basmalah Pictures, Images and Photos
Our Islamic Story

Choose your Language

Perlawanan Bersenjata terhadap Imperialisme Portugis di Nusantara Apa yang terja...

Perlawanan Bersenjata terhadap Imperialisme Portugis di Nusantara

Apa yang terjadi ketika jalur perdagangan yang selama berabad-abad dibangun atas dasar kepercayaan dan kerja sama tiba-tiba berubah menjadi jalur penaklukan? Apa yang dilakukan sebuah bangsa ketika pelabuhan-pelabuhannya direbut, kekayaannya dirampas, dan keyakinannya mulai diusik?

Sejarah Nusantara memberikan jawabannya.

Empat belas tahun setelah menguasai Goa di India, armada Portugis di bawah pimpinan Afonso de Albuquerque berhasil merebut Malaka pada tahun 1511 M, pusat perdagangan Islam yang sangat strategis di Asia Tenggara. Kota yang mula-mula dibangun oleh Parameswara—yang kemudian memeluk Islam dan bergelar Sultan Megat Iskandar Syah—berubah dari pusat perdagangan menjadi basis kekuasaan kolonial.

Lalu apa akibatnya?

Sejak saat itu, tatanan perdagangan yang sebelumnya berlangsung melalui hubungan dagang yang relatif damai berubah menjadi sistem monopoli dan pemaksaan. Portugis tidak datang sekadar sebagai pedagang, tetapi juga sebagai penguasa yang berusaha mengendalikan jalur rempah-rempah. Banyak pedagang Muslim kemudian memindahkan aktivitas perdagangan mereka ke Brunei dan pelabuhan-pelabuhan lain yang masih berada di bawah kekuasaan Islam.

Mengapa Malaka begitu penting?

Karena Malaka merupakan simpul perdagangan yang menghubungkan Nusantara dengan dunia Islam, termasuk Kesultanan Utsmani. Dengan menguasainya, Portugis berharap dapat memutus jaringan perdagangan rempah-rempah dan sekaligus melemahkan kekuatan ekonomi dunia Islam.

Apakah kaum Muslimin tinggal diam?

Tentu tidak.

Kesultanan Demak segera melancarkan ekspedisi militer untuk merebut kembali Malaka pada tahun 1512 M. Kesultanan Aceh kemudian melanjutkan perjuangan tersebut melalui berbagai serangan pada masa-masa berikutnya. Namun, berbagai upaya itu belum berhasil mengusir Portugis. Salah satu penyebab utamanya ialah ketimpangan teknologi militer, terutama dalam bidang persenjataan api, artileri, dan kekuatan armada laut.

Ketika perlawanan terhadap Portugis masih berlangsung, gelombang kolonialisme baru datang dari arah lain.

Pada tahun 1521 M, armada Spanyol yang dipimpin Ferdinand Magellan tiba di kawasan Filipina Selatan dan menjalin hubungan dengan berbagai kerajaan di wilayah timur Nusantara, termasuk Ternate dan Tidore. Persaingan antara Portugis dan Spanyol pun semakin memperumit situasi politik kawasan.

Sementara itu, Portugis berusaha memperkuat posisinya dengan mendirikan benteng di Sunda Kalapa pada tahun 1522 M.

Namun, berapa lama mereka mampu bertahan?

Hanya lima tahun.

Pada 22 Juni 1527 M atau 22 Ramadan 933 H, pasukan yang dipimpin Syarif Hidayatullah (Sunan Gunung Jati) bersama menantunya, Fatahillah (Faletehan), berhasil merebut kembali Sunda Kalapa.

Kemenangan itu bukan sekadar kemenangan militer.

Nama Sunda Kalapa kemudian diganti menjadi Fathan Mubina, terinspirasi dari firman Allah dalam Surah Al-Fath ayat 1 tentang "kemenangan yang nyata". Dalam perkembangan selanjutnya, nama itu dikenal sebagai Jayakarta, yang kemudian berubah menjadi Jakarta.

Apakah perubahan nama itu hanya simbol?

Tidak.

Ia menjadi penanda lahirnya harapan baru bahwa penjajahan dapat dilawan dan kemerdekaan dapat dipertahankan. Setelah kemenangan tersebut, Fatahillah dipercaya memimpin Jayakarta, sedangkan Syarif Hidayatullah tetap memegang kepemimpinan politik dan keagamaan di Cirebon hingga wafat pada tahun 1568 M.

Apakah Portugis berhenti setelah kehilangan Sunda Kalapa?

Mereka justru memperluas pengaruhnya ke Kepulauan Maluku dengan membangun benteng dan menjalin hubungan politik dengan berbagai kesultanan.

Sejarawan M. C. Ricklefs menjelaskan bahwa kawasan Maluku pada masa itu dikenal dalam sumber-sumber Arab sebagai Jazirat al-Muluk (Kepulauan Para Raja), karena di sana berdiri sejumlah kerajaan Islam seperti Ternate, Tidore, Bacan, Jailolo, dan Ambon.

Namun, hubungan Portugis dengan Kesultanan Ternate semakin memburuk.

Mengapa?

Karena selain menjalankan kepentingan ekonomi, Portugis juga membawa misi keagamaan yang memicu ketegangan. Campur tangan politik dan upaya kristenisasi menimbulkan perlawanan yang semakin luas.

Puncaknya terjadi pada masa Sultan Baabullah (1570–1583 M).

Di bawah kepemimpinannya, Kesultanan Ternate berhasil mengusir Portugis dari benteng mereka pada tahun 1575 M, setelah perjuangan panjang yang dipicu oleh berbagai tindakan represif kolonial.

Catatan sejarah juga menyebutkan kisah Sultan Tabariji yang ditangkap Portugis, dibuang ke Goa, dipaksa memeluk agama Katolik, diberi nama baptis Dom Manuel, dan sebelum wafat diminta menyerahkan hak atas Ambon kepada pihak Portugis. Peristiwa ini menunjukkan betapa eratnya persaingan politik, perdagangan, dan penyebaran agama pada masa kolonial.

Apa pelajaran yang dapat dipetik dari seluruh rangkaian peristiwa ini?

Kemerdekaan bukan hanya soal wilayah. Kemerdekaan juga menyangkut martabat manusia, kebebasan menjalankan agama, kedaulatan politik, dan keadilan dalam perdagangan.

Ketika semua itu dirampas, perlawanan pun muncul.

Karena itulah berbagai perlawanan terhadap Portugis dan Spanyol kemudian berkembang menjadi gerakan mempertahankan tanah air, masyarakat, dan keyakinan.

Dalam historiografi modern, gerakan-gerakan tersebut sering disebut sebagai embrio nasionalisme. Namun, jika ditelusuri dari konteks zamannya, motivasi para pelaku tidak dapat dilepaskan dari keyakinan keagamaan yang mereka anut. Agama, politik, dan perjuangan mempertahankan negeri merupakan satu kesatuan yang saling berkaitan dalam realitas sejarah saat itu.

Apakah terusirnya Portugis dari Sunda Kalapa pada 1527 M dan dari Ternate pada 1575 M menandai berakhirnya kolonialisme Barat di Nusantara?

Belum.

Babak berikutnya justru lebih panjang. Memasuki abad ke-17, Portugis dan Spanyol mulai digantikan oleh kekuatan kolonial baru, yaitu Belanda dan Inggris. Sejak saat itu, umat Islam di Nusantara menghadapi gelombang kolonialisme berikutnya yang berlangsung selama berabad-abad dan membentuk perjalanan sejarah Indonesia hingga masa modern.

Keistimewaan Sirah dan Fiqhus Sirah Mengapa dua orang d...



Keistimewaan Sirah dan Fiqhus Sirah


Mengapa dua orang dapat membaca kisah Rasulullah ï·º yang sama, tetapi memperoleh pengaruh yang berbeda?

Mengapa ada yang selesai membaca sirah hanya dengan tambahan pengetahuan?

Sementara yang lain selesai membacanya dengan hati yang lebih teguh, semangat yang lebih hidup, dan arah perjuangan yang semakin jelas?

Barangkali jawabannya bukan terletak pada banyaknya kisah yang dibaca, melainkan pada cara memahaminya.

Membaca Sirah atau Menghayati Sirah?

Apakah cukup mengetahui urutan peristiwa dalam kehidupan Rasulullah ï·º?

Tentu tidak.

Sirah memang menyajikan fakta-fakta sejarah, tetapi tujuan akhirnya bukan sekadar mengetahui apa yang terjadi. Sirah mengajak pembacanya memahami mengapa suatu peristiwa terjadi, bagaimana Rasulullah ï·º mengambil keputusan, dan pelajaran apa yang dapat diterapkan dalam kehidupan.

Di sinilah pentingnya fiqhus sirah.

Fiqhus sirah tidak berhenti pada kronologi. Ia berusaha menangkap hikmah, prinsip, dan nilai yang terkandung di balik setiap peristiwa.

Dengan kata lain, sirah memberi kita cerita, sedangkan fiqhus sirah mengajarkan cara mengambil pelajaran dari cerita tersebut.

Keistimewaan Sirah dalam Tradisi Keilmuan Islam

Lalu, apa yang membuat sirah memiliki kedudukan istimewa dalam Islam?

Salah satu jawabannya adalah perhatian para ulama terhadap keaslian riwayat.

Dalam tradisi ilmu hadis, setiap berita diperiksa melalui sanad dan matan. Rantai periwayatan diteliti, para perawinya dinilai, dan isi riwayat dibandingkan dengan sumber-sumber lain yang sahih.

Metode inilah yang oleh banyak ulama klasik, termasuk Ibnu Hazm, dipandang sebagai salah satu keistimewaan tradisi keilmuan Islam.

Karena itu, kajian tentang kehidupan Rasulullah ï·º tidak hanya dibangun di atas cerita yang diwariskan dari generasi ke generasi, tetapi melalui proses verifikasi yang ketat sesuai kaidah ilmu hadis dan sejarah Islam.

Di samping itu, Al-Qur'an sendiri menjadi rujukan utama yang meneguhkan berbagai peristiwa penting dalam perjalanan dakwah Rasulullah ï·º.

Beragam Cara Membaca Sirah

Seiring perkembangan ilmu pengetahuan, sirah telah dikaji dari berbagai sudut pandang.

Ada yang menelitinya sebagai sejarah.

Ada yang mengkajinya sebagai sumber hukum.

Ada pula yang menjadikannya sebagai inspirasi pendidikan, kepemimpinan, dan dakwah.

Sebagian sarjana Barat atau orientalis menulis sirah dengan pendekatan sejarah kritis yang sering kali menafsirkan keberhasilan Rasulullah ï·º melalui faktor sosial, politik, ekonomi, atau kepemimpinan manusiawi. Pendekatan ini menghasilkan kontribusi dalam kajian sejarah, tetapi banyak ulama Muslim menilai bahwa pendekatan tersebut tidak selalu memberikan ruang bagi dimensi wahyu dan kenabian yang menjadi inti keyakinan Islam.

Sebaliknya, para ulama dan dai Muslim umumnya memandang sirah sebagai perpaduan antara sejarah, petunjuk ilahi, dan teladan kehidupan.

Perbedaan titik tolak inilah yang sering menghasilkan penekanan yang berbeda dalam penulisan sirah.

Ketika Sirah Kehilangan Ruhnya

Ada pertanyaan yang patut direnungkan.

Apakah mungkin sebuah buku sirah sangat lengkap secara kronologi, tetapi kurang mampu menggerakkan hati pembacanya?

Jawabannya, mungkin saja.

Jika sirah hanya dipahami sebagai biografi tokoh besar, pembaca memang akan mengenal perjalanan hidup Rasulullah ï·º.

Namun, jika sirah dipahami sebagai panduan membangun iman, akhlak, dakwah, kesabaran, dan perjuangan, maka setiap peristiwa akan terasa hidup dan relevan.

Di sinilah letak perbedaan antara mengetahui sejarah dan menghayati sejarah.

Dari Sirah Menuju Fiqhus Sirah

Mengapa para ulama mengembangkan konsep fiqhus sirah?

Karena setiap peristiwa dalam kehidupan Rasulullah ï·º mengandung prinsip-prinsip yang dapat diterapkan sepanjang zaman.

Perjanjian Hudaibiyah mengajarkan kebijaksanaan.

Hijrah mengajarkan perencanaan.

Perang Badar mengajarkan tawakal yang disertai ikhtiar.

Fathu Makkah mengajarkan pemaafan ketika berada di puncak kemenangan.

Semua itu tidak berhenti sebagai kisah masa lalu.

Ia menjadi pedoman untuk menghadapi persoalan masa kini.

Inilah yang dimaksud dengan fiqhus sirah—mengambil hikmah, memahami tujuan, dan menerapkan nilai-nilai sirah dalam kehidupan.

Renungan

Mungkin pertanyaan yang perlu kita ajukan bukanlah,

"Sudah berapa banyak buku sirah yang telah kubaca?"

Melainkan,

"Sudahkah aku memahami hikmah yang tersembunyi di balik perjalanan Rasulullah ï·º?"

Sebab sirah bukan sekadar catatan sejarah.

Ia adalah sekolah kehidupan.

Dan fiqhus sirah adalah kunci yang membantu kita membaca setiap peristiwa bukan hanya dengan mata, tetapi juga dengan akal, hati, dan iman.

Ketika sirah dipahami dengan cara seperti itu, ia tidak lagi berhenti sebagai kisah masa lampau.

Ia berubah menjadi cahaya yang menerangi langkah setiap Muslim dalam menjalani kehidupan dan mengemban amanah sebagai penerus risalah Rasulullah ï·º.


Sirah dan Kemantapan Jiwa dalam Perjuangan Mengapa Al-Q...



Sirah dan Kemantapan Jiwa dalam Perjuangan

Mengapa Al-Qur'an begitu sering mengisahkan perjalanan para nabi?

Apakah kisah-kisah itu sekadar catatan sejarah?

Apakah hanya untuk menambah pengetahuan tentang masa lalu?

Ternyata tidak.

Dalam pandangan Al-Qur'an, sejarah bukan sekadar rekaman peristiwa. Sejarah adalah sarana membangun jiwa, meneguhkan hati, dan membangkitkan harapan. Sebuah umat yang mengenal sejarahnya akan lebih mudah memahami jati dirinya, sedangkan umat yang melupakan sejarahnya berisiko kehilangan arah dan kepercayaan diri.

Ketika Nabi Musa Membangkitkan Mental Bani Israil

Salah satu contohnya tampak dalam dakwah Nabi Musa 'alaihissalam kepada Bani Israil.

Allah berfirman,

"Dan (ingatlah) ketika Musa berkata kepada kaumnya, 'Wahai kaumku, ingatlah nikmat Allah kepadamu ketika Dia mengangkat nabi-nabi di antaramu, menjadikan kamu orang-orang merdeka, dan memberikan kepadamu apa yang belum pernah diberikan kepada seorang pun di antara umat-umat yang lain.'"
(QS. Al-Ma'idah [5]: 20)

Mengapa Nabi Musa memulai dengan mengajak mereka mengingat sejarah?

Karena Bani Israil saat itu telah lama hidup dalam penindasan. Pengalaman sebagai bangsa yang diperbudak membuat mereka kehilangan rasa percaya diri. Mereka lebih mengenal penderitaan daripada kemuliaan yang pernah Allah anugerahkan kepada mereka.

Maka Nabi Musa tidak hanya mengajak mereka berjuang, tetapi terlebih dahulu membangunkan ingatan mereka tentang nikmat Allah dan identitas yang pernah mereka miliki.

Sebab seseorang yang lupa akan sejarah kemuliaannya sering kali sulit membayangkan masa depan yang mulia.

Pelajaran bagi Umat Islam

Bukankah pelajaran ini juga relevan bagi umat Islam?

Umat Islam memiliki sejarah yang panjang dan kaya. Sejarah para nabi, perjalanan Rasulullah ï·º, serta pengorbanan para sahabat merupakan warisan yang membentuk identitas umat.

Namun, sejarah itu bukan untuk dibanggakan secara kosong.

Ia adalah sumber inspirasi agar setiap generasi memiliki semangat untuk melanjutkan perjuangan menegakkan nilai-nilai Islam sesuai tuntunan Al-Qur'an dan Sunnah.

Karena itu, semangat kaum Muslim tidak boleh menyerupai sikap Bani Israil ketika diperintahkan memasuki tanah suci.

Sebaliknya, semangat yang patut diteladani adalah jawaban Sa'ad bin Mu'adz kepada Rasulullah ï·º menjelang Perang Badar,

"Wahai Rasulullah, berangkatlah. Kami tidak akan mengatakan seperti yang dikatakan Bani Israil kepada Musa, 'Pergilah engkau bersama Tuhanmu dan berperanglah kalian berdua, sedangkan kami duduk menunggu.' Akan tetapi kami berkata, 'Pergilah engkau bersama Tuhanmu. Sesungguhnya kami akan berjuang bersamamu.'"

Kalimat ini lahir dari hati yang telah dibentuk oleh iman, bukan sekadar oleh semangat sesaat.

Sirah Adalah Modal Kebangkitan

Mengapa perjalanan Rasulullah ï·º dan para sahabat begitu penting untuk dipelajari?

Karena sirah bukan hanya menceritakan apa yang terjadi.

Sirah menunjukkan bagaimana iman diterapkan dalam kehidupan.

Bagaimana menghadapi tekanan.

Bagaimana menyusun strategi.

Bagaimana bersabar.

Bagaimana memimpin.

Bagaimana bangkit setelah mengalami kegagalan.

Itulah sebabnya Al-Qur'an sendiri dipenuhi kisah-kisah para nabi.

Allah berfirman,

"Sungguh, pada kisah-kisah mereka terdapat pelajaran bagi orang-orang yang berakal. Al-Qur'an bukanlah cerita yang dibuat-buat, tetapi membenarkan kitab-kitab sebelumnya, menjelaskan segala sesuatu, serta menjadi petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman."
(QS. Yusuf [12]: 111)

Sejarah dalam Al-Qur'an selalu mengandung pelajaran, bukan sekadar informasi.

Mengapa Allah Menceritakan Kisah Para Rasul?

Pertanyaan berikutnya adalah, untuk apa Allah menceritakan kisah para rasul kepada Nabi Muhammad ï·º?

Allah sendiri memberikan jawabannya,

"Dan semua kisah para rasul yang Kami ceritakan kepadamu adalah kisah-kisah yang dengannya Kami teguhkan hatimu. Dalam kisah-kisah itu telah datang kepadamu kebenaran, pelajaran, dan peringatan bagi orang-orang yang beriman."
(QS. Hud [11]: 120)

Perhatikan tujuan utamanya.

"...agar Kami meneguhkan hatimu."

Berarti sirah memiliki fungsi membangun tsabat—keteguhan hati.

Jika Rasulullah ï·º yang menerima wahyu saja diteguhkan melalui kisah para nabi sebelumnya, bukankah umat beliau juga memerlukan sirah untuk menguatkan hati dalam menghadapi berbagai ujian kehidupan?

Bagaimana Sirah Meneguhkan Hati?

Lalu muncul pertanyaan,

Bagaimana mungkin membaca sejarah dapat menguatkan jiwa?

Jawabannya sederhana.

Ketika seseorang melihat bahwa para nabi juga menghadapi penolakan, kesulitan, fitnah, bahkan ancaman, ia menyadari bahwa jalan dakwah memang penuh ujian.

Ia tidak lagi merasa sendirian.

Ia memahami bahwa kesabaran selalu mendahului kemenangan.

Ia belajar bahwa pertolongan Allah datang pada waktu yang paling tepat.

Dengan demikian, sirah bukan hanya memperkaya wawasan, tetapi juga membentuk cara berpikir dan cara menghadapi kehidupan.

Menyelaraskan Diri dengan Jejak Para Nabi

Ada sebuah perumpamaan yang menarik.

Sirah diibaratkan sebagai pemancar yang terus mengirimkan sinyal.

Namun, sinyal itu hanya dapat diterima apabila penerimanya berada pada frekuensi yang sama.

Demikian pula hati manusia.

Semakin seseorang menyelaraskan iman, amal, dan perjuangannya dengan jalan para nabi dan orang-orang saleh, semakin dalam pula ia menangkap hikmah yang terkandung dalam sirah.

Sebaliknya, apabila hati jauh dari nilai-nilai yang mereka perjuangkan, kisah-kisah itu mungkin hanya menjadi cerita tanpa bekas.

Renungan

Mungkin pertanyaan yang perlu kita ajukan bukanlah,

"Sudah berapa banyak buku sirah yang telah kubaca?"

Melainkan,

"Apakah sirah telah menjadikan hatiku lebih teguh, imanku lebih kuat, dan langkahku lebih jelas?"

Sebab tujuan utama mempelajari sirah bukanlah memenuhi ingatan dengan nama, tanggal, dan peristiwa.

Tujuan utamanya adalah membentuk hati yang kokoh, menumbuhkan harapan di tengah ujian, serta melahirkan keyakinan bahwa siapa pun yang berjalan di atas petunjuk Allah akan selalu memiliki arah, meskipun jalan yang ditempuh penuh dengan tantangan.



Mengapa Umat yang Memiliki Sejarah Agung Bisa Kehilangan Arah? «"Sungguh, pada kisah-ki...

Mengapa Umat yang Memiliki Sejarah Agung Bisa Kehilangan Arah?



«"Sungguh, pada kisah-kisah mereka terdapat pelajaran bagi orang-orang yang berakal. Al-Qur'an bukanlah cerita yang dibuat-buat, tetapi membenarkan kitab-kitab sebelumnya, menjelaskan segala sesuatu, serta menjadi petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman."
(QS. Yusuf [12]: 111)»

Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Dialah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar agar dimenangkan-Nya atas seluruh agama. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad ï·º, keluarga beliau, para sahabat, serta seluruh pengikutnya hingga akhir zaman.

Kemiskinan yang Paling Berbahaya

Apakah kemiskinan hanya berarti kekurangan harta?

Apakah sebuah bangsa disebut miskin semata-mata karena lemahnya ekonomi atau terbatasnya sumber daya alam?

Al-Qur'an mengajak kita melihat persoalan dari sudut yang lebih dalam.

Ada kemiskinan yang jauh lebih berbahaya daripada kemiskinan materi, yaitu kemiskinan iman, kemiskinan ilmu, dan kemiskinan keteladanan. Inilah kemiskinan yang dapat menyeret suatu bangsa kepada kehinaan, membuatnya kehilangan jati diri, lalu hidup di bawah dominasi bangsa lain.

Sebuah bangsa mungkin memiliki kekayaan alam yang melimpah, tetapi jika kehilangan arah hidup, kekayaan itu tidak selalu mampu mengangkat martabatnya.

Sebaliknya, bangsa yang memiliki keyakinan, visi, dan teladan yang benar sering kali mampu bangkit meskipun menghadapi berbagai keterbatasan.

Bangsa yang Kehilangan Sejarah akan Kehilangan Masa Depan

Mengapa sebagian bangsa sulit bangkit?

Salah satu sebabnya adalah karena mereka kehilangan hubungan dengan sejarah yang membentuk identitasnya.

Bangsa yang tidak mengenal perjalanan masa lalunya akan kesulitan menemukan arah masa depannya. Mereka tidak memiliki teladan yang menginspirasi, tidak memiliki kebanggaan yang membangun semangat, dan akhirnya mudah menerima keadaan sebagai sesuatu yang tidak mungkin diubah.

Dalam kondisi seperti itu, mentalitas sebagai pihak yang selalu kalah atau bergantung kepada orang lain dapat tumbuh tanpa disadari.

Warisan Agung yang Terlupakan

Umat Islam sesungguhnya memiliki warisan sejarah yang sangat kaya.

Sirah Rasulullah ï·º bukan sekadar catatan kronologis perjalanan hidup seorang nabi, tetapi juga sekolah peradaban yang mengajarkan akidah, kepemimpinan, pendidikan, dakwah, strategi, kesabaran, hingga cara membangun masyarakat.

Demikian pula kisah para nabi yang diabadikan dalam Al-Qur'an. Semuanya bukan untuk memenuhi rasa ingin tahu tentang masa lalu, melainkan menjadi pelajaran bagi setiap generasi.

Namun, mengapa warisan sebesar itu sering kali tidak menjadi bagian penting dalam pendidikan umat?

Pertanyaan inilah yang patut direnungkan.

Ketika Sirah Tidak Lagi Menjadi Arus Utama

Pada masa lalu, pendidikan Islam banyak bertumpu pada tiga disiplin utama.

1. Akidah

Akidah mengajarkan hubungan seorang hamba dengan Allah, menanamkan keimanan serta kesadaran akan tanggung jawab di hadapan Sang Pencipta.

2. Fikih

Fikih membimbing umat dalam ibadah dan berbagai aturan kehidupan sehingga seorang Muslim mengetahui bagaimana menjalankan syariat dengan benar.

3. Akhlak

Akhlak membentuk kepribadian, adab, dan penyucian jiwa agar ilmu melahirkan perilaku yang mulia.

Ketiga bidang ini sangat penting.

Namun, apakah ketiganya sudah cukup?

Di sinilah penulis mengajukan sebuah renungan.

Tanpa pemahaman yang memadai terhadap sirah Nabi ï·º dan sejarah Islam, hubungan emosional antara umat dengan generasi terbaik Islam dapat menjadi lemah.

Padahal sirah menghadirkan contoh nyata tentang bagaimana akidah diwujudkan, bagaimana fikih diterapkan, dan bagaimana akhlak dipraktikkan dalam kehidupan.

Sirah bukan sekadar pelengkap.

Ia adalah jembatan yang menghubungkan ilmu dengan teladan.

Ketika Sejarah Hanya Menjadi Tradisi

Di banyak tempat, kisah Rasulullah ï·º tetap dibacakan melalui syair, qasidah, atau karya sastra keagamaan.

Tradisi ini memiliki nilai budaya dan spiritual yang penting.

Namun, apabila pembacaan tersebut tidak disertai pendalaman terhadap pelajaran sejarah, strategi dakwah, dan hikmah perjuangan Rasulullah ï·º, maka manfaatnya menjadi tidak optimal.

Sirah bukan hanya untuk dinikmati.

Sirah adalah pedoman untuk dipahami, direnungkan, lalu diamalkan.

Pengaruh Kolonialisme terhadap Cara Pandang Sejarah

Penulis juga mengangkat satu persoalan lain yang perlu dipikirkan.

Pada masa kolonial, sistem pendidikan di banyak negeri Muslim mengalami perubahan besar.

Dalam berbagai konteks, sejarah sering disusun berdasarkan sudut pandang penguasa kolonial atau kepentingan nasional tertentu. Akibatnya, sebagian masyarakat menjadi lebih akrab dengan narasi sejarah lokal atau nasional, sementara kontribusi peradaban Islam terhadap perkembangan wilayah mereka kurang mendapat perhatian.

Akibatnya, lahirlah generasi yang mengenal tokoh-tokoh masa lampau, tetapi kurang memahami bagaimana Islam membentuk perjalanan sejarah bangsanya.

Fenomena ini tentu berbeda-beda di setiap negara dan menjadi kajian yang masih terus didiskusikan oleh para sejarawan.

Mengapa Sirah Tetap Penting?

Sirah bukan sekadar mengenang masa lalu.

Sirah mengajarkan bagaimana menghadapi ujian.

Bagaimana membangun masyarakat.

Bagaimana menyikapi kemenangan.

Bagaimana bersabar ketika mengalami kekalahan.

Bagaimana berdakwah dengan hikmah.

Bagaimana memimpin dengan adil.

Semua itu tetap relevan bagi setiap zaman.

Renungan

Mungkin pertanyaan yang perlu kita ajukan bukanlah,

"Apakah kita mengetahui banyak kisah sejarah?"

Melainkan,

"Apakah sejarah itu telah mengubah cara kita berpikir, mengambil keputusan, dan menjalani kehidupan?"

Sebab Al-Qur'an sendiri menegaskan bahwa kisah para nabi bukanlah cerita yang dibuat-buat.

Ia adalah pelajaran bagi orang-orang yang berakal.

Ketika sirah dipahami sebagai sumber hikmah, bukan sekadar cerita, sejarah tidak lagi menjadi kumpulan peristiwa masa lalu.

Ia berubah menjadi cahaya yang menuntun langkah umat menuju masa depan.

Menelusuri Jejak Wahyu Pertama di Gua Hira Mengapa Gua Hira Menjadi Titik Awal P...


Menelusuri Jejak Wahyu Pertama di Gua Hira


Mengapa Gua Hira Menjadi Titik Awal Perubahan Sejarah?

Setiap peristiwa besar selalu memiliki masa persiapan. Demikian pula dengan risalah Islam.

Jauh sebelum wahyu pertama turun, Muhammad ï·º telah menjalani proses yang tampaknya sunyi, tetapi justru menjadi fondasi lahirnya perubahan terbesar dalam sejarah manusia.

Mengapa Allah memilih sebuah gua kecil di puncak Jabal Hira sebagai tempat persiapan itu?

Tiga Tahun Menjelang Kenabian

Berbagai riwayat menyebutkan bahwa sekitar tiga tahun sebelum diangkat menjadi nabi dan rasul, Muhammad ï·º terbiasa melakukan tahannuts di Gua Hira. Tahannuts dipahami sebagai bentuk penyucian diri dan ibadah dengan menjauh dari hiruk-pikuk kehidupan.

Setiap bulan Ramadan, beliau meninggalkan Kota Makkah menuju Gua Hira yang berjarak sekitar dua mil. Di sana beliau menetap selama kurang lebih satu bulan. Bekal telah dipersiapkan, dan keluarganya berada tidak jauh dari tempat itu.

Namun, aktivitas beliau bukan sekadar menyendiri.

Beliau beribadah, memberi makan orang-orang miskin yang datang menemuinya, serta menghabiskan waktu untuk merenungkan langit, bumi, dan seluruh fenomena alam semesta. Di balik keteraturan alam itu, beliau menyaksikan jejak-jejak kekuasaan Sang Pencipta.

Di sisi lain, hati beliau tidak pernah merasa tenteram melihat masyarakat Quraisy tenggelam dalam penyembahan berhala. Tradisi syirik telah menjadi cara hidup, sementara jalan menuju kebenaran belum tampak jelas di hadapannya.

Ada kegelisahan. Ada pencarian. Tetapi belum ada wahyu yang menjadi penuntun.

Sebuah Persiapan yang Tidak Kebetulan

Apakah semua itu hanya pilihan pribadi Muhammad ï·º?

Sirah menunjukkan sesuatu yang lebih dalam.

Masa uzlah itu merupakan bagian dari persiapan Ilahi. Allah sedang membentuk pribadi Rasulullah sebelum memikul amanah yang akan mengubah arah sejarah.

Di Gua Hira, beliau melepaskan diri dari kebisingan kehidupan Makkah. Jauh dari perdagangan, persaingan, dan tradisi masyarakat, beliau memasuki ruang perenungan yang hening.

Dalam kesunyian itulah jiwanya berinteraksi dengan alam semesta. Keteraturan langit, pergantian malam dan siang, keagungan gunung-gunung, serta tanda-tanda penciptaan menjadi bahan renungan yang terus mengasah kepekaan ruhani beliau.

Seolah-olah Allah sedang menyiapkan hati yang akan menerima kalam-Nya.

Mengapa Kesunyian Menjadi Bagian dari Proses?

Pengalaman Rasulullah ï·º mengajarkan sebuah pelajaran penting.

Seseorang yang akan membawa perubahan besar sering kali membutuhkan waktu untuk mengambil jarak dari keramaian. Kesibukan yang tidak pernah berhenti dapat membuat manusia terbiasa dengan keadaan yang sebenarnya perlu diubah.

Ketika seseorang terus larut dalam rutinitas, ia dapat kehilangan kemampuan melihat kenyataan secara jernih.

Sebaliknya, kesunyian memberi ruang bagi jiwa untuk melihat kehidupan dari sudut pandang yang lebih luas. Ia belajar membebaskan diri dari tekanan tradisi, kebiasaan masyarakat, dan penilaian manusia.

Di situlah lahir keberanian untuk menerima kebenaran, sekalipun berbeda dari arus besar zamannya.

Persiapan Menuju Amanah Terbesar

Selama tiga tahun, proses itu terus berlangsung.

Allah membimbing Rasulullah ï·º melalui perjalanan ruhani yang penuh perenungan. Setiap Ramadan beliau kembali ke Gua Hira, hingga akhirnya tiba saat yang telah ditentukan.

Saat itulah batas antara alam yang tampak dan alam gaib mulai terbuka atas izin Allah.

Kesunyian berakhir.

Masa persiapan selesai.

Risalah pun dimulai.

Merekahnya Fajar Wahyu: Turunnya Surah Al-'Alaq

Para ulama sepakat bahwa ayat-ayat pertama Surah Al-'Alaq merupakan wahyu pertama yang diterima Nabi Muhammad ï·º. Riwayat-riwayat yang menyatakan adanya surah lain sebagai wahyu pertama dinilai tidak sekuat riwayat ini.

Salah satu riwayat paling terkenal berasal dari Ummul Mukminin Aisyah radhiyallahu 'anha.

Dalam riwayat yang dicantumkan oleh Imam Ahmad melalui jalur Abdurrazzaq, Ma'mar, Az-Zuhri, Urwah, dan Aisyah, dijelaskan bahwa tanda awal turunnya wahyu adalah mimpi-mimpi yang benar. Apa pun yang beliau lihat dalam tidurnya selalu terjadi dengan jelas, laksana cahaya fajar yang merekah.

Setelah itu, kecintaan kepada khalwat semakin memenuhi hati beliau. Rasulullah ï·º kembali beruzlah di Gua Hira selama beberapa malam untuk beribadah kepada Allah. Setiap kali bekalnya habis, beliau pulang menemui Khadijah radhiyallahu 'anha untuk mengambil bekal baru, lalu kembali lagi ke gua tersebut.

Tidak seorang pun di Makkah mengetahui bahwa di balik kesunyian Gua Hira sedang dipersiapkan peristiwa yang akan mengubah wajah dunia.

Beberapa saat kemudian, di tempat yang sunyi itu, Malaikat Jibril datang membawa wahyu pertama.

Peristiwa itulah yang menandai berakhirnya masa persiapan dan dimulainya fase kenabian Muhammad ï·º, sebuah titik balik yang mengubah perjalanan sejarah umat manusia untuk selamanya.

Mari Mengambil Bekal dari Al-Qur'an Dari manakah seorang dai memperoleh beka...

Mari Mengambil Bekal dari Al-Qur'an

Dari manakah seorang dai memperoleh bekal untuk menempuh jalan dakwah?

Apakah cukup dengan ilmu, pengalaman, atau banyaknya aktivitas?

Semakin lama merenungkan pertanyaan ini, semakin saya merasa bahwa diri ini belum pantas berbicara tentang bekal keimanan, ketakwaan, hidayah, dan cahaya. Sebab, bekal seperti itu tidak semata-mata lahir dari pengalaman atau pengetahuan manusia. Bekal itu merupakan karunia dari Allah, Dzat Yang Maha Pemberi.

Allah berfirman,

«"Allah menentukan rahmat-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah mempunyai karunia yang besar."
(QS. Ali 'Imran: 74)»

Keimanan adalah anugerah-Nya. Hidayah adalah pemberian-Nya. Cahaya dan rahmat juga berasal dari-Nya. Karena itu, selama Allah terus melimpahkan karunia-Nya, tidak ada alasan bagi seorang hamba untuk berputus asa.

Allah juga mengingatkan,

«"Mereka merasa telah memberi nikmat kepadamu dengan keislaman mereka. Katakanlah, 'Janganlah kamu merasa telah memberi nikmat kepadaku dengan keislamanmu. Sebenarnya Allah-lah yang melimpahkan nikmat kepadamu dengan menunjuki kamu kepada keimanan, jika kamu orang-orang yang benar.'"
(QS. Al-Hujurat: 17)»

Demikian pula firman-Nya,

«"Apa saja rahmat yang Allah anugerahkan kepada manusia, maka tidak ada seorang pun yang dapat menahannya. Dan apa saja yang Dia tahan, maka tidak ada seorang pun yang mampu melepaskannya sesudah itu. Dialah Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana."
(QS. Fathir: 2)»

Bukankah seluruh kebaikan bersumber dari Allah?

Namun, dengan kasih sayang-Nya, Allah tidak hanya memberikan karunia, tetapi juga menunjukkan jalan-jalan untuk meraihnya. Dia mengajarkan sebab-sebab yang dapat ditempuh agar seorang hamba memperoleh bekal dari-Nya.

Lalu, apakah sebab yang paling utama?

Yang paling utama bukanlah banyaknya amal, melainkan keadaan hati ketika menghadap Allah. Seorang hamba berdiri di hadapan Rabbnya dengan penuh ketundukan, memohon pertolongan, mengakui kelemahannya, berharap rahmat-Nya, takut kepada-Nya, dan menyerahkan seluruh urusannya kepada-Nya.

Di situlah letak pangkal segala bekal.

Semakin tulus ketundukan seorang hamba, semakin besar pula karunia yang Allah limpahkan kepadanya. Adapun berbagai amal dan sarana lainnya hanyalah jalan yang mengantarkan kepada karunia tersebut.

Karena itulah saya merasa takut ketika hendak menulis tentang masalah ini. Saya khawatir mengarahkan orang lain pada sesuatu yang diri saya sendiri masih sangat membutuhkan bimbingan di dalamnya.

Namun, di sisi lain, saya juga merasakan betapa pentingnya bekal ini bagi setiap orang yang berjalan di jalan dakwah. Oleh sebab itu, dengan memohon pertolongan Allah, saya memberanikan diri menuliskan beberapa renungan yang mudah-mudahan dapat menjadi panduan bagi diri sendiri maupun bagi siapa saja yang menempuh jalan ini.

Bekal Itu Harus Terus Diperbarui

Apakah bekal iman akan tetap kuat dengan sendirinya?

Tentu tidak.

Sebagaimana bekal perjalanan dapat berkurang bahkan habis, demikian pula bekal keimanan. Ia dapat bertambah, dapat melemah, bahkan dapat hilang apabila tidak dijaga.

Karena itu, setiap Muslim harus terus memperbarui, menambah, dan memelihara bekalnya. Kabar baiknya, Allah telah memudahkan berbagai sebab untuk melakukannya pada setiap waktu.

Al-Qur'an: Mata Air Bekal yang Tidak Pernah Kering

Lalu, apakah sumber bekal yang paling utama?

Jawabannya adalah Al-Qur'an.

Kitab Allah merupakan sumber bekal yang paling agung, paling mudah dijangkau, dan paling banyak melimpahkan keberkahan. Ia bagaikan mata air yang tidak pernah kering. Siapa pun yang datang kepadanya dengan hati yang terbuka akan selalu memperoleh bekal baru.

Bahkan, Al-Qur'an tidak hanya menjadi sumber bekal, tetapi juga mengajarkan bagaimana memanfaatkan berbagai sarana lain untuk semakin mendekat kepada Allah.

Di dalamnya terdapat cahaya, petunjuk, rahmat, nasihat, dan peringatan.

Al-Qur'an mengajarkan bahwa membacanya merupakan salah satu sarana terbesar untuk memperkuat iman dan takwa. Ia menanamkan tauhid yang melahirkan ketenteraman dan rasa aman dalam jiwa. Ia mengajak manusia memperbanyak ibadah yang terus memperbarui ketakwaan.

Lebih dari itu, Al-Qur'an mengarahkan manusia untuk merenungkan ciptaan-ciptaan Allah. Dari perenungan itu lahirlah pengenalan kepada sifat-sifat-Nya. Semakin seseorang mengenal Allah, semakin tumbuh rasa pengagungan, pemuliaan, dan penyucian kepada-Nya. Bukankah itulah bekal iman yang paling berharga?

Di dalam Al-Qur'an juga terdapat kisah para nabi dan umat-umat terdahulu. Kisah-kisah itu bukan sekadar cerita sejarah, melainkan pelajaran yang menambah pengalaman, kebijaksanaan, dan keteguhan bagi setiap penempuh jalan dakwah.

Al-Qur'an pun memerintahkan kita untuk menaati dan meneladani Rasulullah ï·º, sebaik-baik pembimbing dalam perjalanan menuju Allah.

Selain itu, Al-Qur'an dipenuhi ajakan kepada segala bentuk kebajikan, larangan dari berbagai kemungkaran, peringatan tentang hari kebangkitan, hisab, dan pembalasan, serta kabar gembira tentang surga dan peringatan tentang neraka.

Karena itu, dapat dikatakan bahwa seluruh kebutuhan manusia untuk meraih kebahagiaan dunia dan akhirat terdapat di dalam Al-Qur'an. Ia menjaga manusia dari kesengsaraan, membangun akidah yang kokoh, serta menumbuhkan seluruh potensi kebaikan dalam dirinya.

Allah berfirman,

«"Sesungguhnya Al-Qur'an ini memberi petunjuk kepada jalan yang paling lurus."
(QS. Al-Isra': 9)»

«"Al-Qur'an ini adalah pedoman bagi manusia, petunjuk, dan rahmat bagi orang-orang yang meyakini."
(QS. Al-Jatsiyah: 20)»

«"(Al-Qur'an) ini adalah penerangan bagi manusia, petunjuk, dan pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa."
(QS. Ali 'Imran: 138)»

«"Dan Kami turunkan dari Al-Qur'an sesuatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman."
(QS. Al-Isra': 82)»

«"Wahai manusia, sungguh telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu, penyembuh bagi penyakit yang ada di dalam dada, petunjuk, dan rahmat bagi orang-orang yang beriman."
(QS. Yunus: 57)»

«"Sungguh telah datang kepadamu cahaya dari Allah dan Kitab yang menerangkan. Dengan Kitab itulah Allah memberi petunjuk kepada orang-orang yang mengikuti keridaan-Nya ke jalan keselamatan, mengeluarkan mereka dari berbagai kegelapan menuju cahaya dengan izin-Nya, serta menunjukkan mereka ke jalan yang lurus."
(QS. Al-Ma'idah: 15–16)»

Maka, jika bekal perjalanan menuju Allah harus terus diperbarui, mengapa mencari sumber yang lain, sementara Allah telah menyediakan Al-Qur'an sebagai mata air yang tidak pernah kering? Siapa yang menjadikan Al-Qur'an sebagai sahabat perjalanannya, niscaya ia akan selalu menemukan cahaya ketika jalan mulai gelap, kekuatan ketika hati mulai lemah, dan harapan ketika langkah terasa berat.

Ketika Semangat Pembaruan Melahirkan Persoalan Baru Bagaimana seharusnya seorang...



Ketika Semangat Pembaruan Melahirkan Persoalan Baru


Bagaimana seharusnya seorang pemikir menghadapi penyimpangan zamannya?

Haruskah ia melawannya dengan menggunakan kerangka berpikir yang justru lahir dari peradaban yang sedang dikritiknya?

Pertanyaan inilah yang muncul ketika kita menelaah pemikiran Muhammad Iqbal.

Iqbal hidup di tengah dua arus besar yang sama-sama memengaruhi zamannya.

Di dunia Timur, ia menyaksikan umat Islam terjebak dalam pemikiran yang, menurutnya, kehilangan semangat hidup. Gagasan tentang peleburan diri membuat manusia seolah kehilangan kepribadiannya, sementara pandangan yang terlalu pasif menjadikan manusia tampak tidak memiliki peran nyata dalam membangun kehidupan di bumi.

Bukankah Islam justru mengajarkan manusia untuk menjadi khalifah yang aktif, bertanggung jawab, dan berkarya?

Di sisi lain, Iqbal juga berhadapan dengan dunia Barat yang sedang dikuasai positivisme dan empirisme. Aliran-aliran ini menganggap pengalaman indrawi sebagai ukuran utama pengetahuan. Pada saat yang sama, ia menghadapi gagasan Friedrich Nietzsche yang mengumumkan "kematian Tuhan" dan mengagungkan lahirnya manusia super. Dalam pandangan penulis, gagasan tersebut merupakan bentuk penyimpangan pemikiran yang jauh dari petunjuk wahyu.

Menghadapi dua arus itu, apa yang ingin dilakukan Iqbal?

Ia ingin menghidupkan kembali manusia Muslim. Ia menolak sikap pasif, fatalistis, dan pandangan yang menghilangkan tanggung jawab manusia. Ia ingin menegaskan bahwa manusia memiliki kepribadian, kehendak, dan peranan yang nyata dalam kehidupan.

Tujuan ini tentu sangat mulia.

Namun, muncul pertanyaan berikutnya.

Apakah semangat memperkuat peran manusia kemudian mendorongnya melampaui batas-batas konsep Islam sendiri?

Menurut penulis, di sinilah persoalannya.

Dalam upaya menegaskan kelangsungan dan keutuhan kepribadian manusia, Iqbal sampai menakwilkan sejumlah nash Al-Qur'an dengan cara yang dianggap tidak sejalan dengan makna lahiriahnya maupun dengan keseluruhan konsep Islam. Ia berpendapat bahwa pengalaman pertumbuhan manusia tetap berlangsung setelah kematian, bahkan sesudah kehidupan surga dan neraka.

Padahal, bukankah konsep Islam menjelaskan bahwa dunia adalah tempat ujian dan amal, sedangkan akhirat merupakan tempat hisab dan pembalasan?

Sesudah keputusan Allah ditetapkan, tidak ada lagi kesempatan untuk memulai amal baru sebagaimana ketika manusia hidup di dunia.

Mengapa Iqbal sampai pada kesimpulan tersebut?

Penulis melihat bahwa hal itu lahir dari keinginannya yang sangat besar untuk menegaskan keberlangsungan eksistensi manusia, atau apa yang disebutnya sebagai ego atau "aku", istilah yang dipengaruhi oleh filsafat Hegel.

Persoalan serupa juga tampak dalam penggunaan istilah "pengalaman".

Dalam tradisi filsafat Barat, pengalaman (experience) umumnya dibatasi pada pengalaman empiris yang dapat ditangkap oleh pancaindra. Bahkan, istilah itu sejak awal digunakan untuk menolak sumber pengetahuan yang tidak bersandar pada pengamatan indrawi.

Namun, Iqbal memperluas makna istilah tersebut hingga mencakup pengalaman spiritual seorang mukmin.

Apakah perluasan makna itu sepenuhnya berhasil?

Menurut penulis, justru di sinilah muncul kesulitan. Ketika istilah yang lahir dari tradisi intelektual Barat dipaksa memuat pengalaman ruhani yang menjadi ciri khas Islam, makna aslinya menjadi kabur. Akibatnya, lahirlah penjelasan yang dipandang kontroversial dan kurang mencerminkan karakter asli konsep Islam.

Padahal, sebagai seorang penyair, Iqbal dikenal memiliki daya ungkap yang sangat hidup, dinamis, dan menginspirasi.

Karena itu, kritik terhadap sebagian gagasannya tidak berarti mengabaikan jasa besarnya.

Penulis justru memberikan penghargaan yang tinggi kepada Muhammad Abduh, para muridnya, maupun Muhammad Iqbal. Mereka telah menghidupkan kembali semangat berpikir umat Islam pada masa kemunduran. Semoga Allah melimpahkan rahmat-Nya kepada mereka.

Lalu, apa pelajaran yang dapat diambil?

Bahwa semangat meluruskan satu penyimpangan terkadang dapat melahirkan penyimpangan baru apabila tidak selalu berpijak pada konsep Islam secara utuh.

Oleh sebab itu, metode yang dianggap lebih tepat adalah memulai dari hakikat konsep Islam itu sendiri. Konsep tersebut dipahami secara menyeluruh, seimbang, dan harmonis sesuai wataknya sendiri, bukan dibentuk oleh kerangka berpikir yang berasal dari luar dirinya.

Pada akhirnya, buku ini bukanlah sebuah karya filsafat, bukan pula risalah teologi spekulatif ataupun metafisika.

Lalu, apakah tujuan utamanya?

Tujuannya adalah berbicara kepada realitas kehidupan.

Islam datang untuk membebaskan manusia dari kebingungan yang menguasai cara berpikir dan cara hidup mereka. Ia datang untuk mengeluarkan manusia dari kerancuan menuju keyakinan, dari kekacauan menuju keteraturan, serta dari sistem buatan manusia menuju sistem yang bersumber dari petunjuk Allah.

Namun, tidakkah keadaan manusia hari ini kembali memperlihatkan gejala yang sama?

Kebingungan pemikiran, pertentangan nilai, dan krisis arah hidup kembali menjadi wajah peradaban modern. Bahkan, umat Islam yang dahulu memimpin manusia dengan petunjuk wahyu kini justru banyak mengikuti arah peradaban yang sedang diliputi berbagai bentuk kebingungan itu.

Karena itulah, kebutuhan terhadap penjelasan yang utuh mengenai konsep Islam menjadi semakin mendesak.

Buku ini merupakan ikhtiar untuk menjelaskan karakteristik-konsep Islam beserta fondasi-fondasinya. Dari konsep inilah lahir sistem kehidupan, pandangan tentang ilmu, aktivitas berpikir, seni, dan seluruh aspek kehidupan yang dikehendaki Allah.

Setiap pembahasan tentang pemikiran maupun sistem Islam semestinya berangkat dari fondasi ini.

Sebab, kebutuhan terhadap konsep Islam yang jernih bukan hanya kebutuhan intelektual. Ia adalah kebutuhan akal dan hati, kebutuhan kehidupan nyata, serta kebutuhan umat Islam dan seluruh umat manusia.

Bagian ini menjadi langkah awal untuk memahami karakteristik konsep Islam. Pembahasan berikutnya akan menguraikan sendi-sendi yang menjadi fondasinya.

Semoga Allah senantiasa melimpahkan taufik, petunjuk, dan pertolongan-Nya.

Cari Artikel Ketik Lalu Enter

Artikel Lainnya

Indeks Artikel

!qNusantar3 (1) 1+6!zzSirah Ulama (1) Abdullah bin Nuh (1) Abu Bakar (3) Abu Hasan Asy Syadzali (2) Abu Hasan Asy Syadzali Saat Mesir Dikepung (1) Aceh (6) Adam (5) Adnan Menderes (2) Adu domba Yahudi (1) adzan (1) Agama (1) Agribisnis (1) Ahli Epidemiologi (1) Air hujan (1) Akhir Zaman (1) Al-Baqarah (1) Al-Qur'an (362) Al-Qur’an (55) alam (3) Alamiah Kedokteran (1) Ali bin Abi Thalib (1) An-Nadwi (1) Andalusia (1) Angka Binner (1) Angka dalam Al-Qur'an (1) Aqidah (1) Ar Narini (2) As Sinkili (2) Asbabulnuzul (1) Ashabul Kahfi (1) Aurangzeb alamgir (1) Bahasa Arab (1) Bahaya Kemunduran Umat Islam (1) Bani Israel (1) Banjar (1) Banten (1) Barat (1) Belanja (1) Berkah Musyawarah (1) Bermimpi Rasulullah saw (1) Bertanya (1) Bima (1) Biografi (1) BJ Habibie (1) budak jadi pemimpin (1) Buku Hamka (1) busana (1) Buya Hamka (53) Cerita kegagalan (1) cerpen Nabi (8) cerpen Nabi Musa (2) Cina Islam (1) cinta (1) Covid 19 (1) Curhat doa (1) Dajjal (1) dakwah (12) Dakwah (10) Dasar Kesehatan (1) Deli Serdang (1) Demak (3) Demam Tubuh (1) Demografi Umat Islam (1) Detik (1) Diktator (1) Diponegoro (2) Dirham (1) Doa (1) doa mendesain masa depan (1) doa wali Allah (1) dukun (1) Dunia Islam (1) Duplikasi Kebrilianan (1) energi kekuatan (1) Energi Takwa (1) english (6) English (6) Episentrum Perlawanan (1) filsafat (3) filsafat Islam (1) Filsafat Sejarah (1) Fiqh (1) Fir'aun (2) Firasat (1) Firaun (1) Gamal Abdul Naser (1) Gelombang dakwah (1) Gladiator (1) Gowa (1) grand desain tanah (1) Gua Secang (1) Haji (1) Haman (1) Hamka (3) Hasan Al Banna (7) Heraklius (4) Hidup Mudah (1) Hikayat (3) Hikayat Perang Sabil (2) hikmah (1) https://www.literaturislam.com/ (1) Hukum Akhirat (1) hukum kesulitan (1) Hukum Pasti (1) Hukuman Allah (1) Ibadah obat (1) Ibnu Hajar Asqalani (1) Ibnu Khaldun (1) Ibnu Sina (1) Ibrahim (1) Ibrahim bin Adham (1) ide menulis (1) Ikhwanul Muslimin (1) ilmu (2) Ilmu Laduni (3) Ilmu Sejarah (1) Ilmu Sosial (1) Imam Al-Ghazali (2) imam Ghazali (1) Instropeksi diri (1) interpretasi sejarah (1) Islam (1) ISLAM (2) Islam Cina (1) Islam dalam Bahaya (2) Islam di India (1) Islam Nusantara (1) Islampobia (1) Istana Al-Hambra (1) Istana Penguasa (1) Istiqamah (1) Jalan Hidup (1) Jamuran (1) Jebakan Istana (1) Jendral Mc Arthu (1) Jibril (1) jihad (1) Jiwa Berkecamuk (1) Jiwa Mujahid (1) Jogyakarta (1) jordania (1) jurriyah Rasulullah (1) Kabinet Abu Bakar (1) Kajian (1) kambing (1) Karamah (1) Karya Besar (1) Karya Fenomenal (1) Kebebasan beragama (1) Kebohongan Pejabat (1) Kebohongan Yahudi (1) kecerdasan (20) Kecerdasan (331) Kecerdasan Finansial (4) Kecerdasan Laduni (1) Kedok Keshalehan (1) Kejayaan Islam (1) Kejayaan Umat Islam (1) Kekalahan Intelektual (1) Kekhalifahan Islam (2) Kekhalifahan Turki Utsmani (1) Keluar Krisis (1) Kemiskinan Diri (1) Kepemimpinan (1) kerajaan Islam (1) kerajaan Islam di India (1) Kerajaan Sriwijaya (2) Kesehatan (1) Kesultanan Aceh (1) Kesultanan Nusantara (1) Ketuhanan Yang Maha Esa (1) Keturunan Rasulullah saw (1) Keunggulan ilmu (1) keunggulan teknologi (1) Kezaliman (2) KH Hasyim Ashari (1) Khaidir (2) Khalifatur Rasyidin (1) Kiamat (1) Kisah (1) Kisah Al Quran (1) kisah Al-Qur'an (1) Kisah Hadist (4) Kisah Nabi (1) Kisah Nabi dan Rasul (1) Kisah Para Nabi (1) kisah para nabi dan (2) kisah para nabi dan rasul (57) kisah para Nabi dan Rasul (1) Kisah para nabi dan rasul (108) Kisah Para Nabi dan Rasul (577) kisah para nabi dan rasul. Nabi Daud (1) kisah para nabi dan rasul. nabi Musa (2) Kisah Penguasa (1) Kisah ulama (1) kitab primbon (1) Koalisi Negara Ulama (1) Krisis Ekonomi (1) Kumis (1) Kumparan (1) Kurikulum Pemimpin (1) Laduni (1) lauhul mahfudz (1) lockdown (1) Logika (1) Luka darah (1) Luka hati (1) madrasah ramadhan (1) Madu dan Susu (1) Majapahi (1) Majapahit (4) Makkah (1) Malaka (1) Mandi (1) Matematika dalam Al-Qur'an (1) Maulana Ishaq (1) Maulana Malik Ibrahi (1) Melihat Wajah Allah (1) Memerdekakan Akal (1) Menaklukkan penguasa (1) Mendidik anak (1) mendidik Hawa Nafsu (1) Mendikbud (1) Menggenggam Dunia (1) menulis (1) Mesir (1) militer (1) militer Islam (1) Mimpi Rasulullah saw (1) Minangkabau (2) Mindset Dongeng (1) Muawiyah bin Abu Sofyan (1) Mufti Johor (1) muhammad al fatih (3) Muhammad bin Maslamah (1) Mukjizat Nabi Ismail (1) Musa (1) muslimah (1) musuh peradaban (1) nabi adam (1) Nabi Adam (75) nabi Adam. Adam (1) Nabi Ayub (1) Nabi Daud (3) Nabi Ibrahim (3) Nabi Isa (2) nabi Isa. nabi ismail (1) Nabi Ismail (1) Nabi Khaidir (1) Nabi Khidir (1) Nabi Musa (29) Nabi Nuh (6) Nabi Sulaiman (2) Nabi Yunus (1) Nabi Yusuf (15) Namrudz (2) Nasrulloh Baksolahar (1) NKRI (1) nol (1) Nubuwah Rasulullah (4) Nurudin Zanky (1) Nusa Tenggara (1) nusantara (7) Nusantara (284) Nusantara Tanpa Islam (1) obat cinta dunia (2) obat takut mati (1) Olahraga (6) Orang Lain baik (1) Orang tua guru (1) Padjadjaran (2) Palembang (1) Palestina (697) Pancasila (1) Pangeran Diponegoro (3) Pasai (2) Paspampres Rasulullah (1) Pembangun Peradaban (2) Pemecahan masalah (1) Pemerintah rapuh (1) Pemutarbalikan sejarah (1) Pengasingan (1) Pengelolaan Bisnis (1) Pengelolaan Hawa Nafsu (1) Pengobatan (1) pengobatan sederhana (1) Penguasa Adil (1) Penguasa Zalim (1) Penjajah Yahudi (35) Penjajahan Belanda (1) Penjajahan Yahudi (1) Penjara Rotterdam (1) Penyelamatan Sejarah (1) peradaban Islam (1) Perang Aceh (1) Perang Afghanistan (1) Perang Arab Israel (1) Perang Badar (3) Perang Ekonomi (1) Perang Hunain (1) Perang Jawa (1) Perang Khaibar (1) Perang Khandaq (2) Perang Kore (1) Perang mu'tah (1) Perang Paregreg (1) Perang Salib (4) Perang Tabuk (1) Perang Uhud (2) Perdagangan rempah (1) Pergesekan Internal (1) Perguliran Waktu (1) permainan anak (2) Perniagaan (1) Persia (2) Persoalan sulit (1) pertanian modern (1) Pertempuran Rasulullah (1) Pertolongan Allah (3) perut sehat (1) pm Turki (1) POHON SAHABI (1) Portugal (1) Portugis (1) ppkm (1) Prabu Satmata (1) Prilaku Pemimpin (1) prokes (1) puasa (1) pupuk terbaik (1) purnawirawan Islam (1) Qarun (2) Quantum Jiwa (1) Raffles (1) Raja Islam (1) rakyat lapar (1) Rakyat terzalimi (1) Rasulullah (1) Rasulullah SAW (1) Rasulullah shalallahu alaihi wassalam (1) Rehat (493) Rekayasa Masa Depan (1) Republika (2) respon alam (1) Revolusi diri (1) Revolusi Sejarah (1) Revolusi Sosial (1) Rindu Rasulullah (1) Romawi (4) Rumah Semut (1) Ruqyah (1) Rustum (1) Saat Dihina (1) Sahabat (1) sahabat Nabi (1) Sahabat Rasulullah (1) SAHABI (1) Salimul Aqidah (1) satu (1) Sayyidah Musyfiqah (1) Sejarah (2) Sejarah Nabi (1) Sejarah Para Nabi dan Rasul (1) Sejarah Penguasa (1) selat Malaka (2) Seleksi Pejabat (1) Sengketa Hukum (1) Serah Nabawiyah (1) Seruan Jihad (3) shalahuddin al Ayubi (3) shalat (1) Shalat di dalam kuburannya (1) Shalawat Ibrahimiyah (1) Simpel Life (1) Sirah Nabawiyah (313) Sirah Para Nabi dan Rasul (3) Sirah penguasa (11) Sirah Penguasa (248) sirah Sahabat (2) Sirah Sahabat (172) Sirah Tabiin (43) Sirah ulama (36) Sirah Ulama (158) Siroh Sahabat (1) Sofyan Tsauri (1) Solusi Negara (1) Solusi Praktis (1) Sriwijaya Islam (3) Strategi Demonstrasi (1) Suara Hewan (1) Suara lembut (1) Sudah Nabawiyah (1) Sufi (1) sugesti diri (1) sultan Hamid 2 (1) sultan Islam (1) Sultan Mataram (3) Sultanah Aceh (1) Sunah Rasulullah (2) sunan giri (3) Sunan Gresi (1) Sunan Gunung Jati (1) Sunan Kalijaga (1) Sunan Kudus (2) Sunatullah Kekuasaan (1) Supranatural (1) Surakarta (1) Syariat Islam (18) Syeikh Abdul Qadir Jaelani (2) Syeikh Palimbani (3) Tak Ada Solusi (1) Takdir Umat Islam (1) Takwa (1) Takwa Keadilan (1) Tamim Ad Dari (1) Tanda Hari Kiamat (1) Tasawuf (29) teknologi (2) tentang website (1) tentara (1) tentara Islam (1) Ternate (1) Thaharah (1) Thariqah (1) tidur (1) Titik kritis (1) Titik Kritis Kekayaan (1) Tragedi Sejarah (1) Turki (2) Turki Utsmani (2) Ukhuwah (1) Ulama Mekkah (3) Umar bin Abdul Aziz (5) Umar bin Khatab (3) Umar k Abdul Aziz (1) Ummu Salamah (1) Umpetan (1) Utsman bin Affan (2) veteran islam (1) Wabah (1) wafat Rasulullah (1) Wakaf (1) Waki bin Jarrah (1) Wali Allah (1) wali sanga (1) Walisanga (2) Walisongo (3) Wanita Pilihan (1) Wanita Utama (1) Warung Kelontong (1) Waspadai Ibadah (1) Wudhu (1) Yusuf Al Makasari (1) zaman kerajaan islam (1) Zulkarnain (1)