Apakah Hanya Nabi Muhammad saw yang Diteguhkan dengan Kisah?
Banyak Muslim memahami bahwa Allah menurunkan kisah-kisah para nabi untuk meneguhkan hati Nabi Muhammad saw. Pemahaman itu benar. Allah berfirman:
"Dan semua kisah rasul-rasul Kami ceritakan kepadamu (Muhammad), agar dengan kisah itu Kami teguhkan hatimu..." (QS. Hud: 120)
Namun muncul pertanyaan menarik: apakah metode peneguhan hati melalui kisah hanya diberikan kepada Nabi Muhammad saw?
Jika menelusuri Al-Qur'an secara cermat, jawabannya ternyata tidak.
Sebelum Nabi Muhammad saw, Nabi Musa as juga diteguhkan dengan kisah. Menariknya, kisah yang digunakan Allah bukan kisah nabi lain, melainkan kisah hidup Musa sendiri.
Saat Musa Dilanda Keraguan
Peristiwa itu terjadi setelah Nabi Musa kembali dari Madyan menuju Mesir. Dalam perjalanan, di lembah suci Tuwa, Allah mengangkatnya sebagai nabi dan rasul.
Tugas yang diberikan bukan tugas ringan. Musa diperintahkan mendatangi penguasa paling tiran pada zamannya: Firaun.
Meski telah dibekali berbagai mukjizat, Musa tetap merasakan kegelisahan manusiawi. Ia khawatir tidak mampu menyampaikan risalah dengan baik. Karena itu ia berdoa:
"Ya Tuhanku, lapangkanlah dadaku, mudahkanlah urusanku, dan lepaskanlah kekakuan dari lidahku agar mereka memahami perkataanku." (QS. Thaha: 25–28)
Tidak hanya itu, Musa juga meminta agar saudaranya, Harun, diangkat menjadi nabi yang mendampinginya dalam dakwah.
Allah mengabulkan permintaan tersebut. Harun menjadi penolong, penguat, sekaligus sahabat perjuangan. Namun ada hal lain yang dilakukan Allah untuk membangun keteguhan Musa.
Allah mengajak Musa menengok kembali perjalanan hidupnya.
Allah Membuka Kembali Lembaran Masa Lalu Musa
Setelah mengabulkan doa Musa, Allah berfirman:
"Dan sungguh, Kami telah memberi nikmat kepadamu pada kesempatan yang lain." (QS. Thaha: 37)
Kalimat ini menjadi pintu masuk bagi sebuah "kilas balik" yang panjang.
Allah mengingatkan Musa pada masa ketika ia masih bayi dan tidak memiliki kemampuan apa pun untuk menyelamatkan dirinya.
Saat itu, Bani Israil hidup di bawah penindasan Firaun. Bayi-bayi laki-laki dibunuh. Dalam situasi yang tampak tanpa jalan keluar, Allah mengilhamkan kepada ibu Musa untuk meletakkan bayinya ke dalam peti dan menghanyutkannya ke Sungai Nil.
Secara logika, tindakan itu tampak sangat berbahaya.
Namun justru melalui jalan itulah Allah menyelamatkan Musa.
Arus sungai membawa peti tersebut ke lingkungan istana Firaun. Penguasa yang sedang memburu bayi-bayi Bani Israil justru menjadi pihak yang memelihara Musa.
Lebih menakjubkan lagi, Allah membuat Musa menolak semua perempuan yang hendak menyusuinya hingga akhirnya ia kembali kepada ibunya sendiri.
Sejak awal kehidupan Musa, Allah menunjukkan bahwa pertolongan-Nya mampu menembus semua perhitungan manusia.
Pertolongan yang Tidak Pernah Terputus
Allah tidak hanya mengingatkan satu peristiwa.
Dalam rangkaian ayat berikutnya, Musa juga diingatkan tentang berbagai fase kehidupannya yang penuh ujian.
Ia pernah hampir terbunuh ketika masih kecil.
Ia pernah tidak sengaja membunuh seorang pemuda Mesir sehingga harus meninggalkan Mesir sebagai buronan.
Ia pernah hidup asing dan terlantar di Madyan.
Ia pernah merasakan kelaparan dan ketidakpastian masa depan.
Namun pada setiap fase itu, Allah selalu membuka jalan keluar.
Di Madyan, Allah mempertemukannya dengan keluarga Nabi Syuaib. Musa memperoleh tempat tinggal, pekerjaan, keluarga, dan perlindungan.
Tidak ada satu fase pun dalam hidup Musa yang berada di luar pengawasan Allah.
Karena itu Allah menutup rangkaian pengingat tersebut dengan kalimat yang sangat kuat:
"Dan Aku telah memilihmu untuk diri-Ku." (QS. Thaha: 41)
Mengapa Allah Mengingatkan Kisah Itu?
Pertanyaannya, mengapa Allah tidak langsung memerintahkan Musa berangkat menemui Firaun?
Mengapa Allah terlebih dahulu mengingatkan sejarah hidupnya?
Di sinilah letak pelajaran besarnya.
Ketakutan sering muncul ketika seseorang hanya melihat tantangan yang ada di depannya. Sebaliknya, keyakinan tumbuh ketika ia mengingat jejak pertolongan Allah di belakangnya.
Allah seolah mengajarkan kepada Musa:
"Wahai Musa, ketika engkau bayi yang tidak berdaya, Aku menjagamu. Ketika engkau menjadi buronan, Aku melindungimu. Ketika engkau terlantar di Madyan, Aku mencukupimu. Lalu mengapa sekarang engkau takut menghadapi Firaun?"
Dengan mengingat masa lalu, Musa memperoleh keberanian untuk menghadapi masa depan.
Pelajaran untuk Nabi Muhammad saw dan Umatnya
Metode yang sama kemudian diberikan kepada Nabi Muhammad saw.
Saat menghadapi ejekan, intimidasi, dan penolakan kaum Quraisy, Allah menurunkan kisah-kisah para nabi terdahulu. Tujuannya bukan sekadar menyampaikan sejarah, tetapi meneguhkan hati Rasulullah saw.
Karena itu Al-Qur'an bukan buku cerita.
Kisah-kisah di dalamnya adalah sarana pendidikan jiwa.
Musa diteguhkan dengan mengingat perjalanan hidupnya sendiri. Muhammad saw diteguhkan dengan perjalanan para rasul sebelumnya. Sedangkan orang-orang beriman diteguhkan dengan membaca seluruh kisah tersebut.
Maka jawabannya jelas: bukan hanya Nabi Muhammad saw yang diteguhkan dengan kisah.
Nabi Musa as pun diteguhkan dengan kisah. Bahkan sebelum menghadapi Firaun, Allah terlebih dahulu mengajak Musa membaca ulang sejarah hidupnya sendiri agar ia menyaksikan satu kenyataan yang tidak pernah berubah:
Allah yang telah menolongnya di masa lalu adalah Allah yang akan menolongnya di masa depan.
0 komentar: