Penyakit Hati Musuh Rasionalitas
Penyakit hati bukan sekadar masalah spiritual, tetapi juga dapat menjadi disfungsi kognitif yang mengganggu kemampuan seseorang dalam berpikir jernih, menilai secara objektif, dan mengambil keputusan yang tepat.
Cicit Rasulullah ï·º, Muhammad bin Hasan bin Ali, pernah berkata:
"Tidaklah masuk ke dalam diri seseorang sesuatu dari kesombongan sedikit pun, melainkan akan mengurangi akalnya sejauh kadar kesombongan itu masuk ke dalam dirinya, sedikit ataupun banyak."»
Ungkapan ini menunjukkan bahwa kesombongan tidak hanya merusak akhlak, tetapi juga mengurangi kualitas akal dan kemampuan seseorang untuk memahami realitas secara benar.
Hal yang sama berlaku pada amarah (ghadab). Imam Al-Ghazali menganalogikan amarah sebagai api yang membakar rasionalitas manusia dalam sekejap. Ketika amarah memuncak, kemampuan berpikir objektif melemah, pertimbangan menjadi kabur, dan seseorang mudah melakukan tindakan yang kemudian disesalinya.
Dalam Riyadhah al-Nafs, Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa saat amarah menguasai jiwa, fungsi akal sehat kehilangan kendalinya. Akal yang seharusnya memimpin justru dikalahkan oleh dorongan emosi. Akibatnya, seseorang tidak lagi melihat persoalan secara proporsional, tetapi melalui lensa kemarahan yang membesar-besarkan kesalahan dan mengaburkan kebenaran.
Sumber:
Mahmud Al-Mishri, Ensiklopedi Akhlak Rasulullah, Pustaka Al-Kautsar, 2019
0 komentar: