Saat Anak Terhimpit Masalah Pelik, Bagaimana Sikap Orang Tua? Belajarlah kepada Nabi Yakub
Tidak ada orang tua yang menginginkan anaknya menghadapi jalan hidup yang penuh luka. Namun kenyataannya, tidak semua persoalan anak dapat diselesaikan oleh orang tua.
Ada anak yang menjadi korban fitnah. Ada yang menghadapi tekanan di tempat kerja. Ada yang tersandung persoalan hukum, mengalami kegagalan, kehilangan arah hidup, atau harus berjuang sendirian jauh dari keluarga.
Lalu muncul pertanyaan besar: apa yang dapat dilakukan orang tua ketika mereka tidak mampu lagi menjangkau kehidupan anaknya?
Al-Qur'an menghadirkan jawaban melalui sosok Nabi Yakub AS.
Bukan sebagai ayah yang mampu menyelesaikan seluruh persoalan anaknya, melainkan sebagai ayah yang mengajarkan bagaimana menghadapi keterbatasan manusia dengan keimanan kepada Allah.
Seorang Ayah yang Tidak Bisa Menolong Secara Langsung
Perjalanan hidup Nabi Yusuf AS dipenuhi ujian yang bahkan tidak pernah dialami ayahnya sendiri.
Ia dilemparkan ke dalam sumur oleh saudara-saudaranya.
Ia dijual sebagai budak.
Ia hidup di negeri asing.
Ia menjadi korban rekayasa dan fitnah.
Ia dipenjara bertahun-tahun.
Bahkan kemudian memikul tanggung jawab besar ketika diminta menafsirkan mimpi Raja Mesir dan mengelola krisis pangan.
Yang menarik, Nabi Yakub tidak pernah mengalami pengalaman-pengalaman tersebut.
Beliau tidak pernah menjadi budak.
Tidak pernah dipenjara.
Tidak pernah menjadi korban rekayasa hukum.
Bahkan beliau tidak mengetahui di mana Yusuf berada.
Yusuf hidup di Mesir.
Yakub berada di Palestina.
Jarak memisahkan mereka. Informasi terputus. Tidak ada cara untuk menemui, melindungi, atau menyelesaikan persoalan anaknya.
Di sinilah Al-Qur'an memperlihatkan keterbatasan manusia, bahkan seorang nabi sekalipun.
Ketika Semua Ikhtiar Terhenti
Saat anak-anaknya datang membawa baju Yusuf yang dilumuri darah palsu, Nabi Yakub segera mengetahui bahwa cerita mereka tidak benar.
Namun beliau tidak memiliki bukti.
Tidak memiliki kekuatan.
Tidak mengetahui lokasi Yusuf.
Yang beliau lakukan hanyalah mengembalikan urusan kepada Allah.
«"Hanya dirimu sendirilah yang memandang baik urusan yang buruk itu. Maka kesabaran yang baik itulah (pilihanku). Dan hanya kepada Allah tempat memohon pertolongan terhadap apa yang kamu ceritakan." (QS. Yusuf: 18)»
Di sinilah muncul istilah shabrun jamil—kesabaran yang indah.
Menurut banyak ulama tafsir, di antaranya Ibnu Katsir, shabrun jamil adalah kesabaran tanpa mengeluh kepada manusia, tetapi membawa seluruh luka kepada Allah.
Kesabaran bukan berarti menyerah.
Kesabaran adalah tetap teguh ketika tidak lagi memiliki kendali atas keadaan.
Dari Mengendalikan Anak Menjadi Menitipkannya kepada Allah
Ujian Nabi Yakub belum selesai.
Bertahun-tahun kemudian beliau kembali diminta melepaskan putranya yang lain, Bunyamin.
Trauma kehilangan Yusuf tentu belum hilang.
Namun beliau mengucapkan kalimat yang menjadi pelajaran besar bagi setiap orang tua.
«"Maka Allah adalah Penjaga yang terbaik dan Dia Maha Penyayang di antara para penyayang." (QS. Yusuf: 64)»
Inilah perubahan penting dalam cara pandang seorang ayah.
Pada akhirnya, bukan orang tua yang menjaga anak sepanjang hidupnya.
Allah-lah Penjaga terbaik.
Orang tua hanya mengantar, mendidik, dan mendoakan.
Selebihnya berada dalam penjagaan Allah.
Tempat Mengadu yang Tidak Pernah Tertutup
Beban kehilangan Yusuf bertahun-tahun membuat kesedihan Nabi Yakub semakin dalam.
Namun kepada siapa beliau mengadukannya?
Bukan kepada manusia.
Bukan untuk mencari simpati.
Melainkan kepada Allah.
«"Sesungguhnya hanya kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku. Aku mengetahui dari Allah apa yang tidak kamu ketahui." (QS. Yusuf: 86)»
Tafsir Kementerian Agama menjelaskan bahwa Nabi Yakub tidak mengeluhkan penderitaannya kepada manusia.
Beliau bermunajat hanya kepada Allah karena meyakini bahwa Allah mengetahui sesuatu yang tidak diketahui manusia.
Ini adalah pelajaran besar bagi orang tua.
Ketika tidak mampu memahami seluruh persoalan anak, jangan biarkan hati dipenuhi kepanikan.
Jadikan Allah tempat pertama untuk mengadu, bukan tempat terakhir.
Harapan Tidak Boleh Mati
Menariknya, meskipun bertahun-tahun kehilangan Yusuf, Nabi Yakub tidak pernah kehilangan harapan.
Beliau justru memerintahkan anak-anaknya kembali mencari Yusuf.
«"Wahai anak-anakku, pergilah kamu dan carilah berita tentang Yusuf dan saudaranya. Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah." (QS. Yusuf: 87)»
Harapan ternyata bukan sekadar perasaan.
Harapan adalah bagian dari iman.
Selama Allah masih memiliki rahmat, tidak ada alasan untuk menutup pintu harapan.
Orang tua boleh menangis.
Boleh bersedih.
Namun tidak boleh mematikan harapan bagi anak-anaknya.
Pelajaran bagi Orang Tua Masa Kini
Kisah Nabi Yakub menunjukkan bahwa menjadi orang tua bukan berarti mampu menyelesaikan seluruh persoalan anak.
Ada fase ketika anak harus menjalani ujiannya sendiri.
Ada masa ketika orang tua tidak lagi mampu hadir secara fisik.
Namun selalu ada satu hal yang tidak pernah terputus.
Doa.
Ketika tangan orang tua tidak lagi mampu menjangkau anaknya, doa masih mampu menembus langit.
Ketika komunikasi terputus, hubungan seorang hamba dengan Allah tidak pernah terputus.
Karena itu, Nabi Yakub tidak sibuk mengendalikan keadaan yang berada di luar kemampuannya.
Beliau memperkuat hubungan dengan Allah.
Beliau bersabar.
Beliau bertawakal.
Beliau terus berharap.
Dan akhirnya Allah mempertemukan kembali ayah dan anak setelah puluhan tahun berpisah.
Penutup
Kisah Nabi Yakub mengajarkan bahwa tugas terbesar orang tua bukan menghilangkan seluruh kesulitan hidup anak.
Tugas terbesar mereka adalah membangun fondasi iman yang akan menjaga anak ketika orang tua sudah tidak mampu menjangkaunya.
Ada saatnya nasihat tidak lagi bisa didengar.
Ada saatnya pelukan tidak lagi bisa diberikan.
Namun doa orang tua tidak mengenal batas ruang dan waktu.
Mungkin itulah sebabnya Al-Qur'an tidak menggambarkan Nabi Yakub sebagai ayah yang mampu menyelamatkan Yusuf dengan kekuatannya.
Al-Qur'an justru mengabadikannya sebagai ayah yang tidak pernah berhenti berharap kepada Allah.
Dan sering kali, itulah bentuk pertolongan terbesar yang dapat diberikan orang tua kepada anaknya.
0 komentar: