Apakah penaklukan India yang disebut dalam beberapa hadis Rasulullah ï·º telah sepenuhnya terjadi dalam sejarah? Ataukah ia masih menyisakan babak yang belum terwujud menjelang akhir zaman?
Pertanyaan inilah yang terus mengundang perhatian para ulama sejak masa klasik hingga sekarang. Terlebih ketika kawasan Kashmir, Sind, atau wilayah anak benua India kembali menjadi pusat konflik, sebagian kalangan menghubungkannya dengan hadis-hadis tentang Ghazwah al-Hind. Namun, benarkah setiap konflik di kawasan itu merupakan penggenapan hadis tersebut? Ataukah diperlukan kehati-hatian agar peristiwa kontemporer tidak langsung disamakan dengan nash eskatologis?
Di antara hadis yang sering dijadikan rujukan ialah riwayat dari Tsauban bahwa Rasulullah ï·º bersabda:
«"Dua golongan dari umatku yang Allah lindungi dari neraka: golongan yang memerangi India dan golongan yang bersama Isa bin Maryam."»
Dalam riwayat lain dari Abu Hurairah disebutkan bahwa Rasulullah ï·º mengabarkan akan adanya penaklukan wilayah Hind, kemudian setelah itu sebagian pasukan akan bertemu dengan Nabi Isa a.s. di negeri Syam. Hadis-hadis inilah yang menjadi dasar lahirnya pembahasan mengenai Ghazwah al-Hind dalam literatur Islam.
Namun, bagaimana para ulama memahami hadis-hadis tersebut?
Antara Janji Kenabian dan Perjalanan Sejarah
Sebagian ulama memandang bahwa hadis-hadis itu mulai terealisasi melalui rangkaian ekspedisi kaum Muslimin ke wilayah Sind dan Hind sejak abad pertama Hijriah. Yang lain berpendapat bahwa peristiwa-peristiwa tersebut hanyalah pendahuluan, sedangkan realisasi sempurnanya masih akan terjadi menjelang turunnya Nabi Isa a.s.
Perbedaan ini menunjukkan bahwa hadis-hadis akhir zaman memang membuka ruang ijtihad dalam memahami waktu dan bentuk realisasinya. Karena itu, para ulama umumnya mengingatkan agar kaum Muslimin tidak tergesa-gesa memastikan bahwa suatu konflik kontemporer adalah penggenapan langsung dari nubuwat Rasulullah ï·º tanpa dasar yang kuat.
Gelombang Awal Ekspedisi ke Sind dan Hind
Jika menoleh kepada sejarah, hubungan dunia Islam dengan anak benua India telah dimulai sejak masa Khulafaur Rasyidin.
Pada masa Khalifah Umar bin Khattab, ekspedisi laut dikirim menuju pesisir Sind untuk mengenali kondisi wilayah tersebut. Langkah ini belum berupa penaklukan besar, melainkan pengintaian strategis sekaligus pembukaan jalur hubungan.
Pada masa Khalifah Utsman bin Affan dan kemudian Muawiyah bin Abi Sufyan, ekspedisi-ekspedisi berikutnya mulai menjangkau wilayah perbatasan India. Para sejarawan seperti Ibnu Katsir menyebut bahwa inilah awal keterlibatan kaum Muslimin di kawasan tersebut.
Apakah semua ekspedisi itu telah memenuhi maksud hadis? Sebagian ulama menjawab, "Mungkin merupakan bagian darinya." Sebagian yang lain menjawab, "Belum tentu merupakan puncaknya."
Muhammad bin Qasim: Awal Berdirinya Pemerintahan Islam di Sind
Babak baru terjadi pada tahun 92 H (711 M), ketika Muhammad bin Qasim ats-Tsaqafi memimpin ekspedisi ke Sind.
Latar belakangnya berkaitan dengan pembajakan kapal dagang yang membawa kaum Muslimin serta penolakan Raja Dahir untuk memberikan perlindungan dan penyelesaian atas peristiwa tersebut. Setelah berbagai upaya diplomasi tidak berhasil, dikirimlah pasukan yang dipimpin Muhammad bin Qasim.
Keberhasilannya tidak hanya ditentukan oleh strategi militer, tetapi juga oleh kebijakan administrasi yang relatif teratur pada masanya. Penduduk Hindu dan Buddha yang berada di bawah kekuasaan Islam tetap diberi ruang menjalankan ibadah mereka dengan status hukum yang berlaku saat itu, sementara pemerintahan lokal tetap difungsikan. Karena itu, penaklukan tersebut bukan sekadar kemenangan militer, melainkan juga awal terbentuknya pemerintahan Islam di wilayah Sind.
Mahmud al-Ghaznawi dan Kampanye ke India
Beberapa abad kemudian muncul Sultan Mahmud al-Ghaznawi, yang oleh para sejarawan seperti Ibnu Katsir dan Ibnu al-Atsir dicatat melakukan berkali-kali ekspedisi ke India.
Peristiwa yang paling terkenal adalah penyerbuan ke Somnath pada tahun 1025 M. Dalam literatur sejarah Islam, penghancuran berhala di kuil tersebut dipahami sebagai simbol penegasan tauhid. Kisah yang sering dinukil menyebut bahwa ketika ditawari harta agar berhala itu tidak dihancurkan, Mahmud memilih tetap menghancurkannya karena ingin dikenal sebagai penghancur berhala, bukan penjual berhala.
Terlepas dari berbagai rincian yang diperdebatkan para sejarawan, tokoh ini memang mempunyai peranan penting dalam memperluas pengaruh politik Islam di wilayah India bagian utara.
Dari Kesultanan Delhi hingga Kekaisaran Mughal
Apakah pengaruh Islam berhenti pada masa Mahmud?
Ternyata tidak.
Fondasi yang telah dibangun kemudian berkembang menjadi Kesultanan Delhi dan, beberapa abad sesudahnya, Kekaisaran Mughal. Selama berabad-abad, pemerintahan Islam menjadi salah satu unsur penting dalam sejarah politik, kebudayaan, ilmu pengetahuan, seni bangunan, dan administrasi di anak benua India.
Jejak sejarah itu masih dapat disaksikan hingga kini melalui kota-kota, peninggalan arsitektur, tradisi intelektual, serta komunitas Muslim yang tetap menjadi bagian dari masyarakat India, Pakistan, dan Bangladesh.
Bagaimana Memahami Hadis Ghazwah al-Hind?
Di sinilah letak persoalan utamanya.
Apakah hadis-hadis tersebut seluruhnya telah terealisasi melalui Muhammad bin Qasim, Mahmud al-Ghaznawi, Kesultanan Delhi, dan Mughal?
Ataukah masih ada babak yang belum terjadi?
Para ulama berbeda pendapat.
Sebagian berpendapat bahwa rangkaian penaklukan sejarah merupakan realisasi dari nubuwat Rasulullah ï·º. Sebagian lain memandang bahwa peristiwa-peristiwa itu baru merupakan pendahuluan, sedangkan penggenapan akhirnya akan terjadi menjelang turunnya Nabi Isa a.s., sebagaimana isyarat beberapa riwayat.
Perbedaan pandangan ini menunjukkan bahwa persoalan tersebut termasuk wilayah ijtihad, sehingga tidak selayaknya dipastikan tanpa dalil yang tegas.
Pelajaran yang Lebih Besar
Terlepas dari perbedaan penafsiran mengenai Ghazwah al-Hind, terdapat pelajaran yang bersifat universal.
Hadis-hadis akhir zaman tidak dimaksudkan untuk mendorong spekulasi tanpa batas, melainkan untuk memperkuat keimanan terhadap berita yang disampaikan Rasulullah ï·º, menumbuhkan optimisme bahwa Allah tetap mengendalikan perjalanan sejarah, serta mengingatkan bahwa kemenangan dan kekuasaan bukanlah tujuan akhir, melainkan amanah yang harus ditegakkan dengan keadilan, ketakwaan, dan tanggung jawab.
Sejarah menunjukkan bahwa kekuasaan datang dan pergi, kerajaan bangkit lalu runtuh, tetapi nilai-nilai yang dibawa wahyu tetap menjadi penuntun sepanjang zaman. Karena itu, membaca hadis-hadis tentang masa depan semestinya tidak hanya membangkitkan rasa ingin tahu terhadap peristiwa yang akan datang, tetapi juga mendorong setiap Muslim untuk memperbaiki iman, ilmu, dan amalnya pada hari ini. Sebab, persiapan terbaik menghadapi akhir zaman bukanlah menebak waktunya, melainkan memperbaiki kualitas diri dalam menjalankan petunjuk Allah dan Rasul-Nya.
0 komentar: