Sejarah sering kali disajikan dalam narasi hitam-putih yang nyaman bagi telinga publik, sebuah epik tentang kepahlawanan murni melawan kejahatan absolut.
Namun, jika kita bersedia menggali lebih dalam ke dalam arsip-arsip yang berdebu, kita akan menemukan bahwa realitas politik jauh lebih kompleks dan sering kali mengerikan.
Ada titik-titik kelam di mana garis antara musuh dan sekutu menjadi kabur, dan di mana nyawa manusia menjadi bidak dalam papan catur ideologi yang lebih besar.
Salah satu bab paling kontroversial—dan sengaja disembunyikan—adalah jalinan hubungan antara gerakan Zionis awal dengan kekuatan Axis, termasuk Nazi Jerman, di tengah gejolak Holocaust.
Retakan dalam Narasi Sejarah
Buku teks sekolah mungkin mengajarkan kita tentang perlawanan total terhadap fasisme, namun fakta sejarah menunjukkan adanya retakan moral yang mendalam. Saat jutaan orang Yahudi menghadapi ancaman genosida di Eropa, para pemimpin politik dihadapkan pada dilema yang mustahil.
Namun, perlu dipahami bahwa respon politik terhadap tragedi tersebut bukanlah sebuah monolit penyelamatan kemanusiaan, melainkan sebuah strategi kalkulatif demi pembangunan negara.
Materi sejarah yang kita bedah kali ini mengungkap sebuah kebenaran pahit bahwa bagi para arsitek Zionisme, kelangsungan sebuah ideologi bernegara ternyata sering kali dianggap lebih berharga daripada nyawa individu yang seharusnya mereka lindungi.
Prioritas Tanah di Atas Nyawa: Dilema Gruenbaum dan Ben Gurion
Bagi para pemimpin Zionis awal, tujuan utama bukanlah misi kemanusiaan universal, melainkan proyek politik spesifik: merampas tanah di Palestina. Hal ini menciptakan pergeseran prioritas yang mengejutkan.
Ytzhak Gruenbaum, Ketua Komite Penyelamatan, memberikan pernyataan yang sangat provokatif pada 18 Januari 1945, yang menegaskan bahwa kepentingan Zionisme berdiri di atas nyawa Yahudi di pengasingan.
"Mereka akan mengatakan bahwa saya antisemit, bahwa saya tidak ingin menyelamatkan Pengasingan... Marilah kita membiarkan apa yang mereka mau. Saya tidak menuntut Biro Yahudi untuk mengalokasikan 300.000 atau 100.000 poundsterling untuk membantu Yahudi Eropa. Saya pikir siapa pun yang menuntut hal seperti itu, mereka telah melakukan tindakan anti-Zionis." (Gruenbaum, Jours de Destruction, hlm. 68)
Pandangan ini selaras dengan David Ben Gurion, yang menyatakan bahwa tugas Zionisme bukan untuk menyelamatkan "sisa-sisa" Israel di Eropa, melainkan mengamankan "Tanah Israel" bagi bangsa Yahudi dengan merampas Palestina.
Seleksi dilakukan secara dingin: hanya mereka yang dianggap "berguna" (muda, teknisi, atau militer) bagi pembangunan negara masa depan yang diprioritaskan untuk diselamatkan.
Penyaringan Darah: Ketika Elitisme Menentukan Hak untuk Hidup
Salah satu kolaborasi paling kelam tercermin dalam skandal Rudolf Kastner di Hongaria. Sebagai wakil organisasi Zionis, Kastner bernegosiasi langsung dengan Adolf Eichmann.
Kesepakatan yang dihasilkan sangat mengerikan: Kastner diizinkan membawa 1.684 orang Yahudi elit (kapitalis, teknisi, dan tokoh penting) menuju Palestina, namun sebagai imbalannya, ia harus membiarkan 460.000 orang Yahudi Hongaria lainnya tetap dalam kegelapan.
Ratusan ribu orang tersebut dibiarkan percaya bahwa mereka hanya akan dipindahkan ke pemukiman lain, padahal tujuan sebenarnya adalah kamar gas di Auschwitz.
"Smoking gun" dari skandal ini terungkap saat persidangan Kastner; ia terbukti bersaksi di Nuremberg untuk menyelamatkan Kurt Becher, seorang Standartenführer SS dan tangan kanan Himmler.
Yang lebih mengejutkan, tindakan Kastner ini dilakukan atas nama Biro Yahudi (Jewish Agency) dan Kongres Yahudi Dunia, bukan sekadar inisiatif pribadi. Pemerintah Israel saat itu berusaha keras melindunginya karena jika kebenaran terungkap, seluruh kabinet berisiko runtuh total.
Proposal Aliansi dengan Hitler: Kelompok Lehi dan Stern
Fakta yang paling sulit diterima adalah adanya upaya formal untuk bersekutu secara militer dengan rezim Hitler. Pada tahun 1941, kelompok ekstremis Lehi (dipimpin oleh tokoh-tokoh seperti Abraham Stern dan Itzhak Shamir) mengirimkan dokumen rahasia kepada Kedutaan Besar Jerman di Ankara.
Eliezer Halevi, seorang tokoh serikat pekerja, mengungkapkan isi hati kelompok tersebut dalam publikasi Haaretz:
"Dalam hal konsepsi, kami sudah serupa dengan Anda. Lalu mengapa kita tidak berkolaborasi?"
Dalam memorandum bernomor E 234151-8 di Memorial Yad Vashem, tercatat tawaran bahwa pendirian negara Yahudi yang totaliter dan terikat perjanjian dengan Reich Jerman akan memperkuat posisi Jerman di Timur Tengah.
Kelompok Lehi (Irgun) secara terbuka menawarkan diri untuk berperang di pihak Jerman melawan Inggris, dengan alasan adanya "kepentingan yang sama" antara visi Hitler tentang Eropa yang bersih dari Yahudi (Judenreines Europa) dan aspirasi mereka untuk memindahkan populasi tersebut ke Palestina.
Sabotase Terhadap Bangsa Sendiri: Tragedi Patria dan Operasi Ali Baba
Demi memicu migrasi dan sentimen politik, sabotase terkadang diarahkan kepada bangsa sendiri. Pada tahun 1940, Haganah meledakkan kapal Patria di pelabuhan Haifa untuk memprotes kebijakan Inggris, mengakibatkan 252 orang Yahudi dan pelaut Inggris tewas.
Metode "paksaan" ini diperkuat oleh laporan Rabi Klaussner pada tahun 1948, yang menyatakan bahwa orang Yahudi harus "dipaksa" pindah dengan cara menciptakan kondisi yang tidak aman di negara asal mereka.
Strategi ini menggunakan Haganah untuk "mengganggu" atau "mengusik" komunitas Yahudi agar mereka merasa terancam. Hal inilah yang mendasari "Operasi Ali Baba" di Irak pada tahun 1950. Ketika komunitas Yahudi Baghdad yang telah hidup harmonis selama ribuan tahun menolak pindah, serangkaian serangan bom dilakukan terhadap sinagog-sinagog mereka oleh dinas rahasia Israel.
Sebagaimana dicatat oleh Rabi Besar Irak, Kheduri Sassoon, ketakutan yang sengaja diciptakan inilah yang akhirnya memicu eksodus massal.
Logika Herzl: Antisemitisme Sebagai "Sekutu"
Seluruh kebijakan ini berakar pada filosofi Theodore Herzl. Dalam Diaries-nya, Herzl menuliskan pemikiran paradoks bahwa negara-negara antisemit akan menjadi "sahabat dan sekutu" Zionisme karena memiliki tujuan yang selaras:
Yaitu, mengeluarkan orang Yahudi dari Eropa. Herzl memandang orang Yahudi sebagai "tubuh asing" (foreign body) yang tidak mungkin berasimilasi.
Logika ini kemudian diabadikan dalam UU Kembali tahun 1950, yang mendefinisikan "Yahudi" berdasarkan garis keturunan ibu atau iman, sebuah kriteria rasial yang kaku.
Ironisnya, fanatisme ideologis ini menciptakan gesekan internal yang ekstrem. David Ben Gurion sendiri pernah membandingkan rivalnya, Menachem Begin, dengan Hitler, menyebut Begin sebagai seorang rasis yang siap menghancurkan semua orang Arab dan menggunakan segala cara demi tujuan kekuasaan.
Pelajaran dari Masa Lalu yang Tersembunyi
Membedah sejarah ini mengungkap bahwa ambisi pendirian negara sering kali dibangun di atas logika "utilitas" antisemitisme.
Tujuan akhirnya bukanlah sekadar keselamatan, melainkan pengumpulan seluruh orang Yahudi dalam sebuah "Ghetto Dunia" di Palestina, sering kali dengan mengorbankan nilai kemanusiaan yang paling mendasar.
Pendirian negara yang kuat dalam narasi ini tampak dibangun di atas puing-puing negosiasi dengan musuh bebuyutan dan seleksi nyawa yang dingin.
Memahami sejarah yang tersembunyi ini memberikan kita kacamata baru dalam melihat konflik masa kini. Sejarah mengingatkan kita bahwa ketika sebuah ideologi Zionisme menjadi absolut dan "tanah" dianggap lebih suci daripada "nyawa", maka kemanusiaan hanyalah variabel yang bisa dikorbankan.
0 komentar: