Takdir Zionis Israel: Membaca Sunnatullah Allah di Balik Tragedi Palestina
Ketika Pengusiran Menjadi Alat Kekuasaan
Di setiap zaman, sejarah memperlihatkan pola yang sama. Ketika sebuah kekuasaan tidak lagi mampu mempertahankan dirinya dengan keadilan dan argumentasi, pengusiran menjadi salah satu senjata utama.
Rumah dirampas.
Tanah disita.
Penduduk dipaksa meninggalkan kampung halamannya.
Hubungan manusia dengan tanah leluhurnya diputus.
Fenomena ini bukan hanya tercatat dalam dokumen sejarah modern. Jauh sebelum itu, Al-Qur'an telah mengabadikannya sebagai salah satu pola kezaliman yang terus berulang.
Allah berfirman:
«"Orang-orang yang kufur berkata kepada rasul-rasul mereka, 'Kami pasti akan mengusir kamu dari negeri kami atau kamu benar-benar kembali kepada agama kami.'"
(QS. Ibrahim: 13)»
Ancaman tersebut bukan sekadar ditujukan kepada seorang nabi.
Ia menjadi simbol bagaimana kekuasaan yang zalim selalu berusaha menyingkirkan pihak yang dianggap mengganggu kepentingannya.
Pengusiran: Wajah Kezaliman yang Berulang
Dalam Tafsir Tahlili dijelaskan bahwa kaum kafir memberikan dua pilihan kepada para rasul: meninggalkan dakwah atau meninggalkan negeri mereka.
Pilihan itu sesungguhnya bukan pilihan.
Ia adalah bentuk pemaksaan.
Dalam sejarah modern, pola yang serupa dapat ditemukan dalam berbagai konflik, termasuk penderitaan yang dialami rakyat Palestina. Berbagai laporan internasional selama puluhan tahun mendokumentasikan pengusiran penduduk, penghancuran rumah, perluasan permukiman, pembatasan mobilitas, dan perpindahan paksa yang menimpa banyak warga Palestina.
Terhadap kebijakan-kebijakan semacam inilah banyak pihak kemudian melihat adanya kemiripan pola dengan apa yang digambarkan Al-Qur'an tentang kezaliman berupa pengusiran dari tanah air. Namun, Al-Qur'an sendiri tidak menyebut peristiwa modern secara spesifik; ayat ini memberikan prinsip umum yang menjadi bahan renungan bagi setiap zaman.
Jawaban Allah kepada Para Pengusir
Menariknya, Al-Qur'an tidak lebih dahulu menceritakan respons para rasul.
Yang pertama kali disampaikan justru keputusan Allah.
«"Maka Tuhan mereka mewahyukan kepada mereka: Kami pasti akan membinasakan orang-orang yang zalim itu."
(QS. Ibrahim: 13)»
Kalimat ini merupakan deklarasi bahwa kezaliman memiliki batas.
Allah mungkin menangguhkan hukuman.
Namun Allah tidak pernah membiarkan kezaliman berlangsung tanpa akhir.
Dalam Tafsir Ibnu Katsir, ayat ini menjadi penghibur bagi para rasul yang menghadapi ancaman pengusiran. Sayyid Qutb dalam Fi Zhilalil Qur'an menambahkan bahwa ketika kekuasaan tidak lagi mampu membantah kebenaran, ia biasanya beralih kepada intimidasi dan kekerasan. Justru pada saat itulah kekuasaan tersebut menunjukkan kelemahan moralnya.
Janji Allah: Negeri Akan Kembali kepada Orang yang Bertakwa
Allah kemudian melanjutkan janji-Nya.
«"Dan Kami pasti akan menempatkan kamu di negeri-negeri itu setelah mereka."
(QS. Ibrahim: 14)»
Ayat ini mengandung konsep istikhlaf—pergantian kekuasaan menurut kehendak Allah.
Namun Allah menetapkan syaratnya.
«"Yang demikian itu bagi orang yang takut kepada-Ku dan takut kepada ancaman-Ku."»
Warisan bumi bukan semata hasil kekuatan politik.
Bukan pula hasil keunggulan militer.
Ia merupakan karunia Allah kepada orang-orang yang menjaga ketakwaan.
Karena itu, kemenangan dalam Al-Qur'an tidak hanya berarti menang di medan perang, tetapi tegaknya keadilan yang dibangun di atas iman.
Kesombongan Adalah Awal Kehancuran
Allah kemudian menggambarkan akhir setiap penguasa yang sewenang-wenang.
«"Dan mereka memohon kemenangan, lalu binasalah setiap orang yang berlaku sewenang-wenang lagi keras kepala."
(QS. Ibrahim: 15)»
Istilah jabbar 'anid menggambarkan penguasa yang menggunakan kekuasaan tanpa batas, menolak kebenaran, dan memaksakan kehendaknya kepada manusia.
Al-Qur'an kemudian melukiskan balasan mereka di akhirat dengan gambaran yang sangat keras.
«"Di hadapannya ada neraka Jahanam dan dia diberi minuman dari air nanah."
(QS. Ibrahim: 16–17)»
Kehinaan itu menjadi kebalikan dari kesombongan yang dahulu mereka banggakan di dunia.
Membaca Palestina Melalui Lensa Sunnatullah
Sebagian ulama kontemporer memandang Surah Ibrahim ayat 13–17 sebagai gambaran sunnatullah yang terus berulang dalam sejarah. Karena itu, ayat ini sering dijadikan landasan refleksi terhadap berbagai bentuk penjajahan, pengusiran, dan perampasan hak, termasuk yang dialami rakyat Palestina yang pelakunya Zionis Israel.
Dalam konteks tersebut, yang menjadi fokus bukan identitas etnis atau agama suatu kelompok, melainkan tindakan kezaliman itu sendiri. Zionis Israel sebagai contoh yang masih melakukan hal ini di era modern.
Jika suatu kekuasaan dibangun melalui pengusiran, perampasan hak, atau penindasan, maka Al-Qur'an mengingatkan bahwa tidak ada kekuasaan yang kebal dari hukum Allah.
Sebaliknya, bagi mereka yang dizalimi, ayat ini menjadi penghibur bahwa keadilan Allah mungkin tertunda, tetapi tidak pernah hilang.
Penutup
Surah Ibrahim ayat 13–17 mengajarkan bahwa sejarah manusia tidak berjalan tanpa arah.
Di balik pergantian rezim, konflik, dan perebutan kekuasaan, terdapat sunnatullah yang tidak berubah.
Kezaliman mungkin tampak kokoh.
Pengusiran mungkin terlihat berhasil.
Namun semuanya memiliki batas yang telah ditetapkan Allah.
Sebaliknya, orang-orang yang tetap berpegang pada iman, kesabaran, dan ketakwaan diberi harapan bahwa pada akhirnya Allah-lah pemilik bumi dan Dialah yang menentukan kepada siapa bumi itu diwariskan.
Inilah janji yang pernah menguatkan para rasul.
Dan hingga hari ini, janji itu tetap menjadi pelajaran bagi seluruh umat manusia.
0 komentar: