Mengatur Kerja
Amat jarang orang benar-benar memikirkan pentingnya mengatur dan merencanakan pekerjaan yang akan dihadapinya. Akibatnya, pekerjaan sehari-hari sering berjalan tanpa arah: banyak yang dikerjakan, tetapi tidak sedikit yang terbengkalai. Bahkan orang yang cerdik dan berpengetahuan pun tidak selalu terbebas dari kelemahan ini.
Padahal, apabila seseorang membiasakan diri menyusun rancangan pekerjaan setiap hari, kemudian berusaha menjalankan keputusan yang telah dibuatnya sendiri, banyak kelemahan akan dapat dikurangi. Rencana membuat langkah menjadi lebih teratur. Ia menenangkan hati, mengurangi keraguan, dan memudahkan seseorang bergerak menuju apa yang disebut orang sebagai sukses.
Namun, mengatur pekerjaan bukan berarti memaksa diri mengerjakan segala sesuatu sekaligus. Rencana yang baik harus disesuaikan dengan keadaan tubuh, kemampuan, dan tabiat manusia. Janganlah pekerjaan melebihi kekuatan diri. Jangan pula kita memilih pekerjaan yang bertentangan dengan kewajiban atau memaksakan diri berada di tempat yang memang bukan medan perjuangan kita.
Karena itu, mengenal diri sendiri merupakan bagian penting dari mengatur kehidupan. Perhatikan keadaan diri, kecenderungan hati, kemampuan, dan budi pekerti. Ukurlah langkah dan kenalilah batas kemampuan. Orang yang ingin berhasil dalam pekerjaannya ialah orang yang mampu "mengukur bajunya sesuai dengan tubuhnya".
Seseorang yang memiliki kecenderungan menjadi wartawan, misalnya, belum tentu akan berhasil jika dipaksa menjadi tentara. Di medan perang mungkin ia tidak akan menjadi panglima, sebab medan perjuangannya memang bukan di sana. Tetapi apabila ia menjadi wartawan perang atau bekerja dalam bidang administrasi, kemampuan yang ada dalam dirinya justru dapat menemukan tempatnya.
Dari sini kita belajar bahwa tidak ada pekerjaan yang rendah dan hina. Yang membuat sebuah pekerjaan menjadi hina bukanlah pekerjaannya, melainkan perangai orang yang mengerjakannya. Pekerjaan yang sederhana dapat menjadi mulia apabila dilakukan dengan amanah, sungguh-sungguh, dan budi yang baik. Sebaliknya, pekerjaan yang dipandang tinggi dapat menjadi hina apabila dilakukan dengan kesombongan dan kezaliman.
Ada kalanya seseorang ditempatkan dalam sebuah lingkungan yang ternyata tidak sesuai dengan tabiat dan kemampuannya. Ia selalu berada di barisan belakang, sulit mengikuti disiplin, dan tidak mampu memberikan sumbangan terbaiknya. Keadaan seperti itu tidak selalu berarti bahwa ia tidak berguna. Bisa jadi ia hanya berada di tempat yang salah.
Jika seseorang kemudian menyadari bahwa dirinya lebih cocok berada di dunia kepengarangan, misalnya, lalu berpindah ke sana dan akhirnya menemukan keberhasilannya, masyarakat justru memperoleh keuntungan. Sebab, sebuah kekuatan yang semula tersembunyi akhirnya menemukan tempat untuk berkembang.
Maka, janganlah kita mengukur manusia hanya berdasarkan kedudukannya. Masyarakat akan menjadi lemah apabila semua orang dipaksa berjalan pada jalan yang sama. Setiap orang memiliki kecenderungan, kemampuan, dan medan pengabdian masing-masing. Yang penting bukan hanya apa pekerjaannya, tetapi bagaimana ia menjalankan pekerjaan tersebut.
Akan tetapi, manusia tetaplah manusia. Dalam perjalanan hidup, kita dapat salah dan khilaf. Tidak ada manusia yang sepanjang hidupnya tidak pernah tergelincir. Karena itu, yang penting bukan sekadar mengingat keberhasilan, tetapi juga mengingat tempat kita pernah jatuh.
Di mana langkah kita pernah tergelincir? Lubang apa yang pernah membuat kita jatuh? Mengapa kita sampai terperosok ke sana?
Pertanyaan-pertanyaan semacam itu penting bagi orang yang ingin menggunakan akalnya dengan baik. Kesalahan seharusnya menjadi guru. Jika suatu jalan berkali-kali terbukti membawa kita kepada kegagalan, janganlah keras kepala terus berjalan di jalan yang sama. Beralihlah kepada medan perjuangan yang lain.
Sebagaimana pepatah mengatakan:
«"Tertumbuk biduk di belokkan, tertumbuk kata dipikiri."»
Hidup membutuhkan kemampuan untuk menyesuaikan langkah tanpa kehilangan tujuan.
Akal yang sehat juga mengajarkan manusia untuk mengetahui kewajibannya sesuai dengan tahap kehidupannya. Ketika masih kecil, hormatilah ayah dan ibu. Ketika berada di sekolah, hormatilah dan berkhidmatlah kepada guru. Ketika muda, hormatilah orang yang lebih tua dan dengarkanlah pengalaman mereka. Orang yang telah banyak mengalami penderitaan biasanya memiliki sesuatu yang tidak dapat diperoleh hanya dari buku.
Pada masa muda pula, seseorang perlu belajar menahan syahwat dan hawa nafsunya. Jangan sampai seluruh tenaga dihabiskan untuk kesenangan sesaat sehingga ketika usia bertambah, kekuatan telah lebih dahulu terkuras.
Warisan orang tua pun bukan hanya harta. Harta dapat habis, tetapi budi yang baik dapat terus hidup bahkan setelah seseorang meninggal. Teladan, akhlak, keberanian, kejujuran, dan kasih sayang yang diwariskan kepada anak sering kali jauh lebih berharga daripada kekayaan yang ditinggalkan.
Karena itu, orang tua pun perlu mengetahui tempat dan perannya. Ketika usia bertambah, kurangi pekerjaan yang berat. Berikan kesempatan kepada generasi muda untuk tumbuh. Awasi dari kejauhan, berikan nasihat, dan arahkan dengan bijaksana. Jangan menjadi batu penarung bagi pemuda hanya karena mereka tidak bertingkah seperti pemuda pada zaman kita dahulu.
Tua bukan berarti tidak berguna. Orang tua justru dapat menjadi tulang belakang bagi orang muda: memberikan pengalaman, menunjukkan arah, dan menjadi tempat bertanya ketika anak muda kehilangan pertimbangan.
Jangan pula mematikan gelora masa muda dengan tuntutan agar mereka segera menjadi seperti orang tua. Pemuda memang memiliki tenaga, keberanian, dan semangat untuk bergerak. Menghambat seluruh geraknya sama seperti mengikat kaki dan tangan seorang anak kecil agar tidak belajar bergerak.
Sebaliknya, orang tua juga harus mampu mengoreksi dirinya sendiri. Jangan sampai usia bertambah, tetapi kebijaksanaan tidak ikut bertambah. Ada orang yang semakin tua justru semakin kuat mempertahankan gengsi, merasa paling tahu, dan memandang rendah generasi yang lebih muda. Usia semestinya membuat seseorang semakin lapang memahami kehidupan, bukan semakin keras mempertahankan keakuan.
Karena itu, setiap manusia hendaknya tahu bagaimana "memakai pakaian masing-masing". Pemuda dengan semangat mudanya, orang tua dengan kebijaksanaannya, guru dengan ilmunya, pemimpin dengan tanggung jawabnya, dan masyarakat dengan hak serta kewajibannya.
Seorang hakim atau orang yang diberi kekuasaan hendaknya sadar bahwa kehormatan tidak datang semata-mata dari pangkat. Seseorang dihargai karena budi dan keadilannya. Celakalah orang yang disegani bukan karena kebijaksanaannya, melainkan karena kezalimannya.
Demikian pula orang yang hidup di rantau hendaknya mengetahui batas dirinya. Jangan mencampuri urusan orang di kampung tanpa alasan yang benar. Setiap orang memiliki wilayah kehidupan dan tanggung jawab masing-masing. Menghormati batas bukan berarti tidak peduli, melainkan memahami bahwa kehidupan bersama membutuhkan kedewasaan dalam menempatkan diri.
Inilah salah satu ciri kehidupan orang yang berakal: ia tegak pada garisnya sendiri, menjaga haknya, tetapi sekaligus menghormati hak orang lain. Ia tidak hidup dengan merampas ruang orang lain. Ia bersama-sama berkhidmat kepada peraturan, keadilan, dan kemaslahatan.
Cara kita memandang kesalahan pun perlu terus berkembang. Dahulu, kesalahan seseorang sering segera dinilai dari perkataan atau perbuatannya. Masyarakat cepat menjatuhkan hukuman berdasarkan apa yang tampak. Namun, kehidupan yang lebih matang mengajarkan kita untuk melihat lebih dalam: memahami akal, jiwa, keadaan, dan latar belakang seseorang.
Bukan berarti kesalahan harus dibiarkan. Tetapi sebelum menghakimi, gunakanlah akal. Pahami manusia secara utuh.
Pada akhirnya, mengatur kerja bukan hanya soal membuat jadwal atau menyusun daftar pekerjaan. Ia adalah bagian dari seni mengatur kehidupan.
Gerak-gerik hendaknya berada dalam kesopanan. Duduk dan berbicara hendaknya dalam adab. Pikirkan dahulu sebelum bertindak. Jangan hidup dengan dorongan yang tidak terkendali.
Sebab hidup manusia bukan sekadar soal bertahan hidup.
Babi di hutan hidup, tetapi ia hidup dengan memakan apa yang ada. Anjing di kampung juga hidup, tetapi hidup dari sisa. Kucing di rumah pun hidup, tetapi sering hanya menunggu makanan yang diberikan kepadanya.
Hidup manusia tidak boleh berhenti pada sekadar hidup.
Manusia diberi akal agar mampu memilih jalan. Diberi hati agar mampu memahami. Diberi budi agar mampu membedakan yang patut dan tidak patut. Diberi kehidupan agar dapat memberikan manfaat.
Maka, hidup yang baik ialah hidup yang teratur dalam pekerjaan, mengenal batas diri, mengetahui medan pengabdian, belajar dari kesalahan, menghormati setiap generasi, menjaga hak orang lain, serta menjadikan akal dan budi sebagai penuntun langkah.
Lezat akal, sempurna basa; mulia hati, lautan paham, penuh melaut kira-kira.
Begitulah hidup orang yang benar-benar menggunakan akalnya: tidak hidup sembarang hidup, tetapi hidup dengan pertimbangan, adab, tanggung jawab, dan manfaat.
0 komentar: