basmalah Pictures, Images and Photos
Our Islamic Story

Choose your Language

Rasulullah ï·º Mendidik Usamah bin Zaid Kecil dengan Cinta Usamah bin Zaid adalah putra dari Ummu Aiman, pengasuh Rasulullah ï·º, ya...


Rasulullah ï·º Mendidik Usamah bin Zaid Kecil dengan Cinta


Usamah bin Zaid adalah putra dari Ummu Aiman, pengasuh Rasulullah ï·º, yang menikah dengan Zaid bin Haritsah—mantan budak yang dimerdekakan dan sangat dicintai oleh Nabi ï·º. Usamah sendiri memiliki usia sekitar sepuluh tahun lebih tua dari Hasan bin Ali.

Kedekatan keluarga ini menjadikan Usamah bukan sekadar anak dari orang yang berjasa, tetapi juga bagian dari lingkaran cinta Rasulullah ï·º.


---

Ungkapan Cinta yang Nyata

Rasulullah ï·º tidak menyimpan rasa cintanya dalam diam. Beliau menampakkannya secara langsung.

Usamah mengenang,
“Suatu ketika Nabi ï·º meraihku dan Hasan, lalu bersabda:
‘Sesungguhnya aku mencintai keduanya, maka cintailah keduanya.’”

Ungkapan ini bukan hanya perasaan pribadi, tetapi juga ajakan kepada umat untuk ikut mencintai mereka.

Aisyah juga meriwayatkan kisah lain. Suatu hari Rasulullah ï·º hendak membersihkan kotoran pada tubuh Usamah. Aisyah berkata,
“Biar aku yang melakukannya.”

Namun Rasulullah ï·º menjawab,
“Wahai Aisyah, cintailah dia, karena aku sangat mencintainya.”

Setelah itu, Aisyah menyampaikan kepada para sahabat:
“Tidak selayaknya seseorang membenci Usamah, setelah aku mendengar Nabi ï·º bersabda:
‘Barangsiapa mencintai Allah dan Rasul-Nya, maka hendaknya ia mencintai Usamah.’”


---

Cinta yang Tetap Tegas

Namun, cinta Rasulullah ï·º tidak berarti membiarkan kesalahan.

Dalam sebuah peristiwa, Usamah pernah membunuh seorang musuh yang telah mengucapkan syahadat di medan perang. Usamah mengira ucapan itu hanya untuk menyelamatkan diri.

Rasulullah ï·º menegur keras perbuatan tersebut.

Peristiwa ini menunjukkan bahwa pendidikan dengan cinta tidak menghilangkan ketegasan. Justru cinta yang benar melahirkan bimbingan yang lurus—bukan pembiaran.


---

Teladan yang Diikuti Para Sahabat

Kecintaan Rasulullah ï·º kepada Usamah bin Zaid begitu kuat hingga memengaruhi para sahabat.

Umar bin Khattab pernah berkata kepada putranya, Abdullah bin Umar:
“Sesungguhnya ayahnya (Zaid bin Haritsah) lebih dicintai Rasulullah ï·º daripada ayahmu, dan dia (Usamah) lebih dicintai Rasulullah ï·º daripadamu.”

Ucapan ini bukan sekadar perbandingan, tetapi bentuk pengakuan terhadap kedudukan Usamah di hati Rasulullah ï·º.


---

Manfaat Ungkapan Cinta pada Anak

Dari cara Rasulullah ï·º mendidik Usamah, kita dapat mengambil beberapa pelajaran penting tentang pentingnya ungkapan cinta kepada anak:

1. Membangun rasa aman dan kepercayaan diri
Anak yang dicintai secara terbuka tumbuh dengan keyakinan bahwa dirinya berharga.

2. Menguatkan ikatan emosional
Hubungan antara pendidik dan anak menjadi lebih dekat dan penuh kehangatan.

3. Memudahkan penerimaan nasihat
Anak lebih mudah menerima teguran dari orang yang ia tahu mencintainya.

4. Menanamkan nilai kasih sayang sejak dini
Anak belajar mencintai orang lain karena ia terlebih dahulu merasakan cinta.

5. Membentuk karakter yang stabil dan empatik
Cinta yang konsisten membantu anak tumbuh dengan emosi yang sehat dan seimbang.


---

Penutup

Dari kisah Usamah bin Zaid, terlihat jelas bahwa Rasulullah ï·º mendidik dengan keseimbangan yang indah:

cinta yang diungkapkan,
kedekatan yang dirawat,
dan ketegasan yang tetap dijaga.

Di tangan beliau, cinta bukan kelemahan—melainkan kekuatan yang membentuk jiwa.

Sumber:
Adz-Dzahabi, Siyar A'lam An-Nubala, Pustaka Azzam, 2011

Kegembiraan Rasulullah ï·º Saat Kelahiran Sang Cucu Hasan bin Ali merupakan cucu pertama Rasulullah ï·º yang lahir pada bulan Ramadh...

Kegembiraan Rasulullah ï·º Saat Kelahiran Sang Cucu


Hasan bin Ali merupakan cucu pertama Rasulullah ï·º yang lahir pada bulan Ramadhan tahun 3 Hijriyah. Kelahirannya disambut dengan penuh kebahagiaan oleh Nabi ï·º.

Ali bin Abi Thalib meriwayatkan bahwa saat Hasan lahir, ia sempat memberi nama “Harb”. Ketika Rasulullah ï·º datang, beliau bertanya:

“Mana cucuku? Apa nama yang kalian berikan kepadanya?”

Kami menjawab, “Namanya Harb.”

Rasulullah ï·º bersabda,
“Namanya bukan Harb, tetapi Hasan.”

Perubahan nama ini menunjukkan perhatian langsung Rasulullah ï·º terhadap identitas dan makna nama cucunya.

Kegembiraan Rasulullah ï·º tidak hanya tampak dari pemberian nama, tetapi juga dari tindakan-tindakan penuh keberkahan yang beliau lakukan. Abu Rafi’ meriwayatkan bahwa Nabi ï·º mengumandangkan azan di telinga Hasan saat kelahirannya.

Kemudian Fatimah bertanya,
“Wahai Rasulullah, apakah aku perlu menyembelih hewan untuk aqiqahnya?”

Beliau menjawab,
“Tidak. Cukurlah rambutnya dan bersedekahlah dengan perak seberat rambut tersebut kepada orang miskin.”

---

Kelahiran Husain dan Pola yang Sama

Setahun kemudian, pada bulan Sya’ban tahun 4 Hijriyah, lahirlah Husain bin Ali. Peristiwa yang sama kembali terulang.

Ali bin Abi Thalib kembali memberi nama “Harb”. Namun Rasulullah ï·º menggantinya dengan nama “Husain”.

Hal yang sama terjadi pada anak ketiga Ali, yang awalnya juga dinamai “Harb”, lalu oleh Rasulullah ï·º diganti menjadi “Muhassan”.

Ketika ditanya alasan penamaan tersebut, Rasulullah ï·º menjelaskan:

“Aku menamakan mereka seperti nama anak-anak Harun: Syabar, Syubair, dan Musyabbar.”

Ini menunjukkan bahwa penamaan tersebut memiliki akar spiritual dan historis dalam tradisi kenabian sebelumnya.

---

Tradisi Tahnik dan Doa Keberkahan

Aisyah meriwayatkan bahwa bayi-bayi yang baru lahir biasa dibawa kepada Rasulullah ï·º. Beliau kemudian mendoakan keberkahan dan melakukan tahnik.

Menurut Imam Nawawi, jika bayi kaum Muslimin saja didoakan dan ditahnik oleh Rasulullah ï·º, maka cucu-cucu beliau tentu lebih utama mendapatkan hal tersebut.

Tahnik adalah proses mengunyah kurma lalu menyuapkannya ke mulut bayi. Sementara doa keberkahan berarti memohon kebaikan dan masa depan yang baik bagi sang anak.

---

Aqiqah dan Amalan Hari Ketujuh

Diriwayatkan dari Ja’far bin Muhammad bahwa Fatimah mencukur rambut Hasan dan Husain pada hari ketujuh kelahiran mereka.

Tentang aqiqah, terdapat riwayat bahwa Rasulullah ï·º sendiri yang melaksanakannya. Sebagian riwayat menyebut satu ekor kambing untuk masing-masing, sementara riwayat lain menyebut dua ekor kibas berwarna putih kehitaman.

Pada hari yang sama, Rasulullah ï·º juga:

Memberikan sebagian daging (paha kambing) kepada orang yang membantu persalinan

Melumuri rambut bayi dengan wewangian

Mengkhitankan Hasan dan Husain

---

Penutup

Dari rangkaian peristiwa ini terlihat bahwa kegembiraan Rasulullah ï·º atas kelahiran cucunya tidak hanya bersifat emosional, tetapi juga diwujudkan dalam tindakan nyata yang sarat makna:

pemberian nama yang baik

doa keberkahan

perhatian pada kebersihan dan sedekah

serta pelaksanaan syariat sejak hari pertama kehidupan


Kelahiran Hasan dan Husain bukan sekadar peristiwa keluarga, tetapi juga menjadi teladan bagaimana Islam menyambut kehidupan baru dengan penuh kasih, makna, dan keberkahan.

Sumber:
Adz-Dzahabi, Siyar A'lam An-Nubala, Pustaka Azzam, 2011
Ali Muhammad Ash-Shallabi, Biografi Hasan bin Ali, Ummul Qura, 2017

Jenis dan Jumlah Kapal Armada Dipati Unus dalam Pembebasan Malaka dari Portugis (1513–1521) Ketika kota dagang strategis Malaka ...

Jenis dan Jumlah Kapal Armada Dipati Unus dalam Pembebasan Malaka dari Portugis (1513–1521)


Ketika kota dagang strategis Malaka jatuh ke tangan Portugis pada 1511, lanskap kekuatan di Asia Tenggara berubah drastis. Jalur perdagangan yang sebelumnya dikuasai jaringan Muslim kini berada di bawah kendali Eropa. Di tengah situasi itu, muncul satu nama dari pesisir utara Jawa: Pati Unus—seorang panglima muda yang tidak hanya membaca ancaman, tetapi juga menyiapkan respons dalam skala yang belum pernah terjadi sebelumnya di Nusantara.

Tulisan ini merekonstruksi satu aspek krusial dari ekspedisi tersebut: jenis dan jumlah kapal yang digunakan dalam dua gelombang serangan besar Kesultanan Demak ke Malaka.


---

Armada Pertama (1513): Serangan Awal dengan 100 Kapal

Ekspedisi pertama yang dilancarkan sekitar akhir 1512 hingga Januari 1513 menjadi tonggak awal kekuatan maritim Demak. Armada ini berangkat dari Jepara—pusat galangan kapal utama saat itu—dengan komposisi sebagai berikut:

Jumlah dan Personel

±100 kapal

5.000–12.000 prajurit (terdapat variasi dalam sumber)

Sekitar 30 kapal utama jenis jong besar


Jenis Kapal yang Digunakan

1. Jong (Junco)
Kapal terbesar dan tulang punggung armada.

Berat: ±350–600 ton (bahkan bisa lebih)

Kapasitas: ratusan hingga ±1.000 orang per kapal

Fungsi: kapal induk, pembawa pasukan dan artileri berat


Sumber Portugis menggambarkan jong milik Pati Unus sebagai “kapal paling mengerikan” yang pernah mereka lihat—bahkan tembakan meriam besar tidak mampu menembus lambungnya.

2. Lancaran (Lanchara)

Kapal cepat dengan layar dan dayung

Digunakan untuk manuver dan serangan gesit


3. Penjajap (Pangajava)

Kapal logistik yang dimodifikasi menjadi kapal perang

Dilengkapi meriam (cetbang)

Fleksibel untuk angkut barang dan tempur


4. Kelulus (Calaluz)

Perahu kecil

Digunakan untuk pendaratan pasukan ke pantai



---

Teknologi dan Keunggulan Kapal

Armada ini bukan sekadar besar, tetapi juga inovatif. Kapal-kapal Demak mengadopsi dan mengembangkan teknologi maritim warisan Majapahit:

Cetbang (meriam isian belakang) sebagai artileri utama

Lambung kapal berlapis ganda bahkan hingga tiga lapis

Struktur besar tanpa paku logam (menggunakan pasak kayu) namun tetap kuat

Kombinasi layar dan dayung untuk fleksibilitas tempur


Salah satu laporan Portugis bahkan menyebut kapal utama Pati Unus memiliki tiga lapisan pelindung tebal, menjadikannya hampir kebal terhadap bombardir.


---

Hasil Pertempuran: Kekuatan Besar, Tapi Belum Cukup

Pertempuran di Selat Malaka berlangsung sengit. Namun hasil akhirnya menunjukkan:

±70 kapal Demak hancur

±800 prajurit gugur

Armada dipaksa mundur


Kegagalan ini bukan karena lemahnya armada, tetapi kombinasi faktor:

Keunggulan taktik laut Portugis

Pengalaman tempur samudra yang lebih matang

Posisi bertahan Portugis di benteng Malaka


Namun dari kegagalan ini, lahir reputasi besar. Pati Unus dikenal sebagai “Pangeran Sabrang Lor”—pangeran yang berani menyeberangi lautan untuk jihad.


---

Armada Kedua (1521): Ekspansi Besar-besaran

Alih-alih menyerah, Demak justru memperbesar kekuatan. Dalam ekspedisi kedua:

Jumlah Armada

±375 kapal


Ini menunjukkan lonjakan signifikan dari ekspedisi pertama—hampir empat kali lipat.

Karakter Armada

Meskipun detail jenis kapal tidak disebutkan secara rinci, besar kemungkinan komposisinya tetap meliputi:

Jong besar sebagai kapal induk

Lancaran dan penjajap sebagai unit tempur dan logistik

Kapal kecil untuk pendaratan


Hasil

Pertempuran berlangsung 3 hari 3 malam

Pati Unus gugur di medan perang

Serangan kembali gagal merebut Malaka



---

Analisis Investigatif: Apa Makna Angka dan Jenis Kapal Ini?

Dari data yang tersedia, ada beberapa kesimpulan penting:

1. Skala Armada yang Luar Biasa

Armada 100 hingga 375 kapal pada awal abad ke-16 menunjukkan bahwa Demak adalah kekuatan maritim besar, bukan sekadar kerajaan pesisir.

2. Jong sebagai Simbol Supremasi

Kapal jong bukan hanya alat perang, tetapi simbol teknologi dan kekuatan industri maritim Jawa.

3. Industri Kapal Terorganisir

Produksi ratusan kapal dalam waktu singkat mengindikasikan:

Sistem galangan kapal terpusat (Jepara, Semarang)

Dukungan logistik dan ekonomi besar

Keterlibatan komunitas lintas etnis, termasuk Muslim Tionghoa


4. Kesenjangan Strategi, Bukan Teknologi Semata

Meski kapal Demak kuat, kekalahan menunjukkan bahwa:

Perang laut modern tidak hanya soal ukuran kapal

Taktik, formasi, dan pengalaman samudra menjadi penentu



---

Penutup

Ekspedisi Pati Unus ke Malaka bukan sekadar perang yang gagal. Ia adalah bukti bahwa Nusantara pernah memiliki:

Armada raksasa

Teknologi maritim maju

Visi geopolitik lintas samudra


Jenis dan jumlah kapal yang ia bawa mencerminkan satu hal yang sering dilupakan:
bahwa laut pernah menjadi panggung utama kekuatan Islam di Jawa.

Dan meski Malaka tidak berhasil direbut, gelombang perlawanan itu tidak berhenti—ia diwariskan hingga generasi berikutnya, dari Demak ke Jepara, dari Jepara ke Aceh.

Sebab dalam sejarah, kekalahan di medan perang tidak selalu berarti kalah dalam perjuangan.


Sumber:
Hamka, Sejarah Umat Islam, GIP, 2016
Rachmad Abdullah, Kerajaan Islam Demak, Al-Wafi Puplishing, 2015
Wikipedia

Rute Perjalanan dan Koalisi Pasukan Adipati Unus dalam Ekspedisi Pembebasan Malaka (1513–1521) Ketika Afonso de Albuquerque mena...

Rute Perjalanan dan Koalisi Pasukan Adipati Unus dalam Ekspedisi Pembebasan Malaka (1513–1521)


Ketika Afonso de Albuquerque menaklukkan Malaka pada 1511, ia tidak sekadar merebut sebuah kota—ia memutus nadi perdagangan Islam di Asia Tenggara. Di sisi lain Selat, Sultan Mahmud Syah yang terusir ke Bintan mulai menyusun jaringan perlawanan. Seruan bantuan pun menyebar: ke dunia Melayu, ke Sumatra, dan ke Jawa.

Respons paling serius datang dari Pati Unus—seorang pemimpin muda dari pesisir utara Jawa yang memahami satu hal: untuk mengalahkan Portugis, perang harus dimenangkan di laut.


---

Rute Ekspedisi: Dari Jepara ke Selat Malaka

Berbeda dengan narasi umum yang hanya menyoroti pertempuran, jejak perjalanan armada Demak menunjukkan operasi maritim yang terencana dan lintas wilayah.

1. Titik Awal: Jepara sebagai Pangkalan Militer

Ekspedisi dimulai dari Jepara—pusat galangan kapal dan logistik.
Di sini:

Kapal-kapal dirakit dan dipersenjatai

Pasukan dikonsolidasikan

Koordinasi dengan sekutu dilakukan


Jepara bukan sekadar pelabuhan, tetapi markas operasi laut terbesar Demak.


---

2. Menyusuri Pantai Utara Jawa

Armada tidak langsung menuju Malaka. Mereka bergerak menyusuri jalur aman:

Jepara → pesisir utara Jawa (Tuban, Lasem, Gresik)

Mengumpulkan kapal tambahan dari kota-kota pesisir

Menghindari badai laut selatan dan memperkuat logistik


Langkah ini menunjukkan bahwa ekspedisi bukan gerakan spontan, tetapi mobilisasi maritim bertahap.


---

3. Menyeberang ke Sumatra: Titik Konsolidasi Kedua

Dari Jawa, armada bergerak menuju Sumatra bagian timur:

Berlabuh di wilayah Palembang

Menggabungkan pasukan dan armada lokal

Memperkuat suplai dan informasi intelijen


Sumatra menjadi jembatan strategis sebelum memasuki wilayah konflik utama.


---

4. Bergabung dengan Kekuatan Melayu

Di sekitar Selat Malaka, armada Demak tidak bertempur sendirian. Mereka terhubung dengan:

Sisa kekuatan Kesultanan Malaka

Basis perlawanan di Bintan

Armada Melayu yang masih setia pada Sultan Mahmud Syah


Koordinasi ini menciptakan front gabungan Nusantara–Melayu.


---

5. Masuk ke Zona Tempur: Selat Malaka

Akhirnya armada memasuki Selat Malaka—titik paling krusial.

Di sinilah:

Armada gabungan menghadapi kapal-kapal Portugis

Pertempuran laut dan darat berlangsung

Upaya pendaratan dilakukan untuk merebut kota



---

Koalisi Pasukan: Siapa Saja yang Bergabung?

Ekspedisi ini bukan hanya operasi Demak, tetapi aliansi lintas wilayah yang jarang terjadi dalam sejarah Nusantara awal.

1. Kesultanan Demak (Inti Kekuatan)

±5.000–12.000 pasukan

100 kapal pada ekspedisi pertama

Pusat komando dan strategi


Dipimpin langsung oleh Pati Unus.


---

2. Kesultanan Palembang

Menyediakan kapal dan pasukan tambahan

Berperan sebagai penguat di jalur Sumatra

Membantu logistik dan navigasi lokal



---

3. Kekuatan Melayu (Bintan & Sekitarnya)

Loyalis Sultan Mahmud Syah

Menyediakan basis perlawanan darat

Memberikan informasi medan dan posisi Portugis



---

4. Jaringan Muslim Maritim

Di balik layar, ada peran penting:

Pedagang Muslim lintas wilayah

Komunitas Muslim Tionghoa di Jawa

Pelaut dan pembuat kapal


Mereka menjadi tulang punggung logistik dan teknologi.


---

Ekspedisi Kedua (1521): Rute Sama, Skala Lebih Besar

Pada serangan kedua:

Armada meningkat menjadi ±375 kapal

Rute relatif sama: Jawa → Sumatra → Malaka

Koalisi tetap melibatkan kekuatan Melayu


Namun kali ini, pertempuran berlangsung lebih brutal:

3 hari 3 malam tanpa henti

Pati Unus gugur di medan perang



---

Analisis Investigatif: Mengapa Rute Ini Penting?

Dari rekonstruksi rute dan koalisi, ada beberapa temuan kunci:

1. Jalur Pesisir sebagai “Koridor Militer”

Armada tidak melintasi laut lepas secara langsung, tetapi:

Menggunakan jalur pesisir

Mengamankan suplai bertahap

Memaksimalkan dukungan lokal


Ini adalah strategi maritim yang matang, bukan nekat.


---

2. Sumatra sebagai Titik Kunci

Tanpa Palembang dan basis Melayu:

Armada Demak akan terisolasi

Logistik melemah

Informasi medan terbatas


Sumatra adalah poros penghubung Jawa–Malaka.


---

3. Koalisi Nusantara yang Langka

Ekspedisi ini menunjukkan:

Kesadaran geopolitik bersama

Solidaritas antar kerajaan Islam

Upaya kolektif menghadapi kolonialisme awal



---

Penutup

Perjalanan Pati Unus ke Malaka bukan sekadar ekspedisi militer. Ia adalah:

Operasi lintas laut terorganisir

Aliansi regional pertama melawan Eropa

Simbol kesadaran geopolitik Nusantara


Rute yang ditempuh—dari Jepara, menyusuri Jawa, singgah di Sumatra, hingga menembus Selat Malaka—adalah jejak nyata bahwa perlawanan itu dirancang, bukan kebetulan.

Dan meski berakhir dengan kegagalan militer, satu hal tak terbantahkan:
Nusantara pernah bersatu di laut, menghadapi kekuatan dunia.


Sumber:
Hamka, Sejarah Umat Islam, GIP,  2016
Rachmad Abdullah, Kerajaan Islam Demak, Al-Wafi Puplishing, 2015
Wikipedia

Adipati Unus: Sepenuh Hidupnya untuk Jihad Maritim Melawan Portugis di Malaka  Ketika Malaka jatuh ke tangan Portugis pada 1511,...

Adipati Unus: Sepenuh Hidupnya untuk Jihad Maritim Melawan Portugis di Malaka 


Ketika Malaka jatuh ke tangan Portugis pada 1511, banyak penguasa di Nusantara memilih membaca situasi. Namun tidak dengan Adipati Unus. Ia tidak sekadar membaca ancaman—ia menjadikannya panggilan hidup.

Di tangan pemuda pesisir dari Demak ini, perang melawan Portugis bukan sekadar konflik dagang, tetapi perjuangan ideologis, ekonomi, dan peradaban. Dan seperti Shalahuddin Al-Ayyubi yang menghabiskan hidupnya untuk membebaskan Al-Quds, Adipati Unus menempatkan seluruh hidupnya pada satu tujuan: mengusir Portugis dari Malaka.


---

Seruan dari Bintan: Awal Sebuah Jihad Maritim

Setelah terusir, Sultan Mahmud Syah membangun basis di Pulau Bintan. Dari sanalah seruan bantuan dikirim ke berbagai kekuatan Muslim, termasuk ke Kesultanan Demak.

Adipati Unus merespons lebih cepat dari yang lain. Ia memahami satu hal yang belum tentu disadari semua penguasa saat itu:
Portugis tidak bisa dilawan di darat sebelum dikalahkan di laut.


---

Membangun Kekuatan: Menghidupkan Warisan Majapahit

Langkah pertamanya bukan menyerang, tetapi membangun.

Di Jepara dan Semarang, ia menghidupkan kembali tradisi maritim lama:

Produksi kapal jong raksasa

Penggunaan cetbang (meriam isian belakang)

Rekrutmen pelaut dan teknisi, termasuk Muslim Tionghoa


Selama bertahun-tahun, ia tidak tampil di medan perang—ia mempersiapkan medan itu sendiri.

Ini mengingatkan pada strategi Shalahuddin Al-Ayyubi yang membangun kekuatan sebelum merebut Yerusalem. Bedanya, panggung Adipati Unus adalah lautan.


---

Ekspedisi Pertama (1513): Laut sebagai Medan Jihad

Awal 1513, sekitar 100 kapal berangkat dari Jepara. Armada ini membawa:

5.000–12.000 pasukan

Sekitar 30 jong besar berlapis pelindung tebal

Artileri buatan Jawa


Armada ini tidak sendiri. Ia bergabung dengan:

Pasukan Palembang

Kekuatan Melayu loyalis Malaka


Pertempuran di Selat Malaka berlangsung sengit. Catatan Portugis bahkan mengakui kehebatan kapal-kapal Jawa yang sulit ditembus meriam.

Namun hasilnya pahit:

Puluhan kapal hancur

Ratusan prajurit gugur

Malaka belum berhasil direbut


Tetapi dari kegagalan itu lahir sesuatu yang lebih besar:
nama Adipati Unus menggema sebagai “Pangeran Sabrang Lor”—pangeran yang menyeberangi lautan demi jihad.


---

Antara Kekalahan dan Tekad: Jalan yang Tidak Berhenti

Di sinilah perbandingan dengan Shalahuddin Al-Ayyubi menemukan titik relevansinya.

Keduanya:

Menghadapi musuh yang unggul secara teknologi

Mengalami fase kegagalan

Tidak menghentikan perjuangan


Adipati Unus tidak berhenti setelah 1513. Ia justru memperbesar kekuatan.


---

Ekspedisi Kedua (1521): Jalan Menuju Syahid

Delapan tahun kemudian, armada baru disiapkan:

±375 kapal

Koalisi yang lebih luas

Persiapan lebih matang


Serangan kedua ke Malaka berlangsung lebih brutal:

Pertempuran 3 hari 3 malam

Pertempuran laut dan darat sekaligus


Namun di tengah pertempuran itulah, Adipati Unus gugur.

Ia tidak wafat di istana.
Ia tidak mati dalam kenyamanan kekuasaan.
Ia jatuh di garis depan, di laut yang sejak awal ia pilih sebagai medan jihadnya.


---

Warisan yang Dilanjutkan

Kematian Adipati Unus tidak menghentikan perlawanan.

Generasi setelahnya melanjutkan:

Ratu Kalinyamat mengirim ratusan kapal

Koalisi dengan Aceh dan Johor terus dibangun

Tekanan terhadap Portugis berlanjut hingga ke Maluku


Bahkan pada 1575, Portugis terusir dari Ternate—sebuah efek domino dari perlawanan panjang ini.


---

Analisis: Antara Sejarah dan Simbol

Menyamakan Adipati Unus dengan Shalahuddin Al-Ayyubi bukan berarti menyamakan skala sejarah mereka. Tapi ada kesamaan pola yang sulit diabaikan:

Dedikasi total pada satu tujuan

Kesediaan berjuang meski peluang kecil

Kematian di jalan perjuangan, bukan dalam kekuasaan


Namun ada satu perbedaan penting: Shalahuddin berhasil merebut Yerusalem.
Adipati Unus tidak berhasil merebut Malaka.

Tetapi sejarah tidak hanya mencatat kemenangan. Ia juga mencatat siapa yang memilih untuk tetap berjuang meski tahu risikonya.


---

Penutup

Kisah Adipati Unus adalah kisah tentang pilihan hidup.

Ia bisa saja menjadi penguasa biasa di Demak.
Ia bisa menikmati stabilitas dan kekuasaan.

Namun ia memilih laut.
Memilih perang.
Memilih jalan yang berujung pada kematian di Malaka.

Dan di situlah ia menemukan tempatnya dalam sejarah:
bukan sebagai raja yang panjang umur,
tetapi sebagai pemimpin yang menghabiskan hidupnya untuk satu perjuangan—hingga gugur di medan jihadnya.

Ali Mughayat Syah, Penerus Semangat Dipati Unus: Mengusir Portugis dari Sumatera Ketika Jatuhnya Malaka 1511 mengguncang dunia I...

Ali Mughayat Syah, Penerus Semangat Dipati Unus: Mengusir Portugis dari Sumatera


Ketika Jatuhnya Malaka 1511 mengguncang dunia Islam di Asia Tenggara, gelombang perlawanan tidak berhenti di Jawa. Jika di utara Jawa, Dipati Unus memimpin armada menuju Malaka, maka di ujung barat Nusantara, muncul sosok yang melanjutkan bara perlawanan itu: Sultan Ali Mughayat Syah.

Ia bukan sekadar raja. Ia adalah arsitek kebangkitan Aceh—dan mimpi besar untuk memutus dominasi Portugis di Sumatera.


---

Dari Lamuri ke Aceh: Lahirnya Seorang Pemersatu

Ali Mughayat Syah lahir dari garis penguasa Kerajaan Lamuri, sebuah entitas tua yang kemudian bertransformasi menjadi kekuatan baru di bawah Dinasti Meukuta Alam. Setelah wafatnya ayahnya, Sultan Syamsu Syah, ia naik takhta sekitar akhir abad ke-15.

Namun, yang diwarisinya bukanlah kerajaan besar. Aceh saat itu terpecah, pelabuhan-pelabuhan dikuasai pihak asing, dan pengaruh Portugis mulai merayap ke pesisir-pesisir strategis.

Ali Mughayat Syah membaca situasi ini dengan jernih:
siapa yang menguasai pelabuhan, dialah yang menguasai masa depan.


---

Strategi Besar: Menguasai Pesisir, Memukul Portugis

Sekitar tahun 1520, ia memulai kampanye militernya. Targetnya jelas—wilayah pesisir utara Sumatera yang menjadi urat nadi perdagangan dunia Islam.

Dari Daya yang belum sepenuhnya tersentuh Islam, hingga Pedir dan Samudera Pasai, ekspansi dilakukan bukan sekadar penaklukan, tetapi konsolidasi kekuatan.

Di sinilah strategi Ali Mughayat Syah tampak tajam:

Mengislamkan dan mengintegrasikan wilayah

Menguasai pelabuhan strategis

Membangun armada laut

Memutus jaringan dagang Portugis


Ketika Portugis mengandalkan benteng dan kapal, Aceh menjawab dengan mobilisasi wilayah dan persatuan umat.


---

Tahun Penentuan: 1524 dan Jatuhnya Pasai

Momentum penting datang pada 1524. Bersama saudaranya, Sultan Ibrahim, Ali Mughayat Syah menyerang Samudera Pasai—yang saat itu telah berada dalam bayang-bayang Portugis.

Serangan ini bukan sekadar ekspansi. Ini adalah pukulan langsung terhadap hegemoni Portugis di Sumatera.

Pasai jatuh. Garnisun Portugis dipukul mundur.
Dan untuk pertama kalinya, dominasi Eropa di kawasan itu retak dari daratan.


---

Memburu Portugis: Dari Kuala Aceh hingga Selat Malaka

Catatan sejarah, termasuk dari penulis Portugis sendiri, menggambarkan bagaimana pasukan Aceh memburu Portugis tanpa henti:

Kekalahan pasukan Gaspar de Costa di Kuala Aceh (1519)

Hancurnya armada Jorge de Brito (1521)

Terusirnya kekuatan Portugis dari Daya, Pedir, hingga Pasai


Lebih dari itu, kemenangan ini menghasilkan sesuatu yang sangat strategis:
rampasan senjata.

Meriam, senapan, hingga teknologi militer Portugis justru memperkuat Aceh. Sejarawan seperti C. R. Boxer mencatat bahwa menjelang 1530, persenjataan Aceh bahkan menyaingi benteng Portugis di Malaka.

Ini bukan sekadar kemenangan medan perang. Ini adalah transfer kekuatan militer secara paksa.


---

Catatan Dunia Islam: Pengakuan dari Luar Nusantara

Nama Ali Mughayat Syah tidak hanya dikenal di Aceh. Seorang ulama besar dari India, Syaikh Ahmad Zainuddin Al-Malibari, dalam karyanya Tuhfatul Mujahidin, menulis dengan nada yang jarang diberikan kepada seorang penguasa:

> “Tidak ada seorang pun yang mampu merebut kota-kota pelabuhan itu selain Sultan yang mujahid, ‘Ali Al-Asyi…”



Pernyataan ini penting.
Ia menunjukkan bahwa perlawanan Aceh bukan peristiwa lokal, tetapi bagian dari jaringan jihad global melawan kolonialisme Portugis.


---

Aceh: Dari Pelabuhan Menjadi Kekuatan

Di bawah Ali Mughayat Syah, Bandar Aceh Darussalam tumbuh menjadi pusat kekuasaan baru.

Ia membangun:

Pelabuhan sebagai basis ekonomi

Armada laut sebagai kekuatan militer

Integrasi wilayah sebagai fondasi politik


Aceh bukan lagi kerajaan kecil. Ia menjelma menjadi kekuatan regional yang menantang Malaka Portugis.


---

Akhir Perjuangan: Wafatnya Sang Ghazi

Pada malam 6 Agustus 1530 (12 Dzulhijjah 936 H), Ali Mughayat Syah wafat di Banda Aceh.

Di nisannya, tertulis gelar yang merangkum seluruh hidupnya:

“Al-Ghazi fi al-Barri wa al-Bahri” —
pejuang di darat dan di laut.

Ia tidak meninggalkan istana megah.
Ia meninggalkan sesuatu yang lebih berbahaya bagi penjajah:
sebuah peradaban yang siap melawan.


---

Warisan: Dari Aceh ke Nusantara

Apa yang dilakukan Ali Mughayat Syah sejatinya adalah melanjutkan garis yang telah dibuka oleh Dipati Unus:

Menghadapi Portugis sebagai ancaman global

Menggunakan laut sebagai medan jihad

Menyatukan kekuatan Islam di Nusantara


Jika Dipati Unus mengguncang Malaka dari Jawa,
maka Ali Mughayat Syah mengunci Sumatera dari tangan Portugis.

Dan dari Aceh inilah, perlawanan terhadap kolonialisme Eropa di Asia Tenggara akan terus berdenyut—bahkan hingga berabad-abad setelahnya.


---

Inilah kisah yang sering terabaikan:
bahwa sebelum bangsa ini mengenal kata “kemerdekaan”, telah ada para pemimpin yang berjuang bukan hanya untuk wilayah—
tetapi untuk kedaulatan iman, perdagangan, dan peradaban.


Sumber:
Rachmad Abdullah, Kerajaan Islam Demak, Al-Wafi Puplishing, 2015
https://www.mapesaaceh.com/?m=1
Wikipedia

Saat Demak Berjihad Mengusir Portugis di Malaka, Eropa Terbelah Ketika armada besar Kesultanan Demak di bawah Adipati Unus berla...

Saat Demak Berjihad Mengusir Portugis di Malaka, Eropa Terbelah


Ketika armada besar Kesultanan Demak di bawah Adipati Unus berlayar menuju Malaka pada awal abad ke-16, dunia tidak sedang dalam keadaan stabil. Di satu sisi, Nusantara mulai menyadari ancaman kolonial Portugis. Di sisi lain, Eropa justru sedang retak dari dalam—terbelah oleh sebuah gerakan besar yang kelak dikenal sebagai Reformasi Protestan.

Dua peristiwa ini—yang tampak terpisah oleh jarak ribuan kilometer—sebenarnya saling terkait. Serangan Demak ke Malaka bukan sekadar konflik regional, tetapi bagian dari benturan global antara kekuatan Islam dan Eropa yang sedang mengalami krisis internal.


---

Retaknya Otoritas Gereja: Awal dari Perubahan Besar

Pada tahun 1517, seorang biarawan Jerman bernama Martin Luther memakukan 95 tesis di pintu gereja Wittenberg. Isinya mengguncang fondasi Gereja Katolik Roma.

Ia menentang praktik jual beli pengampunan dosa (indulgensi), mengkritik korupsi gereja, dan menolak dominasi Paus dalam kehidupan politik. Namun kritik ini bukan muncul tiba-tiba. Ia lahir dari gelombang besar yang disebut Renaissance—sebuah era ketika manusia Eropa mulai berpikir kritis dan menantang otoritas lama.

Tiga akar utama Reformasi Gereja:

Keinginan raja-raja Eropa lepas dari dominasi Paus

Praktik korupsi dan penjualan indulgensi

Penyalahgunaan kekuasaan gereja


Dari sinilah Eropa tidak lagi satu. Ia terpecah menjadi Katolik dan Protestan.


---

Dari Teologi ke Meriam: Agama Menjadi Alat Politik

Perpecahan ini tidak berhenti pada debat teologis. Ia berubah menjadi konflik politik, bahkan perang terbuka seperti Perang Tiga Puluh Tahun.

Negara-negara Eropa kini tidak hanya bersaing dalam hal iman, tetapi juga dalam perebutan kekayaan dan wilayah. Agama berubah menjadi identitas politik.

Portugis dan Spanyol tetap Katolik

Belanda dan Inggris menjadi Protestan


Persaingan ini kemudian “diekspor” ke luar Eropa—termasuk ke Nusantara.


---

Malaka: Titik Temu Dua Dunia yang Bertabrakan

Ketika Portugis merebut Malaka pada 1511, mereka bukan hanya membawa meriam dan kapal. Mereka membawa misi Katolik Roma.

Namun saat Adipati Unus menyerang Malaka (1513), Portugis belum sepenuhnya kuat. Sebab pada saat yang sama, Eropa sedang terguncang oleh Reformasi Gereja.

Akibatnya:

Fokus Eropa terpecah antara konflik internal dan ekspansi luar

Dukungan logistik Portugis ke Asia tidak maksimal

Serangan dari dunia Islam, termasuk Demak, memberi tekanan tambahan


Inilah titik penting: serangan Demak secara tidak langsung memperparah posisi Portugis yang sudah goyah akibat konflik internal Eropa.


---

Protestan vs Katolik: Persaingan yang Menyusup ke Nusantara

Ketika Belanda datang melalui VOC pada abad ke-17, mereka datang bukan hanya sebagai pedagang, tetapi sebagai representasi Protestanisme.

Apa yang mereka lakukan?

1. Mengusir pengaruh Katolik Portugis


2. Memaksa komunitas lokal Katolik beralih ke Protestan


3. Menjadikan agama sebagai alat loyalitas politik



Di Maluku, misalnya:

Wilayah yang sebelumnya Katolik diubah menjadi Protestan

Gereja dijadikan instrumen kontrol sosial

Kesetiaan agama diarahkan menjadi kesetiaan politik kepada VOC


Agama tidak lagi sekadar keyakinan. Ia menjadi alat kolonial.


---

Dampak Besar Reformasi Gereja bagi Nusantara

Reformasi Gereja di Eropa menciptakan efek domino yang terasa hingga Indonesia:

1. Lahirnya Beragam Aliran Kristen

Munculnya Lutheran, Calvinis, dan Anglikan membuat Nusantara menjadi medan penyebaran berbagai denominasi.

2. Persaingan Penjajah Semakin Tajam

Kolonialisme tidak lagi tunggal. Ia terpecah:

Portugis (Katolik)

Belanda (Calvinis)

Inggris (Anglikan)


Mereka tidak hanya bersaing dagang, tetapi juga ideologi.

3. Agama Menjadi Alat Kekuasaan

VOC menggunakan gereja untuk:

Mengontrol masyarakat

Menghapus pengaruh lawan

Menguatkan dominasi ekonomi


4. Konflik Berkepanjangan

Persaingan Katolik vs Protestan memperpanjang konflik kolonial di berbagai wilayah Nusantara.


---

Kesimpulan: Ketika Dunia Terhubung oleh Konflik

Serangan Demak ke Malaka bukanlah peristiwa lokal. Ia adalah bagian dari sejarah global.

Di satu sisi, Demak berusaha mengusir penjajah. Di sisi lain, Eropa sedang berperang dengan dirinya sendiri.

Reformasi Gereja telah:

Melemahkan kesatuan Eropa

Memicu persaingan antar bangsa penjajah

Mengubah agama menjadi alat politik global


Dan di tengah semua itu, Nusantara menjadi panggung perebutan—bukan hanya rempah-rempah, tetapi juga pengaruh, keyakinan, dan kekuasaan.


Sumber:
Rachmad Abdullah, Kerajaan Islam Demak, Al-Wafi Puplishing, 2015
Wikipedia

Cari Artikel Ketik Lalu Enter

Artikel Lainnya

Indeks Artikel

!qNusantar3 (1) 1+6!zzSirah Ulama (1) Abdullah bin Nuh (1) Abu Bakar (3) Abu Hasan Asy Syadzali (2) Abu Hasan Asy Syadzali Saat Mesir Dikepung (1) Aceh (6) Adnan Menderes (2) Adu domba Yahudi (1) adzan (1) Agama (1) Agribisnis (1) Ahli Epidemiologi (1) Air hujan (1) Akhir Zaman (1) Al-Baqarah (1) Al-Qur'an (362) Al-Qur’an (44) alam (3) Alamiah Kedokteran (1) Ali bin Abi Thalib (1) An-Nadwi (1) Andalusia (1) Angka Binner (1) Angka dalam Al-Qur'an (1) Aqidah (1) Ar Narini (2) As Sinkili (2) Asbabulnuzul (1) Ashabul Kahfi (1) Aurangzeb alamgir (1) Bahasa Arab (1) Bahaya Kemunduran Umat Islam (1) Bani Israel (1) Banjar (1) Banten (1) Barat (1) Belanja (1) Berkah Musyawarah (1) Bermimpi Rasulullah saw (1) Bertanya (1) Bima (1) Biografi (1) BJ Habibie (1) budak jadi pemimpin (1) Buku Hamka (1) busana (1) Buya Hamka (53) Cerita kegagalan (1) cerpen Nabi (8) cerpen Nabi Musa (2) Cina Islam (1) cinta (1) Covid 19 (1) Curhat doa (1) Dajjal (1) dakwah (8) Dakwah (2) Dasar Kesehatan (1) Deli Serdang (1) Demak (3) Demam Tubuh (1) Demografi Umat Islam (1) Detik (1) Diktator (1) Diponegoro (2) Dirham (1) Doa (1) doa mendesain masa depan (1) doa wali Allah (1) dukun (1) Dunia Islam (1) Duplikasi Kebrilianan (1) energi kekuatan (1) Energi Takwa (1) english (6) English (6) Episentrum Perlawanan (1) filsafat (3) filsafat Islam (1) Filsafat Sejarah (1) Fiqh (1) Fir'aun (2) Firasat (1) Firaun (1) Gamal Abdul Naser (1) Gelombang dakwah (1) Gladiator (1) Gowa (1) grand desain tanah (1) Gua Secang (1) Haji (1) Haman (1) Hamka (3) Hasan Al Banna (7) Heraklius (4) Hidup Mudah (1) Hikayat (3) Hikayat Perang Sabil (2) hikmah (1) https://www.literaturislam.com/ (1) Hukum Akhirat (1) hukum kesulitan (1) Hukum Pasti (1) Hukuman Allah (1) Ibadah obat (1) Ibnu Hajar Asqalani (1) Ibnu Khaldun (1) Ibnu Sina (1) Ibrahim (1) Ibrahim bin Adham (1) ide menulis (1) Ikhwanul Muslimin (1) ilmu (2) Ilmu Laduni (3) Ilmu Sejarah (1) Ilmu Sosial (1) Imam Al-Ghazali (2) imam Ghazali (1) Instropeksi diri (1) interpretasi sejarah (1) Islam (1) ISLAM (2) Islam Cina (1) Islam dalam Bahaya (2) Islam di India (1) Islam Nusantara (1) Islampobia (1) Istana Al-Hambra (1) Istana Penguasa (1) Istiqamah (1) Jalan Hidup (1) Jamuran (1) Jebakan Istana (1) Jendral Mc Arthu (1) Jibril (1) jihad (1) Jiwa Berkecamuk (1) Jiwa Mujahid (1) Jogyakarta (1) jordania (1) jurriyah Rasulullah (1) Kabinet Abu Bakar (1) Kajian (1) kambing (1) Karamah (1) Karya Besar (1) Karya Fenomenal (1) Kebebasan beragama (1) Kebohongan Pejabat (1) Kebohongan Yahudi (1) kecerdasan (19) Kecerdasan (318) Kecerdasan Finansial (4) Kecerdasan Laduni (1) Kedok Keshalehan (1) Kejayaan Islam (1) Kejayaan Umat Islam (1) Kekalahan Intelektual (1) Kekhalifahan Islam (2) Kekhalifahan Turki Utsmani (1) Keluar Krisis (1) Kemiskinan Diri (1) Kepemimpinan (1) kerajaan Islam (1) kerajaan Islam di India (1) Kerajaan Sriwijaya (2) Kesehatan (1) Kesultanan Aceh (1) Kesultanan Nusantara (1) Ketuhanan Yang Maha Esa (1) Keturunan Rasulullah saw (1) Keunggulan ilmu (1) keunggulan teknologi (1) Kezaliman (2) KH Hasyim Ashari (1) Khaidir (2) Khalifatur Rasyidin (1) Kiamat (1) Kisah (1) Kisah Al Quran (1) kisah Al-Qur'an (1) Kisah Hadist (4) Kisah Nabi (1) Kisah Nabi dan Rasul (1) Kisah Para Nabi (1) kisah para nabi dan (2) kisah para nabi dan rasul (51) kisah para Nabi dan Rasul (1) Kisah para nabi dan rasul (101) Kisah Para Nabi dan Rasul (577) kisah para nabi dan rasul. Nabi Daud (1) kisah para nabi dan rasul. nabi Musa (2) Kisah Penguasa (1) Kisah ulama (1) kitab primbon (1) Koalisi Negara Ulama (1) Krisis Ekonomi (1) Kumis (1) Kumparan (1) Kurikulum Pemimpin (1) Laduni (1) lauhul mahfudz (1) lockdown (1) Logika (1) Luka darah (1) Luka hati (1) madrasah ramadhan (1) Madu dan Susu (1) Majapahi (1) Majapahit (4) Makkah (1) Malaka (1) Mandi (1) Matematika dalam Al-Qur'an (1) Maulana Ishaq (1) Maulana Malik Ibrahi (1) Melihat Wajah Allah (1) Memerdekakan Akal (1) Menaklukkan penguasa (1) Mendidik anak (1) mendidik Hawa Nafsu (1) Mendikbud (1) Menggenggam Dunia (1) menulis (1) Mesir (1) militer (1) militer Islam (1) Mimpi Rasulullah saw (1) Minangkabau (2) Mindset Dongeng (1) Muawiyah bin Abu Sofyan (1) Mufti Johor (1) muhammad al fatih (3) Muhammad bin Maslamah (1) Mukjizat Nabi Ismail (1) Musa (1) muslimah (1) musuh peradaban (1) Nabi Adam (71) Nabi Ayub (1) Nabi Daud (3) Nabi Ibrahim (3) Nabi Isa (2) nabi Isa. nabi ismail (1) Nabi Ismail (1) Nabi Khaidir (1) Nabi Khidir (1) Nabi Musa (29) Nabi Nuh (6) Nabi Sulaiman (2) Nabi Yunus (1) Nabi Yusuf (15) Namrudz (2) Nasrulloh Baksolahar (1) NKRI (1) nol (1) Nubuwah Rasulullah (4) Nurudin Zanky (1) Nusa Tenggara (1) nusantara (5) Nusantara (266) Nusantara Tanpa Islam (1) obat cinta dunia (2) obat takut mati (1) Olahraga (6) Orang Lain baik (1) Orang tua guru (1) Padjadjaran (2) Palembang (1) Palestina (658) Pancasila (1) Pangeran Diponegoro (3) Pasai (2) Paspampres Rasulullah (1) Pembangun Peradaban (2) Pemecahan masalah (1) Pemerintah rapuh (1) Pemutarbalikan sejarah (1) Pengasingan (1) Pengelolaan Bisnis (1) Pengelolaan Hawa Nafsu (1) Pengobatan (1) pengobatan sederhana (1) Penguasa Adil (1) Penguasa Zalim (1) Penjajah Yahudi (35) Penjajahan Belanda (1) Penjajahan Yahudi (1) Penjara Rotterdam (1) Penyelamatan Sejarah (1) peradaban Islam (1) Perang Aceh (1) Perang Afghanistan (1) Perang Arab Israel (1) Perang Badar (3) Perang Ekonomi (1) Perang Hunain (1) Perang Jawa (1) Perang Khaibar (1) Perang Khandaq (2) Perang Kore (1) Perang mu'tah (1) Perang Paregreg (1) Perang Salib (4) Perang Tabuk (1) Perang Uhud (2) Perdagangan rempah (1) Pergesekan Internal (1) Perguliran Waktu (1) permainan anak (2) Perniagaan (1) Persia (2) Persoalan sulit (1) pertanian modern (1) Pertempuran Rasulullah (1) Pertolongan Allah (3) perut sehat (1) pm Turki (1) POHON SAHABI (1) Portugal (1) Portugis (1) ppkm (1) Prabu Satmata (1) Prilaku Pemimpin (1) prokes (1) puasa (1) pupuk terbaik (1) purnawirawan Islam (1) Qarun (2) Quantum Jiwa (1) Raffles (1) Raja Islam (1) rakyat lapar (1) Rakyat terzalimi (1) Rasulullah (1) Rasulullah SAW (1) Rasulullah shalallahu alaihi wassalam (1) Rehat (493) Rekayasa Masa Depan (1) Republika (2) respon alam (1) Revolusi diri (1) Revolusi Sejarah (1) Revolusi Sosial (1) Rindu Rasulullah (1) Romawi (4) Rumah Semut (1) Ruqyah (1) Rustum (1) Saat Dihina (1) Sahabat (1) sahabat Nabi (1) Sahabat Rasulullah (1) SAHABI (1) Salimul Aqidah (1) satu (1) Sayyidah Musyfiqah (1) Sejarah (2) Sejarah Nabi (1) Sejarah Para Nabi dan Rasul (1) Sejarah Penguasa (1) selat Malaka (2) Seleksi Pejabat (1) Sengketa Hukum (1) Serah Nabawiyah (1) Seruan Jihad (3) shalahuddin al Ayubi (3) shalat (1) Shalat di dalam kuburannya (1) Shalawat Ibrahimiyah (1) Simpel Life (1) Sirah Nabawiyah (299) Sirah Para Nabi dan Rasul (3) Sirah penguasa (11) Sirah Penguasa (247) sirah Sahabat (2) Sirah Sahabat (171) Sirah Tabiin (43) Sirah ulama (31) Sirah Ulama (158) Siroh Sahabat (1) Sofyan Tsauri (1) Solusi Negara (1) Solusi Praktis (1) Sriwijaya Islam (3) Strategi Demonstrasi (1) Suara Hewan (1) Suara lembut (1) Sudah Nabawiyah (1) Sufi (1) sugesti diri (1) sultan Hamid 2 (1) sultan Islam (1) Sultan Mataram (3) Sultanah Aceh (1) Sunah Rasulullah (2) sunan giri (3) Sunan Gresi (1) Sunan Gunung Jati (1) Sunan Kalijaga (1) Sunan Kudus (2) Sunatullah Kekuasaan (1) Supranatural (1) Surakarta (1) Syariat Islam (18) Syeikh Abdul Qadir Jaelani (2) Syeikh Palimbani (3) Tak Ada Solusi (1) Takdir Umat Islam (1) Takwa (1) Takwa Keadilan (1) Tamim Ad Dari (1) Tanda Hari Kiamat (1) Tasawuf (29) teknologi (2) tentang website (1) tentara (1) tentara Islam (1) Ternate (1) Thaharah (1) Thariqah (1) tidur (1) Titik kritis (1) Titik Kritis Kekayaan (1) Tragedi Sejarah (1) Turki (2) Turki Utsmani (2) Ukhuwah (1) Ulama Mekkah (3) Umar bin Abdul Aziz (5) Umar bin Khatab (3) Umar k Abdul Aziz (1) Ummu Salamah (1) Umpetan (1) Utsman bin Affan (2) veteran islam (1) Wabah (1) wafat Rasulullah (1) Wakaf (1) Waki bin Jarrah (1) Wali Allah (1) wali sanga (1) Walisanga (2) Walisongo (3) Wanita Pilihan (1) Wanita Utama (1) Warung Kelontong (1) Waspadai Ibadah (1) Wudhu (1) Yusuf Al Makasari (1) zaman kerajaan islam (1) Zulkarnain (1)