Santri dalam Perang Kemerdekaan: Ibadah Latihan Militer Tersembunyi
Mengapa dalam Perang Kemerdekaan Republik Indonesia seorang santri dapat begitu cepat berubah menjadi pasukan tempur?
Mengapa seorang kiai yang sehari-hari memimpin pengajian, mengajar kitab, dan membimbing umat, tiba-tiba mampu memimpin barisan pejuang di medan laga?
Pertanyaan ini sering muncul ketika kita membaca sejarah perjuangan bangsa. Namun jawabannya mungkin lebih dekat daripada yang kita bayangkan.
Sesungguhnya, kehidupan seorang mukmin adalah proses pelatihan yang panjang. Ia mungkin tidak mengenakan seragam militer, tidak tinggal di barak, dan tidak menjalani latihan perang setiap hari. Akan tetapi, tanpa disadari, ibadah yang dilakukannya terus-menerus membentuk karakter yang sangat dibutuhkan dalam dunia militer: disiplin, ketahanan mental, kepatuhan, solidaritas, dan keberanian.
Karena itulah, ketika situasi genting datang, transformasi dari ruang ibadah menuju medan perjuangan sering kali terjadi dengan sangat cepat.
Lihatlah shalat lima waktu.
Setiap hari seorang muslim dilatih bergerak dalam satu komando. Ketika imam bertakbir, seluruh makmum bertakbir. Ketika imam rukuk, mereka rukuk. Ketika imam sujud, mereka sujud.
Tidak ada kekacauan gerakan.
Tidak ada perdebatan di tengah pelaksanaan.
Tidak ada ego yang mendahului komando.
Bukankah ini inti dari disiplin sebuah pasukan?
Dalam dunia militer, kemampuan mengikuti instruksi secara serempak adalah fondasi utama keberhasilan operasi. Dan seorang muslim yang terbiasa menjaga shalat berjamaah sesungguhnya sedang ditempa dalam budaya kepatuhan dan keteraturan.
Bahkan formasi shaf mengandung pelajaran yang tidak sederhana.
Barisan yang rapat, lurus, dan saling menguatkan mengajarkan pentingnya kesatuan. Tidak boleh ada celah yang memisahkan hati dan langkah. Sebab sering kali kekalahan bukan bermula dari lemahnya kekuatan, melainkan dari renggangnya barisan.
Lalu datanglah puasa.
Di sini pelatihan beralih dari fisik menuju mental.
Puasa mengajarkan manusia bertahan dalam keterbatasan. Menahan lapar ketika makanan tersedia. Menahan haus ketika air berada di depan mata. Menahan amarah ketika ada alasan untuk marah.
Bukankah perang juga demikian?
Tidak semua kemenangan diraih oleh mereka yang memiliki perlengkapan terbaik. Banyak kemenangan lahir dari mereka yang mampu bertahan lebih lama di tengah tekanan.
Puasa melatih kemampuan itu.
Ia mengajarkan bahwa manusia lebih kuat daripada dorongan nafsunya sendiri.
Kemudian zakat, infak, dan sedekah.
Ibadah ini membangun sesuatu yang sangat berharga dalam sebuah perjuangan: solidaritas.
Seseorang dibiasakan memberi, bukan merebut.
Membantu, bukan mengambil keuntungan.
Mendahulukan kebutuhan orang lain, bukan kepentingan dirinya sendiri.
Dalam peperangan, mentalitas seperti ini melahirkan pasukan yang kokoh. Mereka tidak mudah saling berebut sumber daya, tidak cepat pecah karena kepentingan pribadi, dan mampu bertahan sebagai satu tubuh yang saling menopang.
Namun semua itu belumlah cukup menjelaskan fenomena tersebut.
Ada satu unsur yang jauh lebih kuat daripada disiplin, ketahanan fisik, maupun solidaritas.
Yaitu iman.
Iman membuat seseorang tetap melihat harapan ketika situasi tampak gelap.
Iman membuat hati tetap tenang ketika ancaman datang dari segala arah.
Iman memberi makna pada pengorbanan.
Dalam pandangan seorang mukmin, kehidupan tidak berhenti pada dunia. Karena itu, ancaman kehilangan dunia tidak selalu mampu mematahkan semangatnya.
Inilah yang berkali-kali diperlihatkan sejarah.
Pada Oktober 1945, ketika KH Hasyim Asy'ari mengeluarkan Resolusi Jihad, ribuan santri bergerak menuju Surabaya.
Mereka bukan tentara profesional.
Mereka bukan lulusan akademi militer.
Mereka adalah para pelajar pesantren, petani, pedagang, dan rakyat biasa.
Namun dalam hitungan hari mereka menjelma menjadi barisan perlawanan yang menggetarkan kekuatan kolonial.
Mengapa?
Karena sesungguhnya fondasi perjuangan itu telah lama dibangun.
Pesantren bukan hanya tempat mempelajari ilmu agama. Ia adalah sekolah karakter.
Di sana ada kedisiplinan.
Ada kepatuhan kepada guru.
Ada kebersamaan.
Ada kesederhanaan hidup.
Ada pengendalian diri.
Ketika tanah air membutuhkan pembela, nilai-nilai itu tinggal diarahkan menuju medan yang berbeda.
Mereka tidak memulai dari nol.
Mereka hanya mengalihkan fokus pengabdian.
Jika sebelumnya tenaga dicurahkan untuk menuntut ilmu, kini tenaga itu dicurahkan untuk mempertahankan kemerdekaan.
Jika sebelumnya ketaatan diberikan dalam majelis ilmu, kini ketaatan diwujudkan dalam barisan perjuangan.
Karena itu, transformasi santri menjadi pejuang bukanlah perubahan mendadak.
Ia adalah aktivasi potensi yang telah ditempa bertahun-tahun.
Fenomena serupa dapat ditemukan dalam berbagai perjuangan umat Islam sepanjang sejarah, termasuk pada gerakan-gerakan perlawanan modern. Ketika masyarakat telah memiliki fondasi spiritual yang kuat, mobilisasi untuk menghadapi krisis menjadi jauh lebih cepat dibandingkan masyarakat yang hanya mengandalkan ikatan administratif atau kepentingan material.
Pada akhirnya, sejarah kemerdekaan Indonesia mengajarkan sebuah pelajaran penting.
Kekuatan sejati sebuah bangsa tidak hanya lahir dari senjata, teknologi, atau jumlah pasukan.
Kekuatan sejati lahir dari manusia yang memiliki tujuan hidup yang jelas, disiplin yang terjaga, solidaritas yang kuat, dan keyakinan yang tidak mudah digoyahkan.
Mungkin itulah sebabnya seorang santri dapat berubah menjadi pejuang dalam waktu yang singkat.
Sebab sebelum memegang senjata, ia telah lama berlatih menaklukkan dirinya sendiri.
Sumber:
Ahmad Mansur Suryanegara, Api Sejarah, Surya Dinasti
0 komentar: