Rahasia Takdir Ilahi: Yang Dibenci pun Menjadi Jalan Kebaikan
Apa yang Sebenarnya Baik bagi Manusia?
Manusia hampir selalu menilai kehidupan berdasarkan apa yang terlihat di depan mata. Ketika memperoleh sesuatu yang diinginkan, ia menganggapnya sebagai keberuntungan. Sebaliknya, ketika kehilangan, gagal, atau menghadapi kesulitan, ia segera menilainya sebagai musibah.
Namun Al-Qur'an membongkar kelemahan cara pandang tersebut.
Allah berfirman:
«"Diwajibkan atasmu berperang, padahal itu kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal itu baik bagimu dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu buruk bagimu. Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui." (QS. Al-Baqarah: 216)»
Ayat ini turun pada tahun kedua Hijriah ketika kaum Muslimin menghadapi situasi yang sangat berat. Jumlah mereka sedikit, kekuatan mereka terbatas, sementara musuh memiliki persenjataan, harta, dan jumlah pasukan yang jauh lebih besar.
Perintah berperang bukanlah sesuatu yang disambut dengan kegembiraan. Ia mengandung risiko kehilangan harta, keluarga, bahkan nyawa. Secara manusiawi, tidak ada yang menyukai kondisi tersebut.
Namun justru pada titik itulah Allah mengajarkan sebuah pelajaran besar: penilaian manusia sering kali berbeda dengan pengetahuan Allah.
Apa yang terasa berat belum tentu buruk. Apa yang terasa menyenangkan belum tentu membawa kebaikan.
Mengapa Manusia Sulit Menerima Takdir?
Jika ditelusuri lebih dalam, sebagian besar kegelisahan manusia muncul karena keinginan mengendalikan hasil akhir.
Ketika dihadapkan pada pilihan, pikiran mulai dipenuhi berbagai kemungkinan:
"Bagaimana jika keputusan ini salah?"
"Bagaimana jika aku rugi?"
"Bagaimana jika masa depanku hancur?"
Padahal seluruh kemungkinan tersebut masih berada dalam wilayah yang belum terjadi.
Manusia menghabiskan tenaga memikirkan sesuatu yang tidak berada dalam kekuasaannya, sementara hasil akhirnya tetap berada di bawah ketetapan Allah.
Karena itulah sikap pasrah kepada Allah bukanlah kelemahan, melainkan pembebasan jiwa dari beban yang tidak sanggup dipikulnya.
Orang yang menyerahkan urusannya kepada Allah akan memperoleh ketenangan yang tidak dimiliki oleh mereka yang hanya bergantung pada perhitungan dirinya sendiri.
Ia tetap berikhtiar, tetapi tidak diperbudak oleh kecemasan terhadap hasil.
Menelusuri Hikmah yang Tersembunyi
Untuk memahami prinsip ini, Al-Qur'an menghadirkan sebuah kisah yang sangat menarik: perjalanan Nabi Musa dan Nabi Khidir.
Dalam perjalanan tersebut, Nabi Musa menyaksikan serangkaian peristiwa yang tampak merugikan.
Sebuah perahu milik nelayan miskin dilubangi.
Seorang pemuda dibunuh.
Sebuah dinding diperbaiki di negeri yang penduduknya menolak menjamu mereka.
Secara lahiriah, semua tindakan itu tampak tidak masuk akal.
Namun ketika seluruh fakta terungkap, gambaran sebenarnya menjadi jelas.
Perahu dilubangi agar tidak dirampas oleh penguasa zalim.
Pemuda itu akan menjadi penyebab kesesatan kedua orang tuanya.
Dinding diperbaiki untuk menjaga harta anak-anak yatim hingga mereka dewasa.
Kisah ini menunjukkan bahwa manusia sering kali hanya melihat satu halaman dari sebuah buku, sementara Allah mengetahui keseluruhan isi buku tersebut.
Kita melihat kerugian sesaat.
Allah mengetahui keselamatan jangka panjang.
Kita melihat pintu yang tertutup.
Allah mengetahui bahaya yang berada di balik pintu tersebut.
Penjara yang Mengantarkan ke Istana
Kisah Nabi Yusuf memberikan gambaran yang lebih nyata lagi.
Sejak kecil beliau mengalami rangkaian peristiwa yang tampak menyakitkan.
Dibuang ke dalam sumur oleh saudara-saudaranya.
Dijual sebagai budak.
Difitnah.
Dipenjara bertahun-tahun tanpa kesalahan.
Jika perjalanan hidup Nabi Yusuf dihentikan pada salah satu titik itu, siapa pun akan menyimpulkan bahwa hidup beliau penuh penderitaan.
Namun Allah tidak menghentikan kisah pada satu babak.
Justru melalui sumur, perbudakan, dan penjara itulah Allah menyiapkan jalan menuju kekuasaan di Mesir.
Penjara yang tampak sebagai hukuman ternyata menjadi gerbang menuju istana.
Apa yang dibenci ternyata menjadi jalan kemuliaan.
Apa yang tampak sebagai kerugian ternyata menjadi investasi terbesar dalam hidup beliau.
Ketergesaan Menilai Takdir
Ada sebuah kisah terkenal tentang seorang petani yang kehilangan kudanya.
Tetangganya berkata:
"Ini musibah besar."
Petani itu menjawab:
"Mungkin."
Keesokan harinya kuda itu kembali bersama beberapa kuda liar.
Tetangganya berkata:
"Ini keberuntungan besar."
Petani itu kembali menjawab:
"Mungkin."
Tak lama kemudian putranya jatuh saat menjinakkan kuda dan kakinya patah.
Tetangga kembali menyebutnya musibah.
Petani menjawab:
"Mungkin."
Beberapa hari setelah itu terjadi wajib militer. Seluruh pemuda desa dibawa pergi kecuali putranya yang sedang cedera.
Sekali lagi, peristiwa yang semula dianggap musibah berubah menjadi keselamatan.
Kisah ini menggambarkan betapa terbatasnya kemampuan manusia dalam menilai suatu kejadian.
Sering kali kita memberi vonis terlalu cepat terhadap takdir yang baru menampilkan bagian awal ceritanya.
Menerima Takdir Seperti Menerima Perintah Allah
Ibnu Qayyim menjelaskan bahwa seorang mukmin memandang takdir sebagaimana ia memandang syariat.
Perintah Allah sering terasa berat.
Namun di baliknya terdapat manfaat yang besar.
Sebaliknya, larangan Allah sering terlihat menarik bagi hawa nafsu.
Namun di baliknya tersembunyi kerusakan yang besar.
Orang yang memiliki hikmah memahami bahwa:
Larangan Allah ibarat makanan lezat yang dicampur racun.
Sedangkan perintah Allah ibarat obat pahit yang menyembuhkan penyakit.
Akal sehat pun mengajarkan prinsip yang sama.
Seseorang rela menahan rasa sakit ketika dioperasi demi kesehatan yang lebih baik.
Ia rela meninggalkan kenikmatan sesaat demi keselamatan yang lebih besar.
Demikian pula seorang mukmin bersabar menghadapi kesulitan yang Allah tetapkan karena ia yakin bahwa Allah tidak mungkin menghendaki keburukan bagi hamba-Nya yang beriman.
Buah dari Menyerahkan Urusan kepada Allah
Ketika seseorang benar-benar menyerahkan urusannya kepada Allah, beberapa hal akan muncul dalam kehidupannya.
Pertama, pikirannya menjadi lebih tenang ketika menghadapi pilihan-pilihan sulit.
Kedua, ia terbebas dari siklus spekulasi yang melelahkan tentang masa depan.
Ketiga, Allah menganugerahkan ketegaran, kesabaran, dan kemantapan hati untuk menjalani keputusan yang telah diambil.
Keempat, Allah menunjukkan hikmah dan kebaikan yang sebelumnya tidak terlihat.
Kelima, rasa takut terhadap masa depan perlahan berubah menjadi keyakinan kepada pengaturan Allah.
Ia menyadari bahwa tugasnya hanyalah berusaha dan taat, sedangkan hasil akhirnya berada di tangan Dzat Yang Maha Mengetahui.
Penutup
Mungkin hari ini Allah sedang "melubangi perahu" yang kita miliki sebagaimana yang terjadi dalam kisah Nabi Khidir.
Mungkin Allah sedang memasukkan kita ke dalam "penjara Yusuf" sebelum membawa kita menuju kemuliaan yang belum kita ketahui.
Mungkin Allah sedang memberikan obat yang pahit untuk menyembuhkan penyakit hati yang tidak kita sadari.
Karena itu, jangan tergesa-gesa menilai takdir.
Apa yang hari ini tampak sebagai kesulitan bisa jadi merupakan bentuk kasih sayang Allah yang belum kita pahami.
Sebab manusia hanya melihat sebagian kecil dari perjalanan hidupnya, sedangkan Allah mengetahui awal, tengah, dan akhir seluruh kisah.
"Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui."
0 komentar: