pertamanya dan wafat pada 695 H/1297 M. Pertumbuhan Samudera Pasai sebagai kesultanan dan pusat perdagangan dapat diketahui melalui berbagai temuan batu nisan serta sumber-sumber lokal, terutama Hikayat Raja-Raja Pasai dan Sejarah Melayu (J.P. Moquette, 1913: 1–12).

Namun, gambaran tentang kehidupan kota-kota pelabuhan Muslim di Nusantara tidak hanya bersumber dari catatan lokal. Laporan para pelancong dan penulis asing—seperti Marco Polo, para penulis Tiongkok, Ibnu Batutah, dan Tome Pires—juga memberikan informasi yang sangat penting. Catatan-catatan tersebut membantu merekonstruksi keadaan politik, ekonomi, sosial, dan budaya kota-kota pelabuhan Nusantara pada masa itu.

Ibnu Batutah, misalnya, dalam Rihlah-nya memberikan gambaran mengenai keadaan kota, kebiasaan kaum bangsawan, kehidupan ekonomi, produk kerajaan, perdagangan regional dan internasional, penggunaan uang logam, serta aktivitas pasar. Informasi tersebut menjadi salah satu sumber penting untuk memahami dinamika kehidupan masyarakat Samudera Pasai (Ross E. Dunn, 1995: 387–389; Cortesao, 1944: 142–145).

Samudera Pasai: Pelabuhan Muslim di Selat Malaka

Pada awal abad ke-16, Tome Pires menggambarkan Pasai sebagai sebuah kota pelabuhan yang besar. Penduduknya diperkirakan tidak kurang dari dua puluh ribu orang. Pelabuhan ini memperdagangkan berbagai komoditas, antara lain lada, sutera, kapur barus, dan berbagai barang lainnya.

Setelah Malaka mengalami kekalahan dalam perang, Pasai semakin berkembang sebagai pusat perdagangan. Pedagang dari berbagai negeri datang ke kota ini dan melakukan transaksi dalam skala besar. Tome Pires menyebut kehadiran pedagang dari Bengal, Roma, Turki, Arab, Persia, Gujarat, Keling, Melayu, Jepang, Siam, serta berbagai wilayah lainnya (Cortesao, 1944: 142).

Dengan demikian, sejak abad ke-13 hingga abad ke-16, Samudera Pasai bukan hanya dikenal sebagai salah satu kesultanan Muslim paling awal di Asia Tenggara. Ia juga berkembang menjadi salah satu pusat penting islamisasi dan perdagangan di kawasan tersebut (Uka Tjandrasasmita, 1988: 67–82).

Kemajuan perdagangan itu didukung pula oleh sistem moneter. Pasai menghasilkan emas, perak, dan timah untuk pembuatan uang logam. Salah satu yang terkenal adalah dirham, yaitu koin emas berukuran kecil yang mencantumkan nama sultan yang sedang berkuasa. Tome Pires juga menyebut adanya uang logam kecil dari perak dan timah serta para penukar uang yang biasa menunggu di sekitar jalan dekat pasar.

Pelabuhan Pasai juga memiliki sistem pungutan perdagangan. Untuk barang tertentu yang keluar dari pelabuhan dikenakan pungutan berdasarkan berat maupun jenis barang. Pedagang dari wilayah Barat, misalnya, dikenai bea tertentu atas barang dagangan yang mereka bawa. Sistem semacam ini menunjukkan bahwa perdagangan Pasai telah ditopang oleh administrasi pelabuhan dan mekanisme fiskal yang cukup teratur (Cortesao, 1944: 145).

Pasai bukanlah satu-satunya pelabuhan penting di sepanjang Selat Malaka. Di jalur perdagangan ini terdapat pula Aru, Kampar, Siak, Indragiri, Tungkal, Jambi, Palembang, dan terutama Malaka. Kota-kota tersebut membentuk jaringan perdagangan yang saling terhubung.

Malaka: Tumbuh dari Hubungan dengan Pasai

Berbeda dengan beberapa kerajaan pesisir lainnya, Malaka telah berkembang sebagai kerajaan Islam sejak awal abad ke-15. Hubungannya dengan Samudera Pasai berlangsung erat, baik dalam bidang diplomatik maupun ekonomi.

Hubungan kedua kerajaan tersebut diperkuat oleh berbagai bukti sejarah dan arkeologis. Bentuk batu nisan di Malaka pada sekitar 1475–1511 M, yang oleh Othman Mohd. Yatim diklasifikasikan sebagai tipe A–B, menunjukkan kemiripan dengan batu nisan yang ditemukan di Samudera Pasai (Othman Mohd. Yatim, 1988: 47).

Pengaruh Pasai juga tampak dalam penggunaan koin emas. Bentuk dirham Samudera Pasai diketahui kemudian diperkenalkan di Malaka pada abad ke-15 (Ibrahim, 1979: 9).

Tome Pires juga mencatat adanya hubungan perkawinan antara keluarga Pasai dan penguasa Malaka. Menurut catatannya, seorang putri Pasai menikah dengan Paramisora, Raja Malaka, pada 1414. Perkawinan tersebut dikaitkan dengan proses masuk Islamnya sang raja (Cortesao, 1944: 242).

Hubungan antara Pasai dan Malaka terus berlangsung pada masa pemerintahan Saquem Dara atau Muhammad Iskandar Shah. Namun, dalam perkembangannya, Malaka tumbuh semakin kuat dan akhirnya menjadi pusat perdagangan regional dan internasional yang melampaui Pasai.

Tome Pires menggambarkan Malaka sebagai kota yang didatangi pedagang dari berbagai penjuru dunia. Mereka datang dari Moor, Kairo, Mekkah, Aden, Abessinia, Kilwa, Malindi, Ormuz, Persia, Turki, Armenia, Gujarat, Chaul, Dabbol, Deccan, Malabar, Keling, Orissa, Ceylon, Bengal, Arakan, Pegu, Siam, Kedah, Pahang, Patani, Kamboja, Campa, Tiongkok, Brunei, Maluku, Banda, Bima, Timor, Madura, Jawa, Sunda, Palembang, Jambi, Minangkabau, Siak, Aru, Pasai, dan berbagai wilayah lainnya.

Mereka datang membawa barang dagangan dari negeri masing-masing dan pulang dengan membawa komoditas dari Nusantara dan kawasan Asia lainnya, seperti cengkeh, porselen, kapur barus, emas, timah, sutera, serta berbagai barang berharga lainnya (Cortesao, 1944: 270).

Malaka pada akhirnya menjadi sebuah kota kosmopolitan. Laut bukan lagi sekadar batas geografis, tetapi menjadi jalan yang mempertemukan manusia, barang, bahasa, budaya, dan agama dari berbagai negeri.

Mengapa Malaka Menjadi Pusat Perdagangan?

Keberhasilan Malaka sebagai kerajaan Islam sekaligus kota pelabuhan terbesar di Asia Tenggara pada abad ke-15 hingga ke-16 tidak terjadi secara kebetulan.

Barbara Watson Andaya dan Leonard Y. Andaya menjelaskan beberapa faktor yang mendukung kemajuan Malaka. Pertama, Malaka memiliki perangkat hukum dan administrasi yang mampu memberikan kepastian bagi para pedagang asing. Kedua, raja menunjukkan perhatian terhadap keamanan dan keadilan. Seorang sultan bahkan lebih memilih berada di kota daripada pergi berburu agar dapat mendengar dan menyelesaikan berbagai persoalan yang muncul di pusat perdagangan.

Ketiga, Malaka menyediakan fasilitas perdagangan yang memadai. Para pedagang memiliki tempat penyimpanan barang yang terlindung dari kebakaran, kerusakan, maupun pencurian. Pemerintah juga mengembangkan sistem administrasi yang mampu melayani komunitas perdagangan yang semakin besar.

Yang menarik, Malaka mengangkat empat syahbandar, masing-masing mewakili kelompok pedagang dari wilayah tertentu. Dengan demikian, keberagaman penduduk dan pedagang tidak dianggap sebagai persoalan, tetapi justru dikelola melalui sistem pemerintahan yang sesuai dengan kebutuhan kota pelabuhan.

Malaka akhirnya memiliki reputasi sebagai kota yang aman, pemerintahan yang tertib, pasar yang kosmopolitan, dan fasilitas perdagangan yang memadai. Semua itu menciptakan kepercayaan di kalangan pedagang bahwa perdagangan di Malaka dapat berlangsung secara aman dan menguntungkan (Barbara W. Andaya, 1982: 42–43).

Dari Selat Malaka Menuju Jawa

Pertumbuhan Samudera Pasai dan Malaka memberikan pengaruh besar terhadap perkembangan kerajaan-kerajaan Islam di Jawa dan wilayah Nusantara lainnya.

Pada sekitar 1478, Demak mulai berkembang sebagai pusat kekuasaan di Jawa, sementara Jepara tumbuh sebagai salah satu pelabuhan pentingnya. Tome Pires menyebut penguasa Demak sebagai Pate Rodim, yang umumnya dikaitkan dengan Raden Patah. Setelah itu muncul Pate Unus, yang dikenal karena serangannya terhadap Malaka pada 1512. Ia kemudian diikuti oleh Trenggono, raja ketiga Demak, yang memperluas kekuasaan kerajaan ke berbagai wilayah Jawa.

Trenggono juga berusaha menghadapi pengaruh Portugis sekaligus memperluas kekuasaan Demak ke wilayah barat dan timur Jawa. Dalam ekspansi ke Blambangan, ia terbunuh pada 1546 (H.J. de Graaf & Th.G.Th. Pigeaud, 1986: 66).

Tome Pires memberikan gambaran menarik tentang Demak dalam Suma Oriental. Saat itu, wilayah pesisir utara Jawa sedang mengalami perubahan besar. Demak dan para pengikutnya menguasai sejumlah wilayah pesisir, sementara daerah pedalaman masih berada di bawah pengaruh kerajaan Hindu-Buddha, termasuk sisa-sisa Majapahit yang berpusat di Daha dan Pajajaran Sunda yang berpusat di Pakuan.

Menurut Tome Pires, Demak merupakan ibu kota kerajaan dengan sekitar delapan hingga sepuluh ribu rumah. Sementara itu, Jepara berfungsi sebagai kota pelabuhan utamanya.

Demak tidak hanya membangun kekuatan politik. Perdagangan regional dan internasional juga menjadi sumber penting pendapatan kerajaan dan kemakmuran masyarakat. Selain Jepara, jaringan pelabuhan Demak mencakup Tuban, Gresik, Sedayu, dan pelabuhan-pelabuhan lainnya di Jawa Timur.

Tome Pires bahkan menggambarkan Jepara sebagai salah satu pusat perdagangan terpenting di Jawa. Letaknya yang strategis membuat Jepara menjadi tempat berkumpulnya pedagang yang kemudian menyebar ke berbagai wilayah lain di pulau itu (Cortesao, 1944: 189).

Komoditas yang diekspor dari pelabuhan-pelabuhan Demak antara lain beras, lada panjang, tamarind, sapi, lembu, domba, kambing, kerbau, dan berbagai bahan makanan. Sementara itu, barang yang diimpor mencakup berbagai jenis kain dari Cambay, Keling, dan Bengal serta keramik dari Tiongkok.

Gresik juga berkembang sebagai pelabuhan besar. Pedagang dari Gujarat, Calicut, Bengal, Siam, Tiongkok, dan Liu-Kiu datang ke kota ini. Dengan demikian, pelabuhan-pelabuhan Jawa menjadi bagian dari jaringan perdagangan Asia yang jauh lebih luas.

Cirebon dan Banten: Munculnya Pusat Islam di Jawa Barat

Perluasan kekuasaan Demak kemudian bergerak ke pantai utara Jawa Barat hingga Cirebon dan Banten. Kedua wilayah tersebut berkembang sebagai kerajaan Islam, meskipun memiliki hubungan dengan Demak.

Menurut Tome Pires, Cirebon mulai berkembang sebagai pusat ibu kota dan pelabuhan Islam sekitar 1473. Sementara itu, sumber lokal Carita Purwaka Caruban Nagari memberikan kronologi yang lebih awal (Atja, 1972: 5–7).

Ketika Tome Pires tiba di Cirebon sekitar 1513, wilayah tersebut termasuk ke dalam lingkungan kekuasaan Jawa dan berada di bawah pengaruh Pate Rodim dari Demak. Ia memperkirakan Cirebon memiliki ribuan penduduk. Kota ini juga dikenal menghasilkan beras dan berbagai bahan makanan lainnya (Cortesao, 1944: 183).

Di sebelah baratnya, Banten mulai memasuki babak baru dalam sejarahnya. Pada 1526, Banten didirikan sebagai kerajaan Islam oleh Sunan Gunung Jati bersama putranya, Maulana Hasanuddin, yang kemudian dikenal sebagai sultan pertamanya.

Ketika Tome Pires mengunjungi wilayah tersebut, Banten masih berada di bawah Kerajaan Sunda Pajajaran dengan pusat pemerintahan di Banten Girang. Pelabuhan Banten telah melakukan perdagangan dengan berbagai wilayah dan mengekspor sejumlah komoditas, termasuk pala. Hubungan perdagangan juga telah berlangsung dengan Maladewa.

Setelah menjadi pusat kerajaan Islam, Banten berkembang pesat sebagai kota pelabuhan. Perdagangan regional dan internasional semakin ramai hingga Banten menjadi salah satu negara-kota terkemuka di Nusantara.

Ketika Belanda datang ke Indonesia pada 1596, Banten telah menjadi pelabuhan kosmopolitan. Para saudagar dari berbagai daerah di Nusantara berdatangan, antara lain dari Maluku, Ambon, Banda, Makassar, Sumbawa, Jaratan, Gresik, Pati, Yuwana, Sumatra, dan Kalimantan. Pedagang asing juga datang dari Tiongkok, Arab, Persia, India, Cambay, Bengal, dan berbagai wilayah lainnya.

Willem Lodewijcksz, yang mencatat perjalanan pertama Belanda ke Indonesia di bawah pimpinan Cornelis de Houtman pada 1595–1597, menggambarkan keberagaman pedagang dan komoditas yang memenuhi pasar Banten (Rouffaer & Ijzerman, 1915: 110–113; Uka Tjandrasasmita, 2000: 136–144).

Bukti kejayaan Banten tidak hanya berasal dari catatan tertulis. Temuan arkeologis juga memperlihatkan luasnya hubungan perdagangan kota ini. Keramik dari Tiongkok, Annam, Sawankhalok di Thailand, serta berbagai benda dari Timur Tengah dan Eropa ditemukan di kawasan Banten (Mundardjito, Hasan Muarif Ambary & Hasan Djafar, 1978: 44).

Banten bahkan memiliki kawasan permukiman khusus berdasarkan komunitas pedagang. Terdapat Pecinan bagi masyarakat Tionghoa dan Pakojan bagi para pedagang Muslim dari Gujarat, Bengal, Persia, Arab, dan Abessinia. Orang Belanda memiliki kawasan tersendiri yang dilengkapi pagar untuk perlindungan. Bahkan orang Portugis telah tinggal di Banten sebelum kedatangan Belanda.

Keberagaman tersebut menunjukkan bahwa kota pelabuhan Banten telah berkembang menjadi masyarakat kosmopolitan. Berbagai bangsa hidup dan berdagang dalam satu ruang kota, sementara pemerintah mengatur hubungan mereka melalui struktur administratif dan perdagangan.

Pada abad ke-17, Banten mencapai puncak kekuasaannya di bawah Sultan Ageng Tirtayasa yang memerintah pada 1651–1683. Ia aktif mengembangkan perdagangan regional dan internasional sekaligus berusaha mempertahankan kedaulatan Banten dari tekanan politik VOC (Uka Tjandrasasmita, 1984: 27–30; 34–45).

Hubungan Banten dengan Maluku juga semakin kuat. Perdagangan rempah-rempah dari Maluku menjadi bagian penting dari aktivitas ekonomi Banten. Hubungan dagang tersebut diperkuat oleh hubungan politik yang sebelumnya telah dibangun Demak dengan Ternate dan Tidore.

Maluku: Islam di Tengah Jalur Rempah

Jika Jawa dan Sumatra berkembang sebagai pusat perdagangan, Maluku memiliki keunggulan lain: rempah-rempah.

Sumber-sumber lokal menyebutkan bahwa orang-orang Muslim telah mengunjungi Maluku sejak abad ke-14. Di Ternate, misalnya, kedatangan Muslim Arab pada masa pemerintahan Raja Molomateya (1350–1357) dikaitkan dengan pengajaran teknik pembuatan kapal.

Pada masa berikutnya, datang Maulana Husein dari Jawa. Ia dikenal memiliki kemampuan menulis huruf Arab dan membaca Al-Qur'an. Kemampuannya menarik perhatian masyarakat Maluku dan memperkuat pengaruh Islam di wilayah tersebut.

Namun, tokoh penguasa Maluku yang paling terkenal dalam proses islamisasi adalah Zainal Abidin, yang dikenal dengan sebutan Bulawa atau Raja Rempah-rempah. Ia memerintah pada 1468–1500 dan disebut mengunjungi Sunan Giri di Gresik bersama Pendeta Jamilu.

Sumber lain, seperti Suma Oriental karya Tome Pires dan A Treatise on the Moluccas—Historia das Moluccas karya Antonio Galvao sekitar 1544, memberikan gambaran bahwa penguasa-penguasa Maluku mulai memeluk Islam sekitar 1460–1465 (Jacobs, 1970: 83–85; Cortesao, 1944: 213).

Menurut Tome Pires, penguasa Ternate yang memeluk Islam dikenal sebagai Sultan Ben Acorala. Ia merupakan salah satu penguasa yang menggunakan gelar sultan, sementara penguasa lainnya masih disebut raja atau kolano. Selain Ternate dan Tidore, masyarakat Muslim juga telah ditemukan di Banda, Haruku, Makian, Motir, dan Bacan (Cortesao, 1944: 205–208, 213).

Kekuatan ekonomi Maluku terletak pada cengkeh, pala, bunga pala, sagu, dan berbagai hasil bumi lainnya. Rempah-rempah tersebut dikirim ke Jawa dan Malaka, kemudian masuk ke dalam jaringan perdagangan internasional.

Sebaliknya, Maluku menerima berbagai jenis kain dari Bengal, Gujarat, dan Banua Keling. Hubungan perdagangan tidak hanya berlangsung antarpulau di Maluku, tetapi juga dengan Jawa, Sumatra, Sulawesi, Kalimantan, dan Malaka.

Dengan demikian, Maluku bukanlah wilayah yang terpisah dari dunia perdagangan Asia. Pulau-pulau rempah itu justru berada di salah satu simpul paling penting dari jaringan perdagangan internasional.

Makassar dan Jaringan Perdagangan Indonesia Timur

Kota pelabuhan lain yang memiliki peranan penting adalah Gowa-Makassar di Sulawesi Selatan.

Ketika Tome Pires menulis tentang kawasan ini, sebagian besar penduduk Makassar belum memeluk Islam. Namun, perdagangan mereka telah menjangkau berbagai wilayah, termasuk Malaka, Jawa, Kalimantan, Siam, Pahang, dan daerah-daerah di antara Siam dan Pahang.

Pedagang Muslim telah hadir di Makassar sejak abad ke-16, tetapi Islam baru dipeluk secara resmi oleh Raja Tallo dan Raja Gowa pada awal abad ke-17, tepatnya 22 September 1605 (J. Noorduyn, 1955: 91).

Makassar memiliki kapal-kapal besar yang membawa beras, emas, kain dari Cambay, dan berbagai komoditas lainnya. Hubungannya dengan Maluku juga sangat penting karena Makassar menjadi salah satu jalur perdagangan rempah-rempah dari Ternate dan Tidore menuju Malaka.

Karena itu, jaringan perdagangan dari Malaka menuju Maluku tidak hanya menghubungkan Sumatra dan Jawa. Ia juga menghubungkan Makassar, Banjar, Tanjungpura, Lawe, dan berbagai pelabuhan lainnya di Kalimantan.

Kalimantan dan Pelabuhan-Pelabuhan di Sumatra

Menurut Tome Pires, Banjar di Kalimantan Selatan serta Tanjungpura dan Lawe di Kalimantan Barat telah terlibat dalam perdagangan dengan Malaka dan Jawa. Komoditas dari kawasan tersebut antara lain berlian, emas, madu, lilin, dan berbagai bahan makanan.

Sebagai gantinya, mereka menerima berbagai jenis kain dari Cambay, Keling, dan Bengal.

Ketika wilayah-wilayah tersebut mengalami islamisasi, aktivitas perdagangan tidak berhenti. Justru jaringan dagangnya terus berkembang dan semakin terhubung dengan Malaka, Jawa, serta wilayah lain di Nusantara.

Di Sumatra sendiri, kota-kota pelabuhan kecil dan kerajaan-kerajaan pesisir membentuk jaringan perdagangan yang sangat luas. Tungkal, Rokan, Kampar, Siak, Indragiri, Arcat, dan sejumlah pelabuhan lainnya mengirimkan barang dagangan mereka ke Malaka, yang ketika itu berfungsi sebagai salah satu pusat perdagangan terbesar di kawasan.

Di pantai barat Sumatra terdapat pula Tiko, Pariaman, dan Barus. Daerah-daerah tersebut kaya akan berbagai komoditas. Pariaman dikenal dengan perdagangan kuda, sedangkan Minangkabau, Tiko, dan Barus menghasilkan emas, kapur barus, sutera, lilin, madu, serta berbagai bahan makanan (Cortesao, 1944: 160–165).

Jika seluruh jaringan ini dilihat secara keseluruhan, tampak bahwa Nusantara sebelum kedatangan Portugis bukanlah dunia yang terpecah menjadi pelabuhan-pelabuhan kecil yang berdiri sendiri. Sebaliknya, pelabuhan-pelabuhan tersebut saling terhubung melalui jaringan laut yang membentang dari Selat Malaka hingga Maluku, dari Sumatra hingga Jawa, Kalimantan, Sulawesi, dan kepulauan lainnya.

Nusantara Sebelum Portugis: Jaringan Kota Pelabuhan yang Kosmopolitan

Maka, sebelum Portugis datang, kota-kota pelabuhan di Nusantara telah memainkan peranan penting dalam perdagangan regional maupun internasional.

Samudera Pasai menjadi salah satu pusat awal jaringan perdagangan dan islamisasi di kawasan barat Nusantara. Malaka kemudian berkembang menjadi pusat perdagangan internasional terbesar di Asia Tenggara. Dari sana, jaringan perdagangan bergerak menuju pelabuhan-pelabuhan Jawa seperti Jepara, Gresik, Tuban, dan Sedayu; menuju Cirebon dan Banten di Jawa Barat; menuju Makassar di Sulawesi; menuju Banjar dan pelabuhan-pelabuhan Kalimantan; serta menuju Ternate, Tidore, Banda, dan berbagai pusat perdagangan rempah-rempah di Maluku.

Kota-kota tersebut memiliki karakter yang hampir sama: pelabuhan, pasar, pusat kekuasaan, dan ruang perjumpaan berbagai bangsa.

Di dalamnya bertemu pedagang Arab, Persia, Gujarat, Bengal, Tiongkok, Turki, Melayu, Jawa, Maluku, dan berbagai bangsa lainnya. Mereka membawa bukan hanya barang dagangan, tetapi juga bahasa, pengetahuan, teknologi, budaya, dan agama.

Karena itu, islamisasi Nusantara tidak dapat dipahami hanya sebagai perpindahan keyakinan dari satu kelompok kepada kelompok lain. Islam berkembang bersamaan dengan tumbuhnya jaringan perdagangan dan kota-kota pelabuhan yang semakin kosmopolitan.

Ketika Portugis merebut Malaka pada 1511, mereka tidak menemukan ruang perdagangan yang kosong. Mereka justru memasuki sebuah jaringan maritim yang telah hidup selama berabad-abad.

Perebutan Malaka memang mengubah keseimbangan kekuatan di kawasan. Namun, penguasaan Portugis atas satu pelabuhan tidak serta-merta mematikan jaringan perdagangan Nusantara. Pusat-pusat baru justru semakin penting. Demak, Banten, dan Aceh terus berkembang sebagai kekuatan politik dan ekonomi yang mampu mempertahankan hubungan perdagangan regional maupun internasional.

Di sinilah tampak satu hal penting dalam sejarah Nusantara: kekuatan perdagangan tidak pernah hanya bergantung pada satu kota.

Ketika sebuah pelabuhan jatuh, arus perdagangan dapat mencari jalan baru. Ketika Malaka dikuasai Portugis, pelabuhan-pelabuhan lain mengambil peran yang semakin besar. Laut tetap menjadi penghubung, dan kota-kota pelabuhan terus tumbuh mengikuti perubahan jalur perdagangan.

Dengan demikian, sejarah kota-kota pelabuhan Muslim di Nusantara adalah sejarah tentang perdagangan, islamisasi, kekuasaan, dan kosmopolitanisme yang berkembang secara bersamaan. Dari Samudera Pasai, Malaka, Demak, Jepara, Cirebon, Banten, hingga Ternate, Tidore, dan Makassar, terbentuk jaringan kota yang menjadikan kepulauan Nusantara sebagai salah satu kawasan perdagangan paling dinamis di Asia Tenggara sebelum dan sesudah kedatangan Portugis.

0 komentar:

Cari Artikel Ketik Lalu Enter

Artikel Lainnya

Indeks Artikel

!qNusantar3 (1) 1+6!zzSirah Ulama (1) Abdullah bin Nuh (1) Abu Bakar (3) Abu Hasan Asy Syadzali (2) Abu Hasan Asy Syadzali Saat Mesir Dikepung (1) Aceh (6) Adam (5) Adnan Menderes (2) Adu domba Yahudi (1) adzan (1) Agama (1) Agribisnis (1) Ahli Epidemiologi (1) Air hujan (1) Akhir Zaman (1) Al-Baqarah (1) Al-Qur'an (362) Al-Qur’an (55) alam (3) Alamiah Kedokteran (1) Ali bin Abi Thalib (1) An-Nadwi (1) Andalusia (1) Angka Binner (1) Angka dalam Al-Qur'an (1) Aqidah (1) Ar Narini (2) As Sinkili (2) Asbabulnuzul (1) Ashabul Kahfi (1) Aurangzeb alamgir (1) Bahasa Arab (1) Bahaya Kemunduran Umat Islam (1) Bani Israel (1) Banjar (1) Banten (1) Barat (1) Belanja (1) Berkah Musyawarah (1) Bermimpi Rasulullah saw (1) Bertanya (1) Bima (1) Biografi (1) BJ Habibie (1) budak jadi pemimpin (1) Buku Hamka (1) busana (1) Buya Hamka (53) Cerita kegagalan (1) cerpen Nabi (8) cerpen Nabi Musa (2) Cina Islam (1) cinta (1) Covid 19 (1) Curhat doa (1) Dajjal (1) dakwah (17) Dakwah (22) Dasar Kesehatan (1) Deli Serdang (1) Demak (3) Demam Tubuh (1) Demografi Umat Islam (1) Detik (1) Diktator (1) Diponegoro (2) Dirham (1) Doa (1) doa mendesain masa depan (1) doa wali Allah (1) dukun (1) Dunia Islam (1) Duplikasi Kebrilianan (1) ekonomi (2) Ekonomi (17) energi kekuatan (1) Energi Takwa (1) english (6) English (6) Episentrum Perlawanan (1) filsafat (3) filsafat Islam (1) Filsafat Sejarah (1) Fiqh (1) Fir'aun (2) Firasat (1) Firaun (1) Gamal Abdul Naser (1) Gelombang dakwah (1) Gladiator (1) Gowa (1) grand desain tanah (1) Gua Secang (1) Haji (1) Haman (1) Hamka (3) Hasan Al Banna (7) Heraklius (4) Hidup Mudah (1) Hikayat (3) Hikayat Perang Sabil (2) hikmah (1) https://www.literaturislam.com/ (1) Hukum Akhirat (1) hukum kesulitan (1) Hukum Pasti (1) Hukuman Allah (1) Ibadah obat (1) Ibnu Hajar Asqalani (1) Ibnu Khaldun (1) Ibnu Sina (1) Ibrahim (1) Ibrahim bin Adham (1) ide menulis (1) Ikhwanul Muslimin (1) ilmu (2) Ilmu Laduni (3) Ilmu Sejarah (1) Ilmu Sosial (1) Imam Al-Ghazali (2) imam Ghazali (1) Instropeksi diri (1) interpretasi sejarah (1) Islam (1) ISLAM (2) Islam Cina (1) Islam dalam Bahaya (2) Islam di India (1) Islam Nusantara (1) Islampobia (1) Istana Al-Hambra (1) Istana Penguasa (1) Istiqamah (1) Jalan Hidup (1) Jamuran (1) Jebakan Istana (1) Jendral Mc Arthu (1) Jibril (1) jihad (1) Jiwa Berkecamuk (1) Jiwa Mujahid (1) Jogyakarta (1) jordania (1) jurriyah Rasulullah (1) Kabinet Abu Bakar (1) Kajian (1) kambing (1) Karamah (1) Karya Besar (1) Karya Fenomenal (1) Kebebasan beragama (1) Kebohongan Pejabat (1) Kebohongan Yahudi (1) kecerdasan (21) Kecerdasan (334) Kecerdasan Finansial (4) Kecerdasan Laduni (1) Kedok Keshalehan (1) Kejayaan Islam (1) Kejayaan Umat Islam (1) Kekalahan Intelektual (1) Kekhalifahan Islam (2) Kekhalifahan Turki Utsmani (1) Keluar Krisis (1) Kemiskinan Diri (1) Kepemimpinan (1) kerajaan Islam (1) kerajaan Islam di India (1) Kerajaan Sriwijaya (2) Kesehatan (1) Kesultanan Aceh (1) Kesultanan Nusantara (1) Ketuhanan Yang Maha Esa (1) Keturunan Rasulullah saw (1) Keunggulan ilmu (1) keunggulan teknologi (1) Kezaliman (2) KH Hasyim Ashari (1) Khaidir (2) Khalifatur Rasyidin (1) Kiamat (1) Kisah (1) Kisah Al Quran (1) kisah Al-Qur'an (1) Kisah Hadist (4) Kisah Nabi (1) Kisah Nabi dan Rasul (1) Kisah Para Nabi (1) kisah para nabi dan (2) kisah para nabi dan rasul (59) kisah para Nabi dan Rasul (1) Kisah para nabi dan rasul (114) Kisah Para Nabi dan Rasul (577) kisah para nabi dan rasul. Nabi Daud (1) kisah para nabi dan rasul. nabi Musa (2) Kisah Penguasa (1) Kisah ulama (1) kitab primbon (1) Koalisi Negara Ulama (1) Krisis Ekonomi (1) Kumis (1) Kumparan (1) Kurikulum Pemimpin (1) Laduni (1) lauhul mahfudz (1) lockdown (1) Logika (1) Luka darah (1) Luka hati (1) madrasah ramadhan (1) Madu dan Susu (1) Majapahi (1) Majapahit (4) Makkah (1) Malaka (1) Mandi (1) Matematika dalam Al-Qur'an (1) Maulana Ishaq (1) Maulana Malik Ibrahi (1) Melihat Wajah Allah (1) Memerdekakan Akal (1) Menaklukkan penguasa (1) Mendidik anak (1) mendidik Hawa Nafsu (1) Mendikbud (1) Menggenggam Dunia (1) menulis (1) Mesir (1) militer (1) militer Islam (1) Mimpi Rasulullah saw (1) Minangkabau (2) Mindset Dongeng (1) Muawiyah bin Abu Sofyan (1) Mufti Johor (1) muhammad al fatih (3) Muhammad bin Maslamah (1) Mukjizat Nabi Ismail (1) Musa (1) muslimah (1) musuh peradaban (1) nabi adam (1) Nabi Adam (75) nabi Adam. Adam (1) Nabi Ayub (1) Nabi Daud (3) Nabi Ibrahim (3) Nabi Isa (2) nabi Isa. nabi ismail (1) Nabi Ismail (1) Nabi Khaidir (1) Nabi Khidir (1) Nabi Musa (29) Nabi Nuh (6) Nabi Sulaiman (2) Nabi Yunus (1) Nabi Yusuf (15) Namrudz (2) Nasrulloh Baksolahar (1) NKRI (1) nol (1) Nubuwah Rasulullah (4) Nurudin Zanky (1) Nusa Tenggara (1) nusantara (10) Nusantara (302) Nusantara Tanpa Islam (1) obat cinta dunia (2) obat takut mati (1) Olahraga (6) Orang Lain baik (1) Orang tua guru (1) Padjadjaran (2) Palembang (1) Palestina (725) Pancasila (1) Pangeran Diponegoro (3) Pasai (2) Paspampres Rasulullah (1) Pembangun Peradaban (2) Pemecahan masalah (1) Pemerintah rapuh (1) Pemutarbalikan sejarah (1) Pengasingan (1) Pengelolaan Bisnis (1) Pengelolaan Hawa Nafsu (1) Pengobatan (1) pengobatan sederhana (1) Penguasa Adil (1) Penguasa Zalim (1) Penjajah Yahudi (35) Penjajahan Belanda (1) Penjajahan Yahudi (1) Penjara Rotterdam (1) Penyelamatan Sejarah (1) peradaban Islam (1) Perang Aceh (1) Perang Afghanistan (1) Perang Arab Israel (1) Perang Badar (3) Perang Ekonomi (1) Perang Hunain (1) Perang Jawa (1) Perang Khaibar (1) Perang Khandaq (2) Perang Kore (1) Perang mu'tah (1) Perang Paregreg (1) Perang Salib (4) Perang Tabuk (1) Perang Uhud (2) Perdagangan rempah (1) Pergesekan Internal (1) Perguliran Waktu (1) permainan anak (2) Perniagaan (1) Persia (2) Persoalan sulit (1) pertanian modern (1) Pertempuran Rasulullah (1) Pertolongan Allah (3) perut sehat (1) pm Turki (1) POHON SAHABI (1) Politik (2) Portugal (1) Portugis (1) ppkm (1) Prabu Satmata (1) Prilaku Pemimpin (1) prokes (1) puasa (1) pupuk terbaik (1) purnawirawan Islam (1) Qarun (2) Quantum Jiwa (1) Raffles (1) Raja Islam (1) rakyat lapar (1) Rakyat terzalimi (1) Rasulullah (1) Rasulullah SAW (1) Rasulullah shalallahu alaihi wassalam (1) Rehat (493) Rekayasa Masa Depan (1) Republika (2) respon alam (1) Revolusi diri (1) Revolusi Sejarah (1) Revolusi Sosial (1) Rindu Rasulullah (1) Romawi (4) Rumah Semut (1) Ruqyah (1) Rustum (1) Saat Dihina (1) Sahabat (1) sahabat Nabi (1) Sahabat Rasulullah (1) SAHABI (1) Salimul Aqidah (1) satu (1) Sayyidah Musyfiqah (1) Sejarah (2) Sejarah Nabi (1) Sejarah Para Nabi dan Rasul (1) Sejarah Penguasa (1) selat Malaka (2) Seleksi Pejabat (1) Sengketa Hukum (1) Serah Nabawiyah (1) Seruan Jihad (3) shalahuddin al Ayubi (3) shalat (1) Shalat di dalam kuburannya (1) Shalawat Ibrahimiyah (1) Simpel Life (1) Sirah Nabawiyah (325) Sirah Para Nabi dan Rasul (3) Sirah penguasa (11) Sirah Penguasa (248) sirah Sahabat (2) Sirah Sahabat (173) Sirah Tabiin (43) Sirah ulama (36) Sirah Ulama (158) Siroh Sahabat (1) Sofyan Tsauri (1) Solusi Negara (1) Solusi Praktis (1) Sriwijaya Islam (3) Strategi Demonstrasi (1) Suara Hewan (1) Suara lembut (1) Sudah Nabawiyah (1) Sufi (1) sugesti diri (1) sultan Hamid 2 (1) sultan Islam (1) Sultan Mataram (3) Sultanah Aceh (1) Sunah Rasulullah (2) sunan giri (3) Sunan Gresi (1) Sunan Gunung Jati (1) Sunan Kalijaga (1) Sunan Kudus (2) Sunatullah Kekuasaan (1) Supranatural (1) Surakarta (1) Syariat Islam (18) Syeikh Abdul Qadir Jaelani (2) Syeikh Palimbani (3) Tak Ada Solusi (1) Takdir Umat Islam (1) Takwa (1) Takwa Keadilan (1) Tamim Ad Dari (1) Tanda Hari Kiamat (1) Tasawuf (29) teknologi (2) tentang website (1) tentara (1) tentara Islam (1) Ternate (1) Thaharah (1) Thariqah (1) tidur (1) Titik kritis (1) Titik Kritis Kekayaan (1) Tragedi Sejarah (1) Turki (2) Turki Utsmani (2) Ukhuwah (1) Ulama Mekkah (3) Umar bin Abdul Aziz (5) Umar bin Khatab (3) Umar k Abdul Aziz (1) Ummu Salamah (1) Umpetan (1) Utsman bin Affan (2) veteran islam (1) Wabah (1) wafat Rasulullah (1) Wakaf (1) Waki bin Jarrah (1) Wali Allah (1) wali sanga (1) Walisanga (2) Walisongo (3) Wanita Pilihan (1) Wanita Utama (1) Warung Kelontong (1) Waspadai Ibadah (1) Wudhu (1) Yusuf Al Makasari (1) zaman kerajaan islam (1) Zulkarnain (1)